
Bella turun dari kamarnya, melihat Davin sedang menyuapi Dama langkahnya terhenti. Tatapannya beralih pada Amelia yang duduk bagai ratu di belakang Davin.
~Hufft, aku makin kesal melihat pemandangan ini. Meskipun dia tadi sudah mengatakan bahwa dia akan mengasuh Dama seharian ini, tapi aku tak bisa melihat Amelia santai begitu~ ucap hatinya.
Bella melangkah lagi dan mendekat pada Dama.
Amelia berdiri, dia terkejut Bella langsung mendekati anaknya.
~Tidak biasanya dia bersikap manis pada Dama, ada apa dengannya? ~ tanya hati Amelia.
"Hai Dama, lagi main sama papa ya" ucap Bella sambil mengelus pipi Dama.
Tak bisa dipungkiri, Amelia tak tenang melihat sikapnya. Dia ingin sekali meraih putranya dan membawanya pergi dari sana. Tapi dia menahan diri karena takut mendapat pandangan lain dari Oma dan Davin. Takut merdeka berpikir buruk tentang kekhawatiran nya.
Amelia hanya bisa menelan saliva dan mengendalikan dirinya.
"Kamu nggak istirahat aja? " tanya Davin.
"Nggak, aku mau nemenin kalian main" ucap Bella dengan senyum manis di bibirnya.
Oma mendelik, dia sedikit menyeringai seraya membalik halaman dari buku yang dia baca.
~Permainan apa yang akan dia mainkan sekarang? ~ tanya hati Oma.
"Kita ajak Dama main ke taman hiburan? " tanya Bella pada Davin seraya membulatkan matanya yang lentik.
Davin terkejut dengan ajakannya. Tapi kemudian tersenyum.
"Ide bagus" jawab Davin.
Davin menoleh pada Amelia.
"Kamu siap-siap ya Mel! " pinta Davin.
Amelia bingung, hatinya tak mengizinkan anaknya pergi.
"Kok ajak Amel? " tanya Bella.
Davin dan Amelia menatapnya.
"Kita berdua sudah cukup untuk menjaganya, papanya, maminya" tunjuk Bella pada dirinya sendiri.
Amelia mengalihkan pandangannya.
~Tapi aku ibu kandungnya, mamanya~ ucap hatinya.
Davin pun hanya bisa menatap Dama.
"Aku selalu menjaga anak sepupu ku, aku sudah paham bagaimana menjaga seorang anak balita" ucap Bella meyakinkan.
Bella mengaitkan tangannya di lengan Davin.
"Ya, kita bertiga saja. Biar Amelia istirahat di rumah" bujuk Bella.
"Tidak, tidak bisa. Bagaimana kalau Dama menangis? Dia masih butuh Amelia" ucap Davin seraya melepas tangan Bella.
__ADS_1
Bella menghela namun berusaha mengendalikan diri.
"Baiklah, Amelia ikut" ucap Bella.
Davin menoleh dengan terkejutnya.
"Benarkah? " tanya Davin tak percaya.
"Benar, ayo kita bersiap! " ajak Bella.
"Kau saja, aku sudah siap" ucap Davin riang.
Bella berjalan agak cepat seolah riang hendak pergi bermain dengan Dama. Sementara itu Davin berbalik pada Amelia dan tersenyum padanya. Lain halnya dengan Amelia, dia mengalihkan tatapan matanya untuk menghindari Davin.
"Bawa Dama untuk bersiap" ucap Davin seraya sedikit mengubah ekspresi wajahnya.
Amelia mendekat dan meraih Dama.
"Seharusnya kau tanya dulu pada ku sebagai ibu kandungnya, apa aku setuju Dama keluar atau tidak" ucap Amelia saat dia berdiri dengan suara pelan.
Davin menatapnya.
"Kau tidak ingin pergi? " tanya Davin juga dengan suara pelan.
"Tidak, tapi aku tidak bisa membuat Bella sedih" ucap Amelia.
Davin menganga menatap kepergian Amelia yang terlihat kurang suka dengan ide Bella.
"Bella mulai mengerti bagaimana harus menempatkan diri sebagai ibu baru Dama" ucap Oma.
"Ibunya Dama itu Amelia, tidak ada ibu baru atau lama Oma! " seru Davin protes.
Oma Mira berdiri.
"Tapi gadis itu harus keluar dari rumah ini cepat atau lambat, dan Dama membutuhkan ibu baru. Yaitu Bella" ucap Oma memperjelas.
Glekk...
Davin sangat ingin berdebat tentang hal itu, tapi dia menahan diri. Dia paham kemana arah pembicaraan Omanya. Dia takkan meladeninya. Davin mengambil nafas dalam dan menatap kepergian Oma Mira.
"Tidak Davin, Oma hanya akan membuatnya jadi perdebatan dan dia akan menghina Amelia lagi. Kau tidak boleh melakukan hal itu lagi. Dia sudah cukup menderita, dia juga pasti sudah cukup terluka saat aku mengatakan bahwa Oma sudah memilihkan istri yang baik untukku. Dia pasti merasa kalau aku senang dan bahagia dengan pernikahan ku" gumamnya.
***
Sementara itu di rumah Ghani.
"Kami kemari untuk membujuk Hana agar mau rujuk dengan Bagas. Perceraian kalian baru talak satu, masih bisa diperbaiki" ucap Ibu Bagas.
"Nyonya maaf, tapi saya tidak bisa menyerahkan putri saya kembali pada pria yang ringan tangan" ucap Ghani.
Orang tua Bagas terdiam dan menunduk.
"Kami tidak tahu Bagas melakukan semua itu, pernikahan atau pun perlakuan buruknya terhadap Hana. Jika aku tahu dia memukul Hana, aku akan memukulnya dengan tongkat Ghan! " ucap ayah Bagas.
"Tapi kamu tidak melakukannya setelah kamu mengetahuinya kan, Bayu" ucap Ghani.
__ADS_1
Bayu menghela.
"Kami sudah sayang terhadap Hana, kami juga merindukan cucu kami. Kami tidak ingin jauh dari mereka seperti ini" ucap Bayu.
Ghani mengatur nafasnya.
"Kau sudah menceraikan wanita itu? " tanya Ghani pada Bagas dengan tatapan tajamnya.
Bagas menunduk, dia diam. Wajahnya terlihat sangat kebingungan harus menjawab apa.
"Tidak akan pernah" jawab Hana.
Ghani, Bagas dan kedua orang tuanya menatap Hana.
"Ibu dan ayah bohong waktu bilang kalian tidak tahu pernikahan Bagas dan Cherry. Kalian tahu setelah aku datang ke rumah sebagai menantu. Tapi kalian bilang pada ku untuk menerimanya karena dia tidak akan bertahan lama di sana. Awalnya aku kira kalian memihak ku. Tapi, lama kelamaan aku tahu bahwa Cherry adalah putri dari atasan ayah, kalian bergantung padanya" jelas Hana.
Bagas dan orang tuanya tertunduk.
"Kalian sangat baik pada ku, aku menghargainya. Tapi bu, yah, aku tidak bisa membagi cinta ku dengan wanita lain. Terlebih Bagas tidak pernah menganggap ku ada" lanjut Hana.
Ghani tersenyum mendengar semua ucapan Hana. Dia senang anaknya bisa memberanikan diri membela dirinya sendiri.
"Kalian tetap nenek dan kakeknya juga ayahnya Mikayla. Darah lebih kental dari air, selamanya akan seperti itu. Aku tidak menutup pintu untuk kalian menemuinya. Tapi aku tidak akan pernah kembali pada Bagas seperti apa yang ibu dan ayah inginkan" lanjut Hana.
Ghani lebih senang mendengarnya.
"Maaf! " tambah Hana.
Tok... tok!
Suara pintu diketuk terdengar dan memecah keheningan mereka.
"Pak Ghani! " seru Alex di balik pintu.
Ghani mengenal suaranya.
"Itu Alex" ucap Hana.
Bagas memperhatikan Hana yang terlihat senang akan kedatangannya.
"Oh iya, ini sudah sangat siang. Ayah harus ke kantor" ucap Ghani.
Dia berdiri, Bagas dan orang tuanya ikut berdiri.
"Maaf, sepertinya kunjungan kalian hari ini hanya sampai di sini" Ghani menunjukkan pintu keluar pada mereka.
Mereka semua bergerak ke arah pintu, kemudian membukanya. Bagas menatap wajah Alex yang terkejut menatap orang yang membuka pintu bukan Ghani atau Hana. Tapi kemudian dia tersenyum saat melihat Mikayla memegang tangan Bagas.
Semua orang keluar, mereka mengantar kepergian Bagas dan orang tuanya.
"Mikayla sayang, maafin papa ya! Nanti papa datang kesini lagi ngajak Mika jalan-jalan" ucap Bagas.
"Janji ya Pa, Mika mau jalan-jalan ke taman bermain sama papa, mama terus om Alex" ucap Mikayla dengan lucunya.
Alex dan Hana saling menatap, Bagas menatap mereka bergantian. Semua orang terkejut dengan ucapan polos Mikayla.
__ADS_1
\=\=\=\=\=>