CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
78


__ADS_3

Tiba di rumah, Davin langsung meninggalkan Amelia, Dama dan Bella.


Oma Mira melihatnya dari jendela kamarnya. Dia melihat Bella mendelik padanya kemudian meninggalkannya.


Amelia berjalan bersama Dama yang ingin berjalan sendiri. Kemudian datang Alex yang langsung menyapa Dama.


"Waaah, Dama pulang dari taman bermain?" tanya Alex sambil menggendongnya.


Alex mengangkat alisnya beberapa kali dan memberi kode, bertanya apa yang terjadi.


"Tidak, mereka mungkin hanya lelah" jawab Amelia sudah tahu kode yang selalu diberikan Alex.


Alex tertegun, seperti biasa Amelia menganggapnya biasa saja dan tak masalah.


"Kita lihat apa yang dikatakan si bodoh itu" gumam Alex.


"Si bodoh" ucap Dama.


Amelia berbalik.


"Dama! " seru Amelia.


Alex menutup mulutnya. Amelia langsung menatap Alex dengan mengerutkan dahinya.


"Apa yang kau bisikkan padanya? " tanya Amelia panik.


"Maaf, aku tidak tahu kalau dia peniru yang baik" jawab Alex.


Amelia memukul punggung Alex kemudian mengambil Dama. Dia pergi meninggalkan Alex sendiri di ruang tengah.


Alex langsung menemui Davin di kamarnya, dia mengetuk karena melihat Bella tadi mengikutinya.


"Masuk saja! " seru Davin.


"Masuk! Tapi Bella? " Alex membuka pintu perlahan.


"Tidak ada, dia belum ke kamar" jawab Davin yang sedang ganti baju.


"Ohhh! " Alex duduk di sofa.


"Ada apa? Masalah kantor? " tanya Davin.


"Tidak, hanya penasaran dengan apa yang membuat wajah tampan mu itu ditekuk" jawab Alex.


Davin berhenti saat hendak memakai kaos. Dia ingat ucapan Amelia kemudian menendang lemari.


"Astaga! Kau mengagetkan ku" Alex terperanjat.


"Dia mengatakan kalau dia rindu pada Kak Saga" ucap Davin.


Alex menganga, kini dia mengerti.


"Sepertinya Amelia tidak tahu dia mendenganya" gumam Alex.


"Apa aku salah karena menegurnya lalai? " tanya Davin.


"Hmmm, lalai? " Alex kembali terkejut.


"Ya, kami mencarinya selama satu jam karena Dama menangis, dan kami menemukannya sedang duduk memesan makanan" keluh Davin.


Alex mendengarkan dengan baik.


"Aku kesal padanya dan menegurnya. Hanya menegurnya. Lalu aku dan Bella makan, saat aku menghampirinya yang sedang bermain dengan Dama, aku malah dengar dia hanya sedang merindukan kak Saga. Aku.... "


"Kau memperlakukan Amelia seperti pengasuh Dama" ucap Alex menyimpulkan cerita Davin.


Davin terdiam dan menatap Alex yang mengangguk dan meyakini ucapannya.


"Apa aku melakukan itu? " Davin tak menyadarinya.


"Amelia pasti sudah tersinggung dengan perlakuan kalian, dan dengar, dia sudah makan tadi. Dia bukan tipe orang yang senang makan, jadi aku rasa dia hanya sedang menunggu kalian saja" Alex menyimpulkan lagi.


Davin terdiam, kini dia menyesal sudah membentak Amelia di depan orang.


"Itulah kenapa dia mengatakan dia rindu kak Saga. Karena dia tidak akan pernah membentaknya" gumam Davin.

__ADS_1


Alex keluar, membiarkan dia memikirkan apa yang sudah dilakukannya sendiri.


Saat dia hendak turun, dia mendengar ada sesuatu di balkon. Alex mendekat dan hendak menaiki tangga menuju balkon.


"Alex! " seru Minah.


Alex menoleh, dia tak jadi menaiki tangga lalu ke lorong tempat asal suara kakaknya memanggil.


Sementara itu, Zidan terus mencumbu leher Bella di balkon tanpa memperdulikan kedatangan Alex.


Bella membiarkannya, diapun sudah sangat merindukannya. Selama di rumahnya, dia tak pernah sedikitpun di sentuh Davin, meskipun banyak drama yang dia buat.


Suara desah Bella mulai memuncak, begitupun Zidan. Hampir saja dia membuka celananya dan melakukan itu. Tapi Bela buru-buru menjauhkan wajah Zidan dari wajahnya.


"Cukup Zidan, aku tidak boleh melakukan ini" ucap Bella sambil terengah.


Zidan pun terengah sambil menatap bibir Bella yang begitu basah.


"Aku benar-benar merindukan mu" ucap Zidan.


"Aku juga, tapi tetap saja. Aku tidak bisa melakukan itu dengan mu. Aku ingin.... "


"Hanya Davin yang pertama menembusnya" lanjut Zidan.


Dia menjauh, mengendalikan diri dan merapikan rambutnya.


"Apa dia masih belum bisa kau taklukan? " tanya Zidan seraya menyulut sebatang rokok.


"Sulit, dia tak bisa melakukan itu dengan ku. Belum ada rasa cinta, tapi sekarang dia mulai memperhatikan aku. Aku akan menjaganya sampai kami bisa melakukannya. Setelah itu baru kita bebas melakukan apapun Zidan"


Bella menyentuh bibir Zidan kemudian memeluknya.


Zidan menyeringai dengan mengepulkan asap ke langit.


***


Amelia menggantikan pakaian Dama, dia masih memikirkan sikap Davin.


'Tidak, dia mungkin sedang merasa kesal. Wajar, dia mengkhawatirkan Dama yang menangis. Seharusnya aku pun menerobos kerumunan itu, bukan diam saja' ucap hatinya.


"Mama"


Amelia tersenyum, dia membelai rambut Dama yang lembut itu.


"Dama sayang mama ya? Makasih ya sayang udah jadi obat terbaik buat mama" ucap Amelia.


Tak berapa lama, suara ketukan pintu membuat Amelia diam dan menatap pintu. Dia membuat Dama duduk di tengah ranjang dan menaruh mainannya.


Dengan perlahan, Amelia membuka pintu dan melihat Davin berdiri di sana.


"Hai! " sapa Davin dengan canggung.


Amelia tak menjawab, dia hanya mengambil nafas kemudian menatap ke arah Dama.


"Dama, ada papa! " ucap Amelia.


Dama menatap sebentar kemudian kembali memainkan mainannya.


Davin menelan salivanya. Amelia menjauh hendak menggendong Dama, tapi Davin menghentikannya.


"Maaf! " ucap Davin.


Amelia berhenti melangkah kemudian berbalik.


"Untuk apa? " tanya Amelia.


"Karena aku membentak mu tadi di taman bermain" jawab Davin sambil menggaruk kepalanya.


"Kau panik dan mengkhawatirkan anak mu, itu wajar, tidak usah minta maaf. Lagipula, aku memang lalai" jawab Amelia dengan ekspresi wajah yang datar.


Davin semakin canggung, dia hendak masuk dan mencium Dama seperti biasanya, tapi mengurungkan niatnya.


Amelia yang memang tak mau Davin masuk dan berlama-lama di kamarnya, langsung mengambil Dama dan membawanya ke hadapan Davin.


"Say, goodnight to papa" pinta Amelia pada Dama.

__ADS_1


"Oodnat papa! " ucap Dama menurut.


"Good night sayang" jawab Davin seraya mencium pipi Dama.


Tapi matanya tak luput dari wajah Amelia yang sengaja tak menatapnya.


"Aku.... "


Davin hendak mengatakan hal lain, tapi Amelia langsung menutup pintunya. Dia menghela dan mengepalkan tangannya yang hendak kembali mengetuk pintu.


"Tidak, dia sedang marah Davin. Seharusnya kau mengerti itu" gumam Davin pada dirinya sendiri.


Davin berbalik dan hendak kembali ke kamar, tapi langkahnya berhenti saat dia melihat Bella sedang memperhatikannya di tangga.


Davin menelan salivanya lagi. Tak bisa dipungkiri, dia tetap merasa tak nyaman ketahuan menemui Amelia di jam malam seperti ini.


"Kau belum tidur? " tanya Davin berusaha acuh dan mengalihkan pembicaraan.


Bella terdiam sejenak, kemudian setelah Davin hendak naik, dia mengaitkan tangannya di lengan Davin.


"Dama sudah tidur? " tanya Bella dengan manja.


Davin terheran, dia cukup terkejut dengan sikap Bella yang kini semakin membuatnya kagum.


"Belum, tadi aku say good night aja sama dia" jawab Davin.


"Dia lucu, aku sepertinya mulai jatuh cinta padanya" ucap Bella.


Davin senang mendengar perkataan Bella.


"Benarkah? Syukurlah" jawab Davin.


'Ya, aku akan membuat Dama dekat dengan ku, supaya kesepakatan kalian tentang Dama dan kepergian Amelia semakin cepat terjadi' ucap hati Bella.


Saat mereka masuk ke kamar, Bella menyiapkan ranjang mereka.


Davin sendiri mengambil bantal dan selimut dan siap untuk tidur di sofa.


"Sayang! " seru Bella.


"Hmmm? " Davin refleks menoleh.


Dia tertegun sejenak karena merasa heran sudah terbiasa menoleh saat Bella memanggilnya dengan kata itu.


"Tidur di sini aja, ya! " rayu Bella dengan menepuk sisi ranjang sebelahnya.


Davin tertegun lagi. Kemudian, dia melihat Amelia yang melakukan hal itu dan tersenyum padanya. Davin tersenyum dan mendekat, dia duduk dan membelai rambutnya yang tergerai.


"Kau cantik" ucap Davin.


Bella tersipu, kemudian mendekatkan bibirnya. Mereka bercumbu dan semakin berhasrat.


Tapi Davin berhenti menggerakkan tangannya yang hampir menyentuh dada Bella. Dia sadar saat mencium wangi leher yang dia kira adalah Amelia.


'Bukan wangi Amelia' ucap hati Davin.


Davin menjauhkan tubuh Bella darinya.


"Maaf aku tidak sengaja" ucap Davin.


Bella menghela, dia baru saja merasa Davin sudah berada dalam genggamannya. Tapi langsung terlepas dalam beberapa detik saja.


"Heh... " Bella menertawakan ucapan Davin.


Davin merasa canggung.


"Aku istri mu, sengaja atau tidak, kau wajib melakukan hal itu padaku. Kau benar-benar membuat jarak dalam hubungan kita" ucap Bella.


Davin semakin merasa bersalah.


"Tidak apa-apa Davin, aku baik-baik saja. Aku akan menunggu sampai kau benar-benar menghendakinya. Selamat malam" ucap Bella kemudian tidur membelakanginya.


Davin mengusap wajahnya. Dia tak bisa tidur karena masih membayangkan Amelia dengan rambut tergerai memakai pakaian tidur yang cantik.


\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2