
Maria berdiri di dekat jendela dengan segelas minuman di tangannya. Dia tertekan dengan kedatangan Saga yang menurutnya, dia akan mengambil semua kekuasaan yang sudah dimiliki Davin.
Sesekali dia menghela juga mengigit bibirnya sendiri. Gusar dengan apa saja yang akan dilakukan anak tirinya itu.
Tak berapa lama, Harris datang dengan wajah lesu karena mengantuk. Maria menatapnya sinis. Harris juga merasa begitu.
"Ada apa? Kau menatapku seperti itu, berarti aku melakukan kesalahan. Apa? Karena aku tidak pulang? " tanya Harris.
"Kau tidak bertemu dengan putra mu? " Maria malah mengajukan pertanyaan.
Harris melepaskan dasi dan kemejanya, dia menatap dirinya sendiri di cermin.
"Tidak, mungkin Davin sudah ke kantor. Aku juga bukan dari sana" jawab Harris lesu.
"Bukan Davin, tapi Saga" ucap Maria.
Mata Harris langsung membelalak.
"Saga? " tanyanya mulai sedikit bersemangat.
"Kau terlihat senang sekali mendengar namanya" Maria menyindirnya.
"Apa Saga di sini? Dimana? Aku tidak lihat siapapun di bawah? " tanya Harris santai seraya pergi ke kamar mandi.
Maria tak menjawab, dia hanya mendelik dan kembali meminum minumannya.
***
Bella duduk di sofa, memperhatikan Davin yang terdiam menatap taman rumah di dekat jendela kamarnya.
"Kau memikirkan Amelia? " Bella memulai pembicaraan.
Davin hanya menelan salivanya. Dia memang sedang memikirkan Amelia dan perasaannya. Memikirkan bagaimana dia bisa meluapkan rasa rindu yang selama ini dia rasakan pada Saga.
"Tentu saja, dia sudah ada yang menemani. Kau tidak usah khawatir dengannya lagi" ucap Bella.
Davin masih diam, dia tak peduli dengan semua ucapan Bella.
"Atau.... kau berpikir kau tidak punya kesempatan lagi untuk bersamanya karena Saga sudah kembali? " Bella terus bicara.
Kali ini Davin muak, dia pergi membawa tas kerjanya.
"Aku pergi! " pamit Davin.
"Ya" jawab Bella kemudian tersenyum.
Tak lama kemudian suara notifikasi pesan terdengar dari ponselnya. Bella membukanya, pesan dari Zidan terlihat.
{Aku akan menunggu mu di balkon malam ini}
Bella menghela, dia langsung menghapus pesan itu dan pergi ke luar.
***
Di kamar Amelia.
Saga bermain dengan Dama yang begitu senang dengan kehadirannya. Amelia menatap kedekatan mereka dengan semua pertanyaan yang tersirat di benaknya.
Saga yang melihatnya, langsung menarik tangannya untuk bergabung. Amelia duduk di ranjang dan ikut bermain.
"Ini, permainan ini selalu aku mainkan saat kecil" ucap Saga.
"Hmmm" angguk Amelia.
"Yang ini, di bentuk seperti ini" lanjut Saga menjelaskan sambil membentuk mainannya.
Dama ikut menyentuh tangan Saga dan terus merecokinya main.
"Dama mau? " tanya Saga dengan tersenyum.
Saga mengajarkan Dama membentuk mainannya. Amelia ikut tersenyum dengan kedekatan mereka yang tak terhapus waktu.
Saga tak sengaja melihat Amelia memperhatikannya.
__ADS_1
"Kenapa? " tanya Saga karena Amelia menatapnya lama.
"Tidak, aku hanya.... "
"Kau senang aku kemari kan? " Saga percaya diri.
"Tentu saja aku senang.... " Amelia salah tingkah.
"Kau gugup saat aku memelukmu tadi" Saga menggodanya.
Amelia tersipu, dia tak bisa menatap mata Saga yang terus menatapnya sambil tersenyum.
Saga menyentuh tangannya, kemudian menggenggamnya.
"Aku sangat merindukan mu, sampai-sampai aku merasa mati karena begitu lama tak melihat mu"
"Nggak boleh ngomong begitu" ucap Amelia.
Saga membelai rambut Amelia dan menyentuh pipinya. Amelia tersenyum menatapnya.
Davin yang hendak pamit pada Dama, seperti biasanya, melihat pemandangan itu di ambang pintu. Tangannya mengepal di kedua sisi tubuhnya.
Karena tak senang dengan pemandangan itu, dengan sengaja dia mengetuk pintu dengan keras.
Saga dan Amelia menoleh karena terkejut.
"Maaf aku mengganggu, tapi aku mau pamit pada Dama" ucap Davin dengan senyum di bibirnya.
Saga menggendong Dama mendekat pada Davin.
"Dama, papa kerja dulu ya! " pamit Davin sambil menciumnya.
"Tata papa! " ucap Dama.
Saga tersenyum melihat perkembangan Dama yang mulai pandai bicara.
Davin menatap senyuman manis kakaknya, tapi dia merasa tidak senang melihatnya. Pandangannya beralih pada Amelia yang berdiri di belakangnya.
Saga menatapnya.
"Ya, hati-hati" jawab Saga.
Davin berbalik setelah menatap ke arah Amelia.
"Oh ya, mungkin mulai besok aku juga akan berangkat ke kantor" ucap Saga.
Langkah Davin terhenti dan berbalik.
"Apa? " tanya Davin seolah tak jelas mendengarnya.
"Ya, aku akan mulai bekerja besok" ucap Saga sekali lagi.
Amelia menatapnya dengan heran dari belakang.
"Bukannya kak Saga tidak pernah tertarik dengan perusahaan? " Davin terheran.
"Sekarang aku tertarik, aku juga punya andil atas apa yang dimiliki ayah" jelas Saga.
Davin mengerutkan dahi karena merasa heran dengan ucapannya. Tapi mendengar tentang andil kepemilikannya, Davin merasa ucapan kakaknya benar.
"Ya, kau benar, kau harus mulai menjadi salah satu dari kami. Kau tidak bisa terus menerus melarikan diri" ucap Davin.
Saga tersinggung dengan ucapannya, dia hendak menarik Davin tapi Amelia menahan tangannya.
"Dama, sini sama mama" Amelia mengambil Dama dari gendongan Saga.
Saga melihat ekspresi Amelia yang terihat kesal. Di menyusulnya ke dalam.
"Kau marah? " tanya Saga.
"Jelas aku marah" jawab Amelia.
"Kenapa? " tanya Saga berpura-pura tak bersalah.
__ADS_1
Amelia menatapnya dengan mengangkat kedua alisnya.
"Ya, aku minta maaf. Aku salah karena membicarakan hal seperti itu di hadapan Dama"
Saga mengerti dan meminta maaf dalam bahasa Spanyol.
"Ya aku memaafkan mu, jangan diulangi" Amelia memperingatkan.
Dama kembali bermain kemudian Minah datang dan mengajaknya bermain.
"Dama ayo kita main! " ajaknya.
Dama ikut bersama Minah meninggalkan Amelia yang masih memasang wajah kesal bersama Saga.
"Aku sudah minta maaf" ucap Saga.
"Kau kembali kemari bukan untuk mengajak ku kembali ke Montreuil?" Amelia menghentikan pekerjaannya merapikan mainan Dama.
Saga mengalihkan pandangannya.
"Bukan kan? " Amelia memastikan.
"Kita berdua tidak akan pergi kemana pun, kau bisa melihat tumbuh kembang Dama di sini bersama ku" ucap Saga seraya meraih tangannya.
"Kau punya rencana lain? Bukan hanya tentang ku" ucap Amelia menerka.
Saga melepaskan tangannya dan berbalik.
"Ya, kau sangat tahu bagaimana aku. Kau juga bisa menebak apa tujuan ku" jawab Saga.
Amelia mengerutkan dahinya tak paham maksud ucapannya.
"Aku akan mengambil hak ku sebagai pewaris keluarga ini. Aku anak pertama, aku yang paling berhak atas apa yang ada di rumah ini. Juga semuanya.... "
Amelia berjalan dan berdiri di hadapannya. Saga berhenti bicara.
"Apa yang membuat mu seperti ini, aku? " Amelia tak suka dengan tujuan Saga.
"Sayang... "
"Kau tidak percaya padaku bahwa aku akan kembali padamu ke Montreuil dan hidup bersamamu di sana? "
"Bukan begitu! " Saga menepis dugaan Amelia.
"Lalu? "
"Ini tentang ibuku, kehidupan ku dan juga kau. Ya, salah satunya karena aku tidak mau kehilangan mu. Tapi jika aku terus dalam keadaan ku dimana aku menghindari rumah ini, aku tidak cukup kuat untuk menjadikan mu milik ku, Davin akan... "
"Kau tidak percaya padaku" Amelia menyimpulkan.
"Sayang... "
Amelia diam membisu.
Saga meraih tangannya kemudian memeluknya.
"Maaf aku tidak mengatakannya padamu, tapi sayang, aku tidak mau jauh dari mu ataupun Dama. Aku juga ingin semua orang menghargai ibuku, kehidupan ku. Hinaan Oma terhadap kita... "
"Bukan kita, Oma hanya menghinaku karena aku memang dalam posisi itu. Aku putri dari pegawainya, yang tidak sengaja melahirkan cicitnya. Kenapa kau mengambil keputusan untuk melawan mereka demi aku? "
Amelia berbalik dan menatapnya.
"Karena aku sangat mencintaimu, aku tidak suka kau diperlakukan seperti tadi. Memasak saat Oma menginginkannya karena bosan dengan masakan mba Minah, dia seolah menggambarkan mu sebagai.... "
"Pelayan"
"Mel... "
"Ya, sekarang aku akan mengalami hal itu karena kau memutuskan untuk kembali ke rumah ini" keluh Amelia.
Saga tertegun, apa yang diucapkan Amelia bisa saja terjadi. Tapi Saga bertekad akan membuat dua wanita yang sangat dicintai dalam hidupnya mendapatkan hak dan kedudukan di rumah ini.
\=\=\=\=\=>
__ADS_1