CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
120


__ADS_3

Davin berjalan sempoyongan menuju mobilnya. Alex mengikutinya dengan tatapan iba.


"Jangan mengikuti ku! " seru Davin saat dia terdiam di depan pintu mobilnya.


"Kau mabuk berat, aku akan menyetir untuk mu" ucap Alex seraya meraih pintu dan membukanya.


"Aku mau bertemu dengan Amelia" gumamnya.


Alex menatapnya.


"Kau lihat saat dia menatapku tadi? Dia seperti sangat kecewa padaku" ucapnya lagi.


Alex menghela, merasa Davin benar. Amelia sangat hancur dan kecewa, entah itu terhadap Saga, juga terhadap Davin yang menunjukkan sisi buruknya.


"Dia pasti tak mau bertemu dengan ku lagi" ucapnya.


"Jika sudah tahu dia tidak akan menemui mu, kenapa kau ingin menemuinya? " Alex membantunya masuk ke mobil.


"Tidak" Davin menepis tangan Alex.


"Aku.... menahan diri untuk tak mengatakan padanya kalau aku masih sangat mencintai dirinya. Menyimpan semua rasa, hasrat yang muncul setiap kali melihatnya, yang selalu terlihat cantik dimataku. Aku juga memaksakan diri menerima Bella yang memang tak bisa juga menunggu ku, lalu apa salah ku?" Davin mulai merengek.


"Pulang dulu, jernihkan pikiran mu. Baru menemuinya. Jika seperti ini, pak Ghani akan menendang mu nanti" ucap Alex.


Davin berbaring di kursi belakang seraya terus meracau tentang Amelia dan dirinya.


"Dia sama sekali tak peduli dengan Bella, apalagi Saga" gumam Alex.

__ADS_1


Diapun membawa Davin ke rumahnya.


***


Amelia terdiam menatap Dama yang terlelap. Hana yang baru saja terbangun karena ingin buang air kecil, menatapnya.


"Kau belum tidur? " tanya Hana.


"Tidak, aku tidak bisa tidur" jawab Amelia.


Hana turun dan kembali setelah beberapa saat. Tapi dia tak menemukan Amelia di kamar. Hana turun lagi dan mencarinya. Dia berpikir dan mengingat tentang tempat yang biasanya dia datangi saat gundah. Hana berjalan menuju pintu keluar. Dia menemukan Amelia duduk di taman samping dengan tangan melipat di perut.


"Kau membuatku terkejut" ucap Hana.


"Kau tidak harus kemari, tidur sana! " ucap Amelia.


"Aku ingin bicara dengan mu" jawab Hana seraya duduk di sampingnya.


"Tidak, kau tidak seperti itu, kau harus bicara, nanti kau bisa meledak" ucap Hana seraya menggambarkan bagaimana Amelia meledak.


Amelia tak merespon, dia hanya menatap langit dan taburan bintang tengah malam itu.


Beberapa saat Hana diam, kemudian menatapnya.


"Sakit? " tanya Hana.


Amelia menurunkan pandangannya namun tak menatap Hana.

__ADS_1


"Aku rasa, keluarga Narendra lebih kerepotan dengan hal ini" ucap Hana.


"Kak, aku benar-benar sedang tidak ingin membahasnya" jawab Amelia.


Hana malah bergerak menghadapkan tubuhnya ke arah Amelia.


"Bayangkan, Nyonya besar dan Nyonya Maria harus menarik semua undangan dan mengadakan pertemuan untuk mengumumkan pembatalan pernikahan. Waah, bayangkan, Nyonya besar akan menghadapi semua gunjingan dan mulut-mulut tajam para sosialita itu" Hana semakin semangat mengutarakan pemikirannya.


Amelia tertegun, baru disadarinya tentang hal itu.


"Bukankah kau bilang nyonya besar sedang tidak sehat? Nyonya Maria juga hanya berusaha terlihat kuat dan menyembunyikan kelemahannya" lanjut Hana.


Amelia semakin terpikirkan tentang keluarga Narendra.


"Davin juga pasti sangat hancur, bukankah dia sedang berusaha untuk dekat dengan Bella? " lanjut Hana.


"Dia lebih buruk" ucap Amelia.


Hana terkejut dengan respon Amelia.


"Dia bahkan tidak merasa bersalah karena memperlakukan Bella seperti itu. Apa kakak bisa bayangkan perasaan Bella? Dia jauh lebih hancur dari siapapun. Davin adalah cinta dalam hidupnya, dia sangat berusaha menjaga itu, tapi..... "


Amelia menangis.


"Kau patah hati hanya pada Saga kan? " tanya Hana, meragukan apa yang dirasakan adiknya.


"Aku sakit, hatiku sakit saat tahu Saga adalah ayah dari bayi yang di kandung Bella. Hancur kak, rasanya seperti gunung yang selalu aku tatap, aku banggakan, selalu aku jaga indahnya, lenyap seketika" ucap Amelia seraya menangis.

__ADS_1


Hana menarik tubuh adiknya dan memeluknya.


\=\=\=\=\=>


__ADS_2