
Alex berjalan perlahan keluar dari kamar Oma Mira. Sekali lagi, dia melihat Bella berjalan menuju tangga ke arah balkon. Dia hendak menyusulnya, karena sangat penasaran dengan apa yang dilakukannya di sana. Tapi kedatangan Davin membuatnya mengurungkan niatnya.
"Sekarang, aku mau sekarang kamu kasih tahu apa yang Oma minta kamu kerjakan" ucap Davin sambil menarik tangan Alex.
Mereka masuk ke kamar Davin dan menutup rapat pintunya. Alex meraba seluruh isi kamar dengan matanya.
"Kamar seindah ini, kau sama sekali tak ada gairah bersama istri mu?" tanya Alex.
"Bukan itu yang ingin aku bahas dengan mu. Katakan padaku, apa yang Oma minta dari mu?" tanya Davin.
Alex duduk di sofa dan menumpangkan kakinya.
"Aku di suruh mencari Amelia Quinarra Wardhana" ucap Alex santai.
Mata Davin membulat, dia terkejut sekaligus tak percaya dengan apa yang dikatakan Alex.
"Kau pasti bercanda, kau pasti ingin menggodaku dengan ucapan mu itu" ucap Davin.
"Tidak, aku tidak bercanda. Aku sudah menemukan rumahnya" ucap Alex.
"Kau serius? Dimana? Dimana dia sekarang?" tanya Davin.
Jelas dia sangat ingin tahu, dia masih tak bisa melupakan semua kenangan bersama Amelia walaupun singkat, hanya hitungan hari.
"Vin, kenapa kamu nggak nolak perjodohan ini? Kamu nggak mikirin perasaan Bella yang menjadi istri kamu. Seharusnya..."
"Ya, seharusnya aku mengatakan semuanya. Tapi rasa takut, malu dan lainnya merusak pikiran ku dan sikap Bella yang membuatku kesal, membuatku ingin meneruskan perjodohan ini. Kau tahu, Bella tak terlihat seperti yang terlihat" ucapan Davin membuat Alex berpikir.
"Aku mengerti tentang rasa takut dan malu, tapi untuk sikap Bella, aku mungkin harus bicara dan mengenalnya lagi setelah sekian lama aku tak bertemu dengannya" ucap Alex.
"Dia baik Lex, sangat baik. Tapi obsesinya terhadapku, aku tidak nyaman dengan hal itu. Dia agresif, memaksa ku untuk melakukan hubungan itu meski aku sudah katakan bahwa aku tak bisa. Ku rasa dia hiper" jelas Davin.
Dia sangat luwes mengatakan semuanya pada Alex, sesuatu yang dia sembunyikan hampir setahun ini. Tak ada orang yang bisa membuat dia mengatakan semuanya kecuali Alex.
"Apalagi kalau dia hiper, kau sudah membuatnya sangat menderita Vin!" ucap Alex.
"Aku bersumpah demi apapun Lex, aku sudah berusaha, bahkan aku coba membayangkan Bella adalah Amelia tapi tak bisa, tetap saja tak bisa" ucap Davin menyesali dirinya sendiri.
Alex memperhatikan Davin yang benar-benar bicara jujur.
"Sayangnya, Amelia tak di sini lagi. Keluarganya pun tak tahu dia ada dimana" ucap Alex.
Davin ingat dengan pembicaraan yang dia dengar dari telpon. Suara seorang pria yang mengatakan pada seseorang untuk melupakan Amelia yang pergi.
"Ya, dia pergi. Aku tahu itu, tapi kenapa dia pergi? Apa dia ada masalah dengan keluarganya?" Davin bertanya lagi.
__ADS_1
Alex membulatkan matanya mendengar ucapan Davin.
"Kau tahu? Apa kau juga tahu kalau Amelia adalah putra dari pak Ghani, orang kepercayaan Oma?" Alex bertanya.
Davin menatap wajah Alex dengan terkejut.
"Apa? Kau bercanda lagi? Pak Ghani?" Davin memastikan apa yang dia dengar.
~Apa cuma Oma yang tahu? Kenapa Oma menyembunyikannya?~ tanya hati Alex.
"Aku serius, aku juga sedang mencari tahu apa alasan Amelia pergi" ucap Alex sambil berdiri.
"Percuma aku tahu dia putri pak Ghani jika dia sendiri tak ada di rumah pak Ghani" ucap Davin.
"Tenang Vin, aku akan mencari tahu kemana dia pergi. Oh ya, bilang pada Bella untuk mengundang kedua orang tuanya makan malam besok, Oma punya acara katanya. Aku akan mengundang anggota keluarga lainnya" ucap Alex.
"Acara apa? Kok semua orang harus berkumpul" tanya Davin.
"Entahlah, katanya istimewa. Aku hanya manut saja. Aku juga harus menemukan Amelia bukan? Aku sangat penasaran dengan apa yang terjadi" ucap Alex.
Davin diam saja. Alex membuka pintu dan menatap Bella sedang berdiri di depan pintu dengan keringat mengucur di dahinya.
"Hai Bella!" sapa Alex.
"Hai Lex! Apa kabar?" jawab Bella dengan basa basinya.
"Baik, kau sendiri apa kabar? Dari mana kau keringatan begitu?" tanya Alex.
Bella gelagapan.
"Aku...aku habis...tadi....olah raga sebentar di balkon" jawab Bella.
Alex merasa aneh dengan jawaban Bella. Tapi Davin tak peduli, dia keluar karena tahu Bella akan mandi dan ganti pakaian.
"Oh, ok. Aku masuk dulu, bye Lex!" Bella melambaikan tangan pelan dan masuk ke kamarnya.
Alex menatap Davin yang berjalan meninggalkannya. Dia sedikit bingung dengan situasi ini. Dia hendak bertanya namun Davin mengajaknya bicara tentang Amelia dan kemungkinan dia pergi kemana.
##
Bella mandi, dengan cucuran air dari shower dia masih bisa merasakan sentuhan tangan Zidan yang dia dapatkan di balkon tadi.
#
Bella datang dengan menangis, menatap ke arah pemandangan kota meratapi kemalangannya yang berharap bisa bahagia menikahi cinta pertama dalam hidupnya. Kini semua anggota keluarga hanya fokus pada kebahagiaan Davin. Sementara dirinya diabaikan.
__ADS_1
Zidan datang, melangkah dengan perlahan kemudian memeluknya dari belakang. Kedua tangannya menutup kedua mata Bella.
"Hayo tebak ini siapa?" ucap Zidan.
Namun dia merasakan basah di tangannya. Dia membalikkan badan Bella dan menatapnya dengan khawatir.
"Kenapa? Ada apa Bella? Apa yang membuat mu menangis?" tanya Zidan.
Bella tak tahan lagi, tak ada yang bisa dia ajak bicara. Dia langsung memeluk Zidan dan menangis di dadanya.
"Zidan, mereka jahat Zidan. Oma Mira dan Ibu Maria mencari Amelia, wanita yang dicintai Davin. Saat mereka tahu bahwa Amelia pergi jauh entah kemana, mereka berusaha mencarinya. Lalu, ada kabar tentang Saga, yang katanya sudah menikah dan memiliki seorang anak. Oma Mira malah fokus pada Saga dan kepulangannya besok. Zidan....perasaan ku tidak dihargai di rumah ini. Aku rasanya ingin mati saja" tangis Bella pecah.
Zidan mengangkat kedua alisnya, dia merasa sangat mudah mendapatkan informasi dari Bella tanpa bersusah payah menyelinap untuk mendengarkan atau menyuruh pembantu mendengarkan percakapan mereka dengan imbalan. Zidan menghela dan mengusap kepala Bella, dia mulai beraksi dengan rayuannya.
"Siapa yang bilang tidak ada harganya? Perasaan kamu sangat berharga bagi aku, Bella jangan nangis ya. Masih ada aku, aku akan selalu di sisi mu, menjaga mu dan membuat mu nyaman. Lupakan Davin, dia hanya akan menyakiti mu dengan semua keacuhannya. Lihat aku, aku Zidan Zahrein Coltin akan selalu ada bersama mu" ucap Zidan dengan memegang wajah Bella.
Dekat semakin dekat, wajah mereka semakin dekat. Bibir Zidan pun mulai bertautan dengan bibir Bella. Namun Bella menahan dada Zidan.
"Zidan, aku...tidak bisa melakukan ini. Aku tidak akan bisa mengontrol diri ku. Maafkan aku, aku hanya mau ditiduri Davin untuk pertama kalinya. Jika suatu saat dia berubah pikiran, dia akan tahu aku tidak perawan jika melakukannya dengan mu" ucap Bella.
Zidan tersenyum, hatinya menertawakan kepolosan Bella.
"Tenang saja, aku cuma mau membuat mu relaks. Aku janji nggak akan menjebol selaput dara mu" bisik Zidan di telinga kiri Bella.
Cara Zidan membisikkan perkataannya saja sudah membuat Bella mengeluarkan hormon. Bella semakin merasa nyaman saat Zidan mulai mencumbunya hingga ke bawah leher. Hanya sampai situ Zidan mempermainkan libido Bella. Itu saja sudah membuat Bella berkeringat dan merasa nyaman.
Dia bisa melupakan kekesalan dan kesedihannya sejenak. Dia merasa melayang-layang dibawa Zidan menuju khayangan. Remasan tangan Zidan di tangannya membuatnya semakin mengerang. Zidan menegang, dia mengakhirinya karena dia juga tak kuasa menahannya.
Akhirnya mereka merasa kelelahan sendiri menahan diri untuk tak melakukan hal lebih. Nafas mereka terengah, jika itu bukan di balkon, mungkin seseorang sudah bisa mendengar suara mereka yang terengah.
Zidan menatap Bella kemudian tersenyum.
"Sudah relaks?" tanya Zidan.
Bella tersenyum malu, kemudian mengangguk.
"Turunlah lebih dulu, tadi aku lihat Alex masuk ke kamar mu bersama Davin" ucap Zidan.
Bella mengangguk dan pergi. Tangan Zidan menahannya, Bella tersipu kemudian melepas tangan Zidan dengan malu-malu.
#
Bella tersenyum meraba leher dan dadanya. Dia sangat senang ada yang mau membuatnya nyaman dan melupakan kesedihannya. Meskipun mungkin hal ini adalah awal dimana dia bisa terjebak perselingkuhan dengan Zidan.
"Tidak, Zidan sudah janji takkan melakukan hal itu. Ini bukan perselingkuhan, aku tidak sampai tidur dengannya" ucap Bella pada dirinya sendiri di depan cermin.
__ADS_1
\=\=\=\=\=>