
Ghani mengantar Amelia ke rumah Narendra. Dia menatap Amelia berulang kali, merasa cemas dengan keputusan yang diambil anak bungsunya itu.
Ghani terus mendesak Amelia untuk mengatakan hal yang menjadi alasan Amelia memutuskan hal sebesar itu. Tapi Amelia terus meyakinkan ayah dan ibunya bahwa dia hanya ingin Dama tinggal bersama ayah kandungnya.
Amelia hanya diam, mengusap rambut dan tubuh Dama. Sesekali mengajaknya bicara untuk membuatnya tidak bosan.
"Ibu, tadi dia bilang apa?" tanya Ghani.
Amelia menoleh padanya.
"Kalian bicara cukup lama di kamar mu" ucap Ghani.
Amelia menatap ke arah jalan di depannya.
"Ibu bilang, aku adalah wanita yang kuat. Buktinya, aku bisa bertahan hidup saat mengandung Dama. Dia bilang, jika hal itu menimpa dirinya, dia mungkin sudah tewas di jalan"
Ghani tersenyum.
"Ya, dia harus selalu ada yang menemani dan mengingatkan" ucap Ghani setuju.
"Ibu juga meminta ku untuk tetap pada pendirian ku. Nyonya besar bisa melakukan hal yang mungkin bisa membuat aku terpisah lebih cepat dengan Dama. Jadi dia bilang aku harus lebih kuat" lanjut Amelia.
Ghani menatap Amelia sebentar. Kemudian dia memberhentikan mobilnya di depan gerbang rumah Narendra.
Ghani menghela, sebelum membunyikan klakson, dia ingin sekali lagi bertanya padanya.
"Ayah tanya sekali lagi, tak ada alasan lain kan saat kau memutuskan semua ini?" Ghani memastikan.
Amelia menatap wajah ayahnya yang sudah banyak kerutan di dahi dan sudut matanya, yang jelas menyiratkan rasa khawatirnya.
"Tidak ayah, tidak ada alasan lain" jawab Amelia sambil memegang tangan ayahnya.
Ghani membunyikan klaksonnya, pintu gerbang besar itu terbuka setelah penjaga mendengar bunyi klakson yang mereka kenal adalah mobil Ghani.
Para penjaga menyapa Ghani dan menatap terkejut pada Amelia.
"Makasih Wan!" seru Ghani.
Amelia menatap mereka dari kaca spion, mereka terlihat sedang saling mendekat dan menunjuk ke arah mobil mereka yang masuk. Amelia menunduk, dia menghela dan mengambil nafas dalam saat rumah Narendra sudah ada di hadapannya.
Perasaan saat pertama kali ke sana saat bersama Saga, sangat berbeda dengan saat ini yang dia rasakan. Amelia merasa kehilangan pegangan, kehilangan seseorang yang selalu memastikan semuanya akan baik-baik saja.
Ghani turun terlebih dahulu, dia hendak membukakan pintu mobil untuk anak dan cucu nya yang masih diam tak turun.
Amelia mulai gemetar dan merasa lemas, jelas semua keputusannya sangat bertentangan dengan apa yang dia inginkan. Tapi ucapan Oma Mira terngiang di telinganya. Mata Amelia menatap wajah ayahnya, mengingat wajah ibu dan kakaknya. Sekali lagi Amelia harus mengambil nafas dalam dan menguatkan kakinya untuk melangkah.
__ADS_1
Ghani menengadahkan tangannya meminta Amelia memegang untuk menjadi topangannya. Amelia meraih tangan yang mengajarinya berjalan itu. Ghani menangis dalam hati, hari ini dia harus melepaskan anaknya untuk tinggal di rumah yang sangat dia takuti untuk ditinggali. Ghani dan Amelia berjalan naik ke arah pintu.
"DAMA!" seru Davin yang baru datang dan keluar dari mobil di belakang mobil Ghani.
Dia berlari dan menggapai Dama yang juga terlihat senang melihatnya. Amelia tak bisa menolak, meski dia sedikit kesal Dama begitu senang melihatnya.
Davin menggendong Dama dan menciuminya. Ghani dan Amelia menatap mereka.
"Pak Ghani kemari?" sapa Alex yang menyusul.
"Ya, siang Lex!" jawab Ghani dengan kembali menyapanya.
Alex menjabat tangan Pak Ghani dan hendak bersalaman dengan Amelia, namun dia tak menyambutnya. Alex memasukkan tangannya ke saku celana sambil menelan salivanya.
"Mari Pak, silahkan!" pinta Davin.
"Silahkan den!" jawab Ghani sambil berjalan menyusulnya.
Amelia menarik tangan Alex. Dia terkejut, mereka berjalan sedikit lebih jauh dari Davin dan Ghani. Mata Alex membulat, dia terkejut karena tiba-tiba Amelia menariknya.
"Dengar!" ucap Amelia sambil berbisik dan memastikan Davin dan ayahnya tak mendengar.
Alex sangat heran dan penasaran dengan apa yang akan diminta Amelia. Dia menurunkan kepalanya dan mendekatkan telinganya karena Amelia yang jauh lebih pendek darinya.
Alex menatap wajah Amelia.
"Mereka tak tahu alasan ku kembali kemari"
Amelia mengalihkan pandangannya.
~Keselamatan keluarga Amelia? Astaga Omaaa!~ ucap hati Alex.
"Ok, aku segera ke sana" jawab Alex setelah menelan saliva karena tak percaya dengan pemikiran Oma.
Amelia menyusul Ghani dan duduk di sisinya. Mereka memperhatikan Davin dan Dama yang sangat akrab. Sesekali Dama meraba wajah Davin dan memanggilnya papa. Ghani tersenyum merasa cucunya sangat pandai.
Sementara itu, Alex mengetuk pintu kamar Oma Mira dan masuk.
"Omaaa!" seru Alex.
Dia menatap Oma Mira yang membulatkan matanya karena terkejut Alex langsung masuk.
"Apa?" Oma menyalak.
Alex menutup matanya sebentar dan menghela keras.
__ADS_1
"Jadi, alasan Amelia kembali dan menerima untuk merawat Dama di rumah karena Oma mengancam keselamatan keluarganya?"
Alex bicara lantang dan dengan rasa kesal di hatinya.
"Ya, sama seperti ibunya Saga" ucap Oma percaya diri.
"Astaga Oma, bagaimana kalau Davin tahu?"
Alex khawatir Davin kecewa dan berubah menjadi membenci Omanya.
"Davin sendiri yang mengancam Amelia untuk menuntutnya jika dia tak kemari siang ini" jelas Oma santai.
"Tapi mengancam keselamatan keluarga Amelia, itu, keterlaluan Oma!" Alex tak setuju.
"Tapi hanya itu caranya agar dia mau kembali. Mulai sekarang, tugas mu untuk membuat Dama terbiasa tanpa ibunya, supaya Amelia bisa cepat pergi dari rumah ini" ucap Oma sambil menutup buku yang sejak tadi dia baca.
Alex menghela keras mendengar semua ucapan Oma Mira yang sangat terdengar kejam. Tapi itu adalah Oma Mira. Hatinya dingin sepeninggal suaminya.
"Siapa yang mengantarnya kemari, Saga atau Harris?" tanya Oma.
Dahi Alex berkerut.
"Pak Ghani, ayahnya yang mengantarnya. Dia minta untuk jangan membahas tentang ancaman Oma padanya. Terutama di depan ayahnya" jawab Alex.
Mata Oma Mira membulat menatap Alex.
~Dia sudah berpamitan dengan kedua orang tuanya. Anak baik, apa itu karakter yang hendak kau tunjukkan pada ku? Aku tidak peduli, aku hanya ingin penerus keluarga ini~ ucap hati Oma Mira.
Oma Mira tak bicara lagi, dia berjalan hendak keluar. Namun Alex menahannya.
"Tunggu Oma!"
"Apa?" Oma menyalak lagi.
"Berjanji dulu untuk permintaan Amelia" ucap Alex meminta sumpahnya.
Oma Mira menghela keras, kesal dengan tingkah Alex.
"Ya, aku berjanji. Kau puas!" Oma Mira mengatakannya dengan kesal.
Alex menerima tangan Oma dengan janjinya. Namun dia bersiap dengan segala kemungkinan yang bisa Oma Mira lakukan.
~Akhir-akhir ini ucapan mu tak sesuai dengan tindakan mu Oma, aku akan waspada. Aku akan menyela kapan saja, jika Oma mengungkit ancaman itu~ janji hati Alex .
\=\=\=\=\=\=>
__ADS_1