CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
25


__ADS_3

Gendis ingat saat Saga datang berdiri menatapnya dengan mata merah habis menangis. Saat itu Gendis hendak kembali ke Montreuil setelah mudik. Dia memeluk bibinya yang pernah menimangnya saat bayi.


Saga menangis tersedu-sedu dia menceritakan bagaimana dia bisa kesana dan meminta Gendis membawanya.


Peter yang keberatan dengan kehadiran Saga tetap pada pendiriannya untuk tak membawa Saga. Namun karena Gendis bersikeras, akhirnya mereka membuatkan paspor dan mengurus visa Saga saat tiba di Montreuil.


Saga begitu kesal pada ayah dan ibunya. Dia tumbuh di tangan tiga wanita. Pertama bibinya karena Ayuningtyas, ibunya, ASInya tak keluar. Saga di susui Gendis yang juga baru punya bayi.


Kedua, Maria, ibunya Davin karena saat itu dia memutuskan untuk meninggalkan Harris atas tekanan Oma Mira yang selalu menuntutnya menjadi ibu sempurna juga sesuai aturan keluarga Narendra.


Saga hidup tanpa mengenal jati dirinya. Matanya menatap tiga wanita dengan kepribadian masing-masing.


Gendis yang menyusuinya namun tetap fokus pada anaknya karena Peter tak mau anaknya kurang kasih sayang akibat dia menyusui anak kakaknya.


Ayuningtyas, ibu kandung yang jarang sekali ada untuknya. Dia lebih suka main dan bersenang-senang seolah tak punya kewajiban untuk mengurus anak yang telah dia lahirkan.


Maria, sangat menyayanginya tanpa batas. Menerima dan memberikan pengajaran seperti layaknya ibu kandung. Tapi mereka dibatasi oleh aturan Oma Mira yang keras dan mengatur.


Sebagai pewaris keluarga Narendra, seharusnya Saga mendapatkan cukup kasih sayang. Namun karena aturan Oma Mira yang terlalu tegas membuatnya kehilangan banyak kasih sayang.


Saat bayi, Saga dituntut mendapatkan ASI dari keturunan sendiri. Ayu tak bisa menyusui karena ASI nya tak keluar, terlebih dia adalah seorang aktris dan lebih mementingkan penampilannya. Untungnya Gendis saat itu juga melahirkan bayi beberapa bulan sebelum Saga lahir. Dia terselamatkan.


Tumbuh menjadi balita yang tampan dan pandai, Ayu tak memberikannya kasih sayang yang seharusnya. Dia lebih memilih berseteru dengan Oma Mira melawan aturan dan keinginannya. Ayu tak mau melepaskan karirnya sebagai aktris.


Harris yang terlalu mencintai Ayu, selalu membelanya. Tapi Narendra memutuskan untuk memisahkan Harris dari Ayu. Keputusan itu diiringi oleh pernikahan Harris bersama Maria, putri dari teman Narendra.


Maria mengambil Saga dan menggendongnya dengan penuh kasih sayang.


"Siapa nama anak tampan ini? Wah manis sekali, ibu jadi suka"


Kalimat pertama yang terucap saat pertama kali bertemu dengannya.


Maria merawatnya seperti putra sendiri. Namun hal itu tak lama. Kehamilannya membuatnya harus bed rest. Oma Mira sangat memperhatikan kehamilan Maria saat itu. Dia melarang Saga masuk dan mengganggu Maria saat tidur meski sebenarnya Maria tak keberatan akan hal itu.


Sesekali Maria mencuri waktu untuk bisa bermain bersama Saga. Narendra mengetahuinya dan tak melarang, tapi saat Oma Mira yang melihatnya, Saga langsung dibawa oleh pengasuh dan dijauhkan.


"Ada apa dengan ibu? Aku bahkan tak sedikitpun terganggu dengan kehadiran Saga. Kenapa selalu menjauhkannya dariku?" tanya Maria.


"Ini permintaan orang tuamu" jawab Oma.


Maria menjadi diam saat mendengar hal itu adalah permintaan orang tuanya. Maria sangat menghormati mereka. Akhirnya Maria menjauhi Saga hingga dia melahirkan.


Setelah Davin lahir, tangan pertama yang menyentuhnya adalah tangan Saga. Saat itu Saga masuk ke kamar Maria saat selesai bersalin. Saga masuk dengan polosnya kemudian menyentuh tangan Davin. Suster yang mengurus Davin tersenyum dan mengangkat Saga kemudian mendekatkan mereka berdua. Saga menciumnya pertama kali, namun tak ada yang tahu hal itu selain suster dan Maria.


Maria meminta suster tak menceritakan pada yang lainnya. Jika dia cerita, maka Saga akan dipisahkan dengan Davin.


Kasih sayang Maria pada Saga berlanjut secara sembunyi-sembunyi hingga dia tumbuh menjadi pemuda tampan. Maria menjadi wanita yang menjadi cinta pertama dalam hidupnya. Saga sangat menghormatinya.


Sampai pada suatu hari, Saga melihat hubungan Harris ayahnya dengan Maria sangat tak harmonis. Saga mencari tahu tanpa sepengetahuan Davin yang selalu menjadi temannya.


Dia membuntuti Harris yang selalu beralasan pergi ke luar kota dan menginap berhari-hari. Saga membuntutinya masuk ke sebuah rumah disambut oleh seorang wanita yang sangat cantik.


Saga meremas kepalan tangannya, dia kecewa dengan ayahnya yang selingkuh dari wanita yang sangat baik seperti Maria.


Saga menyusul masuk, tapi yang membukanya adalah wanita itu. Dia terdiam menatap wajah Saga. Tanpa kata menyentuh tangan Saga, namun ditepisnya.

__ADS_1


"Mana ayahku?" tanya Saga menerobos.


Harris masih di dalam.


"AKU TANYA DIMANA AYAHKU?"


Saga semakin keras berteriak. Harris mendengar suaranya dan keluar. Dia terkejut dengan kedatangan anaknya. Harris menatap Ayu dan Saga bergantian.


"Ayah! Kenapa? Kenapa ayah berbohong pada ibu? Ayah bilang ayah ke luar kota untuk bisnis. Lalu ini apa? Ayah masuk ke rumah seorang perempuan asing?" Saga menunjuk Ayu.


"Jangan menunjuknya seperti itu Saga" ucap Harris pelan.


"Ayah, kenapa ayah tega selingkuh dari ibu. Apa kurangnya ibu?" Saga menangis.


"Saga, sebaiknya kamu pulang. Ayah akan mengantar mu" ucap Harris menarik tangannya.


"Apa karena wanita ini cantik? Ibu juga lebih cantik"


"Berhenti memanggilnya seperti itu!" Harris mulai menaikkan nada suaranya.


"Lalu, aku harus menyebutnya apa? Selingkuhan mu?" Saga menantang.


Harris tak tahan, dia menampar Saga dengan keras. Ayu mendorong Harris menjauh dari Saga.


"Kenapa kamu memukul anak kita?" ucap Ayu.


Saga tercengang mendengar ucapan Ayu. Dia menarik bahu Ayu dan menatapnya.


"Anak kalian?" tanya Saga terbata.


"Ibu?" Saga ragu dan melepas tangannya dari bahu Ayu.


"Saga!" Ayu mendekat mencoba menyentuhnya lagi.


"Ibu ku hanya Maria, hanya dia!" ucap Saga denga mata menatap Ayu.


Ekspresi dan nada suaranya tegas mengatakan Maria ibunya. Ayu menangis mendengar kalimat itu. Dia mendekat lagi mencoba meraih tangan Saga. Tapi Saga mundur dan berlari keluar dari rumah itu. Harris menyusulnya.


"Tunggu Saga!" Harris berhasil membuat Saga berhenti.


"Jadi kalian menikah lagi? Kalian menikah tanpa restu Oma dan Opa?" tanya Saga saat berbalik.


"Ayah nggak pernah dapat restu dari siapapun. Ayah juga nggak bisa menikahi ibu mu karena perjanjian pranikah dengan Maria" jawab Harris.


Saga mengerutkan dahinya.


"Lalu, apa hubungan kalian sehingga ayah bisa datang dan menginap di rumah wanita itu!" Saga berteriak.


"Cukup Saga, ayah bilang jangan memanggil ibu mu dengan kata itu!" Harris meneriakinya.


"Dia bukan ibuku, bukankah dia pergi untuk karirnya dan meninggalkan aku pada wanita yang dipaksa menikah dengan ayah. Jikapun dia tidak pernah menganggap aku sebagai anak kandungnya, dia jauh lebih pantas aku panggil ibu dibandingkan dia yang meninggalkan ku" Saga semakin menantang ayahnya.


Ayu menangis mendengar ucapan Saga. Dia terduduk di depan pintu rumahnya. Sementara Harris kembali menampar Saga.


"Silahkan yah, tampar aku sesuka mu. Apapun yang kau perbuat aku tidak akan pernah menganggapnya sebagai ibu ku" ucap Saga menawarkan wajahnya lagi.

__ADS_1


Ayu datang menahan Harris. Saga merasa jijik melihat mereka berdua.


"Kalian menjijikan!" ucap Saga.


Dia berlari menjauhi mereka. Harris tak mengejarnya karena Ayu pingsan setelah kejadian itu.


Sampai di rumah, Maria melihat Saga baru datang dengan basah kuyup. Dia berlari dalam hujan.


"Saga! Kamu dari mana? Kenapa basah kuyup? Astaga! Apa kamu nggak takut dimarahi Oma?"


Maria mengambil handuk dan mengeringkan rambutnya. Saga diam saja, dia terengah sambil berpikir untuk mengatakannya atau tidak.


"Saga! Kok nggak jawab ibu? Kamu dari mana? Ibu nggak lihat kamu keluar. Jangan begitu, jangan diulangi. Jika Oma yang melihat mu, dia akan sangat marah dan akan menghukum mu....."


Maria terus bicara, tapi Saga masih bimbang. Dia tak tahu apa yang harus dia lakukan.


"Saga!" seru Maria yang tak mendapat jawaban dari putranya itu.


Maria mengangkat wajahnya bertanya.


"Kamu dari mana?" tanya Maria lagi.


"Aku....aku dari....aku...." Saga terbata.


"Ya sudah, tidak usah dijawab. Ibu akan siapkan air hangat untuk mu mandi" Maria hendak meninggalkannya.


"Aku mengikuti ayah!" ucap Saga.


Maria berhenti dan berbalik, matanya membulat menatap Saga.


"Apa maksud mu?" tanya Maria.


"Aku mengikuti ayah yang selalu bilang ke luar kota, tapi dia masih ada di sekitar kota ini dan masuk ke rumah seorang wanita. Wanita tidak tahu diri...."


"Saga!" Maria hampir berteriak.


Saga menatap Maria dengan matanya yang menangis.


"Jangan panggil dia begitu!" nada suara Maria melemah.


Saga terkejut, Maria tahu tentang hubungan mereka.


"Dengar sayang, jangan katakan semua ini pada Oma dan Opa, jika kau mengatakannya mereka akan marah dan menghukum ayahmu!" ucap Maria menyentuh kedua lengan Saga.


Saga mundur perlahan, dia menepis tangan Maria dengan pelan.


"Ibu tahu?" tanya Saga sambil mundur.


"Sayang, ayah mu pulang atau tinggal itu tidak penting. Yang penting adalah kau dan Davin bisa tumbuh menjadi anak yang baik nak. Jangan pernah mengumpat dan memanggil seseorang dengan panggilan tidak baik. Dengar..."


Saga semakin mundur.


"Ibu tahu dan diam saja, apa ibu tidak merasa jijik pada mereka? Mereka bahkan tidak menikah bu!" Saga menangis.


Saga pergi setelah kejadian itu. Dia mencari Gendis dan menangis di pelukannya. Gendis menangis mengingat Saga menceritakan kekecewaannya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=>


__ADS_2