
Zidan masuk ke kamar Bella dengan tanpa mengetuk pintu. Dia langsung duduk di sisi Bella yang sedang siap untuk tidur. Bella berdiri menjauh saat melihat wajahnya.
Bella menghela malas mengalihkan pandangannya. Dia sudah sangat kesal dengan tingkah sepupu suaminya itu.
"Kamu ngapain sih masuk-masuk ke kamar aku!" ucap Bella kesal.
"Nggak usah marah-marah, sini duduk dekat aku. Aku akan memberikan cumbuan yang tak pernah Davin berikan padamu" ucap Zidan menepuk kasur di dekatnya dengan senyum genit di bibirnya.
"Kamu jangan ngasal, kemarin dia itu cuma lagi cape doang. Jangan sok tahu!" Bella semakin kesal pada Zidan.
"Oh ya? trus kemana dia sekarang? kenapa nggak tempur sama kamu setelah kalian kencan nonton film dewasa?" tanya Zidan dengan tawa menertawakannya.
~sialan, darimana dia tahu semuanya?~ tanya hati Bella tak bisa melawannya.
Mata Bella menatap ke arah lain ruangan kamarnya. Dia mencari kata-kata yang bisa membuat Zidan cepat pergi dari sana.
"Suami ku sibuk Zidan, dia memimpin perusahaan di usia mudanya. Dia sangat kompeten dan bertanggung jawab atas semua itu. Tidak seperti mu yang hanya main-main dengan kehidupan mu" ucap Bella merasa perkataannya cukup membuat Zidan diam.
Zidan melangkah dengan wajahnya yang marah dan mendorong Bella ke dinding juga menahan tangannya. Bella terkejut, dia menundukkan pandangannya.
Wajah Zidan dekat sekali dengan wajahnya, bahkan bibir mereka hampir bersentuhan.
"Pria kompeten dalam pekerjaan, biasanya tak pandai permainan di ranjang. Kau sudah tahu itu, tapi aku sangat pandai. Beberapa mantan pacar ku mengakuinya. Kau juga bisa mencobanya" ucap Zidan dengan suara yang pelan dan menggoda.
Bella merasakan panas di tubuhnya semakin menjadi mendapat perlakuan tak sopan dari saudara iparnya itu. Bella bersiap untuk menendangnya di pusat kehidupannya. Tapi Zidan terlalu pandai dan bisa menahannya. Dia malah menarik paha Bella dan memajukan tubuhnya agar menempel padanya.
Bella semakin memberontak, tapi semakin beringas Zidan mencoba meraih lehernya dengan bibirnya.
Suara langkah kaki dari luar menghentikan Zidan dan menjauh darinya. Pintu terbuka dan Davin menatap mereka yang sedang saling pandang dari jarak yang cukup jauh.
Davin menatap Zidan dengan sebelah matanya. Dia berjalan dengan santai membuka lemarinya.
"Jangan menganggu Bella hanya untuk membuatku kesal padamu, ini berkasnya dia tak tahu dimana aku menempatkannya" ucap Davin.
"Nah gitu dong, ambilkan. Dari tadi nanya sama istri mu yang lugu ini, dia hanya bilang tak tahu" ucap Zidan sambil meraih berkas dari tangan Davin.
__ADS_1
Zidan melenggang dengan riang keluar dari kamar mereka. Hening terasa merasuk ke tulang setelah dia keluar. Bella menatap Davin yang berdiri bagaikan gunung es yang tak pernah mencair bahkan setelah hampir setahun ini dia coba untuk melelehkannya.
Berkali-kali Oma membuat kencan dengan tema yang sama, menonton film dewasa. Berkali-kali pula Bella dicampakkan Davin yang seolah tak pernah memandangnya sebagai wanita atau bahkan istrinya.
Bella tidur dan menyelimuti dirinya sendiri. Davin mengambil bantal dari ranjang dan selimut dari lemari. Dia merapikan sofa dengan nyaman untuk tidurnya sendiri. Mereka tidur terpisah semenjak Bella terlalu agresif dan membuat Davin semakin menjauh.
Malam mulai larut, Oma terbangun karena mimpinya. Suaminya datang dan mengatakan mengkhawatirkan Davin cucunya. Oma langsung beranjak dari kamarnya dan berjalan perlahan menuju kamar cucunya itu.
Dia membuka pintu dengan perlahan, matanya membulat melihat Bella dan Davin tidur terpisah. Oma menggoyangkan tubuh Davin untuk membangunkannya. Bella yang malah terbangun dan berdiri menundukkan kepalanya di dekat Oma.
"Bangunkan dia!" pinta Oma dengan kesal tapi masih menjaga nada suaranya.
Bella membangunkan Davin dengan mencubitnya. Davin bangun dan langsung hendak marah padanya. Namun dia terkejut melihat Oma berdiri menatapnya.
"Oma?" Davin menggulung selimutnya.
"Apa-apaan ini?" Oma kesal.
Suaranya tongkat Oma yang dihentakkan membuat Maria terbangun. Dia memeriksa asal suara yang didengarnya dari kamar putranya.
Davin dan Bella menunduk. Maria masuk melihat mereka.
"Susah payah aku membuat acara kalian setiap minggunya agar kamu cepat punya anak untuk melanjutkan keturunan Narendra. Tapi kalian malah tidur terpisah!" Oma semakin terengah.
Maria meraih tubuh mertuanya yang hampir jatuh. Dia memapah Oma yang drop seketika ke kamarnya. Dia membuka obat dan meminta Oma meminumnya.
Oma menangis, dia seolah putus asa dengan Davin dan Bella. Maria mencoba menenangkannya dengan mengusap tangannya dengan lembut. Tapi Oma malah menepisnya.
"Mana Harris? kenapa dia tak bangun mendengar keributan ku?" tanya Oma sambil menunjuknya.
"Harris..."
Maria tak bisa menjelaskannya.
"Kamu juga sama aja, nggak bisa bikin Harris tinggal di rumah. Selalu saja dia nginap di rumah pelacur itu" ucap Oma kesal.
__ADS_1
"Buuu...!" Maria meminta mertuanya mengendalikan ucapannya.
Oma menghela dengan keras.
"Sana, tanya sama anak mu. Sebenarnya apa yang dia mau?" seru Oma dengan tangan menunjuk ke arah luar.
Maria pergi menuruti permintaan mertuanya. Dia masuk ke kamar Davin bicara padanya. Bella keluar dari kamar dan menyendiri di lantai 3 di taman atap. Zidan menyusulnya.
Maria menatap putranya dengan wajah cemas. Dia yang sudah tahu penyakit anaknya dan merasa khawatir alasannya adalah hal yang sama.
Davin tak karuan ditatap ibunya dengan wajah cemas. Dia tak tahan.
"Aku nggak bisa bu, aku nggak bisa menegang di hadapan wanita lain selain satu orang"
Maria menutup matanya sejenak menerima dengan lapang hati bahwa anaknya masih memiliki penyakit itu. Apa yang harus dia katakan pada ibu mertuanya.
Mendengar semua yang diceritakan putranya tentang wanita pertama yang membuatnya merasakan hal itu pertama kali dan kemudian memutuskan meninggalkannya. Maria semakin lemas, dia menelan saliva nya berkali-kali.
Davin terengah, merasa lega bisa mengatakan semuanya pada seseorang. Dia tak peduli dengan apa yang akan terjadi nantinya.
"Jangan katakan ini pada Oma, biar ibu yang mengatakannya. Kau diam saja ya!" pinta Maria.
Dia berdiri setelah menepuk bahu anaknya, kemudian meninggalkannya. Maria masuk ke kamarnya dan melihat Harris sudah berbaring di sana. Maria menatap jam dinding di kamarnya. Dia menghela karena ini memang waktunya Harris pulang. Dia juga menghela lega karena Harris tak mendengar keributan tadi.
Sementara itu, Bella sedang menaruh kepalanya di bahu Zidan yang sedari tadi menemaninya dan menenangkannya. Zidan menatap jam di tangannya.
"Aku belum tidur, ini sudah jam 3. Sebaiknya kamu juga istirahat" ucap Zidan.
Bella mengangkat kepalanya dan menatap bibir Zidan yang tadi menenangkannya dengan ciumannya. Dia berdiri dan berjalan terlebih dahulu.
Sampai di depan kamarnya, Zidan meraih tangan Bella.
"Jangan sedih, aku akan selalu ada untuk mu" ucap Zidan.
Bella mengangguk, dia merasa lebih tenang saat Zidan memegang tangannya. Dia masuk ke kamarnya setelah Zidan memberi kode untuk masuk.
__ADS_1
\=\=\=\=\=>