CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
127


__ADS_3

Harris uring-uringan membaca semua artikel tentang dirinya dan Ayuningtyas. Hal yang dia sembunyikan selama ini, terbongkar oleh wartawan.


Oma Mira menunggunya di rumah. Tapi, mobil Harris tak bisa bergerak karena kerumunan wartawan di depan rumah besar Narendra.


Alex dan Davin pun tak bisa keluar rumah untuk pergi ke kantor. Mereka menatap ke arah luar dari jendela samping.


"Bagaimana ini?" tanya Alex.


"Entahlah! " jawab Davin acuh seolah tak peduli.


"Viiinnn! " Alex menyusulnya yang pergi begitu saja.


Oma menatap mereka di ruang keluarga. Alex berhenti menyusul Davin yang terus berjalan ke atas menuju ruangannya.


"Biarkan saja" ucap Oma pada Alex yang terus menatap Davin.


"Oma! " Alex menatap mata sendu orang tua itu.


"Kenapa? Kau iba padaku? " tanya Oma.


"Tidak! " Alex mendekat kemudian memegangi tangannya.


"Harris tak bisa masuk, kerumunan wartawan menghalanginya. Jika dia keluar sekarang, dia akan mendapatkan masalah bukan? " ucap Oma.


"Tidak juga, Pak Harris bisa mengklarifikasi, dia bisa menyangkal dan mengatakan mereka hanya berdiskusi tentang putra mereka..... "


"Lalu mereka juga akan tahu kalau Saga menghancurkan rumah tangga adiknya sendiri" Oma melanjutkan spekulasinya.


Alex menganga terkejut mendengar ucapan Oma Mira. Hal yang tak terpikirkan olehnya. Bahkan mungkin terlupakan.


Davin yang berdiri di ujung tangga, mendengar ucapan neneknya itu. Dia merasa Oma nya benar, semua akan terbongkar. Hal itu akan mempengaruhi saham perusahaan dan semua kesepakatan akan dipertimbangkan.


***

__ADS_1


Di rumah, Hani menatap televisi yang memberitakan tentang rumor yang beredar. Dia mengangkat alisnya dan menghela.


"Aku pikir mereka benar-benar menjaga jarak seperti yang mereka katakan" gumam Hani.


Amelia yang baru turun, melihat dan mendengarkan berita itu. Dia terdiam dan hanya bisa berpikir tentang kesehatan Oma Mira.


Hana mencubit ibunya yang hendak berkomentar lagi tentang keluarga Narendra.


"Sakit Na! " keluh Hani.


"Ibuuuu, dibelakang ada Amel" bisik Hana.


Hani langsung mengganti channel tvnya. Amelia pun pergi ke dapur, menyiapkan makanan untuk Dama.


Hani mengintip ke dapur, Amelia terihat acuh.


"Dia terlihat acuh" gumam Hani.


Amelia kembali ke atas, Mikayla selalu mengajaknya main di teras atas.


"Makanannya sudah datang sayang... " seru Amelia.


Dama menoleh, wajah Davin begitu melekat di wajahnya. Seolah sedang meminta perhatiannya.


"Mama! " seru Dama seraya menangis.


"Kenapa? " tanya Amelia yang kemudian buru-buru menghampirinya.


"Dama tadi mengigit jarinya sendiri" adu Mikayla.


Amelia menghela, dia menarik Dama ke pangkuannya.


"Tidak apa-apa, hanya sedikit sakitnya. Nanti rasa sakitnya akan hilang sendiri" ucap Amelia.

__ADS_1


Dama kembali bermain dengan Mikayla. Tapi Amelia menjadi diam.


'Ya, sakitnya akan hilang seiring waktu. Lalu kenapa aku mendendam? Semua terjadi, bukan yang mereka inginkan, Saga pun tak pernah menyangka akan menjadi ayah dari bayi yang Bella kandung. Seharusnya aku bisa mengubur kekesalan ku dan tak menghubungkannya dengan pengalihan hak asuh Dama. Davin dan aku bisa membesarkan Dama bersama. Ya benar'


Amelia menghela setelah berkompromi dengan dirinya sendiri.


***


Ghani dan karyawan lain berusaha untuk membuat semua pers meninggalkan kantor mereka, tapi usahanya sia-sia. Dia pun melapor pada Oma Mira yang menelpon.


Dia menelan salivanya menatap nama yang muncul. Teringat bagaimana dia begitu enggan tulus mengatakan bahwa kesalahan berada pada cucunya.


Tapi, apa mau dikata, Ghani belum bisa berhenti bekerja. Dia masih membutuhkan pekerjaan itu, terlebih, kedua putrinya kini kembali dan tinggal bersama mereka.


"Ya Nyonya! " sapa Ghani.


"Bagaimana keadaan di kantor? " tanya Oma Mira.


"Kami sedang berusaha untuk membubarkan kerumunannya. Tapi mereka bersikeras ingin menemui pimpinan" jawab Ghani.


"Entah sekarang dia dimana, dia mungkin tidak bisa kemanapun. Yang kudengar, rumah Ayuningtyas juga mereka datangi" keluh Oma Mira.


Hening sejenak, saat Oma merasa bahwa Ghani tetap bersamanya di masa sulit seperti ini. Meskipun dia sudah melontarkan ucapan yang membuat keluarganya tersinggung.


"Ya sudah....... "


Ghani masih menunggu. Oma mengambil nafas dan kembali bicara.


"Terimakasih" lanjut Oma.


"Ya Nyonya" jawab Ghani singkat.


\=\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2