CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
82


__ADS_3

Saga siap dengan jas dan semua berkas yang dia siapkan. Amelia membantunya meski dia tetap tak senang dengan tujuannya.


"Ternyata aku sangat tampan memakai jas seperti ini" ucap Saga memecah keheningan diantara mereka.


"Aku tidak suka, aku lebih suka kau memakai kaos dan jaket jeans, lebih manis" jawab Amelia sembari merapikan tas kerjanya.


Saga menghela cukup keras mendengar jawaban Amelia. Dia mendekatinya dan hendak memeluknya. Amelia menghindar dan menatapnya.


"Kau jadi sering melewati batas sekarang" ucap Amelia.


Saga terdiam, raut wajahnya berubah menjadi kecewa terhadap sikap Amelia.


"Aku berangkat" ucap Saga pamit.


Amelia merasa bersalah, dia mendekat dan memaksa merapikan dasinya.


"Tidak usah, aku bisa sendiri" ucap Saga.


Tapi Amelia tetap merapikannya.


"Aku cuma ingin bahagia, setelah aku mencoba begitu ikhlas melepas putraku pada ayahnya, aku hanya ingin menjalani hidup dengan bahagia dengan orang yang aku cintai. Jika itu salah di matamu, aku minta maaf, jika.... "


Saga tiba-tiba mengecup bibi Amelia. Sontak Amelia menjauh dan menyentuh bibirnya sendiri. Dia menatap Saga dengan matanya yang membulat.


"Maaf! " ucap Saga.


"Aku akan siapkan sarapan untuk mu"


Amelia berbalik dan pergi meninggalkannya.


Saga membasahi bibirnya sendiri, dia masih merasakan lembutnya bibir Amelia.


***


Davin turun, melihat Amelia buru-buru ke dapur. Bella langsung mengaitkan tangannya ke tangan suaminya.


"Sayang, ada undangan dari teman ku, dia menikah dengan pacar SMU nya. Kau harus cepat pulang ya" ucap Bella.


"Aku tidak tahu bisa atau tidak, nanti aku kabari. Jika aku tidak bisa pergilah sendiri" jawab Davin.


Mata Davin mencari Amelia di ruang makan, tapi dia belum keluar dari dapur.


"Pagi semua! " sapa Davin.


Semua orang menoleh dan menyahut kecuali Zidan yang matanya terus menatap Bella. Mengingat apa yang mereka lakukan semalam di balkon.


Tapi Bella acuh padanya jika saat sedang bersama Davin.


Amelia keluar dengan membawakan makanan utama yang akan disajikan. Semua orang menatapnya.


"Selamat pagi semua! " seru Saga yang baru datang.


Saga mendekat pada Amelia dan mencium keningnya.


"Pagi sayang! " ucapnya sedikit lebih keras.

__ADS_1


Amelia membeku sejenak seolah ditembak laser pendingin.


Davin mengalihkan pandangannya, tak rela melihat hal itu. Sementara Zidan mengangkat kedua alisnya mengakui keberanian Saga melakukan hal itu di depan semua orang.


"Waaah, kemesaraan pasangan calon pengantin mengalahkan kemesraan pasangan yang sudah menikah setahun lebih" sindir Zidan.


Bella mendendang kakinya di bawah meja. Zidan malah tersenyum memandang Davin dan Bella bergantian.


"Kak Saga rapi sekali, mau kemana? daftar nikah? " tanya Bella yang sangat mendukung hubungan mereka.


"Tidak, maksudku belum. Aku mau ke kantor, mulai bekerja di perusahaan papa" jawab Saga.


Dia menarik tangan Amelia untuk duduk di sampingnya.


Oma Mira tak bisa menolaknya, Saga sudah mengambil keputusan, dia takkan mengganggunya sampai mereka benar-benar hendak menikah.


"Bekerja? Mengambil alih pekerjaan Davin? " tanya Bella menyulut api di kepala Davin.


Davin menatap Bella kemudian menatap Saga.


"Tidak, Davin pada posisinya sebagai direktur, aku kan pemilik, sama seperti ayah" jawab Saga.


Amelia mencubit pahanya, tapi Saga menahan sakitnya dengan terus tersenyum di hadapan semua orang.


Bella membulatkan matanya ke hadapan Davin dan memberi kode keberanian Saga mengungkapkan keinginannya di depan semua orang.


Davin mengalihkan pandangannya ke arah lain karena sudah kesal sejak Saga mencium kening Amelia.


"Hmmm, posisi kak Saga ternyata lebih tinggi" ucap Zidan.


Amelia berdiri hendak ke dapur, Saga menahan tangannya.


"Tetap di sini, biar mba Minah yang ambil semuanya" ucap Saga.


"Mba Minah sedang bersama Dama, menyuapinya. Masakannya belum semua keluar" Amelia bicara dengan merapatkan giginya.


Saga memajukan mulutnya, dia melepaskan tangan Amelia.


Davin semakin merasa terbakar melihat pemandangan itu di hadapannya. Ingin rasanya dia pergi saja, tapi dia takut semua orang akan menebak bahwa dia masih tak bisa move on dari Amelia.


Zidan kesal, tak ada yang merespon kompor yang dia nyalakan di meja makan itu. Kemudian dia berdiri dan hendak pergi.


"Kau tidak sarapan? " seru Oma.


"Tidak Oma, aku mau lebih rajin datang lebih pagi supaya dapat jabatan lebih tinggi" Zidan berteriak sambil keluar.


"Dasar anak tidak tau sopan, bagaimana bisa lebih tinggi jabatan jika tata krama rumah ini saja dia tak bisa menerapkan" ucap Oma.


Saga tak memperdulikan, dia makan dan fokus. Sementara Davin terus menatapnya, mengingat kemesraannya bersama Amelia.


"Kau juga, sikap mu terlalu mengumbar kemesraan dengan anak pagawai tidak bisa membuat mu punya jabatan tinggi, kecuali kau menikah dengan wanita yang aku pilih" ucap Oma pada Saga.


"Tidak, aku tidak akan menuruti Oma. Aku adalah perwaris dari keluarga ini. Aku punya hak untuk memilih siapa yang menjadi pendamping ku... "


"Ya, itulah yang membedakan mu dengan Davin. Dia lebih menuruti keinginan ku, jadi.."

__ADS_1


"Jadi ini soal tata krama rumah ini atau aturan Oma saja? " Saga menyela ucapannya.


Oma Mira terdiam dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Kaaak, tidak baik menyela ucapan orang tua" Davin mencoba melerai.


"Oh ya, kau sendiri selalu tidak bisa menghargai ayah mu, sekarang kau sok menasihati? " Saga berdiri.


"Vin, ada klien yang minta meeting pagi, ayo! Kak Saga juga harus berangkat lebih pagi" seru Alex yang sedari tadi keluar dari dapur mendengar keributan.


Amelia yang baru bisa keluar, hanya bisa menatap mereka yang mulai pergi meninggalkan meja tanpa sarapan dengan baik.


"Semua orang sudah pergi nyonya" ucap nya sambil menaruh sajian di meja.


"Apa maksud mu?" Oma Mira melirik.


"Tidak, hanya saja, makanannya" Amelia menunjuk ke arah masakan yang cukup banyak.


"Buang saja" ucap Oma sambil berdiri dan pergi dengan langkah perlahan.


Amelia menggelengkan kepalanya.


"Apa salahnya jika orang tua bertanya, apa kabar mu hari ini nak?, bagaimana tidur mu nak? apa yang kan kau lakukan hari ini? Bukannya membahas keegoisan masing-masing" gumam Amelia.


Oma Mira yang belum sampai di ambang pintu, mendengar semua ucapannya. Dia hanya melirik dan membuka pintu lalu pergi.


Saat Amelia merapikan meja, Harris datang.


"Kemana semua orang? " tanya Harris.


"Sudah berangkat Pak! " jawab Amelia.


"Siapkan makanan untukku, aku akan makan di meja dalam" pinta Harris.


"Baik Pak! " Amelia langsung menyiapkannya.


"Oh ya, siapkan makanan juga dan antar ke kamar ku untuk Maria" Harris sibuk dengan korannya.


"Tapi Pak, nyonya sudah katakan untuk memesan makanan siap saji saja" ucap Amelia.


"Tidak, buatkan saja. Hanya jangan lupa saja untuk mengatakan bahwa itu buatan Minah bukan buatan mu" ucap Harris.


"Oh, ya pak! " jawab Amelia.


Harris kemudian tersenyum.


"Ternyata rasanya lucu juga mendengar mu menyebutku Pak dan Maria nyonya" ucapnya.


"Ini lebih baik Pak, saya merasa lebih nyaman menyebut anda seperti ini" jawab Amelia sambil masak.


Harris menatapnya.


'Aku suka dia, pantas saja Saga dan Davin bisa jatuh hati padanya' ucap hati Harris.


\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2