CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
65


__ADS_3

Amelia buru-buru berdiri dan menjauh dari Davin.


"Aku mau mengajaknya ke rumah ayah dan ibuku" jawab Amelia.


Davin menatap tangan Amelia yang sedang memegang ponsel.


"Tapi kurasa tidak bisa, nyonya Maria pergi keluar tadi, aku tidak bisa meninggalkan nya untuk mandi" ucap Amelia.


"Pergilah mandi, aku akan menjaga Dama" ucap Davin.


Mata Amelia membulat, jikapun dia setuju Davin menjaga Dama, tidak mungkin dia membiarkannya tetap di kamar. Dia hanya bisa diam dan melirik ke sekitar.


Davin menggendong Dama, dia mencium dan merapikan rambutnya yang mulai panjang.


"Ayo Dama, kita ke ruang kerja papa. Mama mandi dulu ya! " ucap Davin pada Dama.


Amelia tersenyum, lagi-lagi dia memikirkan hal yang sulit sendiri. Padahal begitu mudah bagi Davin mengajak Dama keluar dari kamar.


Amelia menaruh ponselnya di meja dan pergi mandi. Tapi Davin kembali ke kamar dan mengambil ponsel Amelia.


"Tidak di kunci!??? Sepolos itu kah dia? " gumam Davin.


Dia memeriksa pesan yang telah dia lihat sebelumnya. Tapi sayang, Davin malah kesal melihat isi pesan Amelia yang dikirimnya pada Saga.


"Apa apaan ini, dia merindukan kak Saga. Yang benar saja, jelas-jelas dia masih menyukai ku"


Davin menaruh ponselnya dan kembali pada Dama yang diasuh Minah.


"Aku akan kembali setelah ganti pakaian. Oh ya, apa Bella di kamar? " tanya Davin pada Minah.


"Nyonya Maria dan Nyona Bella pergi bersama ke rumah mertua anda den! " jawab Minah.


"Oh begitu ya, ya sudah makasih mba" ucap Davin sambil pergi ke kamarnya.


Dia tak mandi, hanya berganti pakaian dan memakai jaket sweater. Setelah kembali pda Dama, Davin meminta Minah ke dapur.


"Mba, apa di kulkas banyak buah? " tanya Davin.


"Banyak den, tadi pagi di kirim pak Nur tukang buah langganan" jawab Minah.


"Bisa buatkan parcel buah? aku tidak tahu kalau Amelia mau mengunjungi rumahnya, jika tahu tadi aku pasti beli di toko buah" jelas Davin.


"Bisa...! " jawab Minah sambil tersenyum.


"Makasih mba" ucap Davin.


Davin mengikuti langkah Dama mengelilingi rumah, dia tak menyangka akan memiliki putra yang pintar.


Sampai di depan dekat pintu, Dama mengajak keluar. Davin membuka pintu dan Dama pun berlari dan menunjuk mobil.


"Papa... papa! " hanya itu yang diucapkannya.

__ADS_1


Davin tersenyum sambil menggendongnya.


"Dama mau naik mobil? " tanya Davin.


Davin menatap ke arah jendela kamar Amelia.


"Ayo! " ajak Davin.


Dan mereka pun main di dalam mobil setelah supir mengantarkan kuncinya.


"Makasih pak Samin! " ucap Davin.


"Ya Den, sama-sama. Saya seneng lihat aden sama anaknya kayak gini. Non Amelia pinter ngurus anak, bisa pinter gini ya den" puji Pak Samin pada Amelia.


Davin terdiam, dia tersenyum menatap Pak Samin yang berlalu pergi, kemudian menatap Dama.


Baru terpikir olehnya, berberapa tahun ini adalah tahun tersulit yang pernah Amelia lalui.


Tak lama kemudian, Amelia datang dengan membawa parcel buah di tangannya. Davin tersenyum padanya.


"Padahal tidak usah repot-repot, lagipula akan sulit bagi ku membawa parcel ini sambil menggendong Dama ucap Amelia.


"Kau bawa parcel itu saja, biar Dama yang aku gendong" ucap Davin santai sambil menyalakan mobil.


"Apa? Kau ikut? " Amelia bicara dengan terbata.


"Ya, masuklah. Keburu makan malam nanti" ajak Davin.


"Masuk! Aku kesulitan menyetir karena Dama ada di pangkuan ku" ucap Davin.


Amelia buru-buru masuk ke mobil dan mengambil Dama.


"Tapi Davin, Bella... "


Davin tak peduli, dia tetap melajukan mobilnya keluar dari kediaman Narendra.


***


Di rumah Ayu.


Ayu duduk menatap Saga yang sedang membaca semua berkas yang diberikan Gala sebelum dia pergi ke Tangerang.


"Apa kau yakin akan kembali ke rumah itu dengan cara ini Nak? " tanya Ayu.


Saga yang sedang membaca, berhenti dan meletakkan berkas nya di meja.


"Ibu takut? apa yang ibu takutkan? Aku kembali dan mengambil semua yang sudah menjadi hak ku. Aku juga harus kembali dan menggenggam tangan Amelia kembali. Dia pasti merasa tak nyaman tinggal di sana sendirian" ucap Saga.


"Sayang, ibu hanya merasa hal ini tidak perlu dilakukan. Jika kau mau kembali ke rumah Kakek mu, kau tinggal datang dan bergabung tinggal di sana" ucap Ayu.


"Lalu ibu akan tetap di sini dan selalu dianggap wanita pengganggu, begitu? " ucapan Saga membuat Ayu diam.

__ADS_1


"Saga, aku tidak pernah peduli dengan apa yang terjadi pada diriku. Apa yang dikatakan orang tentangku atau tentang prasangka mereka. Aku hanya takut kau terluka karena kembali dengan cara ini. Kita sama-sama tahu bagaimana Oma mu. Dia akan merasa kau jadi musuhnya jika begini" jelas Ayu.


"Bu.... "


Saga datang dan memegang tangannya.


"Terimakasih karena kembali dan memanggilku dengan panggilan itu lagi" ucap Ayu dengan mengusap rambutnya.


"Aku ingin ibu kembali dengan harga diri ibu. Atau setidaknya, mereka mengerti posisi ibu. Mengetahui bahwa sebenarnya ayah tidak tinggal di sini. Membongkar kebusukan mereka yang sudah membuat ibu terlihat buruk" Saga mulai menangis.


"Tidak, tidak perlu begitu. Ibu cukup senang kau kembali ke sisi ibu. Yang lainnya tidak penting" ucap Ayu.


Saga memeluk Ayu dengan erat. Penyesalan nya muncul saat dia ingat kejadian beberapa hari sebelumnya.


Tapi dia percaya diri dan merasa mendapat dukungan dari Gala tentang kembalinya dia ke perusahaan.


~Tidak bu, Om Gala benar. Seharusnya aku ada di sana, aku yang menjadi pimpinan di perusahaan Narendra. Aku putra pertama dari ayah ku, Harris Coltin Narendra~ ucap hati Saga.


Tak lama kemudian Zidan datang.


"Hai tante! " sap Zidan.


"Hai Zidan, sini duduk. Ikut makan dengan kami" ucap Ayu.


"Tidak tante aku sudah makan tadi di kantor, aku datang hanya untuk memastikan Saga membaca semua berkas yang diberikan ayah ku" jelas Zidan.


"Aku membacanya, kau juga tidak perlu datang begitu sering kemari. Nanti Oma mengetahuinya, kau tahu kan Oma banyak sekali anak buahnya" ucap Saga.


"Tidak usah khawatir, aku bukan orang penting baginya, tidak ada yang mengikutiku" jawab Zidan santai.


Saga mendelik, dia kurang menyukai Zidan karena tingkahnya yang tengil. Dia juga bersikap tak sopan terakhir kali melihat Amelia.


"Tanyakan saja apa yang kau tidak mengerti, aku cukup hafal dengan sistem perusahaan kita" ucap Zidan.


"Ya" jawab Saga dengan singkat.


Ayu merasa Saga tidak begitu suka dengan Zidan. Dia mengajak Zidan melihat koleksi tanaman hiasnya.


"Zidan kau tahu tanaman ini? " tanya Ayu.


Zidan menghampiri dan mengomentari semua koleksi Ayu.


Sementara itu Saga masuk ke kamar dan duduk dengan ekspresi yang malas berpikir tentang Zidan.


Matanya beralih pada tas Amelia yang dia tinggalkan. Ponselnya ada di sana, sudah beberapa hari ini dia tak membukanya. Dia merogoh tasnya dan mengambil ponsenya.


Dia cukup terkejut sesaat setelah ponselnya menyala. Panggilan tak terjawab dan pesan dari Amelia menjadi pembuka pertama di pemberitahuan nya.


"Kau merindukan ku? Aku juga sangat merindukan mu Amelia. Bersabarlah, aku akan datang setelah aku siap. Bersabarlah! " gumam Saga.


\=\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2