CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
93


__ADS_3

Pagi yang cerah, semua orang berkumpul di ruang makan. Hari ini, Maria dan Minah yang masak. Amelia belum keluar kamar karena masih sibuk mengurus Dama.


"Amelia belum turun? " tanya Saga.


Davin melirik.


"Belum" jawab Oma.


"Kenapa dengan tangan mu Nak? " tanya Harris pada Davin.


"Aku tidak sengaja menyentuh gelas yang pecah" jawab Davin.


"Hati-hati, tolong kamu perhatikan saat dia mengganti perbannya ya Bell! " pinta Harris


"Iya Pah! " jawab Bella.


Oma tak merespon apa-apa, dia fokus makan dalam diamnya.


"Ibu mau tambah lauknya? " tanya Harris.


Oma menatapnya. Tak biasanya dia perhatian seperti itu padanya. Kemudian tatapannya beralih pada Amelia yang baru datang dengan menggendong Dama.


Dia berjalan lurus ke arah dapur melalui sisi belakang semua orang.


"Mau kemana? " tanya Saga yang meraih tangannya.


Amelia hanya menunjuk ke arah dapur.


"Makan di sebelah ku, biar aku yang gendong Dama" pinta Saga.


"Tidak, kau selesaikan sarapan mu, Aku akan membuat susu untuk Dama" ucap Amelia.


"Dia sudah mulai di sapih? " tanya Maria riang.


Semua orang menatap mereka.


"ASI ku mulai sedikit" jawab Amelia.


"Wah kabar gembira, Bella bisa mengasuh Dama mulai sekarang" ucap Maria.


Mata Bella membulat, Zidan yang duduk di hadapannya mengangkat satu alisnya merespon ucapan Maria.


Amelia tertegun, teringat perjanjian mereka tentang keberadaan Amelia di rumah itu. Dia menelan salivanya dan berjalan ke dapur.


Saga menyusulnya, dia melihat Amelia terdiam di meja yang biasa mereka gunakan.


"Tidak masalah, mungkin karena kau terlalu kelelahan. Jadi ASI mu tak keluar" ucap Saga.


"Ya, biasanya, ibu yang terlalu stress, ASI nya berkurang" ucap Minah seraya menyodorkan segelas air hangat padanya.


"Minumlah dulu, seharusnya kau minum susu, bukan air hangat saja" keluh Saga.


"Aku sengaja, aku ingin cepat pulang" ucap Amelia.


Saga terdiam mendengar jawaban Amelia. Dia berpikir Amelia tak jadi ingin menikah dengannya. Tapi dia langsung merubah pikirannya dan mencoba mengobati rasa lelah Amelia.


"Kau ini, jangan berpikir macam-macam, jangan berpikir kau bisa lolos dariku" ucap Saga sambil memijat pundaknya.


Amelia terdiam.


***


Davin terus melirik ke arah dapur, dia penasaran dengan apa yang terjadi di sana. Dia merasa bersalah karena beberapa hari ini bersikap kasar pada Amelia dan kurang perhatian pada Dama. Dia juga berpikir bahwa Amelia tersinggung dengan ucapan ibunya yang akan mulai hendak memberikan pengasuhan Dama pada Bella.

__ADS_1


"Kau sudah selesai makan? Sini aku ganti perbannya! " ajak Bella.


Davin menurut, mereka pergi ke ruang depan dan menggantinya.


"Maaf semalam aku ketiduran, jadi tak tahu kau terluka" ucap Bella.


Davin menatap wajah Bella dan merasakan perhatian Bella yang sudah menjadi istrinya itu.


'Kenapa aku terus memikirkan Amelia yang sejatinya mencintai kak Saga dan aku mengabaikan Bella yang begitu ingin mencari perhatian ku? ' tanya hati Davin.


"Aku juga minta maaf, karena selalu tak paham dengan situasi mu" ucap Davin.


Bella berhenti membubuhi luka Davin dan menatapnya.


"Kau serius?" tanya Bella dengan tersenyum.


"Apa? " Davin tak mengerti.


"Baru kali ini kau mengatakannya, maaf karena kau tidak paham situasi ku. Aku suka" ucap Bella dengan riangnya.


Davin tersenyum melihat reaksinya.


"Pergilah bekerja! Aku akan mulai mengasuh Dama. Supaya Amelia dan Saga lebih fokus pada pernikahan mereka" Bella mengusap lengan Davin.


Mendengar nama Amelia, Davin kembali terdiam. Terlebih mendengar kabar pernikahan mereka.


"Tapi Oma belum mengatakan apapun" ucap Davin.


"Belum, tapi, akhir-akhir ini, dia selalu memanggil Amelia, kemudian ibunya kemarin juga datang. Aku rasa, rencana sudah di buat, tinggal pelaksanaannya saja" ucap Bella.


Davin menelan salivanya. Tetap saja, sulit baginya untuk tak memikirkan Amelia, apalagi tentang pernikahannya dengan Saga.


"Baiklah, aku berangkat" Davin berdiri dan Bella pun merapikan jasnya.


"Jangan lupa, hari ini kau pulang cepat. Kita harus menyiapkannya dari sore" ucap Amelia.


Davin mendengarnya.


"Ada acara?" tanya Bella seolah tahu Davin ingin menanyakannya juga.


"Ya, keponakan Amelia. Dia ulang tahun, kami akan camping besok, sabtu dan minggu" jawab Saga.


Davin menatap Amelia yang tak menatapnya.


"Aku pergi ya sayang! " pamit Saga seraya mencium keningnya.


Bella mencubit lengan baju Davin dan menariknya beberapa kali. Davin menatapnya dan mengangkat kedua alisnya.


"Apa? " tanya Davin.


Bella menunjuk pada Amelia dan Saga, dia mau Davin melakukan hal yang sama.


Davin menghela, dia enggan melakukannya, namun penasaran dengan reaksi Amelia jika mereka melakukannya. Davin pun mendekat dan hendak mencium kening Bella, tapi Bella malah menyambar bibir Davin dan mereka pun berciuman.


Davin tak bisa menolak Bella di depan Amelia dan Saga yang terkejut dengan apa yang terjadi. Amelia memalingkan wajahnya tapi Saga malah membulatkan matanya.


Davin melihat reaksi Amelia, dia tersenyum merasa Amelia pun masih punya sedikit perasaan padanya. Dia cemburu dan enggan menatap kemesraan mereka.


Bella senang, tapi menatap senyum dan tatapan mata Davin, dia kembali kesal dan menatap Amelia.


"Sudah sana! Nanti terlambat" ucap Amelia seraya mendorong Saga.


"Ok, ok! " Saga pergi.

__ADS_1


Amelia kembali ke ruang bermain. Davin terus menatap kepergian Amelia. Kemudian baru dia sadar bahwa Bella sedang memperhatikannya.


"Kau menerima ciuman ku karena ingin melihat reaksinya? " tanya Bella.


"Aku... " Davin tak bisa menjelaskan.


"Aku baru saja senang, kau mulai memperhatikan ku dan aku bersedia mengasuh Dama. Tapi, jika seperti ini, sebaiknya kau cari pengasuh saja. Aku tidak mau menyiakan waktu untuk mengasuh anak wanita ****** itu" ancam Bella.


"Bell! " Davin tak terima panggilan Bella untuk Amelia.


"Kau marah? Silahkan! Di sini seharusnya aku yang marah! " ucap Bella.


Bella pergi dengan hentakan kaki yang cukup keras.


Davin menghela lagi, dia pun pergi ke kantor dengan perasaan kesal.


***


Bella hendak masuk ke kamarnya, dia berjalan melewati ruang bermain tapi tak melihat Amelia di sana. Hanya ada Dama, Maria dan Minah.


Bella berhenti berjalan dan menoleh ke kanan dan kiri koridor kamar.


'Apa Oma memanggilnya? ' tanya hati Bella.


Bella berjalan perlahan menuju kamar Oma Mira. Dia menempelkan telinganya di pintu. Ingin mendengar percakapan mereka.


Tapi, tiba-tiba Zidan menarik tangannya dan membawa Bella ke kamarnya.


Bella terengah, selain dia sangat terkejut takut Maria memergokinya menguping, dia juga tak bisa menahan diri karena Zidan langsung mencumbunya.


Zidan tak berhenti meraba tubuh Bella, membuatnya semakin terengah-engah merasakan sentuhannya.


Zidan melampiaskan hasratnya yang selalu ingat dengan cara Bella menyenangkannya.


Bella tak bisa menahan diri, dia membuka atasanya dan meminta Zidan mencumbu dadanya. Zidan senang, dia menurut dan membuat tanda merah dia sisi kanan kiri dadanya.


Bella semakin tak terkendali, dia hendak membuka pakaian bawahnya.


"Bella! Bell! " suara Maria menghentikan aksi mereka.


Zidan dan Bella saling diam dengan desah nafas yang perlahan.


"Mana anak itu! " keluh Maria terdengar jelas di dekat pintu kamar Zidan.


Bella merapikan pakaiannya, Zidan yang sudah merapikan rambut, kemudian keluar dan menjawab seruan Maria.


"Cari Bella tan? " tanya Zidan.


"Kau masih di kamar? " tanya Maria.


"Ya, tadi perutku sakit, jadi aku ke kamar mandi dulu" jawab Zidan.


"Ya, aku mencari Bella, tadi aku lihat dia naik" ucap Maria.


"Dia mengantar Davin ke depan, tadi aku lihat" ucap Zidan menunjuk ke arah luar.


"Benarkah! " Maria ikut dengan Zidan turun.


Sementara itu, Bella masih menunggu sampai mereka turun dan keluar dari kamar Zidan.


Amelia yang baru keluar dari kamar Oma Mira, memergokinya. Mereka saling diam dengan mata membulat, terkejut.


\=\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2