
Saga duduk di belakang Bella yang sedang duduk di taman rumah. Dia murung semenjak Davin memutuskan untuk pindah kamar dan mulai mengajukan gugatan cerainya.
Saga hanya bisa. mengikutinya diam-diam. Bella tak pernah mau disentuhnya lagi.
"Non, ini buahnya!" seru Minah yang datang dan melewati Saga begitu saja.
Bella menoleh, dia menatap Minah dengan mata sendunya.
"Mba! "
"Hmmmm? " Minah yang hendak kembali ke dapur, menghentikan langkahnya.
"Bisa temani aku di sini sebentar? " tanya Bella.
Glekkk!
Mina menelan salivanya.
"Anu, saya.... " Minah gugup, tangannya menunjuk ke arah dapur.
Bella menunduk, dia tahu Minah segan menemaninya, setelah sikap arogannya yang selalu dia tunjukkan pada semua pelayan di rumah itu.
"Mba lagi masak? Ya sudah, tidak apa-apa" ucap Bella pelan.
"Maaf ya Non! " ucap Minah.
Saga memperhatikannya, dia tahu Bella butu teman tapi tetap bersikeras menolak kehadirannya. Dia pun mendekat dan duduk di samping Bella.
Bella terkejut, dia hendak pergi menjauhinya. Tapi tangan Saga meraihnya.
"Duduk! " ucap Saga tegas.
Bella terkejut, pertama kali dia mendengar Saga bicara dengan nada seperti itu.
"Kau saja, aku mau masuk! " ucap Bella.
"Aku bilang duduk! " Saga mengulang tanpa ekspresi.
__ADS_1
Bella menurut dan duduk di sampingnya.
"Bicara padaku, aku akan mendengarkan" ucap Saga.
Bella menoleh dan menatapnya.
"Aku ayah dari bayi yang kamu kandung, bicara padaku. Aku pasti mengerti" ucap Saga yang kali ini menatapnya.
"Pergilah, aku tidak mau Davin melihat kita seperti ini" ucap Bella.
Saga menghela.
"Dia akan menceraikan mu, kau berharap dia akan cemburu melihat kita dekat? " Saga kesal.
"Dia masih suami ku" ucap Bella dengan meneteskan air mata.
Saga memalingkan wajahnya, hela nafasnya membuang kekesalan dalam hatinya.
***
Beberapa kali dia menelan salivanya membaca komentar teman-temannya. Beberapa mendesak dirinya untuk beberikan konfirmasi.
Maria semakin kesal, mengingat semua perlakuan manis Harris akhir-akhir ini.
"Ternyata dia hanya membuatku yakin dan menutupi semua kebusukannya dengan Ayu" gumam Maria.
Minah yang baru saja datang hendak memintanya menemui Oma Mira, terkejut dengan ponsel yang melayang ke arah kakinya.
"ASTAGA! " teriak Minah.
Maria menoleh.
"Ada apa kau kemari? " tanya Maria sembari memalingkan wajahnya.
"Nyonya Besar.... " tunjuk Minah ke arag kamar Oma Mira, namun matanya menatap ponsel yang sudah retak dan tak hidup itu.
Maria bangkit mengambil sebuah map dan melangkah keluar kamar.
__ADS_1
"Buang ponselnya" ucap Maria seraya melewati Minah.
Minah memungutnya, dia memeriksa lagi keadaan ponselnya.
"Keluarkan dulu memorinya, minta seseorang untuk menghapus semua akun ku dan semua foto yang ada" lanjut Maria yang berhenti melangkah sebentar.
"Iya Nyonya! " jawab Minah.
Maria masuk ke ruangan kerja Oma Mira tanpa mengetuk.
"Ada apa Bu? " tanya Maria dengan wajahnya yang kesal.
"Jadi... kau sudah melihatnya" Oma menyimpulkan sendiri.
"Ya, aku jadi menyesal bergabung dengan grup sosialita itu" jawab Maria.
"Kau tidak marah karena Harris masih bersama Ayu? " tanya Oma memperhatikan ekspresinya.
"Sia-sia" jawab Maria datar.
Oma masih menatap wajahnya.
"Heuh, aku bahkan merasa senang karena dia menyentuhku akhir-akhir ini" ucap Maria menertawakan perasaannya sendiri.
Oma mengalihkan pandangannya.
"Lalu apa yang akan kau lakukan? " tanya Oma Mira.
Maria melempar map di meja kerja Oma Mira.
"Aku menemukan surat gugatan cerai Harris di meja kerjanya. Jadi aku menyetujui dan menandatanganinya" jawab Maria seraya menyapu tangis di pipinya.
Oma Mira terkejut, keputusan yang Maria ambil, akan membuat keluarganya semakin terpuruk.
Tapi Maria tak peduli, dia pergi dari ruang kerja Oma Mira tanpa mendengar persetujuan ibu mertuanya.
\=\=\=\=\=\=>
__ADS_1