CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
66


__ADS_3

Sampai di depan rumah Ghani, Davin turun terlebih dahulu dan membuka pintu mobil untuk Amelia yang kerepotan membawa parcel buah dan menuntun Dama.


Hani yang sedang melap meja makan hendak bersiap untuk makan malam, langsung mendekat ke pintu setelah mendengar celotehan Dama yang memanggil neneknya.


"Neneeeeeeee....! " seru Dama setelah dibisikan Amelia apa yang harus dikatakan nya.


"Damaaaa! " seru Hani seraya berlari meraihnya dari gendongan Davin.


Ghani keluar dari kamar dan menatap Amelia, kemudian menatap Davin yang berdiri di samping Amelia.


~Ya Tuhan, kenapa aku merasa sangat senang mereka berkunjung bersama seperti ini~ ucap hati Ghani seraya memejamkan matanya sebentar.


"Ayaah! " seru Amelia yang berlari mendekat dan memeluknya.


Ghani menyambut pelukan anak bungsunya. Airmata menetes di pipi kirinya. Kekhawatiran yang selama beberapa hari ini meluap satu sama lain.


"Alex bilang ayah tidak masuk kerja beberapa hari, kenapa? Ayah sakit? " tanya Amelia.


"Tidak, dia tidak sakit. Kerjanya hanya diam di depan taman itu. Mungkin masih sangat merindukan mu, pertemuan kita terlalu singkat bukan? " keluh Hani.


Ghani tak berkomentar dan hanya tersenyum.


Davin sangat tersentuh dengan pemandangan itu. Dia sadar, kebahagiaan mereka hancur hanya karena satu malam yang tak bisa dia kendalikan. Karena takut mengganggu, Davin berbalik hendak menunggu Amelia di mobil saja.


"Tuan Muda! " seru Ghani.


Davin berbalik dan tersenyum. Panggilan Ghani sedikit terdengar canggung untuknya sekarang.


"Masuklah, kami akan memulai untuk makan malam. Kita makan sama-sama" ajak Ghani.


"Hana! Amelia datang! Turun dan siapkan makan malam untuk semua orang bersamanya, bawa turun Mikayla aku akan mengajaknya main di kamar ku" seru Hani.


Dia mendelik dan pergi ke kamar mengajak Dama masuk. Hana buru-buru turun bersama Mikayla dan langsung memeluk Amelia.


"Mel....! Kangen banget! " bisik Hana pada adiknya.


Hani membuka pintu kamarnya dan menarik Mikayla, dia menutup kembali pintunya seraya menatap sinis pada Davin.


Davin menundukkan pandangannya, sadar Hani tak begitu suka akan kedatangannya. Pandangannya beralih pada Amelia yang tersenyum dan berbincang dengan Hana sambil berjalan ke dapur.


Ghani mempersilahkan nya untuk duduk menunggu Hana dan Amelia menyiapkan makanan.


"Terimakasih Pak!" ucap Davin.


Ghani diam menatapnya, seolah tak tahu apa yang harus dibicarakan.


"Anda tidak masuk beberapa hari, ayah mengkhawatirkan anda dan.... "


"Aku terlalu fokus memikirkan cara agar anakku bisa keluar dari rumah mu tanpa meninggalkan Dama" jawab Ghani menyela ucapan Davin.


Mata Davin membulat mendengar ucapannya.

__ADS_1


"Oh..!"


Hanya itu yang keluar dari mulutnya. Dia juga menelan salivanya, kikuk dengan situasi ini.


Sementara Hana dan Amelia asik sendiri menyiapkan makanan sambil membicarakan semua kerinduan mereka.


"Ayahh, makan malam sudah siap! " seru Amelia dengan wajah cerianya.


Davin menatapnya, dia senang melihat ekspresi Amelia yang tak pernah muncul saat dia ada di rumahnya.


Ekspresi Amelia berubah saat sadar dan melihat Davin duduk di hadapan ayahnya. Dia kesal karena kebahagiaan yang dia rasakan pada jam itu ternyata hanya fatamorgana. Dia menatap kenyataan atas kehadiran Davin di sana. Kenyataan bahwa dia hanya berkunjung dan akan kembali ke rumah Narendra setelah ini.


"Ya sayang, ayah dan Tuan Muda akan ke sana" jawab Ghani.


~Tuan Muda, iya, dia adalah Tuan Muda. Datang hanya untuk memastikan bahwa aku akan kembali ke sana~ ucap hati Amelia.


Davin sangat tak nyaman dengan tatapan mata Amelia yang kembali sendu saat melihatnya. Senyumnya hilang seketika, tawanya terhenti.


Selama makan malam pun, tak ada pembicaraan apapun yang muncul hingga akhirnya Davin menyudahi makannya.


"Aku sudah selesai, aku akan menungu di luar Pak" ucap Davin.


Ghani mengangguk seraya menatap kepergiannya keluar.


"Bagus, dia sangat sadar diri bahwa kehadirannya sangat menganggu" ucap Hana.


"Kaaak! " Amelia menghentikan julidnya Hana.


"Nanti ayah menghampirinya" ucap Ghani.


Hana memperhatikan ekspresi adiknya, dia menyentuh bahu Amelia dan mengedipkan matanya, berisyarat agar Amelia tak terlalu banyak berpikir.


***


Bella dan Maria kembali dari rumah ibunya. Wajahnya jelas menyiratkan kekesalan yang cukup berarti. Alex yang sedang menerima telpon menyambut kedatangan mereka dengan sedikit menundukkan kepalanya.


"Hai Alex, kau sudah pulang. Mana Davin, kita akan makan malam bersama. Kau panggilkan dia dan yang lainnya" pinta Maria seraya berjalan dan masuk ke dapur.


Alex menganga menatap Maria dan mendengarkan ucapannya. Dia sedang bicara dengan Davin di telpon. Davin pun mendengar semua ucapan Maria.


"Berikan ponselnya pada ibu ku" ucap Davin.


"Ya! " jawab Alex.


Dia menyusul Maria hendak memberitahu Davin ingin bicara padanya lewat telpon.


"Mana Dama? aku tidak mendengar suaranya yang sangat lucu itu" tanya Maria pada Minah.


Minah dan Alex saling menatap, saliva mereka memenuhi tenggorokan dan terpaksa mereka telan.


"Hmmmm...! " Minah gugup.

__ADS_1


"Davin ingin bicara sama ibu lewat telpon" ucap Alex melindungi kakaknya.


Minah menghela dengan senyap. Dia lega tak harus mengatakan keberadaan Amelia dan Davin juga Dama pada nyonyanya.


Mata Maria membulat heran dengan permintaan Davin.


"Dia belum pulang? " tanya Maria.


Alex dan Minah tak menjawabnya. Mereka hanya diam menunggu.


"Kau dimana? Ini sudah waktunya makan malam, pulanglah! Ada yang ingin ibu sampaikan" ucap Maria.


"Ibu! " seru Davin.


"Hmmm? "


"Aku sedang mengajak Dama jalan-jalan" ucap Davin.


Mata Maria menatap Bella yang melangkah ke arah tangga menuju kamarnya.


"Dia juga ikut? " tanya Maria.


"Tentu saja Amelia ikut, dia mama nya Dama. Harus selalu ikut" jawab Davin.


"Cepat pulang, jangan telalu lama di luar, angin begitu kencang, kasihan Dama" ucap Maria datar.


Davin paham dengan nada suara ibunya yang menekankan pada dirinya untuk menuruti permintaannya.


"Ya, bu. Mungkin sebentar lagi" jawab Davin.


Maria memberikan ponsel Alex, tapi kembali menariknya saat dia hendak meraihnya.


"Kau tahu dia kemana? " tanya Maria dengan tatapan tajam.


Glek....


Minah ikut tegang, karena dia tahu mereka kemana. Dia juga takut Alex akan dihukum lagi hanya karena kesalahan Davin.


"Tidak, aku baru pulang tadi. Di kantor pun tak melihatnya" jawab Alex.


"Kalian meeting, masa tidak ketemu? " ucap Maria.


"Bu, ada masalah cukup besar di kantor dan pabrik. Aku bersama Pak Harris ke pabrik untuk menyelesaikan nya, sementara Davin melanjutkan meeting. Dan saat aku kembali ke kantor aku tidak melihatnya lagi" jelas Alex.


Maria memberikan ponselnya, tapi dia masih curiga dan kesal pada Davin dan Alex yang terkadang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Antar makan malam ke kamar nyonya besar dan Bella. Aku takkan makan malam, kalian saja yang makan" ucap Maria.


Dia melepaskan celemek masaknya yang baru saja dia pasang. Minah mengambilnya setelah dia keluar dari dapur.


"Huuft, suasananya sangat menegangkan" bisik Alex.

__ADS_1


"Sthhh, jangan berkomentar apapun! " Minah mencegah Alex untuk membicarakan permasalahan tadi.


\=\=\=\=\=>


__ADS_2