
Saga menatap dirinya di depan cermin. Dia memikirkan pesan Amelia yang mengatakan akan pergi ke rumah ayahnya sejak pagi.
Saga menghela beberapa kali memikirkan rasa canggung yang selama ini dia rasakan pada Amelia. Dia juga menyadari cenderung menjaga jarak padanya.
Tak berapa lama, pesan dari Davin pun juga muncul.
[Aku mengantarkan Amelia ke rumah Pak Ghani, kau tidak turun, dia sudah menunggu sejak pagi buta]
Mata Saga membulat.
"Aku kira Amelia izin saja dan pergi sendiri" gumam Saga.
Dia kembali menghela, sikapnya membuat komunikasi mereka menjadi kacau.
"Aku yang terlalu takut dan merasa bersalah. Kejadian malam itu benar-benar bukan hal yang disengaja, Bella bersikap seolah aku bersalah dalam hal ini. Dia juga bersalah, dia tidur di tempat seharusnya Amelia tidur"
Sesaat berpikir seperti itu, tapi kemudian Saga berpikir lagi.
"Aku lupa, siapa yang mengatakan bahwa Amelia menunggu ku di kamar itu? Jelas tidak akan mungkin baginya mabuk atau bersedia memberikan hal itu padaku sebelum pernikahan terjadi"
Dia mulai berpikir untuk menyelidiki dalang di balik kejadian malam itu.
Saat turun ke dapur, Minah sedang merapikan meja.
"Mana yang lainnya? " tanya Saga.
"Nona Amelia ke rumah ayahnya diantar Den Davin, Pak Harris mengajak Oma dan nyonya Maria berkunjung ke pabrik, Alex dan Zidan juga sudah pergi" jelas Minah.
"Ohh, sudah pergi semua? " Saga mengambil kesimpulan.
"Aden sarapannya? " Minah menawarkan.
"Kopi saja" jawab Saga.
"Saya siapkan dulu ya! " Minah langsung pergi ke dapur.
Saga kembali ke kamarnya untuk mengambil laptopnya. Saat melewati kamar Bella yang pintunya sedikit terbuka, Saga mendekat dan sedikit mengintip ke dalam.
Bella sedang duduk termenung menatap segelas kopi yang terlihat masih panas di meja.
Bella merasakan kehadiran Saga, dia menoleh kemudian berdiri menatapnya.
"Mau apa? " tanya Bella.
Saga ketahuan dan masuk dengan santai.
"Pintu kamar mu terbuka, aku tak sengaja.... "
"Ya, semuanya terjadi karena ketidaksengajaan" Bella menyela ucapannya.
"Jangan bersikap seolah aku yang bersalah, kau juga bersalah karena tidur di tempat Amelia seharusnya tidur. Jika kau memang terbiasa tidur ditempat sembarangan, jangan seolah-olah kau menderita akan hal itu" ucap Saga.
Bella menangis kemudian tertawa, Saga terheran dengan sikapnya.
__ADS_1
"Aku..... menderita?" ucap Bella.
Saga memalingkan wajahnya.
"Aku sangat menderita, aku bahkan tidak berani menatap wajah Davin" lanjutnya.
Saga menyeringai menertawakannya, merasa Bella hanya melebihkan.
"Bagaimana aku bisa menjelaskan padanya bahwa aku sudah memberikan keperawanan ku pada kakaknya, saat dia mau menerima ku nanti" ucap Bella sembari terisak.
Saga terkejut, matanya membulat seolah akan keluar dari tempatnya.
"Kau...! "
"Ya, setelah aku begitu menderita menahan diri dan menunggunya untuk menyentuhku, sekarang aku harus menderita merasa tak berguna lagi untuknya, kau bilang aku tidak menderita? Aku harus sampai seperti apa Ga? Kau mau aku seperti apa?" Bella menangis, mengerang, meluapkan semua perasaannya.
Saga menganga tak percaya, dia baru tahu kalau Davin tak pernah memperlakukan Bella sebagai istrinya. Langkahnya mundur keluar dari kamar Bella dan meninggalkannya menangis sendiri.
Saga masuk ke kamarnya, dia tertegun cukup lama. Tak merespon meski berkali-kali Minah datang mengetuk, memberitahu kopinya sudah mendingin.
***
Davin melambaikan tangannya pada Dama yang di gendong Hani. Dia pergi setelah melihat Dama masuk.
Dia masuk ke mobil sembari memeriksa ponselnya.
[Aku tidak ke kantor, aku tidak enak badan]
"Kak Saga sakit? Apa Amelia tahu? " gumam Davin seraya menatap ke arah rumah Ghani.
Davin menyalakan mobilnya dan melaju ke kantor. Sampai di kantor, Pak Ghani sedang menunggunya untuk menyusul ke pabrik dan ikut ke rombongan Pak Harris untuk kunjungan ke pabrik.
"Pagi Pak! Pak Harris sudah menunggu... "
"Tidak Pak, Kak Saga tidak masuk hari ini, dia sakit. Jadi hari ini aku harus menangani semua meeting di kantor" ucap Davin.
"Sakit? " Pak Ghani terlihat khawatir.
Zidan yang tak sengaja lewat mengangkat kedua alisnya saat mendengar kabar itu.
"Iya, dia mengabari saat aku pulang dari rumah anda, setelah mengantar Amelia dan Dama" jelas Davin sambil berjalan masuk ke ruangannya.
Ghani berpikir, terlihat khawatir. Davin memperhatikannya.
"Ada apa Pak? " tanya Davin.
"Tidak, seharusnya Amelia tidak ke rumah jika Saga sakit bukan? Apa komunikasi mereka baik-baik saja? " Pak Ghani benar-benar khawatir.
Davin terdiam mengingat ucapan Alex semalam. Tapi saat melihat wajah Pak Ghani, dia langsung merespon dengan santai.
"Kak Saga memang begitu kan Pak, dia tak mau orang lain khawatir tentang keadaannya. Dia juga tidak mau Amelia khawatir, jadi tak mengatakan apapun padanya" ucapnya seraya tersenyum.
Pak Ghani terkesima dengan ucapan Davin yang menurutnya Davin sangat bijak. Terlebih, selama ini, dia terlihat sangat belum bisa merelakan Amelia untuk Saga.
__ADS_1
"Ya, kalian anak-anak yang baik" jawab Ghani.
Davin tersenyum, kemudian mengalihkan pembicaraan mereka ke rapat yang dijadwalkan.
Sementara itu Zidan dan Gala sedang berdiskusi di ruangan Gala.
"Dia tidak bisa diandalkan Pah! " keluh Zidan.
Gala hanya menghela.
"Jika aku ada di posisi Saga, aku akan.... "
"Cari tahu kenapa dia bisa sakit mendadak! Sampai detil" ucap Gala tegas.
Zidan diam menelan salivanya, merasa ucapannya tak dianggap.
"Iya Pah! "
Zidan keluar dengan kesal, tapi berusaha mengendalikan diri.
"Sialan, aku bahkan tidak dianggap anak olehnya. Pandangannya tak pernah menganggap aku penting, selalu tentang Davin dan Saga" gumam Zidan.
Ghani yang baru saja keluar dari ruangan Davin, mendengar ucapan Zidan. Tapi dia hanya tersenyum dan mengangguk padanya,
"Huuft dasar kacung, mengagetkan saja" gumam Zidan.
Sekali lagi, Ghani mendengarnya dan diam saja.
"Zidan! " seru Davin yang keluar.
"Apa? " tanya Zidan ketus.
"Om Gala ada di kantor? " tanya Davin.
"Ada! " jawabnya terlihat malas.
"Apa dia udah tahu Kak Saga... "
"Sudah, masuk saja sana, aku ada urusan" Zidan pergi berlalu begitu saja.
Davin berdecak melihat sikapnya yang semakin lama semakin mengesalkan.
Zidan hendak mengabaikan perintah ayahnya, tapi saat dia memegang stir, dia teringat Bella. Perubahan sikapnya membuat semua orang memperhatikannya. Zidan pun ingin mencoba menghiburnya, tapi Bella terus mnghindarinya.
Dia memutuskan untuk pergi ke rumah, dia juga memanfaatkan kunjungan yang lainnya ke pabrik untuk bicara dengan Bella.
Sampai di rumah, tak ada siapapun. Minah sedang belanja dengan supir, beberapa pelayan pun sedang istirahat. Zidan langsung pergi ke kamar Bella.
Tapi langkahnya berhenti saat melihat Saga lebih dulu masuk dan sedikit menutup pintunya.
"Maafkan aku" ucap Saga.
Mata Zidan membelalak.
__ADS_1
'Maaf untuk apa? ' tanya hati Zidan.
\=\=\=\=\=\=\=>