CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
26


__ADS_3

Amelia berjalan menuju pabrik, dia terlihat sedikit menahan sakit di bagian perutnya. Gendis sudah memintanya untuk diam di rumah karena mengeluh pegal di bagian pinggang semalam. Namun dia ingat ada pekerjaan yang belum dia lakukan dan jika dia tidak melakukannya, Peter akan kerepotan.


Gendis berdecak saat menatapnya berjalan. Dia kembali masuk dan mencuci piring yang tadi mereka pakai. Tak lama kemudian dia mendengar suara Amelia mengerang kesakitan. Gendis berlari keluar, dia mengejar Amelia yang sudah berjalan agak jauh.


Gendis melihat Amelia duduk dan menjerit kesakitan. Dia meraih tubuhnya dan memeluknya. Tapi dia tak kuat mengangkatnya, Gendis menelpon Peter untuk pulang.


Peter berlari dari pabrik dan mendapati Gendis duduk menjadi sandaran Amelia. Dia panik dan menyuruh seseorang menolongnya mengangkat Amelia ke rumah.


Amelia dibaringkan di ranjang Gendis karena kamar Amelia ada di lantai atas. Mereka langsung menelpon dokter untuk datang. Namun dokter yang biasa datang sedang melakukan operasi.


Gendis semakin panik, Peter juga bingung harus melakukan apa.


"Panggil saja ambulance, kita tidak bisa membiarkan dia kesakitan seperti itu" ucap Gendis yang sangat khawatir melihat Amelia sudah berkeringat merasakan sakit.


Saat semua orang panik, Saga datang dengan menyapa dan menunjukkan oleh-oleh untuk Gendis.


"Aku pulang! aku bawa roti buatan Darrell khusus untuk mu" ucap Saga.


Kemudian wajahnya berubah saat mendengar suara tangis Amelia. Saga berlari ke kamar Gendis dan melihat Amelia kesakitan. Dia kembali keluar dan menatap Gendis dan Peter secara bergantian.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Saga panik.


"Aku sudah menelpon ambulance" jawab Peter.


Saga lega, tapi dia masih merasa tak tega mendengar Amelia menangis. Dia menghampiri Amelia dan memegang tangannya. Namun Amelia melepasnya, dia lebih memilih meremas sprai ranjang Gendis. Saga menatap tangannya dan tangan Amelia bergantian. Dia mencoba memahami bahwa Amelia belum bisa percaya pada pria.


Gendis melihat usaha Saga dalam mendapatkan kepercayaan Amelia. Dia yang awalnya menganggap Amelia gadis nakal, kini sudah sangat tahu sifat asli Amelia.


Beberapa lama menunggu dan mencoba membantu Amelia menahan sakitnya, akhirnya ambulance datang. Saga membantu Amelia berbaring di blankar. Kali ini tangan Saga dipegang erat hingga dia masuk ke ambulance. Pegangan tangannya yang erat membuat Saga akhirnya menemaninya di dalam ambulance.


Gendis dan Peter akan menyusul saat mobil mereka datang dari mengambil barang produksi. Mereka menatap kepergian ambulance hingga menghilang. Gendis berdoa terus menerus untuk keselamatan Amelia.


Sampai di rumah sakit, Amelia diperiksa. Dokter menyarankan agar dia di sesar karena panggulnya terlalu kecil untuk melahirkan normal. Saga menatap Amelia yang mulai tenang setelah diberi pereda nyeri.

__ADS_1


Amelia menyentuh tangan Saga. Dia menariknya agar Saga mendekat pada mulutnya. Saga mendekat dan mendengarkan.


"Lakukan saja, aku menyimpan uang di bank, aku rasa cukup untuk operasinya" bisik Amelia.


Saga menatapnya.


"Kau bisa merekamnya jika kau mau. Kami akan mempersiapkannya" ucap Dokter mengira Amelia meminta sesuatu yang lain.


"Baiklah, lakukan semua yang terbaik" ucap Saga.


Suster meminta tanda tangannya sebagai izin keluarga. Dia menatap Amelia dan hanya bisa diam. Suster memberikan pakaian serba biru pada Saga, mengira dia akan ikut melihat proses sesarnya.


Saga mengambilnya, dia menatap Amelia seolah meminta izinnya untuk menemaninya. Tapi Amelia menggelengkan kepalanya. Saga paham, dia memberikan pakaian itu kembali pada suster.


"Tidak, kau harus menemaninya. Jangan hanya mau membuat anaknya saja. Kau juga harus lihat bagaimana istri mu berjuang hidup dan mati dalam melahirkan" ucap Suster memberikannya lagi pakaian itu.


Dia mengira Saga adalah suami Amelia. Kemudian suster yang lain meminta bantuannya untuk melepas pakaian Amelia dan menggantinya dengan pakaian untuk operasi.


Mata Saga membulat, begitupun dengan Amelia. Dia bahkan sangat malu mendengar pakaiannya akan dilepas dan dibantu Saga.


Saga baru membuka matanya saat Amelia sudah mengenakan pakaian operasi. Dia tak berani menatap wajah Amelia. Dia takut Amelia merasa canggung.


Proses operasi dimulai, Saga berdiri di samping Amelia karena suster memaksanya. Dia menatap ke arah lain, supaya Amelia tak merasa dia memanfaatkan situasi.


Amelia dianestesi sebagian. Dia melakukan operasi dalam keadaan sadar. Matanya menghindari wajah Saga, dia terus berdoa menyebut Tuhannya. Berharap semua akan baik-baik saja.


Amelia sedikit merasakan kulitnya di belah oleh pisau, tangannya meraih tangan Saga yang ada di sampingnya. Saga langsung mendekat dan mengusap kepalanya. Amelia ketakutan dia meraih pakaian Saga kemudian menyembunyikan wajahnya saat Saga mendekat.


Jantung Saga berdegup kencang, dia kaku tak bergerak karena gugup. Hingga keluarlah bayi dari perut Amelia dan dibantu suster agar Saga meraihnya pertama kali.


Saga diminta melepas pakaiannya dan bertelanjang dada, bayi Amelia ditaruh di atas dadanya. Saga memegangnya dengan perlahan namun kuat. Dia merasakan gerakan bayi itu di dadanya.


Amelia menatap mereka bergantian, dia hendak mengatakan untuk tak melakukannya, karena takut Saga tak menginginkannya. Namun melihat ekspresi dan bagaimana Saga memegang bayinya, Amelia jadi menangis sakaligus tersenyum.

__ADS_1


Saga menatap Amelia dan senyum, dia sangat senang bayi Amelia menangis di dadanya. Senyum dan tawa muncul berkali-kali dari Saga. Membuat suster juga ikut bahagia dengan momen itu.


"Laki-laki, bayinya laki-laki. Selamat" ucap dokter.


Suster meminta Saga membawanya keluar selama menjahit luka Amelia. Tak lama terdengar suara Saga melantunkan Adzan. Amelia menatap bayangan mereka dari kaca. Dia kembali menangis, dia merasa bayinya sudah mendengarkan Adzan dari ayahnya sendiri. Tapi menghadapi kenyataan bahwa Saga bukanlah ayahnya membuatnya semakin menangis.


Tak lama kemudian Gendis dan Peter datang. Mereka melihat Saga sedang adzan. Gendis menutup mulutnya karena terkesima. Dia melihat Saga seperti seorang suami dan ayah yang menemani istrinya melahirkan dan menadzani anaknya. Peter mengusap kepalanya, lega sekaligus bingung karena dia melihat Saga menggendong bayinya di dadanya.


Ibu dan bayinya sehat, Amelia menatap Gendis dan Peter yang ada di hadapannya. Gendis memeluknya, dia sangat merasa iba dan kagum karena Amelia mampu melewati masa sulit tanpa kehadiran ibunya.


"Selamat, kau sangat hebat!" bisik Gendis.


Peter memberikan selamat dengan menjabat tangannya.


"Kau hebat dan melahirkan bayi laki-laki yang hebat!" ucap Peter.


Amelia tersenyum. Kemudian tatapannya beralih pada Saga yang datang menggendong bayinya sambil tersenyum. Tapi Amelia melihatnya sebagai Davin. Kemudian dia mengusap wajahnya karena sadar itu hanya bayangannya saja.


"Berhenti menangis, dia sudah lahir dan akan mendapatkan kasih sayang kita semua" ucap Saga.


Amelia, Gendis dan Peter menyambut bayi yang diletakkan di sisi Amelia.


"Dia ayah yang cakap, baru pertama kali tapi sangat pandai melakukannya" ucap suster.


Saga menatap Amelia yang kemudian mengalihkan pandangan darinya.


"Aku temannya suster. Bukan ayahnya" ucap Saga agar Amelia tak marah.


Amelia melirik dan tersenyum. Gendis dan Peter saling menatap.


"Oh, maafkan saya, saya kira kalian suami istri. Maaf!" ucap suster.


"Tidak apa-apa! Terimakasih suster" jawab Amelia.

__ADS_1


Saga keluar untuk berganti pakaian, Gendis dan Peter menemani Amelia yang harus banyak istirahat agar lukanya cepat sembuh. Sementara bayinya dibawa ke ruang bayi agar mendapatkan perawatan dari suster.


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2