CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
117


__ADS_3

Saga datang bersama Zidan, Gala dan Vina. Alex menyusul dari belakang, dia baru saja mengunjungi Hana dan Mikayla.


Langkah Saga terhenti saat mendengar pengakuan Davin. Zidan dan Gala saling menatap, terutama Vania yang sangat senang dengan keributan itu.


Kepala Saga tertunduk, merasa kesal adiknya masih memiliki perasaan dan harapan pada tunangannya. Dia hendak menghajar Davin, tapi kemudian kembali berhenti saat Davin berteriak pada Bella.


"Apa? Bella hamil? " tanya Saga, sangat terkejut.


Semua pandangan beralih pada Saga yang mengalihkan bahu Davin.


"Ya, dia hamil, tapi bukan aku ayahnya" jawab Davin pelan.


Gala tersenyum, kemudian menunduk.


"Waaah, drama apalagi ini? Dia hamil, seharusnya kau adalah ayahnya, kau kan suaminya! " ucap Zidan pada Davin.


Davin menolak untuk mendengarkannya.


Saga menatap Bella yang semakin tertunduk malu.


"Biarkan Bella istirahat, dia tidak bisa menjelaskannya sekarang" ucap Amelia.


Bella menatapnya, merasa bersalah karena orang yang sudah dia benci, justru sedang menjadi penjaganya.


Saga berpikir keras, dia tahu kalau Bella mengandung bayinya. Tapi dia tak bisa mengatakannya, terutama Amelia sedang membelanya.


"Tidak, dia harus mengatakannya. Siapa ayah dari bayi itu, Bella? " Maria berdiri dan menguatkan diri.


Oma Mira menatap Bella, menunggu keberaniannya mengungkapkan semuanya. Dia menatap Zidan, yang dia tahu selalu bersamanya di balkon.


Zidan terlihat senang, apa yang dikatakan ayahnya benar. Dia hanya perlu menunggu waktunya tiba. Bom waktu di keluarga ini akan meledak dengan sendirinya.


"Tidak, biarkan dia katakan nanti saja, kasihan dia" ucap Harris.


"TIDAK! HARUS SEKARANG! ATAU BAYI ITU AKU PAKSA DIA UNTUK GUGURKAN! " teriak Maria.


"MARIA! " Harris meraih lengannya.


Maria menangis, semua orang menunduk. Tak ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut Bella. Davin pun sudah tak bisa mengatakan apapun setelah dia melihat Amelia begitu kecewa padanya.


Vania melipat tangan dan menunggu, seolah sedang menunggu kelanjutan drama dalan televisi.


Alex membantu Amelia hendak membawa Bella naik. Bella semakin malu, orang-orang yang dia hina, membantunya melindungi dirinya dari tatapan hina suami dan mertuanya.


"Tunggu! " seru Saga.


Amelia menoleh, begitupun semua orang.


"Kenapa kau menyalahkannya? Jika memang terjadi seperti yang kau bayangkan, bukankah ini juga salah mu? " ucap Saga pada Davin.


"Heuh, apa yang kau tahu tentang kami! " Davin kesal mendengar Saga yang sok tahu.

__ADS_1


"Aku tahu, Bella yang cerita dengan menangis tersedu pada ku" jawab Saga.


Amelia terkejut, Saga tak pernah cerita tentang itu padanya. Bella pun merasa bahwa Saga sudah tak bisa mengendalikan ucapannya.


Davin menatapnya dengan heran.


"Jangan sok tahu kak, apa kau bisa menerima jika Amelia seperti itu? " tanya Davin.


"Aku tidak pernah memperlakukan Amelia seperti kau memperlakukan Bella"


Mereka semakin bersitegang.


"KALIAN BERDUA SUDAH! SUDAH CUKUP? " teriak Oma Mira.


Saga dan Davin mengendalikan diri.


"Bella! Katakan, siapa ayah dari anak itu, jangan katakan kau tidak mengetahuinya. Atau aku yang mengatakannya dan kau dan dia yang akan malu" Oma memperingatkan.


Saga terkejut, dia tak sangka Oma mengetahuinya. Begitupun Bella, dia semakin tertunduk malu.


Saga tak tega melihat Bella yang semakin di desak oleh semua orang.


"Aku! " seru Saga.


Amelia menoleh.


"Aku ayah dari bayi yang Bella kandung" lanjut Saga.


Amelia melepaskan tangan Bella yang tadi dia genggam. Bella menatapnya, wajahnya menjadi sendu, dia melangkahkan kakinya menuju dapur dengan perlahan.


"Bagaimana bisa?" gumam Davin.


Saga tak berani menatap mata semua orang, terutama Amelia.


"BAGAIMANA KAU BISA MENGKHIANATI AMELIA! " teriak Davin yang kemudian meninjunya.


Mereka berkelahi, tak ada yang melerai. Harris membawa ibu dan istrinya naik ke atas. Amelia berjalan menuju dapur, Alex melindunginya. Zidan dan Gala juga Vania tersenyum senang dengan akhir dari drama yang mereka saksikan. Mereka kembali ke paviliun setelah merasa puas.


Davin dan Saga berhenti setelah tak ada satupun orang di sana. Bella pun perlahan naik ke kamarnya.


Mereka berdua terengah di sisi sofa saling menatap.


Minah yang melihat hal itu, langsung menghela melihat keadaan mereka yang babak belur. Dia kembali ke ruang tengah setelah Amelia kembali dan membawa Dama keluar ke taman belakang.


Minah pergi melihat Bella yang dia khawatirkan pingsan karena situasi ini bisa mempengaruhi mentalnya yang sedang hamil.


Saat dia membuka pintu kamarnya, dia langsung berteriak kencang.


Alex yang hendak melihat Saga dan Davin, tak jadi mendekat, dia langsung berlari ke kamar Davin melihat Minah berusaha menopang tubuh Bella yang sengaja hendak gantung diri.


Alex berusaha juga, tapi Bella tetap berpegang pada talinya.

__ADS_1


"VIN, VINNN! TOLONG! " teriak Alex.


Davin berlari, Saga menyusul. Davin mundur, dia tak menyangka Bella akan melakukan itu. Tapi Saga, dia langsung membantu Alex dan membujuk Bella untuk melepaskan talinya.


"Lepas Bella! " ucap Saga.


"Tidak, biarkan aku mati! " ucap Bella dengan tangis.


Semua orang mendengar keributan itu, Amelia juga datang dengan menggendong Dama. Dia memalingkan wajah Dama ke belakang.


"Aku akan menjadi ayah dari anak mu, turunlah! Kita akan menikah" ucap Saga.


Amelia menahan tangisnya, mendengar ucapan Saga.


Tapi dengan ucapan itu, Bella melepaskan talinya dan akhirnya bisa mereka turunkan. Bella menangis di pelukan Saga.


"Bagaimana caranya? " tanya Bella dengan isak tangis.


"Kita akan menikah, aku akan bertanggung jawab" jawab Saga.


Amelia meninggalkan pemandangan itu, Davin melihatnya. Dia hendak menahannya tapi dia mengurungkan niatnya. Dia pun pergi ke ruang kerja dan berdiam diri di sana.


Minah dan Alex terengah. Mereka kelelahan dengan semua situasi yang terjadi. Mereka kembali ke dapur dan duduk di meja makan.


"Oh ya, lihat Amelia. Dia tadi lihat kan? " ucap Alex.


"Oh iya! " Minah buru-buru berlari menuju kamarnya.


Minah mengetuk pintunya.


"Mel! Mel! " seru Minah.


Amelia diam saja, dia menidurkan Dama dengan menepuk-nepuk punggungnya dengan perlahan.


"Meeeel! " Minah terus berusaha.


Amelia bangun perlahan dan membuka pintunya.


"Ada apa mba, Dama mau tidur" jawabnya pelan.


Minah menatapnya dengan tangisnya, dia menarik tubuh Amelia dan memeluknya. Amelia menangis tersedu di pelukannya. Alex yang datang menyusul, sigap membawa Dama ke dapur, sementara ibunya menangis dulu.


Minah terus menepuk punggungnya perlahan, berusaha membuatnya tenang. Dia tahu, situasi ini sangat membuat dirinya syok.


Bagaimana tidak, Amelia baru saja senang mengirimkan foto cantiknya memakai gaun dan kebaya pernikahan yang dia pakai tadi. Sekarang, dia harus mendengar calon suaminya menghamili Bella dan berjanji akan bertanggungjawab dan menikahinya.


Minah mengusap kepalanya.


"Menangislah! Mba ada di sini buat kamu" bisik Minah.


Amelia semakin keras menangis.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2