
Oma Mira menatap sikap mereka.
"Ok, aku harus pergi. Oma, aku akan berangkat sekarang. Ketegangan pagi ini cukup menghibur. Bye Oma! " Zidan pun pergi.
Harris dan Maria menghela. Oma Mira menaruh sendoknya dengan keras.
"Kapan dia pulang, aku mulai bosan karena tak bisa menyuruhnya" ucap Oma seraya berdiri dan ikut pergi dari meja makan.
Maria melanjutkan sarapannya hingga habis. Begitu pula dengan Harris.
Sore harinya.
Saga dan Amelia pulang dengan wajah yang ceria. Seperti biasa, Davin memperhatikan mereka di jendela kamarnya. Bella yang baru keluar dari kamar mandi memperhatikannya.
"Kau benar-benar akan di rumah saja? " tanya Bella.
Davin langsung berbalik dan menutup tirainya. Matanya membelalak melihat Bella yang hanya memakai handuk. Davin memalingkan wajahnya.
"Ya, aku tidak akan kemana-mana" jawab Davin.
Bella terkejut dengan reaksi Davin, dia berpikir bahwa Davin sekarang mulai tersipu melihatnya tanpa pakaian.
'Mungkinkah? ' tanya hati Bella.
Davin pergi keluar dari kamar. Bella tersenyum dengan pemikirannya sendiri.
Saat sampai di ruang keluarga, dia tak melihat siapapun. Saga dan Amelia sudah masuk ke kamar masing-masing. Davin berjalan perlahan menuju kamar Amelia.
"Papa! " seru Dama yang melihatnya.
Davin terkejut, Amelia melihatnya dari dalam kamar.
"Dama! " seru Davin meraih anaknya kemudian menggendongnya.
"Papa! " Dama geli karena dicium Davin berkali-kali.
Amelia keluar dan menatapnya.
"Kalian sudah pulang? " tanya Davin.
'Bukannya tadi dia melihat kami dari jendela kamarnya? ' ucap hati Amelia.
Amelia tersenyum kemudian mengangguk menyembunyikan isi hatinya.
"Syukurlah" ucap Davin.
"Hmmm? " Amelia terkejut dengan ucapan Davin.
"Maksud ku.... "
"Kau di sini? " Saga memanggilnya dari belakang.
Davin dan Amelia menoleh.
"Bella mencari mu tadi" lanjut Saga.
Davin kesal, tapi berusaha tak menunjukkannya di hadapan mereka.
"Bawa saja Dama" ucap Saga melihat Dama yang terus menempelkan pipinya di bahu Davin.
"Baiklah" jawab Davin setelah melihat Amelia mengangguk.
Davin pergi, dia mendengarkan percakapan Saga dan Amelia dengan mengambil langkah perlahan.
"Aku mau mengambil pakaian ku" ucap Saga.
"Masuklah! " ucap Amelia.
__ADS_1
Mereka pun masuk ke kamar Amelia. Mata Davin membelalak mendengar hal itu. Terlebih saat pintu kamar Amelia menutup.
Dia kembali ke depan pintu kamar Amelia dan menempelkan telinganya di daun pintu.
"Papa" Dama memanggilnya.
"Sstthhh" bisik Davin.
Tiba-tiba Saga membuka pintu dan melihat Davin sedang berlutut.
Davin mendongak menatap Saga dan Amelia yang menatapnya.
"Apa yang kau lakukan? " tanya Saga.
"Aku..... "
"Papa stthhh! " ucap Dama meniru Davin.
Amelia meraih Dama dan menggendongnya.
"Bukankah Bella mencarimu, pergilah, biar Dama bersamaku" ucap Amelia.
Saga menatap mereka bergantian, tak mengerti dengan sikap mereka.
"Baiklah, aku pergi" ucap Davin kemudian pergi.
"Ada apa dengannya?" gumam Saga.
"Kau juga pergi, aku dan Dama akan istirahat" Amelia mendorong Saga.
"Aku masih mau bersama kalian" Saga mengeluh seperti anak kecil.
"Sudah sana, kau juga harus istirahat karena besok ada meeting. Iya kan? " Amelia mengingatkan.
Saga menyerah, dia tersenyum kemudian mendekat dan mencium Dama dengan lembut.
"Baiklah, selamat tidur calon istri dan anakku" ucap Saga.
"Apa yang ada di pikirannya? Apa dia pikir.....! Aiish, dasar Davin. Dia ini benar-benar" Amelia jadi kesal dengan pemikirannya sendiri.
Di ruangan lain, Bella sedang menunggu Davin yang dia ketahui memang sedang menyapa Dama. Dia berbalik setelah mendengar suara langkah kaki yang dikenalnya.
"Mana Dama? " tanya Bella setelah tersenyum dan melihat Davin datang sendiri.
"Bersama Amelia" tunjuk Davin ke arah kamar Amelia.
"Ku kira kau akan membawanya" ucap Bella.
"Aku hanya menyapanya, lagipula dia baru datang, mungkin akan beristirahat sejenak" jelas Davin.
Bella mendekat dan meraih lengan Davin.
"Ya, nanti saat dia sudah tidak lelah, kita ajak main" ucap Bella.
"Hmmm! " angguk Davin.
Dia diam saja meskipun Bella merangkul lengannya.
"Kalau begitu, apa yang harus kita lakukan untuk melewati malam ini? " tanya Bella.
"Tidur, aku harus tidur lebih cepat. Ada meeting! " seru Davin.
Dia pergi setelah melepaskan tangan Bella dari lengannya. Sementara Bella tersenyum dan menyusulnya.
Davin langsung merapikan sofa yang hendak dia pakai untuk tidur. Bella menarik bantalnya dan memasangnya di ranjang. Davin terkejut dan hanya diam menatapnya.
"Tidur di sini" ajak Bella dengan menepuk ranjangnya beberapa kali.
__ADS_1
Davin menatap tangannya kemudian beralih pada wajah Bella yang di matanya berseri-seri.
'Ada apa dengannya? ' tanya hati Davin.
"Sini.... aku takkan macam-macam" ucap Bella.
'Memangnya kenapa juga kalau macam-macam, toh sama saja, aku bahkan tidak bisa berhasrat meski kau tak berpakaian sekalipun' ucap hati Davin.
Tapi dia melangkah maju dan menuruti permintaan Bella. Benar saja, saat Davin hendak berbaring, Bella langsung merangkulnya.
"Terimakasih" ucap Bella.
"Hmmm" Davin hanya menjawab singkat.
Bella menyamankan dirinya di dekat dada Davin yang malah sedang memikirkan Amelia.
'Dia mengerti kalau aku mengintip, tapi kenapa dia membungkam dan menutup percakapan tadi?'
Sementara itu, Amelia pun memikirkan apa yang dilakukan Davin tadi.
"Papa mu itu, entah dia berpikir apa, tapi mama benar-benar kesal mengetahui dia menguping di pintu. Hmmm, dia berpikir aku wanita seperti itu karena hubungan kami dimulai dengan hal itu. Ini salah mu Amelia, semua orang, bahkan Davin tetap akan mencap mu seperti itu"
Amelia terus bergumam hingga Dama tidur terlelap. Tapi dirinya tak bisa memejamkan mata, Amelia keluar dan mencari udara segar dengan membuka pintu dapur.
Dia mengambil nafas dalam dan menatap keheningan malam di taman belakang rumah besar itu.
Cahaya lampu menyoroti jalan dengan hiasan bunga yang ditanam di taman itu. Warnanya masih cerah meski itu sudah malam.
Tiba-tiba, pikiran Amelia teringat bagaimana dia bisa bertemu dengan Davin.
Saat mata mereka tak bisa lepas dari memandang satu sama lain.
Saat dimana Davin menabraknya dan mengecup bibirnya.
Hingga saat Davin melakukan hal yang sudah dia izinkan malam itu.
Amelia menurunkan pandangannya, dia menggigit bibirnya sendiri.
'Astaga, aku bahkan tidak pernah lupa' ucap hati Amelia.
Kemudian dua tangan memeluknya dari belakang. Amelia terperanjat dan menjauh darinya.
"Saga! " seru Amelia dengan wajah ketakutan.
"Waah, kau sangat terkejut? " Saga tertawa.
"Jangan seperti itu, aku benar-benar terkejut!" keluh Amelia.
"Maaf! " Saga mendekat dan meraih tangannya.
Amelia mengambil nafas panjang untuk mengatur degup jantungnya.
"Apa yang kau lakukan di sini? " tanya Saga.
"Aku tidak bisa tidur, jadi aku kemari" jawab Amelia seraya memandang ke arah luar.
Teringat bahwa dia kemari dan mengingat hal yang seharusnya dia tidak ingatkan lagi. Terutama karena dia akan menjadi istri pria yang ada di hadapannya sekarang. Wajah Amelia berubah murung.
"Sudah ku duga, kau butuh pelukan ku" ucap Saga.
Amelia menghela kemudian tersenyum.
"Kau ini" dia memukul lengan Saga yang mendekat dan memeluk pinggangnya.
Mereka pun pergi ke kamar Amelia dan mengantarnya tidur. Saga pergi setelah mengecup kening Amelia. Mereka pun berpisah dan kembali istirahat.
Davin yang sengaja turun untuk melihat Amelia, melihat semua kemesraan itu. Tapi dia sedikit memikirkan sikap Amelia yang tiba-tiba diam saat menatap ke arah taman.
__ADS_1
'Apa yang sedang dia pikirkan?' tanya hati Davin.
\=\=\=\=\=>