CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
71


__ADS_3

Wahyu duduk di ranjangnya dengan pakaian rapi. Dia memanggil Davin dan Bella untuk bicara dengannya. Mereka datang bersama Veni dengan senyum bahagia, Wahyu sudah sembuh.


"Kemarilah! " pinta Wahyu seraya menepuk ranjang di sisinya.


Bella dan Davin mendekat.


"Kalian harus pulang ke rumah Oma Mira" ucap Wahyu.


"Tapi ayah, aku masih mau tinggal di sini" ucap Bella dengan manja.


Wahyu mengusap kepala nya.


"Tidak sayang, kewajiban mu adalah berbakti pada suami mumu. Kasihan Davin harus jauh saat berangkat ke kantor. Dia terlihat capek dan kurang tidur" ucap Wahyu.


"Tidak ayah, aku tidak apa-apa" jawab Davin.


"Tuh, Davin aja nggak keberatan ayah" Bella menyandarkan kepalanya di bahu Wahyu.


"Bella...,dengarkan ayah. Kembalilah, kau harus kembali ke rumah Davin sayang" Wahyu bersikeras.


Bella melepaskan lengan Wahyu dengan kesalnya.


"Ya, baiklah. Terserah ayah" jawabnya dengan ketus.


Bella meninggalkan Davin di kamar Wahyu. Saat dia hendak keluar, Wahyu menahannya.


"Jangan dulu pergi! " pinta Wahyu.


Davin menatap wajah mertuanya yang masih terlihat pucat. Dia duduk di hadapannya sekarang, di kursi yang ada di sana.


"Bella, aku hanya punya dia di dunia ini" ucap Wahyu.


Davin menghormati dan mendengarkan.


"Dia memang manja karena aku begitu memanjakannya"


Davin paham situasi itu. Seperti halnya dirinya yang selalu dimanja oleh ibunya. Bella sangat beruntung karena kedua orang tuanya utuh memberikan kasih sayang mereka.


"Tolong jaga dia, meskipun suatu saat nantinya dia bukan menjadi istri mu lagi"


Mata Davin membelalak menatap Wahyu, sungguh dia terkejut dengan ucapan ayah mertuanya itu.


"Ayah... "


Wahyu menghela.


"Aku sanksi dengan hubungan kalian. Dia begitu manja terhadap mu, tapi kau hanya memberikan sikap biasa saja padanya. Aku merasa Bella bukan cinta dalam hidup mu" ucap Wahyu.


Davin menundukkan kepalanya.


"Aku juga seperti itu" lanjut Wahyu.


Davin menatapnya dengan heran.


"Aku mencintai orang lain dan menikah dengan ibunya Bella. Berpuluh tahun menjalani semua itu, tak mudah. Aku tahu bagaimana sulitnya aku menghadapi setiap detiknya"


Davin pun merasakan apa yang dikatakan ayah Bella.

__ADS_1


"Tapi Davin, jika mungkin kau bisa bertahan, tetaplah menjadi suami yang baik bagi Bella. Jaga dia seperti kau ingin menjaga cinta dalam hidup mu. Dia permata ku satu-satunya. Aku akan merasa sangat sedih jika dia menangis"


Davin memegang tangan Wahyu.


"Ayah, maafkan aku jika kami terlalu kentara. Tapi aku berjanji padamu, Bella akan tetap menjadi istri ku, aku akan bertanggungjawab atas hidup dan kebahagiaannya" ucap Davin berjanji.


"Tidak salah aku menjodohkan Bella dengan mu, kau pria yang bertanggungjawab. Terimakasih! " ucap Wahyu seraya menimpal tangannya.


***


Alex datang mendekati Amelia yang sedang bermain dengan Dama. Amelia memandangnya dengan sinis.


"Dama! " seru Alex.


Dama langsung berlari mendekati Alex dan naik ke pangkuannya.


"Ouhh, Dama makin berat ya sekarang! " ucap Alex.


Amelia tak menanggapinya, dia hanya merapikan mainan Dama.


"Papa nana? " tanya Dama.


"Papa Dama? Hmmmm, lagi di jalan mau pulang" jawab Alex.


Amelia menoleh.


"Jangan bohong sama anak kecil" ucap Amelia.


"Uncle nggak bohong, papa Dama emang lagi mau pulang ke sini" ucap Alex.


"Kalau begitu, Dama mandi yuk! Biar nanti pas papa datang, Dama udah wangi trus bisa langsung peluk papa" ajak Amelia.


***


Saga duduk di teras, dia menatap tanaman yang tumbuh dengan indah di halaman rumah ibunya.


"Amelia juga senang dengan tanaman, dia punya tangan ajaib. Semua yang dia sentuh, menjadi indah" gumam Saga.


Ayu yang datang membawakan kopi untuknya, tak sengaja mendengarnya.


~Dia sangat merindukan Amelia~ ucap hati Ayu.


Saga menyadari keberadaan Ayu, dia menoleh.


"Ibu! " seru Saga.


Ayu mendekat dan duduk di sampingnya.


"Ini kopi untuk mu, kopi kesukaan mu yang Amel ajarkan pada ibu" ucap Ayu.


Mata Saga membulat mendengar Ayu begitu akrab memanggilnya.


"Dia cuma tinggal sehari di rumah ini, tapi ibu sudah jatuh cinta padanya sebagai seorang anak perempuan. Dia wanita yang baik" puji Ayu pada Amelia.


Saga tersipu, dia bangga sudah mencintai Amelia.


"Ibu harap, semua keinginan mu bisa tercapai. Bukan untuk mengambil hal yang lain, tapi hanya untuk mengambil Amelia kembali" ucap Ayu.

__ADS_1


Saga terdiam, dia mengalihkan pandangannya kemudian mengangguk.


~Aku harus menjadi pewaris keluarga Narendra ibu, jika tidak, aku tidak akan bisa melindungi Amelia dari ancaman Davin dan Oma. Aku harus lebih kuat dari mereka~ ucap hati Saga.


"Kau sudah menghubunginya? " tanya Ayu.


Pertanyaan Ayu membuat Saga terkejut.


"Sudah bu! " Saga berbohong.


Dia belum melakukannya, dia ingin menjadikan kedatangannya sebagai kejutan untuk Amelia.


"Bagaimana kabar Dama? " tanya Ayu lagi.


"Dia..... " Saga berpikir keras.


Kemudian dia ingat dengan ucapan Zidan yang menceritakan betapa pintarnya Dama sekarang.


"Tumbuh dengan pintar Bu, pintar bicara sekarang" lanjut Saga.


"Amelia pandai mengurusnya" puji Ayu lagi.


"Ya aku sangat tahu bagaimana dia mengurusnya" jawab Saga.


Mereka diam beberapa saat.


"Ayah belum kemari lagi? " tanya Saya.


"Dia tidak pernah datang jika tidak ada yang mendesak. Kemarin pun datang untuk mencari Amelia. Sebelumnya datang untuk makan malam untuk membahas kedatangan mu ke kota ini" jelas Ayu.


"Ibu sangat senang saat mendapat kabar kau akan pulang. Tapi sedikit takut untuk menghadapi mu lagi" lanjut Ayu.


Saga berpikir hal lain dengan apa yang dikatakan ibunya.


"Kalian terlihat sangat dekat" ucap Saga.


Ayu terkejut dengan ucapannya. Dia menghela kemudian menatap langit dan tersenyum.


"Kami sahabat sejak SMP, dia selalu merepotkan aku dengan semua cerita tentang kesedihannya yang selalu dibandingkan dengan Gala. Semua orang juga salah paham sejak kami SMP. Kami dikenal sebagai pasangan yang serasi. Cantik dan tampan" Ayu tersenyum mengingat masa lalu.


"Dia sangat senang menemani ku audisi dan menyanyi kesana kemari. Dia bilang suara ku merdu. Dia juga sering melihat kedua orang tuaku mengabaikan ku. Kami semakin saling menyayangi karena penderitaan di rumah masing-masing"


Ayu menatap putra nya yang begitu serius mendengarkan nya.


"Bagaimana hubungan persahabatan kami bisa berubah hanya karena kami bukan lagi jadi suami istri? Harris pria yang baik, dia sangat menghargai hubungan nya dengan siapapun itu. Terutama bersama Maria, yang begitu kuat bertahan meski dunia mengatakan bahwa kami masih memiliki hubungan"


"Maafkan aku karena saat itu aku salah paham" ucap Saga.


"Tidak apa-apa, saat itu situasinya sangat kacau. Beberapa orang ingin menjatuhkan mental mu sebagai salah satu pewaris di rumah itu. Sayangnya, ibu tak begitu tertarik dengan semua itu, jadi ibu tak begitu kuat menjaga mu"


"Tidak bu, aku yang terlalu memikirkan rasa sakit ku sendiri. Aku juga masih kekanakan saat itu"


Ayu mengusap kepala Saga.


"Semua itu tidak penting sekarang. Kau harus fokus agar bisa kembali dan menjemput Amelia sebagai salah satu pimpinan di sana. Ibu sangat mengerti, tujuan mu menjadi pewaris di rumah itu, agar kau bisa melindungi Amelia. Ibu harap kau tidak bertindak lebih sayang, ibu takut mereka melakukan hal yang buruk karena kedatangan mu kembali "


"Ya Ibu, aku paham. Makanya aku mempersiapkan dengan baik sebelum kembali ke sana. Terimakasih karena ibu mau menerima permintaan maaf ku"

__ADS_1


Ayu bersandar di dada putranya. Saga mengusap rambutnya dengan lembut.


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2