
Amelia berdiri di luar beberapa waktu saat menunggu Davin meninabobokan Dama. Alex ikut menunggu karena melihat Bella yang terus mengawasi Amelia dari arah kamar mereka.
Tak lama kemudian, Davin keluar dengan sedikit mengintip.
"Dama memanggil mu" ucap Davin.
Alex membulatkan matanya, merasa lucu dengan tingkah Davin yang melambaikan tangannya pada Amelia.
Tapi Amelia malah diam, ragu untuk mendekat apalagi masuk saat Davin masih di sana.
Davin keluar dan menarik tangan Amelia tanpa rasa ragu. Amelia tak menolaknya karena terkejut dan merasa itu adalah permintaan Dama.
"Mama! " seru Dama.
Amelia langsung datang dan memeluknya karena posisi Dama sedang berjalan di ranjang, Amelia takut dia akan terjatuh. Davin yang berpikir hal yang sama pun ikut meraih Dama. Alhasil, Amelia dan Davin saling memeluk dengan Dama di tengah-tengah mereka.
Mata Davin menatap mata Amelia yang membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu, tanpa berkedip. Pandangannya beralih ke bibirnya yang berwarna peach, seperti biasanya.
Glek... Davin menelan salivanya, menahan keinginannya untuk menyentuh bibir Amelia dengan bibirnya.
Amelia hanya mengusap kepala Dama dan tersenyum.
"Dama sayang, jangan berlari di tempat tidur ya!" ucap Amelia sambil melepaskan peluknnya dari Davin.
Amelia menggendong Dama menjauh dari ranjang. Davin mengalihkan pandangan dan duduk di ranjang.
"Kau bisa pergi, sepertinya Dama sudah sangat mengantuk" ucap Amelia.
Davin menganga, dia tersadar dari lamunannya yang membayangkan bibir Amelia.
"Oh ya, aku pergi" Davin berdiri dan merapikan jasnya.
"Papa! " ucap Dama dengan tangan hendak meraih tangan Davin.
"Sayaaang, papanya mau istirahat. Besok lagi main dengan papa nya ya! " ucap Amelia.
Tangan Davin yang hendak mengambil Dama kembali dia masukkan ke dalam saku jas.
"Iya, besok kita main lagi ya! " ucap Davin menyetujui ucapan Amelia.
Dama memeluk erat Amelia dan terkulai lemas karena sangat mengantuk. Davin mengusap kepalanya yang sangat dekat dengan wajah Amelia.
"Aku keluar, bye! " ucap Davin.
Amelia tak menjawabnya. Dia berbalik dan terus menggoyang tubuhnya agar Dama merasa diayun dan tertidur pulas.
Davin mundur perlahan sambil menatap mereka, berharap suatu saat dia bisa bergabung dengan mereka dalam satu kamar. Tapi dia hanya bisa menelan salivanya. Semua itu hanya menjadi mimpi baginya.
Bella berdiri di depannya saat dia berbalik hendak menutup pintu kamar Dama. Matanya menyorot seperti laser yang menyinari mata Davin.
__ADS_1
"Astaga! Kau membuatku kaget" ucap Davin sambil mengusap dadanya.
"Kau senang kan? " tanya Bella.
"Apa? " Davin tak menghiraukan nya.
Dia pergi ke arah ruang kerjanya.
"Kau senang dia ada di rumah ini" ucap Bella tetap menyusulnya.
"Kau ini bicara apa! " Davin tetap berjalan santai.
"Ini bukan tentang Dama, dia hanya jadi alasan mu agar wanita aneh itu tetap tinggal di sini" ucap Bella.
Davin berhenti berjalan, dia berbalik dan menatap Bella.
"Jaga ucapan mu, jangan memanggil orang lain dengan sebutan seperti itu" ancam Davin.
"Memang dia aneh, tidur dengan pria asing, mengandung anak tanpa suami, dan... "
Bella berhenti bicara saat melihat tangan Davin yang mengepal.
"Dan pacaran dengan kakak dari ayah anaknya"
Suara Bella melemah, pandangannya pun turun tak berani menatap mata Davin.
"Apa yang dia alami, sepenuhnya bukan apa yang dia inginkan. Sebagai sesama wanita, aku kira kau bisa mengerti posisinya sekarang, tapi... "
"Siapa yang bisa mengerti posisi seorang wanita yang bisa saja merebut suaminya, yang bahkan enggan menyentuhnya" ucap Bella.
Kini dia berani menatap mata Davin dengan matanya yang mulai berair. Davin hanya menghela dengan keras dan mengalihkan pandangannya.
"Bella, tolong. Mungkin saja Amelia tak berpikir untuk kembali padaku. Kami bahkan.... "
Davin memejamkan matanya. Dia ingat dengan ucapan Amelia yang seolah tak ingin mengingat lagi semua yang terjadi pada malam itu. Dia menghela dan berusaha mengendalikan diri.
"Aku sangat lelah, aku tidak mau membahas semua ini" ucap Davin.
Bella kesal memperhatikan Davin yang sangat tak ingin melihat wajahnya. Dia terus menatap Davin yang berjalan ke arah ruang kerja.
"Davin! itu ruang kerja, bukan kamar tidur" seru Bella.
Tapi Davin tak menghiraukan nya, dia tetap membuka pintunya dan masuk, kemudian terdengar menguncinya. Bella kesal, dia menghentakkan kakinya beberapa kali.
Bella berbalik dan hendak masuk ke kamarnya, tapi tangannya ditarik seseorang ke sisi lorong dan terjebak di dinding.
"Zidan" bisik Bella.
"Ya, ini aku" ucap Zidan sambil memperhatikan bibirnya.
__ADS_1
"Lepaskan aku, ini dekat dengan ruang kerja Davin" bisik Bella.
"Kau tidak perlu cemburu pada Davin seperti itu, aku tidak suka. Kau bisa melakukannya dengan ku, untuk membalas dendam padanya" bisik Zidan di telinga Bella.
Bella memejamkan matanya karena hembusan nafas Zidan menggelitik telinganya. Zidan tersenyum, merasa sudah membuat Bella merasakan yang dia rasakan.
Tapi Bella mendorong Zidan dan membuatnya terkejut.
"Hei! " seru Zidan kesal.
"Ada apa Zidan? " seru Oma Mira yang datang dari arah kamarnya.
Bella terkejut, matanya membulat seolah akan keluar dari tempatnya. Dia bergerak mundur, bersembunyi di balik lemari.
Oma mendekatinya, Zidan maju dua langkah agar Oma tak semakin mendekat dan melihat Bella.
"Tidak Oma, aku mengeluh pada teman ku di telpon. Dia menutup telponnya tiba-tiba" ucap Zidan sambil menunjukkan ponselnya.
Oma Mira menatap wajahnya, kemudian mengusap kepalanya.
"Istirahat sana, kau harus banyak belajar dari Davin tentang perusahaan" ucap Oma.
Raut wajah Zidan berubah kesal saat Oma mengatakan dia harus banyak belajar dari Davin, saudara yang paling dia benci.
Rasanya ingin dia melawan ucapan Oma nya, namun di menatap Bella yang masih berdiri di sudut. Dia mengambil nafas dalam dan menarik tangan Oma nya dengan lembut dan mengantarnya kembali ke kamarnya.
"Oma kenapa keluar dari kamar? Oma mencari sesuatu? " tanya Zidan sambil memberi kode pada Bella untuk pergi dari sana.
"Aku mendengar suara berisik dan keluar untuk memeriksanya. Sudah, tidak usah mengantarkan ku sampai kamar" Oma berbalik.
Bella yang hendak melangkah, menarik kembali kakinya mundur. Dia memegangi dadanya merasa sangat takut Oma melihatnya.
Zidan menghalangi pandangan Oma yang tertuju pada tempatnya tadi, dengan tubuhnya.
"Baiklah, Oma masuk dulu ya, nanti aku kembali ke kamar ku dan istirahat" ucap Zidan.
Tangan Zidan membalikkan tubuh Oma dan mendorongnya perlahan masuk ke rumahnya.
"Oma harus banyak istirahat ya, banyak hal yang harus Oma hadapi setelah kedatangan Amelia" ucap Zidan.
Oma berbalik lagi dan menatap Zidan.
"Apa maksud mu? " tanya Oma.
Zidan tersenyum senang.
"Aku melihat Davin masuk ke kamar Dama dan memanggil Amelia untuk ikut masuk juga. Hmmmm, Oma apa yang bisa terjadi diantara mereka di ruangan tertutup seperti itu. Jangan jangan Dama kedua akan lahir sebentar lagi"
Oma Mira refleks menampar Zidan. Diafragma nya kembang kempis menahan kesal.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=>