CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
86


__ADS_3

Saga dan Amelia keluar dari kamarnya setelah mengantar Dama tidur. Saga menarik tangan Amelia dan mengajaknya ke balkon.


"Sini aku tunjukkan tempat yang bagus" ajak Saga.


Mata Amelia membulat, dia ikut kemana Saga membawanya.


Mereka menaiki tangga menuju balkon di dekat kamar Davin.


Davin yang hendak keluar mengambil air minum, melihat mereka dan mengikutinya.


"Sampai! " seru Saga.


Amelia tersenyum melihat pemandangan yang bisa dilihat dari sana.


"Wah, aku baru tahu ada balkon di sini" ucap Amelia.


"Indah kan? " tanya Saga menyombongkan tempat itu.


"Ya, indah sekali" Amelia memegang pagar dan menyondongkan tubuhnya ke depan.


Saga memperbaiki rambutnya yang tergerai. Amelia menatapnya. Dia melihat Saga yang terus menatap ke arah bibirnya. Dia merasa Saga akan menciumnya kali ini.


"Udaranya juga segar" ucap Amelia mengalihkan perhatiannya.


Tapi Saga tak memperdulikannya, dia mendekat dan mengecup bibir Amelia.


Mata Amelia membulat tak menyangka dia tetap akan melakukannya.


"Kau... " Amelia menunduk.


"Maukah kau menjadi istri ku? " tanya Saga dengan sebuah cincin di tangannya.


Dia mengulang lamarannya kembali. Amelia mulai terharu, bening mengembang di kelopak matanya.


"Aku sangat ingin menjadi suami, imam, partner hidup mu. Bukan hanya sekedar teman dan sahabat mu lagi. Beri aku kesempatan untuk melakukannya" lanjut Saga.


Amelia menghapus airmatanya dan meraih tangan Saga yang berlutut di hadapannya. Dia mengangguk dengan menahan tangis.


Saga tersenyum, dia memeluk Amelia dan mencumbunya.


Davin menggenggam bulat tangannya. Hela nafasnya beriringan dengan degup jantungnya yang mulai cepat karena rasa cemburu.


Dengan pelan, dia kembali menuruni tangga dan mengatur nafasnya di ujung lorong. Otaknya mulai memanas mengingat bagaimana Amelia begitu menikmati kemesraan mereka.


"Heuh, dia melupakan semua yang terjadi malam itu dengan mudah. Sialan! Ternyata aku hanya bertepuk sebelah tangan" gumam Davin.


Oma Mira yang baru kembali dari dapur mendengar ucapan Davin. Dia juga melihat Saga dan Amelia naik tadi. Oma langsung mengerti ucapan Davin yang kesal dengan kemesraan yang ditunjukkan Saga.


Davin tak jadi mengambil air minum di dapur, dia kembali ke kamar dan menutup pintu dengan keras.


Oma Mira naik dan kembali ke kamarnya, tapi dia berpapasan dengan Saga yang kembali bersama Amelia.


"Astaga Oma, kau membuat ku terkejut! " seru Saga seraya mengelus dadanya.


"Apa yang kalian lakukan di balkon? " tanya Oma tanpa memperdulikan reaksi Saga.


Amelia menatap Saga yang juga menoleh padanya.


"Kami.... " Amelia hendak mengatakannya.


"Aku menunjukkan tempat favorit ku di rumah ini" jawab Saga.

__ADS_1


"Oh, kau meninggalkan Dama di kamar sendirian?" tanya Oma seraya menatap Amelia.


"Maaf Nyonya! " jawab Amelia.


Saga tak suka mendengar Amelia terus menyebut Omanya dengan sebutan nyonya. Dia hendak protes namun Amelia melepaskan tangannya da pergi lebih dulu.


Saga hendak menyusul, namun Oma menahannya.


"Kapan kau akan menikahinya? " tanya Oma.


Saga terkejut dengan pertanyaan Omanya.


"Secepatnya" jawab Saga.


"Tentukan tanggalnya, aku akan tanya pada keluarga lainnya kapan waktu yang baik untuk mu dan Amelia menikah" ucap Oma.


"Benarkah? Terimakasih Oma, i love you" Saga memeluk Omanya.


Dia pergi ke kamarnya, hendak merahasiakan persetujuan Oma dari Amelia dan menjadikannya kejutan.


***


Davin tak bisa tidur. Dadanya terasa panas mengingat bagaimana manisnya Saga memperlakukan Amelia. Dia semakin membenci kakak tirinya itu.


"Jadi ini yang hendak kau tunjukkan padaku dengan kembali kemari, kedekatan mu dengan Amelia. Merebut semuanya dari ku, menjadikan aku berada di bawah mu. Tidak kak Saga, aku tidak akan membiarkanmu melakukan dan menggapai semua keinginan mu. Aku akan mengambil Amelia kembali ke pelukan ku, aku berjanji " gumam Davin.


"Apa? " Bella terbangun mendengar Davin berisik.


Davin menatapnya.


"Kau belum tidur? " Davin panik.


"Aku terbangun karena kau bergumam terus, kau ini kenapa? Apa masalah tadi masih membuat mu kesal? " Bella menjadi marah.


"Aku tahu teman-teman ku berlebihan dalam bicara, tapi Davin itu semua salah mu. Kau yang membuat dia tinggal di sini. Kau juga yang meminta aku membawanya serta saat kita ke taman bermain" Bella terus bicara.


Davin kembali mengingat kejadian yang membuat dia marah.


"Maaf sudah mengganggu tidur mu, aku juga sudah mengantuk" ucap Davin.


Bella terdiam, dia mengatur nafasnya. Kesal merasa tak didengarkan oleh Davin.


Bella melihat teko air nya kosong, dia keluar untuk mengambil air minum. Tapi saat dia keluar seseorang memeluk pinggangnya dan membawanya ke sudut ruangan yang gelap.


"Ini aku" bisik Zidan.


Dia mencumbu leher Bella dan membuatnya terengah.


"Bagaimana jika Davin yang keluar" bisik Bella sambil mengusap kepala Zidan.


"Aku tahu wangi mu, jadi aku sudah bisa menebak siapa yang keluar" jawab Zidan sambil meraba tubuh Bella.


"Ah Zidan, libido ku mulai naik, rasanya ingin ku buka pakaian ini" Bella tak bisa mengendalikan diri.


"Buka saja, kita bisa melakukannya di kamar ku" ucap Zidan.


Zidan menarik tangannya membawanya ke kamar. Tapi Bella menahan diri dan berhenti di ambang pintu.


"Ada apa? " tanya Zidan.


Bella menatapnya.

__ADS_1


"Cepatlah, nanti ada yang melihat" ucap Zidan.


"Tidak, aku tidak bisa. Maaf Zidan" Bella melepaskan tangan Zidan dan pergi.


Zidan mengepal tangannya kemudian meninju dinding kamarnya.


***


Pagi tiba, semua orang turun untuk makan.


Saga sudah di dapur membantu Amelia memasak dengan riang. Mereka menyajikan semua masakan mereka.


Davin yang melihat pemandangan itu langsung keluar lagi dari ruang makan.


"Kau mau kemana? " tanya Bella.


"Aku ke kantor lebih dulu" jawab Davin.


"Tapi sayang! " Bella menyusul.


Amelia memperhatikan mereka. Saga memperhatikan Amelia.


"Bella! " seru Oma.


Bella berhenti dan menoleh.


"Sarapan dulu, baru nanti bawakan makanan untuk Davin ke kantor" ucap Oma.


"Iya Oma" jawab Bella.


Davin memeluk Dama yang sedang disuapi Minah di taman. Mereka bermain dulu sebentar kemudian baru Davin pamit.


Orang-orang sarapan, Zidan yang baru turun pun ikut sarapan tanpa menatap Bella.


Bella merasa bersalah padanya karena tak bisa memenuhi keinginan Zidan.


Sementara Alex semakin curiga dengan hubungan Bella dan Zidan. Cara mereka saling menatap seolah saling memberi kode.


'Sekarang pun mereka terlihat seperti sedang bermarahan' ucap hati Alex.


"Ini Oma" Saga menyajikan masakannya.


"Hm" jawab Oma singkat.


Saga meminta Amelia duduk dengan kode tangannya. Semua orang sarapan dengan tenang.


"Kau tahu kapan Harris dan Maria makan? " tanya Oma.


"Pak Harris biasanya bangun siang dan langsung makan siang, dan nyonya Maria selalu dibuatkan makanan sama mba Minah" jelas Amelia.


"Biasakan memanggil mereka ayah dan ibu, kita akan segera menikah bukan? " ucap Saga.


"Menikah? Kapan? " Bella antusias.


"Seben.... "


"Belum ada keputusan, aku harus bertanya dulu pada seseorang" ucap Oma menyela.


Saga terkejut dengan ucapan Oma, tapi dia ingat dengan ucapannya semalam yang juga mengatakan hal itu.


Amelia memperhatikan mereka.

__ADS_1


\=\=\=\=\=>


__ADS_2