CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
102


__ADS_3

Oma Mira mengumpulkan semua orang, termasuk keluarga Gala.


Zidan berdiri melipat tangan di dada sambil memperhatikan Bella yang terlihat cantik dan manis memakai dress putih dengan bunga berwarna pink.


Sementara Bella terus menempel pada Davin kemanapun dia pergi.


Harris dan Maria duduk di dekat Oma bersanding lebih dekat dan terlihat berbeda. Vania memandang mereka sejak datang dari Tangerang. Seolah merasa aneh dan kesal dengan kedekatan mereka.


"Terimakasih karena kalian mau datang dan berkumpul bersama" ucap Oma.


"Heuh, apa tidak salah dia berterimakasih? " bisik Vania pada Gala.


"Sssth! " Gala menekan tangannya.


"Aku ingin segera mengumumkan tentang hubungan Amelia dan Saga. Dan mengukuhkannya dalam pernikahan" lanjut Oma.


Saga dan Amelia saling menatap.


"Tentu saja mengadakan pertunangan terlebih dahulu" ucap Oma.


"Kita harus mengundang keluarga Amelia, Oma" ucap Saga.


"Tentu saja, kita yang akan ke sana sebagai lamaran untuk putri mereka" jawab Oma.


Amelia tersenyum meski sedikit, dia merasa senang dengan perlakuan Oma terhadap dirinya. Merasa dihargai, meski setelah apa yang terjadi antara dirinya dengan Davin.


"Sudah selesai? " tanya Vania datar.


"Belum! " jawab Oma dengan tegas.


Vania menghela, dia tak mau berlama-lama mendengar pembicaraan mereka.


"Karena ini akan menjadi acara yang cukup besar, aku mau semua orang menjadi bagian dari kesibukannya. Sama seperti saat pernikahan Davin dan Bella. Masing-masing dari kalian punya tugas dan tanggung jawab. Kalian takkan membiarkan aku berkerja di usia ku yang sudah lama ini kan? "


Tatapan Oma tertuju pada Davin yang sejak tadi diam.


Bella menguncang tangan Davin dan memberi isyarat bahwa Oma menatapnya. Davin langsung mengangguk dengan mata membalas tatapan neneknya.


Tatapannya beralih pada Amelia yang dilihatnya sangat bahagia dengan ucapan Oma.


'Aku masih merasa cemburu, sakit dan ada yang salah di sini, Mel. Di hati ku. Bagaimana cara ku untuk mengatakannya? '


Davin bicara sendiri dengan dirinya. Bella hanya melihat senyumnya yang membungkus hati yang terluka itu.


"Selamat ya, aku doakan agar kalian bahagia" seru Bella.


"Dan tak mengganggu ku dan Davin" tambahnya dengan bergumam.


Davin mendengar tapi dia tak peduli.


"Sudah selesai kan? Aku mau istirahat Bu" ucap Vania.


"Ya, kau boleh pergi ke paviliun. Lagipula sepertinya kau tidak dapat kerjaan apapun" ucap Oma kesal.


Vania lebih kesal, dia pergi dengan menghentakkan kakinya.

__ADS_1


"Kau juga mau pergi? " seru Oma pada Gala.


"Tidak Bu, bukankah aku harus mengurus acara keponakan tersayang ku ini" ucap Gala dengan senyum lebar pada Saga.


Harris menatap dengan curiga, tak biasanya Gala mendukung anggota keluarga selain keluarga kecilnya.


"Bagus, kau juga harus mengurusnya Zidan. Nanti mereka akan juga mengurus pernikahan mu" ucap Oma.


"Aku, menikah? Masih lama Oma! Wanita yang ku suka sudah menjadi milik orang lain. Akan sulit bagi ku mendapatkan yang sama" jawab Zidan.


Matanya menatap ke arah Bella yang memalingkan tatapannya.


"Dia selalu bicara sembarangan, entah apa yang ada di otaknya" ucap Gala seraya memukul kakinya.


Zidan meringis kesakitan.


"Terimakasih, aku sudah cukup senang hubungan ku dengan Amelia direstui. Kalian membuat ku sangat bahagia" ucap Saga.


Oma merasa puas dengan ucapan Saga.


"Aku harap, ibu bisa diberi ruang yang sama di rumah ini, saat waktunya tiba" lanjut Saga.


Kali ini ucapannya membuat semua orang terdiam. Terutama Maria yang terlihat sangat terganggu dengan permintaan Saga.


"Kalian tidak keberatan bukan jika ibu datang dan mengikuti semua prosesi nya, seperti ibu Maria? " lanjut Saga.


"Saga.... " Harris hendak menjawab.


"Tentu saja tidak masalah. Kami akan senang jika kau merasa bahagia dengan pertunangan hingga pernikahan mu" Maria menyela.


Harris menatapnya, tak menyangka dia akan mengatakannya.


"Ya, kabari Ghani, besok kita akan datang untuk melamar" ucap Oma.


"Besok? " Amelia terkejut.


"Ya, besok. Lebih cepat lebih baik. Tapi jika hari ini, Vania akan tambah merengut karena merasa lelah" ucap Oma dengan candaan nya.


Amelia menurut saja, Saga pun mendukungnya dengan sepenuh hati. Dia takkan merasa sendirian lagi.


Sementara itu, Gala menatap kearah Oma Mira yang bersikap seolah Amelia adalah cucunya sendiri.


Dia berpikir akan memanfaatkannya dengan mendekati Amelia, untuk membuat Harris jatuh sejatuh-jatuhnya.


***


Davin menatap langit dari jendelanya. Bella menatapnya saat dia keluar dari kamar mandi.


"Apa yang sedang kau pikirkan? " tanya Bella seraya memeluknya dari belakang.


Davin hanya melirik.


"Tidak, pekerjaan di kantor akan menumpuk jika banyak orang yang fokus pada acara rumah nanti" jawab Davin.


"Bukahkah ada Zidan? " Bella mengingatkan.

__ADS_1


"Dia, aku tidak tahu apa yang sebenarnya dia kerjakan di kantor. Dia bekerja tapi seolah sedang mencari momen untuk melakukan sesuatu" jawab Davin.


Bella melepaskan pelukannya, dia cukup terkejut dengan ucapan Davin.


"Jadi dia tak bekerja dengan baik?" tanyanya.


"Tidak, bahkan dia mengerjakan pekerjaan yang bukan bagiannya. Hanya saja, aku merasa dia hanya sedang mencari celah untuk merusaknya" ucap Davin.


"Kau terlalu berpikir berlebihan, sini aku pijat kepalamu" ajak Bella dengan menarik tangannya ke sofa.


Davin menurut, dia duduk di bawah dan merasakan pijatan tangan Bella di kepalanya.


Tapi tak bisa dipungkiri, Davin tetap selalu ingat dengan ekspresi wajah Amelia yang senang dengan pertunangan dan rencana pernikahan mereka. Davin tak bisa melupakannya, tak bisa menerima semua ini.


"Aku senang mendengar pertunangan mereka akan segera dilaksanakan, aku merasa mereka memang serasi"


Bella terus membicarakan mereka. Tapi Davin tak menjawab apapun.


"Kau juga senang kan? " tanya Bella.


Davin hanya mengangguk. Bella senang meski hanya anggukan yang dia lihat.


"Oh ya, aku akan meminta MUA terbaik untuk meriasnya, dia harus totalitas bukan di hari pernikahannya" ucap Bella semangat.


'Jelas dia begitu semangat, hanya ini cara agar aku tak mengganggu Amelia lagi' ucap hati Davin yang paham dengan alasan dari semangatnya Bella.


"Aku mau ke ruang kerja, kau tidurlah terlebih dulu" ucap Davin seraya bangkit.


Bella menghela kemudian tersenyum, dia langsung berbaring di ranjang dan tidur.


Sampai di ruang kerja, Davin merasa harus membuat kopi karena melihat pekerjaannya yang menumpuk. Dia pergi ke dapur dan membuatnya sendiri.


Seperti biasa, Amelia datang untuk mengisi tekonya. Dia berhenti sejenak melihat punggung Davin.


Davin berbalik dan ikut terdiam melihat wajah Amelia yang tertunduk.


"Mau mengambil air? " tanya Davin.


"Hhmmm! " angguk Amelia.


Davin meminta tekonya, Amelia menyerahkannya.


"Kau membuat kopi? " tanya Amelia setelah melihat cangkir dan toples kopi di meja.


"Ya, aku harus mengerjakan sesuatu tapi sedikit mengantuk jadi... "


"Gulanya satu sendok saja, kopinya dua sendok, tambahkan air sedikit jangan terlalu penuh. Efek kafeinnya takkan bertahan lama, jadi kau tidak akan sulit tidur nantinya" jelas Amelia.


Davin terdiam.


"Kenapa bukan kau saja yang jadi istriku, menjaga dan membuatkan ku kopi seperti yang kau katakan" gumam Davin.


"Apa? " tanya Amelia yang tak jelas mendengar ucapannya.


"Kau mau buatkan untukku? " tanya Davin seraya berbalik dan menyerahkan tekonya yang sudah penuh.

__ADS_1


Amelia menatapnya.


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2