
Davin menunggu di luar rumah Amelia. Hani yang tadi menyuruhnya menunggu, tak kunjung keluar memberi kabar tentang Amelia yang tadi tiba-tiba histeris.
Davin khawatir, tapi tak bisa melakukan apa-apa. Dia berpikir, mungkin seharusnya dia tak datang dan membiarkan Amelia tenang.
Sudah jelas Amelia sangat terluka dengan apa yang terjadi. Dia mengalami banyak hal buruk selama mengandung Dama. Mendapatkan cinta Saga adalah hal yang cukup indah dan berkesan dalam hidupnya.
"Dia pasti sangat hancur" gumam Davin.
Tak berapa lama, Hana datang membuka pintu. Davin berdiri dan menyambutnya yang dia kira itu Hani.
"Maaf membuat mu menunggu lama" ucap Hana.
"Tidak apa-apa kak, aku tidak keberatan menunggu" jawab Davin.
Hani belum bicara apa-apa lagi, sesekali dia menatap ke arah rumahnya dan seolah sungkan untuk mengatakan sesuatu.
"Apa Amelia masih marah? " tanya Davin.
"Hhhmm? Ya, pasti" jawab Hana.
"Aku tahu, dia begitu sangat menyukai kak Saga..... "
"Bukan itu, lupakan hal itu. Dia lebih takut kehilangan Dama dibandingkan apapun" ucap Hana menyela.
Davin terdiam.
"Aku rasa, Amelia memang belum begitu yakin dengan perasaan Saga padanya. Dia selalu terlihat berusaha untuk mencintainya" ucap Hana seray duduk.
Davin ikut duduk seraya mendengarkan.
"Dia mengatakan meminta syarat atas permintaan maaf nyonya besar dan Saga, hanya karena dia merasa Dama takkan tumbuh dengan baik di rumah itu" ucap Hana ragu, takut menyinggung perasaan Davin.
__ADS_1
Davin tertegun.
"Maaf jika aku mengatakannya, tapi beberapa kali dia seolah takut Dama kembali ke sana" lanjut Hana.
Davin menghela, dia tak punya hal baik untuk dijadikan alasan agar Dama tinggal di sana.
Dia akan bercerai dengan Bella, belum lagi Saga dan Bella yang nantinya akan melangsungkan pernikahan.
Davin merasa keluarganya benar-benar tak sehat. Dama tak bisa tinggal di sana.
"Apa kau bisa membujuk nyonya besar untuk melepaskan Amelia dan Dama? " tanya Hana.
Davin menatap Hana, dia cukup enggan untuk menanggapi permintaannya.
"Tapi kak, aku yang tak bisa melepaskan mereka" jawab Davin.
Hana terkejut dengan jawaban Davin.
"Sejak awal, aku mencintai Amelia. Aku selalu berusaha untuk menemuinya selama ini. Dan selalu gagal. Tapi takdir mempertemukan kami lagi, meski situasinya aku sudah menikah dengan Bella dan dia saling mencintai dengan kakak ku sendiri. Tapi Kak, bukankah semua yang terjadi adalah takdir untuk kami? " jelas Davin.
"Tapi Amelia, dia.... "
"Bantu aku kak! " Davin menyentuh tangannya.
Hana membulatkan matanya karena terkejut.
"Apa? "
"Bantu aku membuat Amelia yakin kembali tentang hubungan. Terutama, yakinkan dia kalau aku sangat mencintai dirinya" lanjut Davin.
"Tapi... "
__ADS_1
"Aku mohon Kak! " Davin memelas.
Hana semakin keras menghela. Dia tak tahu harus membantunya atau tidak.
***
Zidan duduk menatap berkas di mejanya. Dia sangat leluasa setelah beberapa hari Davin dan Saga tak masuk kerja karena semua yang terjadi.
Susi mengetuk pintu ruangannya.
"Permisi Pak! " seru Susi.
"Ya, masuk!" Zidan menoleh.
"Ini laporan bulan ini Pak! " Susi menyerahkan laporannya.
"Ok, makasih! " jawab Zidan santai.
Susi menemaninya menjelaskan rincian laporan. Tak berapa lama, ponselnya berdering, dia juga banyak mendapatkan pesan.
Mata Zidan membelalak menatap semua pesan yang dia baca. Beberapa merupakan foto dan artikel sebuah surat kabar.
"Wooow! " seru Zidan.
Susi menatapnya heran.
"Ada apa Pak? " tanya Susi.
Zidan menoleh pada Susi dan tersenyum.
"Bersiaplah, kita akan menjadi bahan berita untuk satu bulan kedepan" ucap Zidan.
__ADS_1
Beberap saat kemudian, Susi juga mendapatkan pesan yang sama. Dia pun terkejut membaca artikel bergambar itu.
\=\=\=\=\=>