
"Aku bertemu dengannya di taman kota. Aku ingat nama cucu kita, Dama. Amelia menyebut nama anaknya. Tapi dia terlihat ketakutan dan menyebut nama Ibu, jadi aku ajak dia kemari..."
Ayu hendak menceritakan semuanya.
"Dia bukan cucu mu" ucap Harris.
Ayu diam menatap Harris, mulutnya menganga hendak mengatakan sesuatu. Namun Harris melanjutkan ucapannya.
"Mereka tidak menikah dan anak itu adalah anak Davin. Putra tiri mu"
Ayu kehilangan keseimbangannya dan bertopang pada kursi yang ada di dekatnya.
"Ayu!" seru Harris cemas dengan keadaan Ayu.
Dia membantu Ayu duduk di ranjangnya dan mengambilkan minum untuknya.
"Kau merasa lebih baik?" tanya Harris.
"Saga pasti sedih, dimana dia sekarang?" tanya Ayu yang memikirkan perasaan putranya.
"Dia pergi mencari Amelia. Aku juga sedang mencarinya tadi, dan sangat terkejut melihatnya di sini" ucap Harris.
"Lalu apa yang terjadi? Kenapa dia aku temukan di taman dalam keadaan takut pada Ibu?" tanya Ayu.
Harris menceritakan semuanya. Ayu menghela, dia sangat paham apa yang ditakutkan Amelia.
"Aku tahu bagaimana perasaannya, aku juga pernah merasakannya" ucap Ayu.
Harris memegang bahu Ayu.
"Jangan katakan pada siapapun dia di sini. Anak Saga atau anak Davin, Dama tetap cucu ku, iya kan? Janji ya jangan katakan pada Ibu dia di sini" Ayu memohon.
Harris tak menyangka Ayu akan meminta hal itu. Dia yang dipikirnya akan kecewa pada Amelia karena punya hubungan dengan Saga tapi punya anak dari Davin, ternyata punya hati yang lembut.
"Kamu sudah berubah sayang" ucap Harris.
"Aku hanya berusaha menjadi pribadi yang lebih baik, dan melakukan apa yang hati ku inginkan" ucap Ayu.
###
Davin dan Alex tiba di depan rumah Ghani. Mereka yang hendak mencari Amelia menjadi tertegun melihat Ghani memukul wajah seorang pria di halaman rumahnya.
"Pergi dari rumah ku!" seru Ghani.
"Ayah!" seru Hana mencegah ayahnya memukul lagi.
"Apa? Kau sudah berani mengundangnya saat kami tak ada di rumah!" Ghani berteriak.
"Dia datang hanya untuk melihat Mikayla, anaknya" jawab Hana membela Bagas.
Bagas menatap Hana, yang masih membelanya setelah semua yang dia lakukan.
"Cukup! Teriakan kalian membuat Mikayla takut" ucap Hani marah pada Hana dan Ghani.
Dia menutup telinga Mikayla dan mengajaknya masuk ke rumah.
"Maaf, ini semua salah ku. Aku seharusnya meminta izin ayah dulu" ucap Bagas.
"Aku bukan ayah mertua mu lagi, jangan memanggil ku seperti itu!" Ghani naik pitam lagi.
__ADS_1
"Ayah cukup, dia bisa babak belur" Hana menarik tangan ayahnya.
"Pergi dari sini, sebelum aku tak mendengarkan anak ku" ucap Ghani.
Bagas menunduk, dia pergi dengan langkah yang lemah. Davin dan Alex bertukar tatap merasa tak menyangka Pak Ghani begitu garang pada mantan menantunya.
"Astaga, dia mertua yang sangat menyeramkan" ucap Alex.
Glek, Davin terlihat lebih khawatir saat mendengar ucapan Alex.
Ghani mengawasi Bagas hingga keluar, namun tatapannya beralih pada Davin dan Alex yang berdiri di dekat mobilnya.
Alex mendorong Davin untuk maju, namun Davin malah menarik tangan Alex dan bersembunyi di belakangnya.
"Ada apa kalian kemari?" tanya Ghani.
Suara Ghani yang mereka dengar biasa saat meeting dan bekerja, terasa berat dan tegas saat itu. Membuat mereka menelan saliva berkali-kali.
"Aku..." Davin terbata.
"Kalian sudah menemukan anak ku?" tanya Ghani sadar mereka berdua ketakutan karena melihatnya marah pada Bagas.
Alex menatap pada Davin.
"Vin, dari pertanyaan Pak Ghani, sepertinya Amelia tidak kemari" bisik Alex.
Davin terdiam, rasa takutnya pada Ghani kalah dengan rasa penasarannya memikirkan kemana Amelia pergi.
"Belum Pak, kami kemari karena ingin bertanya, siapa tahu anda tahu tempat lain yang pernah dia datangi" ucap Alex karena tak mendengar apapun dari Davin.
Ghani menatap Davin yang terlihat sedang berpikir.
Davin terbangun dari lamunannya. Dia menatap Ghani dan mengangguk.
"Tidak ada, dia hanya pergi ke Bandung setelah lulus kuliah" jawab Ghani.
"Bandung?" tanya Alex memastikan.
~Tidak, itu waktu yang terlalu singkat untuk pergi ke terminal~ Davin menyangkal dalam hatinya.
"Ya, tapi percuma, disana sudah tidak ada teman-temannya, karena sudah dipindahkan tempat kerjanya" ucap Ghani.
"Oh iya Pak, terimakasih. Kami akan mencarinya lagi di tempat lain" ucap Davin.
Mereka buru-buru masuk setelah mengatakan hal itu.
"Kenapa tidak masuk dulu Bos? Siapa tahu dia menyembunyikan mereka" ucap Alex.
"Tidak, Pak Ghani tak tahu dimana Amelia. Itu terlihat dari raut wajahnya, itu bukan karena dia masih kesal pada pria tadi, dia masih belum lega karena belum menemukannya" jelas Davin.
"Wah, sejak kapan kau menjadi ahli ekspresi?" Alex meledeknya.
"Alex, jangan bercanda. Aku sedang tidak ingin dihibur" ucap Davin.
"Aku tidak bercanda, aku juga tidak menghibur. Tapi analisa mu sepertinya benar" ucap Alex sambil mulut maju menunjuk ke arah rumah Ghani.
Ghani tak masuk ke rumahnya, dia duduk di pelataran rumah dan menyapu seluruh wajah dengan tangannya.
Davin menatap Ghani, sungguh pemandangan yang sangat bertentangan dengan situasi tadi. Ghani terlihat stress dan cemas.
__ADS_1
"Itulah manusia, di luar terlihat kuat, tapi di dalam dia sangat rapuh" ucap Davin.
"Lalu, kemana kita akan mencari Amelia?" tanya Alex.
Davin menatap jalan di depannya kemudian menghela.
"Entahlah, aku juga tidak bisa memahaminya. Tadi dia sangat menurut dan mau ikut dengan ku, tapi sekarang kita malah mencarinya lagi" ucap Davin.
Beberapa menit berpikir sambil berjalan. Mereka berdua akhirnya saling menatap dan seolah punya dugaan yang sama.
"Oma, apa dia sudah menemukannya?" ucap Alex.
"Bisa jadi, atau..."
"Saga sudah membawanya" sela Alex.
Davin menghela, Alex tancap gas dan pulang ke rumah Narendra.
###
Di rumah Ayu.
Harris dan Ayu memperhatikan Amelia yang sedang mengasuh Dama. Ayu menghela.
"Padahal aku sudah menyukainya saat pertama melihatnya. Malah Maria yang akan beruntung karena menjadi mertuanya" ucap Ayu.
"Belum tentu" jawab Harris.
"Kenapa?" tanya Ayu terkejut.
"Amelia terlihat sangat takut pada Oma. Dia bilang berkali-kali bahwa Oma sangat kejam. Dia akan memisahkan ibu dan anak itu" ucap Harris.
Ayu mengerutkan dahinya, matanya terbuka lebar saat dia mengingat semua potongan memori yang dia ingat saat pertama kali melihat Amelia.
"Oh, jadi itu sebabnya aku mengenalnya" ucap Ayu.
"Apa? Mengenalnya?" Harris tak percaya mendengarnya.
"Dia, dia itu anak gadis yang memarahi Saga waktu dia nolak aku dulu. Kamu inget nggak? Iya, itu Amelia. Dia jelas melihat kejadian saat Ibu datang dan mengancam ku jika aku mencoba mendekati Saga" ucap Ayu menceritakan ulang kisahnya.
Harris menatap Amelia dan berpikir.
"Kau ingat kan, anak gadis yang berani protes pada Saga" Ayu mencoba mengingatkan Harris.
Harris masih berpikir.
"Aku tak begitu memperhatikan, tapi jika kamu yakin, itu berarti benar, dia anak gadis itu" jawab Harris.
Ayu tersenyum.
"Pantas saja aku suka pada pandangan pertama, dia yang membela ku saat itu, padahal dia tak tahu cerita sesungguhnya" ucap Ayu.
Tak lama kemudian, seseorang memencet bel dengan terburu-buru. Amelia menggendong Dama karena khawatir yang datang adalah anak buah Oma Mira.
Harris dan Ayu berdiri mendekat ke pintu dan melihat siapa yang datang. Mereka saling menatap tak percaya setelah melihat siapa yang datang.
Ayu membuka pintu perlahan. Saga masuk dengan mata terbuka lebar mencari keberadaan Amelia.
"Mana Dama dan ibunya?" tanya Saga tanpa menatap Ayu.
__ADS_1
\=\=\=\=\=>