
Zidan duduk di meja khusus di sebuah pub, dia terlihat sibuk dengan ponselnya.
"Iya Pah, Alex sedang kesana. Mungkin tengah malam baru sampai. Entah apa yang Davin rencanakan. Saga juga memang lemah, dia selalu ingin berbuat baik pada adiknya. Alih-alih membuat dia kesal dengan adiknya, aku malah dibuat kesal dengan sikap sok membela keluarganya itu" keluh Zidan pada Gala ayahnya di telpon.
"Aku akan memberikan apa yang Davin mau, tapi tenang nak, tidak lama, aku akan kembali dan membuat mereka saling berperang saling melawan" ucap Gala di ujung telpon.
"Ok Pah, aku lagi ada acara. Aku tutup telponnya. Katakan pada mama, aku sayang mama" ucap Zidan saat melihat Bella dari kejauhan sudah datang.
Bella langsung mendekat dan memeluk Zidan.
"Lama sekali! " keluh Zidan.
"Kau yang lama membalas pesan ku" Bella bersikap manja.
Zidan lupa, tadi dia sedang bersama teman perempuan yang lainnya. Dia menyeringai kemudian mengecup bibir Bella.
"Di sini tempat umum, jangan terlalu mencolok, nanti ada yang kenal" ucap Bella.
"Bukankah kau gadis lugu yang hanya diam di rumah. Bagaimana bisa orang mengenali mu" ucap Zidan seraya menciumnya lagi.
"Hei..., jangan lupa, aku ini sudah dikenal sebagai istri Davin, cucu Narendra" Bella menjauhkan bibir Zidan lagi.
"Tak ada yang paham siapa Davin ataupun Narendra ditempat ini. Mereka terkenal di kalangan elit saja" Zidan memeluknya.
Bella mulai terpengaruh dengan ucapan Zidan, dia merasa bahwa memang Davin kurang dikenal di lingkungan itu.
Bella membiarkan Zidan memeluk dan menciumnya. Mejanya pun memang disekat oleh dinding cukup tinggi. Tak ada yang melihat jika tak ada yang sengaja mengintip mereka.
Bella dan Zidan menghabiskan minuman yang mereka pesan. Malam itu mereka benar-benar berpesta.
Bella yang mulai mabuk, meracau dengan semua kesedihannya menjalani hidup sebagai istri Davin. Zidan yang tak mabuk karena kuat dengan minuman sebanyak apapun, hanya bisa menertawakan keluhan demi keluhan yang terlontar dari mulut wanita yang sedang dia manfaatkan itu.
Zidan duduk santai, sementara Bella menari-nari sambil terkadang tertawa, terkadang menangis.
"Kasihan, Davin sudah menyia-nyiakan wanita secantik ini" gumam Zidan.
Malam semakin larut. Zidan membawa Bella pulang dengan membopongnya. Bella jelas sempoyongan karena minum terlalu banyak.
Sampai di rumah, Zidan menutup mulut Bella yang memanggil nama Oma dengan nama lengkapnya.
"Jika kau tidak bisa diam, semua orang akan terkejut dengan kondisi mu" bisik Zidan.
Dengan wajah polosnya, Bella mengangguk dan menuruti ucapan Zidan. Saat hendak masuk ke ruang tengah, lampu menyala terang, membuat langkah kaki Zidan terhenti di depan tangga.
Mata Zidan terbelalak menatap Amelia yang muncul di dekat pintu dapur. Dia menelan Salivanya, terpergok membawa Bella pulang dalam keadaan mabuk berat.
__ADS_1
Amelia yang sedang memegang teko kaca berisi air di tangannya, hanya bisa terdiam menatap keadaan Bella. Dia langsung teringat dengan pertemuan mereka di depan kamar Zidan tadi pagi.
"Kalian...! " gumam Amelia.
"Sstthh! Bantu aku membawa Bella ke kamarnya" ucap Zidan.
Amelia tersadar dan menaruh tekonya di meja kemudian membantu Zidan membawa Amelia ke kamarnya.
Dengan perlahan, pintu dibuka, berharap cemas Davin tak bangun dan melihat mereka.
Namun Amelia tak melihat Davin di kamarnya. Ranjangnya pun rapi seolah tak tersentuh. Zidan membangunkan Amelia dari diamnya. Kemudian mereka membaringkan Bella dan menyelimutinya.
Dengan suara tertahan meski terengah karena lelah, Amelia dan Zidan keluar pun dengan perlahan.
Mata Amelia menatap tajam pada Zidan. Dia mengerti bahwa Amelia sedang bertanya-tanya tentang apa yang dia lihat.
"Aku melihatnya saat hendak masuk ke pub bersama teman ku. Dia duduk sendirian di meja dan minum beberapa gelas bir. Karena takut dia tak bisa pulang sendiri, jadi aku memaksanya pulang" ucap Zidan tanpa ditanya.
Amelia masih diam, dia masih tak percaya dengan ucapan Zidan.
"Aku jadi tak bisa bersenang-senang dengan teman-teman ku" gumam Zidan.
Zidan meninggalkan Amelia dalam kecurigaannya. Saat Amelia hendak turun, dia terkejut dengan kedatangan Davin dari arah ruang kerjanya.
Davin yang memang melihatnya, sengaja mendekati dan meraih tangannya.
Amelia yang sedang menyembunyikan kedatangan Bella dan Zidan, hanya bisa menuruti keinginan Davin dan mengobati luka di tangan Davin. Mereka pun masuk ke ruang kerja.
Amelia mengambil kotak P3K, sementara Davin duduk diam memperhatikannya.
'Seandainya momen ini berlangsung selamanya, Tuhan, aku mohon, jadikan dia milikku' ucap hati Davin.
Amelia memilih salep, tapi pikirannya masih cemas.
'Dia harus tahu, Bella istrinya mabuk. Dia harus lebih memperhatikannya, aku harus memberitahunya' ucap hati Amelia.
Dengan perlahan, Amelia mendekat dan duduk di samping Davin yang siap menyodorkan tangannya.
Amelia tak berani menatap matanya, dia takut namun bersiap untuk mengatakannya.
"Aku... " Davin hendak menyampaikan perasaannya.
"Bella baru pulang, dia mabuk dan baru berbaring di kamar. Aku dan Zidan baru saja mengantarkannya"
Davin terkejut dengan ucapan Amelia. Dia baru mengerti mengapa Amelia menjadi penurut.
__ADS_1
Dia menarik tangannya yang baru saja dibubuhi salep. Amelia terkejut dan menatapnya.
Tanpa mengatakan apapun, Davin meninggalkannya dan masuk ke kamarnya. Dia berhenti di pintu dan bersandar sebentar, merasa sedih karena Amelia terus peduli pada keutuhan rumah tangganya.
Amelia merengut, dia sudah mengatakannya tapi masih merasa cemas.
'Seharusnya aku senang dia langsung menemui istrinya' ucap hati Amelia.
Saat dia hendak kembali ke kamarnya, Saga sudah menunggunya di ambang pintu kamarnya.
"Kau dari mana? " tanya Saga.
Amelia menghela, dia tak sangka Saga terbangun dan menunggunya. Dengan perlahan dia menaruh teko dan kembali ke pintu.
"Bella baru pulang" ucap Amelia.
"Lalu? " Saga merasa itu bukan urusan mereka.
"Dia pulang dalam keadaan mabuk, diantar Zidan" tunjuk Amelia ke arah luar.
Barulah Saga terdiam dan berpikir.
"Dia meracau tentang pernikahannya? " tanya Saga.
"Tidak, aku hanya... "
"Sayang, besok kita akan pergi pagi buta ke tempat kemah. Kalau tidur terlalu malam, kau tidak bisa menikmati liburan kita" ucap Saga yang ingin mengakhiri kekhawatiran Amelia.
"Kau benar, maaf, aku.... "
"Berhenti peduli tentang orang lain, Bella ada suaminya. Biar Davin yang urus, ok! " Saga membelai rambut Amelia.
Amelia menghela kemudian mengangguk.
"Baiklah! "
"Tidurlah, aku akan bangunkan pukul 4 pagi" ucap Saga kemudian mengecup keningnya.
Saga kembali ke kamarnya, Amelia menutup pintunya dan duduk di ranjangnya.
Sementara Davin mencium aroma bir menyengat dari arah ranjang. Dia menutup hidungnya dan mendekat.
"Aku mencintainya, tapi dia masih berharap wanita itu jadi miliknya. Aku harus apaaaa! " gundah Bella.
Davin terdiam, tangan di hidungnya terlepas mendengar ucapan Bella.
__ADS_1
\=\=\=\=\=>