
Alex mencari Davin ke kamarnya, tapi bukannya Davin, dia melihat Zidan sedang duduk di ranjang kamar Davin dan bicara dengan Bella. Alex melihat dari pintu yang sedikit terbuka, kemudian mendengarkan pembicaraan mereka. Matanya membulat saat mendengar ucapan manis Zidan pada Bella.
~Apa ini? Ini bukan ucapan semangat untuk seorang adik ipar pada kakak iparnya. Kenapa mereka bicara di ruang tertutup seperti ini?~ tanya hati Alex.
Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki dari lorong sebelah. Alex menjauh dan memeriksa siapa yang datang.
"Davin!" seru Alex dengan sedikit keras.
Berharap Zidan dan Bella mendengar dan menghentikan pembicaraan mereka.
"Kau dari mana? Aku cari di kamar Oma nggak ada!" ucap Alex.
"Pelan-pelan! Aku tidak tuli!" keluh Davin sambil mengorek telinganya.
"Lalu kau dari mana? Ada sesuatu yang harus kau lihat" ucap Alex.
"Ada telpon dari kantor, aku mundurin waktu meeting, soalnya Susi panik aku belum datang jam segini" jelas Davin sambil memasukkan ponselnya ke saku dalam jasnya.
Alex masih memikirkan apa yang dilakukan Zidan dan Bella. Tapi dia juga berpikir bahwa kedatangan Amelia dan Saga adalah hal yang lebih penting.
"Apa yang harus aku lihat?" tanya Davin karena Alex masih diam.
Belum sempat Alex mengatakannya, seorang asisten rumah tangga datang meminta semua orang berkumpul di meja makan. Alex menatap Davin dengan matanya yang membulat.
Davin tersenyum karena merasa Alex terlalu berlebihan bereaksi terhadap ucapan asisten rumah tangganya.
"Iya, sebentar lagi aku ke sana" jawab Davin.
Asisten rumah tangga itu pergi, tapi Davin malah berjalan menuju kamarnya. Alex menjadi lebih terkejut, dia hendak meraih tangan Davin namun terlambat. Davin sudah hendak masuk, Alex menutup matanya. Bukan karena takut Davin marah karena Zidan bicara dengan istrinya. Tapi takut Davin marah karena ada orang lain di kamarnya dan duduk di ranjangnya.
Tapi tak berapa lama, Davin kembali keluar dengan membawa laptopnya. Alex menatapnya dengan wajah panik. Davin bertanya dengan mengangkat kedua alisnya.
"Tidak, ayo!" ucap Alex.
Mereka berjalan bersama menuju ruang makan, dengan mata Alex yang menatap ke arah kamar Davin.
###
Ghani dan Hani sedang hendak sarapan, namun Oma menelpon dan memintanya untuk datang ke rumah secepatnya untuk menyambut Saga.
"Saga?" tanya Hano.
"Ya, putra sulung Pak Harris" jawab Ghani.
"Apa Bu Ayu akan datang?" tanya Hani sambil merapikan piring yang hendak dia pakai bersama Hana.
Hana menatap reaksi ayahnya yang menjadi diam. Hani dan Hana tahu benar cerita tentang keluarga Narendra. Lain halnya dengan Amelia yang sangat fokus dengan pendidikan dan pekerjaannya, dia kurang mau tahu atau penasaran dengan cerita keluarga Narendra.
"Entahlah, tapi aku harap ini bukan pertemuan yang membuat keluarga mereka memanas lagi" Ghani berharap.
__ADS_1
Hani mengantar Ghani ke luar, dia mencium punggung tangan Ghani. Dia mengantar kepergian suaminya dengan tatapan hingga hilang dari pandangannya.
"Bu, cepetan! Mikayla mau disuapin Ibu" seru Hana.
Hani berbalik, dia menatap Hana yang mendudukkan Mikayla di meja makan. Kemudian tatapannya beralih pada kursi yang biasa Amelia duduki. Hani mengingat saat-saat Amelia begitu lahap makan dan sangat suka dengan masakannya.
Hani berjalan perlahan mendekat ke meja makan. Hana memperhatikannya sambil sedikit demi sedikit berusaha menyuapi Mikayla.
"Ibu kangen Amel?" tanya Hana.
Hani mengangguk, dia mengambil piringnya dan menaruh nasi di atasnya.
"Lama banget Amelia perginya, dia bahkan nggak berusaha ngasih kabar" ucap Hani.
"Amelia juga kangen sama kita, apalagi Ibu, temen bertengkarnya" ucap Hana.
Hani menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia tak bisa menahan lagi rasa ingin menangisnya. Hana mengusap punggungnya untuk membuatnya merasa lebih baik. Namun tangis Hani semakin keras dan membuat Mikayla ikut menepuk bahu neneknya.
Hani menahan diri saat merasakan tangan kecil cucunya yang manis itu berusaha membuatnya tenang dan berhenti menangis.
Hani mengusap air matanya, Mikayla ikut mengusap pipinya.
"Makasih ya sayang!" ucap Hani.
Hana tersenyum, dia mencubit lembut pipi anaknya.
###
"Kau tidak menyiapkan makanan untuk tamu kita?" tanya Harris sambil mencari handuk di lemari.
Maria diam tak memperdulikan.
"Ayah dan ibu mu, undang mereka untuk makan malam, malam ini. Kita akan merayakan kedatangan Saga dan istrinya"
Harris masih bicara sambil menyiapkan pakaiannya. Tapi Maria tak memperdulikannya, dia sama sekali tak menjawab apalagi menoleh. Harris menatapnya dengan kesal.
"Apa kau dengan sengaja tidak mendengarkan aku?" tanya Harris dengan nada tinggi.
Maria berdiri dan menatap ke arah depannya. Kemudian dia berlalu begitu saja tanpa bicara. Harris menarik lengannya dengan kuat sehingga Maria tertarik dan meringis kesakitan.
"Aku bicara padamu!" ucap Harris di depan wajah Maria.
"Kau menyakiti ku!" ucap Maria menantang.
"Kau harus mendengarkan aku!" ucap Harris kesal.
"Aku tidak mau!" jawab Maria.
"MARIA!" teriak Harris.
__ADS_1
"Ya, aku Maria! Istri kedua mu, aku bukan ibu Saga jadi aku tidak akan menyambutnya" Maria semakin menantang.
Harris mengangkat tangannya untuk memukul Maria. Tapi Maria malah semakin membulatkan matanya.
"Pukul, ayo pukul aku. Lakukan apa yang selama ini sangat ingin kamu lakukan padaku" ucap Maria menantang.
Tapi Harris menurunkan tangannya. Dia melemah dan melepaskan pegangan tangan di lengannya. Dia mundur dan menundukkan kepalanya. Maria mengusap lengannya dan menatap Harris dengan kesal.
"Aku mau kau menyambutnya" ucap Harris lembut.
Tapi Maria masih kesal.
"Sekali ini saja. Aku mohon!" ucap Harris.
Mata Maria menatap Harris dengan heran, karena ucapannya yang memohon. Maria berpikir, mengapa dia begitu ingin dirinya menyambut Saga dan istrinya. Tapi dia mendapatkan jawabnya sendiri. Harris hanya ingin memperlihatkan bahwa dirinya mempertahankan rumah tangganya bersama Maria untuk Saga.
Maria menghela keras, setelah berpikir dengan jawabannya sendiri. Dia tersenyum menertawakan ketidakberdayaan dirinya melawan semua yang diminta Harris.
"Aku ingin sekali melakukan hal ini setiap aku bertemu dengan mu, melawan mu, menolak semua yang kau inginkan" ucap Maria.
Harris menundukkan pandangannya.
"Kenapa aku tidak bisa seperti istri yang lain? Kenapa?" Maria meneteskan air matanya.
Hening menyelubung di kamar mereka itu. Harris hanya bisa diam tak bisa menjawab pertanyaan Maria yang dia juga merasa sangat bersalah untuk menjawabnya.
Maria menghapus air matanya dan berjalan keluar kamar. Harris menatap kepergiannya hingga dia menutup pintu dengan keras.
###
Maria menyiapkan makanan di dapur, kemudian Oma datang bersama Amelia untuk memintanya membantu Maria yang sudah memulai memasak. Maria menatap Amelia dengan terkagum karena Amelia yang cantik dan manis.
"Ini Maria, mertua mu!" ucap Oma memperkenalkan Maria.
Maria mengangkat kedua alisnya.
"Ini istrinya Saga?" tanya Maria.
"Dia akan membantu mu untuk pertama kalinya di dapur. Aku mau dibuatkan bubur manis, Saga bilang dia pandai memasak" jelas Oma.
"Hai, apa kabar!" ucap Maria dengan memeluk dan beradu pipi kanan dan kiri dengan Amelia.
"Baik Bu, aku Amelia!" jawab Amelia.
Mata Maria membulat, dia mengalihkan pandangannya pada Oma Mira yang berlalu keluar dari dapur dengan perlahan.
~Amelia? Namanya sama dengan wanita yang disukai Davin. Ibu, apa ini?~
Maria tak bisa mendapatkan jawabannya. Dia berniat untuk mendapatkan jawabannya langsung dari Amelia selama mereka memasak.
__ADS_1
\=\=\=\=\=>