CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
121


__ADS_3

Rumah Narendra.


Semua orang berkumpul, termasuk Ayuningtyas dan Veni. Tak ada siapapun yang berani memulai pembicaraan. Mereka menunggu ucapan Oma Mira.


"Kalian tahu kenapa aku mengumpulkan semua orang" Oma menatap satu persatu dari mereka.


"Pernikahan batal, dan aku harus menarik semua undangan dari mereka semua sembari menjelaskan semua yang terjadi" lanjutnya.


Saga menundukkan kepalanya, Bella pun hanya bisa meremas tangan di pangkuannya.


Davin bersikap tak peduli, dia terlihat kacau karena belum berganti pakaian ataupun mandi.


"Aku tidak mau melakukannya" ucap Gala.


"Ya, benar. Itu memalukan" timpal Vania.


Veni dan Ayuningtyas menundukan pandangannya.


"Ya baiklah, kalian berdua bisa kembali ke Tangerang, tidak usah melakukan apapun" ucap Oma.


Gala dan Vania menelan salivanya.


"Apa yang harus kita katakan? " tanya Maria.


Oma Mira menghela.


"Entahlah, aku juga sedang tidak bisa berpikiran jernih. Karena setelah pembatalan pernikahan ini, akan ada perceraian. Lalu, pernikahan lagi" ucap Oma.


"Aku dan Davin akan membantu menjelaskan pada semua kolega Bu, jangan khawatir" ucap Harris.

__ADS_1


Oma Mira mengangguk. Tapi Davin tak peduli.


"Lalu kau! Apa kau bersedia mengatakan pada teman sosialita mu? " tanya Oma pada Maria.


Maria menghela, dia menjawab cukup lama setelah menatap ke arah Bella dan Saga.


"Ya, aku akan melakukannya" ucap Maria.


"Kau" tunjuk Oma pada Saga.


Saga menegakkan tubuhnya.


"Ikut bersama ku me rumah Ghani" pinta Oma.


Saga mengangguk dengan berat hati, tapi Davin langsung bereaksi. Dia yang justru ingin bertemu Amelia setelah tahu dia kembali ke rumahnya kemarin.


"Baik Nyonya besar" jawab Alex.


Oma Mira sedikit kesal mendengar panggilan Alex terhadapnya. Namun, panggilan itu kembali sesuai dengan permintaannya semalam, setelah mengantar Amelia ke rumahnya.


Davin pun merasa aneh dengan panggilan itu, sudah cukup lama, mungkin sejak kecil Alex memanggilnya dengan nama Oma, apa yang membuatnya merubah panggilan itu?


***


Ghani bersiap ke kantor, dia sudah rapi dan hendak mengambil tasnya. Namun ketukan di pintu membuatnya urung mengambil tas dan langsung meminta Hani membuka pintu.


"Kau saja, aku masih mencuci piring! " seru Hani.


Ghani menghela tapi kemudian membuka pintu. Dan alangkah terkejutnya dia melihat Oma Mira dan Saga datang hanya berdua.

__ADS_1


"Selamat pagi Ghani! " sapa Oma Mira yang melihat Ghani diam saja.


"Selamat pagi Nyonya besar! " jawab Ghani.


Hana dan Hani keluar dari dapur setelah mendengar Ghani menjawab sapaannya. Mereka terdiam menatap Saga yang ikut masuk ke rumahnya.


Ghani mempersilahkan Oma dan Saga untuk duduk, sementara itu Hani melipat tangannya menatap mereka.


"Akan aku buatkan teh! " ucap Hana.


"Terimakasih Nak. Tapi sebelum itu, bisakah kau panggilkan Amelia? " pinta Oma.


"Baik Nyonya! " jawab Hana setelah menatap ayahnya yang mengangguk.


Ghani tak memulai ucapan apapun, dia malah terlihat tak mau menatap Saga sedikitpun.


"Cucu ku, tidak, kedua cucu ku sudah berbuat kesalahan. Terutama pada putri mu" ucap Oma Mira.


Ghani berusaha tegap menanggapi ucapan Oma Mira.


Beberapa saat kemudian, Amelia datang tanpa Dama. Saga menatapnya dengan penuh penyesalan, tapi Amelia menghukumnya dengan tak menatapnya.


"Duduklah! " ucap Ghani seraya menepuk sofa di sampingnya.


"Selamat pagi Nyonya besar" sapa Amelia.


Oma Mira hanya mengangguk. Hani mendelik kesal dengan responnya yang hanya mengangguk tanpa memeluk atau mengucapkan permintaan maaf pada Amelia.


\=\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2