CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
55


__ADS_3

Kabar kedatangan Amelia dan Dama tersebar hingga ke paviliun tempat Gala dan Vania selama beberapa hari ini tinggal. Vania menghubungi Zidan yang masih di kantor untuk segera pulang.


"Ya sayang, kau harus menyaksikan sendiri drama keluarga ini. Pasti seru" ucap Vania.


Gala yang duduk sambil membaca koran, menyeringai mendengar cara bicara Vania yang terdengar sangat menikmati kejadian yang terjadi beberapa hari ini di rumahnya.


"Sayang, alangkah baiknya kita cepat masuk untuk makan siang bersama yang lainnya" ucap Vania.


"Tidak, aku tidak terlalu tertarik dengan masalah keluarga Harris. Apalagi menyangkut Davin. Aku heran, kenapa Saga begitu lemah dan tak bisa mempertahankan wanita yang dicintainya"


Gala melipat korannya, dia berdiri dan melangkah dan menatap ke arah istana yang dulu menjadi tempat lahirnya. Hela nafasnya terdengar seolah sedang mengingat hal yang sudah lama dan sangat dia rindukan.


"Kau merindukan ayah mu?" tanya Vania yang menghampirinya sambil memeluk lengannya.


"Ya, ayah selalu punya cara agar aku tak cemburu pada Harris yang aku anggap merebut perhatian mereka" ucap Gala.


Vania hanya diam.


"Aku rindu sosok sepertinya. Hanya percaya, entah itu aku atau Harris. Sedangkan Ibu, dia mudah percaya dengan ucapan dan aduan orang lain. Kepercayaan begitu sulit didapatkan darinya" Gala mengeluh.


"Sayaaang! Kita kemari bukan untuk mencari sosok seperti ayah lagi, kita kemari untuk memperlihatkan pada ibu bahwa Harris dan keturunannya terlalu bermasalah untuk menangani perusahaan. Kita harus mematahkan kepercayaan ibu terhadap Davin"


Vania mengingatkan, karena Gala terlalu terbawa perasaan.


"Kau benar, ibu terlalu percaya pada anak itu. Dengan sedikit bumbu, kita akan membuat mereka terpecah lebih jauh"


Tatapan Gala tajam menyimpan dendam yang mendalam. Sementara Vania, tersenyum puas sambil memeluk lengan suaminya.


###


Saga menatap koper yang sudah rapi dan penuh dengan pakaiannya juga beberapa pakaian Dama yang memang sebelumnya ditaruh di kopernya. Sesekali menghela dan menutup matanya membayangkan wajah putra kecil yang mencuri hatinya itu.


"I miss you Dama, Amelia"


Lirih suara Saga mengucapkan kalimat rindu yang menggambarkan betapa beratnya dia melepaskan mereka berdua. Tapi keputusan yang Amelia ambil, Saga ingin menghargainya. Terlebih, ancaman Oma terhadap Amelia yang sangat kejam.

__ADS_1


Amelia harus memilih antara keselamatan keluarga dan dirinya. Saga pun paham mengapa Amelia memilih untuk kembali. Komprominya terhadap kenyataan bahwa Dama adalah anak Davin, membuat dia harus melepas Dama pada keluarga itu, untuk masa depannya juga.


"Kau menunjukkan bagaimana Oma begitu kejam memisahkan aku dan ibu ku. Ucapan mu benar Amelia, dan aku yang salah. Sekarang pun aku merasa sangat salah karena membiarkan mu pergi kembali ke rumah itu. Apa aku benar-benar harus pergi?"


Saga mulai ragu. Tak lama kemudian, bel pintu kamarnya berbunyi. Saga mendekat dan membuka pintu, namun langsung mengerutkan dahinya saat melihat siapa yang datang.


"Kamu...!" seru Saga tak percaya.


"Hai Kak!" jawab Zidan sambil masuk meski belum dipersilahkan.


Mata Saga tak lepas dari menatap tingkah sepupunya yang sok akrab.


"Jadi, kau menyerah?" tanya Zidan sambil duduk di ranjang dekat koper Saga.


Tangan Zidan diletakkan di atas kopernya, tapi Saga hanya menatap tak menjawab.


"Kau yakin akan memberikan Amelia dan anaknya pada Davin?" tanya Zidan memancing otak Saga untuk berpikir.


Saga menutup matanya sejenak dan mengambil nafas dalam. Dia ingin sekali lagi menguatkan kepercayaannya pada Amelia.


"Davin punya penyakit, hanya Amelia yang bisa membuatnya tegang. Bella yang sudah dua tahun lebih menjadi istrinya bahkan tak pernah disentuhnya. Jelas bukan, Davin akan mendepak Bella dan menjadikan Amelia ratu di istana itu" Zidan sangat bertekad.


"Berarti malam kemarin kau tidak lihat Amelia begitu terpancing oleh sentuhan Davin?" ucap Zidan mengatakan kedekatan Amelia dan Davin yang dia lihat.


Mata Saga membulat.


"Ahh, kau tak tahu" Zidan menyeringai.


"Apa maksud mu?" Saga mulai emosi.


"Ya, memang Davin yang menyatakan rasa rindunya, meskipun Amelia berusaha menolak, aku sangat tahu kalau dia juga masih mengingat satu malam berhasrat itu"


Saga menarik kerah baju Zidan dan hendak meninju wajahnya. Zidan menutup matanya bersiap dengan apa yang akan dilakukan Saga.


Tapi Saga ingat dengan ucapan Amelia yang memintanya untuk menjaga emosinya. Dia menurunkan tangannya yang mengepal. Dia sangat berusaha mengatur nafas dan emosinya.

__ADS_1


"Terimakasih untuk tidak meninju wajahku" ucap Zidan sambil melepaskan diri dari Saga.


"Pergilah, aku tidak mau melukai mu karena mendengar semua ucapan mu" ucap Saga.


"Kak, aku kemari untuk membuka mata mu. Kau tidur terlalu lama" ucap Zidan.


Saga tak mengerti apa yang dia maksud.


"Ok, mungkin dulu Kak Saga tak punya alasan untuk kembali ke rumah dan mengambil hak sebagai anak pertama di rumah itu. Dan segala hak yang harus kakak dapatkan. Tapi, Kak!"


Saga memalingkan wajahnya tak mau mendengarkan ucapan Zidan yang menjurus ke arah warisan dan pewaris tahta kerajaan bisnis Narendra Coltin.


"Sekarang kau punya alasan, Amelia, cinta mu. Apa kau tidak mau memperjuangkannya? Apa kau tidak berpikir, apa yang Amelia pikirkan tentang kau yang sama sekali tak memperjuangkan dirinya?" Zidan bicara sambil memainkan tangan di belakang Saga.


"Aku ini psikolog Kak, aku tahu, meski Amelia adalah wanita yang tangguh, tapi dari lubuk hatinya, dia sangat ingin dipertahankan dan diperjuangkan. Dia mulai luluh karena Davin sangat memperjuangkannya di depan Oma"


Saga mulai berpikir dan mengingat wajah Amelia. Hatinya bergumul, menyetujui dan kadang menyangkal ucapan Zidan.


"Aku hanya ingin mendukung mu Kak, semua keputusan ada di tangan mu" ucap Zidan sambil menepuk bahunya.


Saga melirik pada tangan Zidan. Dia sedikit kesal karena mulai terpancing dengan pendapat Zidan.


Sementara Zidan tersenyum merasa telah berhasil membuat Saga ragu untuk pergi.


"Maaf kalau aku membuat Kak Saga kesal. Aku permisi Kak" ucap Zidan.


Dia melangkah pergi meninggalkan Saga dengan semua pemikiran dan ketakutan akan kehilangan Amelia.


"Apa yang harus aku lakukan Amelia? Perkataan Zidan, apa semua itu benar? Kau mulai luluh dengan sikap Davin? Kau tak ingat dia mengancam mu untuk kembali ke sana. Kau tak suka diancam, kau bukan wanita seperti itu"


Saga bergumul sendiri dalam kamar hotel yang akan dia tinggalkan hari itu.


Semua kenangan yang pernah mereka alami seketika muncul di matanya. Momen bagaimana dia begitu mudah untuk jatuh cinta pada Amelia yang saat itu sedang mengandung Dama. Betapa sulit meyakinkan Amelia untuk menerima diri dan cinta dalam hidupnya.


Saga menghela keras, dia menyesal karena sudah kembali ke tanah kelahirannya. Dia menyesal karena sudah terjebak oleh perkataan nenek yang sangat dia sayangi.

__ADS_1


Saga memutuskan setelah dia mengambil nafas dalam. Dia mengambil koper dn keluar dari kamarnya.


\=\=\=\=\=>


__ADS_2