CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
37


__ADS_3

Oma tak mempersiapkan apa-apa lagi saat ini. Dia bahkan tak keluar dari kamarnya sejak kemarin, setelah mendapatkan telpon dari Saga. Davin mengetuk pintu kamarnya dengan perlahan.


"Oma...!" seru Davin.


Tak ada jawaban, dia sedang berbaring di ranjangnya menatap ke arah jendela kamarnya.


"Oma...sayang ku! Ayo buka pintunya! Kau harus makan dan minum obat" ucap Davin.


Alex yang berdiri di dekat Davin, menatapnya. Merasa lucu dengan cara Davin membujuk Oma Mira seolah membujuk pacarnya.


"Kau seperti sedang membujuk pacar mu yang sedang merajuk" bisik Alex.


"Berisik, kau tahu kenapa dia begini kan?" tanya Davin.


Alex mengangkat kedua bahunya pertanda tak tahu.


"Huhhf, dasar. Kalau sudah nyimpen rahasia Oma, kamu jago banget ngelesnya" ucap Davin kesal.


Alex menggigit lidahnya.


"Omaa! Ayolah, sejak semalam Oma nggak makan. Oma bisa sakit, nanti aku bagaimana? aku bisa ikut sakit jika Oma sakit" Davin tetap membujuk.


Alex membuat wajah jelek merasa rayuan Davin hanyalah bualan. Davin meraup wajah Alex dan mendorongnya.


"Pergi sana!" bisik Davin.


Alex tersenyum tapi menurut untuk pergi. Dia pergi ke ruang tengah. Namun langkahnya terhenti saat dia menatap Saga yang berdiri di depannya.


"Kak Saga!" gumam Alex.


Saga tersenyum, dia mendekat dan memeluk Alex yang berdiri bak patung. Alex merangkul pinggang pria yang sudah dia anggap sebagai kakak kandungnya itu.


"Apa kabar Lex?" bisik Saga.


Saga mengusap kepala Alex dengan lembut. Kemudian terdengar suara isak tangis. Alex menangis dan mempererat pelukannya.


Saga tersenyum, dia melepas pelukannya dan mengusap lengan Alex.


"Akhirnya kak Saga pulang!" ucap Alex sambil mengusap tangisnya.


"Mana Oma? Sakitnya udah lama?" tanya Saga khawatir.


Alex terdiam, dia baru paham mengapa dia diam mengurung diri di kamar. Dia membujuk Saga untuk pulang dengan alasan sakit.


~Astaga Oma, bagaimana kalau Tuhan mengabulkan ucapan Oma~ Alex menyesalkan perbuatan Oma Mira.


"Dia di kamar. Kak Saga mau ke sana, Yuk! Davin lagi bujuk buat buka pintu tadi, soalnya Oma nggak mau makan dari kemarin sore" jelas Alex.


Saga menahan tangan Alex yang hendak menariknya.


"Tunggu, aku harus ajak dia masuk juga" ucap Saga sambil menunjuk ke arah belakang.


Alex menatap ke arah jalan menuju ruang tamu. Amelia datang dengan menggendong Dama.


~Amelia!~ ucap hati Alex.


Mata Amelia tak berkedip menatap Alex. Dia ingat siapa pria yang ada di depannya itu.


~Dia! Kenapa dia ada di sini?~ tanya hati Amelia.


Langkah Amelia sedikit ragu hendak mengikuti Saga. Tapi tangan Saga begitu erat memegang tangannya. Amelia menurut dan ikut saja.


"Kenalin, ini Amelia dan Dama putra kami" ucap Saga memperkenalkan.


Alex membulatkan matanya kemudian mengangguk.


"Oh...hai! Aku Alex adik angkat kak Saga"


Alex menawarkan tangannya untuk berjabatan, tapi Amelia tak bisa karena sedang menggendong Dama tanpa gendongan bayi.

__ADS_1


"Oh ok, nggak apa-apa. Aku mengerti" ucap Alex menatap Dama dengan seksama.


~Ya, aku sekarang mengerti kenapa kamu pergi dari rumah~ ucap hati Alex.


"Yuk, kita ke kamar Oma!" ajak Saga.


Amelia menurut, dia menundukkan pandangannya saat berjalan melewati Alex. Tapi Alex terus menatapnya tanpa henti hingga mereka tiba di depan pintu.


Alex melihat sekitar, dia mencari Davin yang tadi masih membujuk Oma Mira. Alex menatap pintu kamar Oma yang sedikit terbuka. Alex berpikir Davin sudah masuk dan sedang membujuk Oma untuk makan. Alex menelan salivanya, dia tak bisa membayangkan bagaimana reaksi Davin saat melihat Amelia yang diperkenalkan sebagai istri Saga, istri kakaknya.


"Tunggu sebentar ya, nanti aku panggil" ucap Saga pada Amelia.


Amelia menatapnya dan menggelengkan kepalanya, tak mau ditinggalkan.


"Ada Alex, temani dia ya Lex!" pinta Saga.


Alex menjawab dengan mengacungkan jempolnya. Tapi Amelia malah menatap Alex dengan rasa takut.


Saga membuka pintu dengan perlahan.


"Omaaa!" seru Saga memanggilnya.


Dia masuk perlahan dan mendapati Oma sedang duduk di ranjang dengan memalingkan wajahnya. Saga mendekat dan menyentuh tangannya dengan lembut.


"Omaaa!" seru Saga.


"Apa?" Oma menjawab dengan malas.


"Oma nggak mau lihat Saga? Oma juga ngga mau lihat cicitnya Oma?" tanya Saga merayu.


"Buat apa, cuma sebentar bikin nangis doang" jawab Oma tanpa menatapnya.


Saga duduk di dekat Oma dan memeluknya.


"Oma, sebentar atau lama, yang penting ketemu" bisik Saga.


Oma memukul punggung Saga, kemudian memeluknya dengan erat.


"Jadi, kamu nikah sama kak Saga?" tanya Alex.


Amelia menatap wajah Alex.


"Hmm!" jawab Amelia singkat.


Sebelumnya Saga sudah mengatakan bahwa Amelia harus mengatakan bahwa mereka telah menikah, jadi Amelia ikut alur yang diminta Saga.


"Kamu... "


Belum selesai Alex mengatakan sesuatu tentang Davin, Saga sudah kembali keluar untuk meminta Amelia masuk.


"Sayang, ayo masuk!" pinta Saga.


Amelia buru-buru masuk, dia ingin menghindari Alex dengan semua pembicaraan yang dia tahu akan kemana arahnya. Meskipun tak tahu apa yang akan dia hadapi di dalam kamar itu.


Alex mengintip ke dalam, dia mengira Davin ada di sana. Dia berpikir Amelia akan lebih terkejut jika melihat Davin dan diperkenalkan sebagai adik Saga.


Namun Davin tak ada di sana. Alex mengerutkan dahinya. Dia kembali menatap ke arah tangga.


~Apa Davin kembali ke kamar?~ tanya hati Alex.


Di kamar Oma.


Oma duduk di sofa setelah Saga memapahnya. Dia menatap Amelia dari kepala hingga kaki. Matanya membulat saat dia ingat bahwa wanita yang ada di hadapannya adalah anak Ghani. Oma menelan salivanya. Dia juga mengingat ucapan Alex. Bahwa Amelia anak Ghani adalah wanita yang Davin cintai.


~Astaga, apa ini? kenapa bisa jadi begini?~ Oma mengeluh dalam hati.


Saga meminta Amelia mendekat dan mencium punggung tangan Oma. Dia melakukannya, namun Oma masih termangu tak memberikan tangannya.


"Oma!" Saga memanggilnya.

__ADS_1


Oma Mira menatap Saga, pikirannya tak fokus. Tapi dia memberikan tangannya untuk Amelia cium. Amelia pun mencium dengan berlutut di hadapan Oma Mira.


Oma Mira menatap Dama yang Amelia turunkan dari pangkuannya.


"Ini..." ucap Oma sambil menatap Saga.


"Dama Oma, anak kami" jawab Saga.


Amelia menundukkan pandangannya, merasa tak enak setiap kali mendengar atau mengatakan hal yang tidak sebenarnya.


Oma meraih Dama dan meletakkannya di pangkuannya.


"Dama?" Oma bertanya nama panjangnya.


"Dama Wardhana, Oma!" jawab Amelia.


~Wardhana? Nama belakang Ghani~ ucap hati Oma.


Saga lupa untuk memperkenalkan Dama sebagai Dama Narendra Coltin.


"Kenapa Wardhana?" tanya Oma.


"Dama Wardhana Coltin, Oma" ucap Saga menyela.


Oma menatap Saga.


"Amelia belum selesai bicara tadi" ucap Saga.


Oma menatap Amelia yang lagi-lagi menunduk.


"Wardhana itu?" Oma bertanya lagi.


"Nama ayah saya Oma. Ghani Wardhana" jawab Amelia.


Oma menghela dan mengangguk.


"Ok, Dama Wardhana Coltin. Kenapa dia lebih mirip adik kamu dibandingkan kamu ya Saga?" ucap Oma setelah mencium pipi Dama.


"Oh ya?" tanya Saga tak begitu ingat Davin saat kecil.


Amelia mengerutkan dahinya.


~Dia ini basa-basi atau ngetez?~ tanya hati Amelia.


"Tapi, anak laki-laki. Oma suka" ucap Oma.


"Memangnya Oma tidak suka dengan anak perempuan?" tanya Amelia.


Oma Mira menatap Amelia.


~Dia tak berubah, selalu bertanya tentang sesuatu yang ada dipikirannya. Apa dia tak ingat padaku?~ ucap hati Oma.


"Ya, aku lebih suka anak laki-laki dibandingkan perempuan. Mereka lebih berharga untuk meneruskan keturunan keluarga Narendra. Sejak dulu hingga sekarang" ucap Oma Mira.


Amelia terdiam, dia merasa pernah mendengar kata-kata itu saat di bangku SMP, namun dia tak terlalu ingat.


"Kenapa bisa begitu? Anak perempuan atau laki-laki sama berharganya. Mereka darah daging kita, sama-sama dilahirkan dengan bertaruh nyawa" Amelia mulai berdebat.


Saga membulatkan matanya, dia tak menyangka Amelia akan melawan pendapat Oma Mira tentang hal ini. Oma pun menatapnya, sementara Amelia mengingat-ingat, juga merasa pernah mengatakan jawaban itu.


~Ini seperti the javu~ ucap hati Amelia.


Saga menggendong Dama, dia ingin mengalihkan pembicaraan mereka.


"Dama sudah setahun, Oma. Dia sudah bisa berjalan sedikit demi sedikit" ucap Saga.


Oma Mira mengalihkan pandangannya pada Saga dan Dama.


"Oh ya? anak pintar. Oma senang mendengarnya" ucap Oma Mira.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2