CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
84


__ADS_3

Davin melempar tas kerjanya ke ranjang. Maria yang menyusul membuka pintu dan langsung bertanya.


"Ada apa ini Davin? " tanya Maria.


Davin menatap ke luar jendela, dia masih mengatur nafasnya.


"Pasti anak biduan itu mengacau di kantor kan? Aku sudah duga, kedatangannya hanya akan membawa bencana di rumah ini" ucap Maria.


"Buuu, jangan panggil kak Saga seperti itu" ucap Davin dengan menutup mata sejenak.


"Memangnya kenapa? Dia memang anak biduan" jawab Maria.


"Kalau begitu panggilan ku adalah anak pelakor! " suara Davin meninggi.


Maria terkejut dengan ucapannya. Dia lemas dan kemudian duduk di sofa.


Davin menyesal mengucapkannya, tapi dia tak suka dengan panggilan Maria yang seenaknya terhadap orang lain.


Dia mendekat dan membujuk ibunya yang murung.


"Maaf Bu, tapi cara ibu memanggil seseorang, aku tidak setuju dengan itu. Bisa saja orang lain juga memanggil ku dengan sebutan yang buruk" Davin mencoba menjelaskan.


"Aku dijodohkan dengan ayah mu Vin. Oma yang meminta hal itu dari orang tua ku dulu. Dia bilang istri pertama ayah mu lebih memilih karirnya dibanding keluarga dan mereka bercerai. Aku tak pantas di sebut pelakor" Maria mulai menangis.


"Maaf Bu! " Davin menggenggam tangannya.


"Hidup di rumah ini bersama ayah mu bagai taman yang ada di belakang rumah ini. Cantik, terdapat berbagai bunga di sana. Tapi terabaikan dan tak pernah dianggap ada. Butuh waktu untuk meluluhkan hati ayah mu hingga dia bisa menyentuhku dan bisa mendapatkan mu" Maria mengusap air matanya.


Davin menunduk, teringat dengan perlakuannya terhadap Bella.


"Maka dari itu aku tahu bagaimana perasaan Bella. Aku juga kesal dengan sikap mu padanya" ucap Maria.


Davin menghela.


"Tapi lupakan itu, kau sudah mulai memperlakukan dia dengan baik akhir-akhir ini. Ibu senang. Sekarang lupakan juga tentang Saga, biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan. Fokus saja pada pekerjaan mu, buktikan pada ayah mu kau yang pantas menjadi pemimpin di sana" Maria menyemangatinya.


Tapi Davin malah mengerutkan dahinya. Dia melepas tangannya dan kembali berdiri menatap ke luar jendela.


Davin masih kesal dan memutuskan untuk diam.


***


Amelia duduk di ranjang seraya menepuk perlahan punggung Dama yang mulai mengantuk. Tapi pikirannya tak bisa lepas dari apa yang Davin ucapkan.


'Apa yang Saga lakukan? Kenapa Davin begitu marah dan tak peduli jika Dama bisa mendengar dan menirunya' ucap hati Amelia.


Melihat Dama sudah terlelap, Amelia mengambil ponselnya dan hendak menelpon Saga.


Panggilannya langsung diangkat.


"Hai sayang, kenapa? Kau rindu aku? " sapa Saga.


Amelia terdiam, dia mendengar nada suara Saga yang santai.


'Dia begitu santai, lalu apa yang Davin permasalahkan? ' tanya hati Amelia.


"Hallo! " Saga mengulang karena tak mendengar jawaban dari Amelia.

__ADS_1


"Hmmm, ya! " jawab Amelia.


"Kau kenapa? Ada yang menyakitimu di sana? " tanya Saga mulai curiga.


"Tidak, aku hanya mau kau pulang membawa donat kesukaan ku, bisakah? " tanya Amelia mengalihkan pembicaraan.


"Tentu saja" jawab Saga.


"Ya, baiklah terimakasih" jawab Amelia.


"Sayang" seru Saga.


"Hmm?"


"Bisakah kau memberikan aku kecupan jauh untuk menyemangati ku hari ini? " pinta Saga.


"Kita tidak pernah melakukannya" ucap Amelia.


"Tolonglah, kali ini kita biasakan, kita kan sudah mau menikah. Aku juga merasa hari ini sangat melelahkan. Ya! " bujuk Saga.


Amelia berpikir, mungkin mereka terlibat pertengkaran dan membuat Davin salah paham atas kata-katanya. Amelia percaya bahwa Saga bukan tipe pria yang mencari masalah. Jikapun dia ingin kembali hanya untuk mengambil haknya, bukan berarti dengan cara mengambil hak orang lain.


"Baiklah, semangat ya Saga, love you. Muaach! " ucap Amelia kaku.


Saga tersenyum senang meski dia tahu Amelia masih canggung mengucapkannya.


"Terimakasih sayang" jawab Saga.


"Selamat bekerja" pamit Amelia.


"Bye! "


Amelia menutup telponnya. Dia menghela dan berpikir lagi.


'Ya, Saga itu penyayang. Dia bilang sendiri dia sayang Davin dan keluarganya. Davin mungkin salah tanggap atas sikap diamnya' ucap hati Amelia yang menepis kekhawatirannya sendiri.


Tak berapa lama, Minah datang untuk memanggilnya.


"Oma minta kau ke ruang baca" ucap Minah.


Minah menatap ke arah ranjang melihat Dama begitu terlelap. Amelia pun menatapnya.


"Biar aku yang menjaganya" ucap Minah.


Amelia tersenyum seraya mengangguk, dia pun pergi ke ruang baca.


***


Oma mengeluarkan semua buku yang tadinya berjajar rapi di rak besar di ruang baca. Dia mengacak-acak seraya mengerutkan dahinya seolah mencari sesuatu.


Amelia datang, dia mengetuk pintu yang sejak tadi memang terbuka.


"Masuklah! " ucap Oma Mira.


Amelia menatap semua buku di lantai dengan tak percaya.


'Astaga, bagaimana bisa nyonya besar yang sudah setua itu bisa mengobrak-abrik buku sebanyak itu? ' tanya hati Amelia.

__ADS_1


"Rapikan ini semua, pilah mana saja yang sudah aku baca dan belum. Taruh yang sudah ku baca di sudut sebelah sana dan yang belum ku baca di sebelah sini"


Oma menunjuk ke arah yang dia mau.


"Apa tanda dari buku yang sudah anda baca?" tanya Amelia.


Oma Mira tertegun, dia mengingat saat terakhir kali dia meminta Bella ikut membantunya merapikan ruang buku.


'Respon mereka berbeda, Bella langsung emosi dan menunjukkan rasa tak sukanya saat aku menyuruhnya. Tapi dia... '


Oma menatap Amelia.


"Oh, saya sudah paham nyonya" Amelia sudah menemukan tanda yang diberikan Oma Mira.


"Apa itu? " tanya Oma.


"Penanda pita ini, anda menaruhnya di halaman terakhir jika sudah membacanya. Sedangkan yang belum, masih di halaman utama" jelas Amelia.


"Kau sudah sering datang ke ruang baca sebelumnya? " tanya Oma.


"Ya, perpustakaan umum. Ada beberapa orang yang melakukan hal yang sama. Ada juga yang jahil menandainya dengan balpen atau pensil, itu cukup menyulitkan. Aku selalu menghapusnya dan itu merepotkan. Tapi karena hal itu aku.... "


Amelia bicara dengan akrab, dia menjadi diam saat dia sadar sedang bicara dengan siapa.


"Kenapa diam? Karena hal itu kau kenapa? " tanya Oma.


Amelia menatapnya, dia teringat pada ibunya.


"Karena itu saya sudah terbiasa dengan buku-buku, nyonya" ucap Amelia kembali formal.


Oma Mira terdiam mendengarnya. Dia melirik ke arah Amelia yang sudah mulai merapikan bukunya.


"Bacalah beberapa buku yang kau suka. Aku sudah banyak membaca, tapi terkadang sulit membaca manusia" ucap Oma.


Amelia sedikit tidak mengerti dengan ucapannya.


"Terkadang aku merasa pilihan ku sudah benar, membaca silsilah keluarga dan kehidupannya. Tapi ternyata manusia tidak dibentuk hanya dengan silsilah dan kehidupannya saja. Proses justru lebih berdampak besar dalam membentuk seseorang" lanjut Oma.


Amelia masih tidak mengerti.


"Kau tidak mengerti? " tanya Oma.


Amelia menggelengkan kepalanya.


Oma Mira tersenyum.


"Aku membacamu, kau putra dari pegawai ku dan aku merendahkan mu. Tapi setelah aku mendengar, kau adalah anak yang cukup rajin dan tak banyak mengeluh tentang proses hidup mu" jelas Oma.


"Itu pujian atau.....? " Amelia bingung.


"Hanya kesimpulan, aku tidak memujimu" Oma menunjuknya dengan tongkat.


Amelia merubah raut wajah penasarannya menjadi merengut. Dia melanjutkan pekerjaannya.


Sementara Oma Mira kembali duduk dan membaca buku yang sudah dia temukan.


\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2