CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
90


__ADS_3

Oma kembali dengan berjalan di topang oleh Hani. Amelia yang menggendong Dama hanya bisa menatap. Mereka langsung masuk ke kamar dan membantu Oma Mira berbaring.


"Sediakan teh jahe setiap hari, nanti ibu ajarkan" ucap Hani.


"Jangan terlalu manis" ucap Oma.


"Ya, Nyonya" jawab Amelia.


Hani menatap Amelia kemudian mendelik ke arah Oma Mira. Dia cukup kesal karena membiarkan calon cucu mantu nya tetap memanggilnya Nyonya.


Hani mengajak Amelia dan Dama keluar dari kamar Oma Mira.


"Tapi bu, harus ada yang menemani nyonya besar! " seru Amelia.


"Dia tak mau yang lainnya tahu kalau dia sakit, jadi biarkan sendiri" ucap Hani.


Oma mendengarnya, dia hanya menghela tak mau protes.


Mereka keluar dan pergi ke dapur.


"Kau sering memasak di sini? " tanya Hani karena melihat bagaimana Amelia begitu paham dimana tempat setiap bahan.


Amelia berhenti bergerak dan menoleh padanya.


"Saga akan menikahi ku, aku harus terbiasa bukan?" ucapnya.


Hani tertegun mendengar ucapan Amelia dan kemudian ingat ucapan Oma Mira di rumah sakit.


Amelia kembali menyiapkan teh untuk Hani.


"Kau pintar kan? " tanya Hani seraya duduk di kursi.


"Maksud ibu? " tanya Amelia.


"Tau kah apa arti dari kubangan lumpur berpagar emas? " tanya Hani.


Amelia tertegun kemudian menoleh padanya.


"Ibu tahu istilah seperti itu dari siapa?" tanya Amelia.


"Hmmm, jawab saja" ucap Hani.


"Aku tidak tahu, belum pernah dengar" jawab Amelia.


"Lalu aku harus bertanya pada siapa? " gumam Hani.


"Ibu ini bergumam apa? Apa ini yang nyonya besar katakan pada ibu? " tanya Amelia seraya menyajikan teh.


Hani menatap Amelia.


"Apa kau benar-benar menyukai Saga? " tanya Hani.


Amelia semakin tak mengerti dengan ibunya.


"Bu, ibu kenapa? Kenapa tiba-tiba menanyakan ini? Tadi juga menanyakan istilah-istilah segala. Nyonya besar nanya apa sama ibu? " tanya Amelia dengan tangan memegangi tangan ibunya.


Hani melepaskan tangan Amelia dan meraih tehnya.


"Ngga, Nyonya cuma minta diantar pulang, takutnya ada orang yang datang tiba-tiba dari kantor trus nanya ini itu" jawab Hani.


Amelia terus menatap ibunya, dia kurang meyakini apa yang dikatakan ibunya.


"Kenapa lihatnya seperti itu? Ngga percaya? " tanya Hani.


Amelia menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Ibu mau main sama Dama dulu, sambil nunggu Saga pulang" ucap Amelia.


"Nggak, ibu langsung pulang setelah main dengan Dama" ucap Hani.


Amelia terdiam, dia merasa ibunya tidak terlalu suka pada Saga.


***


Maria kembali, dia berjalan perlahan menuju tangga. Tapi sekilas dia melihat Hani di ruang makan. Dia memastikan dan melihatnya.


"Sedang apa kau di sini? " tanya Maria dengan nada angkuhnya.


Hani dan Amelia yang sedang menyiapkan makan malam langsung menoleh.


"Aku mengunjungi putri dan cucu ku" jawab Hani bergaya sama.


Amelia menundukkan tatapannya, merasa ibunya tak perlu melakukan itu.


"Ohhh, jadi sudah sebebas ini kah rumah ini, sehingga banyak orang asing hilir mudik, keluar masuk" sindir Maria.


Maria menatap ke arah tangga, Hani paham dia akan mengadu pada mertuanya. Hani langsung mendekat dan menghalanginya.


"Tidak usah menyampaikan ucapan pamit ku untuk Nyonya besar. Aku sudah mengatakan bahwa aku akan pergi tadi" ucap Hani.


Maria kesal dengan sikap Hani. Amelia menghampiri mereka, hendak melerai takut mereka beradu mulut.


"Kau...! "


Tiba-tiba, Minah dan Dama datang dari ruang bermain.


"Ahhhh, Cucu nenek yang ganteng datang" ucap Hani sambil menggendongnya.


Maria tak bisa mengatakan apapun saat di hadapan Dama. Dia mendengus dan pergi darisana.


"Bu, ibu... " Amelia hendak protes dengan sikap ibunya.


"Ibu di sini! " sapa Davin dengan akrab.


"Ehh, Davin sudah pulang" jawab Hani.


Amelia terheran.


'Sejak kapan mereka akrab? ' tanya hati Amelia.


Saga langsung mencium kening Amelia dan memeluk pinggangnya. Hani menatap tangannya dan menghela.


"Ibu mau pulang" ucap Hani seraya memberikan Dama pada Amelia agar dia sedikit menjauh dari Saga.


Saga menghela dan menjauh agar Amelia lebih leluasa untuk menggendongnya. Dia juga menghela karena merasa sikap Hani yang menunjukkan rasa acuh terhadapnya.


"Loh, bukannya makan malam sudah siap? Ibu ikut makan dulu" ajak Davin.


Saga menelan salivanya, dia tak bisa mengatakan apapun pada Hani.


"Tidak, ibu sudah janji sama Hana mau makan malam di rumah" jawab Hani.


"Kalau begitu, Davin antar ya! " ajak Davin.


Saga mengambil nafas, mengandalikan dirinya yang mulai merasa Davin mencari perhatian Hani.


"Tidak, Ibu dijemput ayahnya Amelia, mungkin sebentar lagi dia datang" ucap Hani.


Davin mengangguk dan tersenyum.


"Kalau begitu, aku permisi, aku mau ke kamar ku" pamit Davin.

__ADS_1


Hani mengangguk dan mempersilahkan, sementara Saga mulai berjalan ke depan mengikuti langkah Hani dan Amelia.


"Ibu nggak lihat Non Bella" ucap Hani.


"Belum pulang bu" jawab Amelia.


"Dia belum pulang dari mengantar makanan ke kantor? " tanya Saga.


Hani menatap Saga yang baru bicara. Amelia hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Sampai di depan pintu, Ghani baru datang mengendarai motornya.


"Tuh, kakeknya Dama datang" tunjuk Hani.


Amelia tersenyum dan mendekat. Saga yang mengambil Dama juga ikut mendekat.


"Pak! " sapa Saga.


"Hai! " jawab Ghani singkat.


"Ayah nggak bilang kalau Saga kembali dari Paris" ucap Hani.


"Oh ya, apa ayah lupa bilang? " Ghani malah bertanya.


Hani mendelik, dia bersiap untuk naik ke sepeda motornya.


"Tunggu! " ucap Ghani.


Dia menggendong Dama dan menciumnya. Tatapannya beralih pada Saga.


"Terimakasih sudah datang dan melindungi mereka" ucap Ghani.


"Yaaah! " seru Hani.


"Bentar! " jawab Ghani.


Saga tersenyum.


"Oh ya, Mikayla ulang tahun minggu depan, ayo kita liburan bersama" ajak Ghani.


"Oh iya, aku hampir lupa. Tadi kak Hana kirim pesan untuk mengatur acaranya" ucap Amelia.


"Ok, nanti ayah bicarakan lagi dengan kalian di grup. Ayah pergi, ya, ibu sudah ingin sekali pulang" pamit Ghani.


"Bye ayah! " Amelia melambaikan tangannya.


Ghani menyalakan motornya, kemudian Hani berbisik.


"Yang melindungi mereka itu Davin" bisik Hani.


"Pegangan! " Ghani berusaha tak menggubrisnya.


Davin melihat pemandangan itu dari jendela kamarnya. Tangannya mengepal merasakan cemburu melihat keakraban mereka.


Dia pergi setelah melihat mobil Bella datang. Amelia dan Saga melihatnya.


"Keluarga mu datang? " tanya Bella dengan nada menyepelekan.


"Ayo, jangan hiraukan dia" ajak Saga.


Bella kesal tak dianggap oleh Saga. Tapi dia menyeringai merasa Amelia kesal mendengar caranya bicara. Dengan riang dia naik ke kamarnya.


Tak lama kemudian Maria datang bersama Harris. Dia berusaha menyembunyikan wajahnya untuk tak dilihat semua orang.


Saga dan Amelia menatapnya, diapun berlalu ke kamarnya. Amelia langsung meminta Minah menyiapkan makanan untuk dibawanya ke kamar Maria.


"Apa menu makan, malam ini? " tanya Harris riang seolah membungkam semua orang untuk bertanya apa yang sudah terjadi.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2