
Ayu membuka ruang baca dengan tiba-tiba. Oma dan Amelia juga Dama menoleh dan menatapnya.
Amelia langsung berdiri dan menyapanya.
"Ibu! "
"Hai" jawab Ayu dengan senyuman.
Dia menatap ke arah Oma Mira dan Dama.
"Bisakah kalian keluar? Aku ingin bicara dengan Nyonya Mira Narendra secara pribadi" pinta Ayu.
Amelia menatap ke arah Oma Mira, kemudian mengambil Dama setelah Oma Mira mengangguk. Mereka pun keluar, dan mendapati Maria yang terengah menyusul Ayu.
"Ada apa? Kenapa dia kemari? " tanya Maria.
"Tidak tahu nyonya, ibu hanya meminta saya untuk keluar karena ingin bicara dengan Nyonya besar" jawab Amelia.
Harris yang baru datang, mendengarnya. Maria menatapnya dengan kesal kemudian melipat tangannya di dada. Mereka menunggu Ayu di depan pintu.
Amelia meninggalkan mereka karena takut ada pertengkaran lagi.
Ayu menatap Oma Mira yang bangun dan duduk perlahan ke sofanya.
"Anda sudah sangat tua dan bahkan kesulitan untuk bangun dari duduk, tapi kenapa punya rencana licik lagi untuk melukai keturunan anda sendiri! " Ayu mulai dengan sindiran.
"Apa maksud mu? " tanya Oma Mira santai.
"Anda menjanjikan pernikahan pada putra saya Saga" ucap Ayu.
Oma baru mengerti dan melirik ke arahnya.
"Sama seperti yang anda lakukan pada Harris saat dia begitu berharap akan menikah dengan saya" lanjut Ayu.
Oma Mira menegakkan wajahnya.
"Kemudian anda menghancurkan semuanya karena alasan aturan rumah ini" Ayu kesal.
Oma Mira hanya diam saja menerima semua cecaran Ayu.
"Aku mohon nyonya, untuk kali ini jangan hancurkan hati anak ku" Ayu melipat tangannya di hadapan Oma Mira.
Hal itu membuat Oma Mira terkejut. Ayuningtyas yang pernah berjanji takkan pernah menginjakkan kaki dan memohon padanya kini melanggar sumpahnya demi kebahagiaan Saga, putranya.
"Aku mohon nyonya, dia sangat mencintai Amelia dengan seluruh jiwa dan raganya. Dia akan hancur jika anda melakukan hal yang sama pada Harris. Jika dia hancur, maka aku bisa mati nyonya" Ayu memohon dengan berderai air mata.
Oma Mira menelan salivanya, merasa tak bisa mengatakan apapun padanya.
Harris dan Maria yang mendengarkan dari luar, tertunduk.
"Aku bisa hidup tanpa Harris, tapi aku tidak bisa hidup tanpa Saga. Dia baru saja kembali ke pelukan ku, tolong jangan ambil dia dari ku karena rasa kecewa yang kau rencanakan"
__ADS_1
Ayu menangis tersedu di ruang bacanya sementara Oma Mira diam saja tak menatapnya.
Harris tak tahan dengan sikap Oma yang diam saja, dia masuk dan membantu Ayu berdiri.
"Bangunlah, sebaiknya kau pulang. Nanti aku yang urus masalah ini" ucap Harris.
Maria melihat sentuhan demi sentuhan yang Harris berikan pada Ayu. Wajahnya memerah karena cemburu.
Ayu menepis tangan Harris.
"Aku bisa sendiri" jawab Ayu saat melihat Maria ada di sana.
Dia menghapus air matanya dan merapikan roknya.
"Nyonya, aku sudah menjauh begitu lama. Melepaskan apa yang menjadi hak ku. Merelakannya bersama pilihan anda. Aku harap itu sudah cukup membuat mu senang dan merasa menang. Tolong jangan ulangi kesalahan ini nyonya, Saga mungkin takkan bisa menerimanya seperti putra mu menerima nasibnya"
Oma Mira masih memalingkan wajahnya. Maria menatap Ayu saat bicara dan Harris hanya bisa menundukkan kepalanya.
Ayu pergi dari ruang baca, berjalan perlahan dengan lemah menuruni tangga.
Tatapan Amelia menyambutnya, Ayu langsung memeluknya.
"Ibu baik-baik saja? " tanya Amelia.
Ayu mengangguk.
"Ya, aku baik, sangat baik" jawab Ayu.
"Boleh? " Ayu malah bertanya.
"Tentu saja" jawab Amelia seraya tersenyum.
"Aku tunggu di taman depan ya sayang! " ucap Ayu.
Amelia mengangguk dan menyusul Minah di kamarnya.
***
Harris dan Maria masih terdiam di hadapan Oma Mira.
"Apa yang ibu janjikan pada Saga? " tanya Harris.
Oma berjalan untuk melihat Ayu pergi.
"Tidak ada" jawab Oma.
"Ayu melanggar janjinya untuk datang ke rumah ini dan memohon pada ibu, aku rasa bukan masalah sepele yang dia permasalahkan" Harris mendesak.
Oma Mira mengambil nafas, dia melihat Ayu duduk di taman dan bermain dengan Dama. Pemandangan yang selalu dia lihat dulu saat dia masih menjadi menantunya.
"Bu! " Harris memaksa.
__ADS_1
"Aku bilang tidak ada, dia terlalu meresapi perannya sebagai seorang ibu karena Saga baru kembali padanya. Rasa takut kehilangannya lebih besar dari logikanya. Seandainya semua orang bisa paham dengan perasaan seorang ibu" Oma Mira meremas rongkatnya.
Harris terdiam, dia kembali ke kamarnya tanpa bicara sedikitpun. Sementara Maria terdiam mencerna ucapan ibu mertuanya.
"Aku mengatur semuanya sesuai dengan keinginan mu, lihat sekarang apa yang terjadi dengan rumah ini. Puaskah kau membuat ku disalahkan atas semua permintaan mu? " gumam Oma Mira.
Maria menatapnya, dia tahu pada siapa ibu mertuanya bergumam. Dia pergi meninggalkannya.
Saat membuka pintu, dia melihat Harris sudah siap untuk pergi.
"Kau mau menyusulnya? " tanya Maria.
"Ya, aku harus tanyakan apa penyebabnya" jawab Harris sambil memakai jaket.
"Setiap hari kau bersamanya bahkan hingga larut malam. Sekarang kau akan meninggalkan ku karena dia datang dengan wajah memelas nya? " Maria meluapkan kekesalannya.
Harris terdiam. Dia memejamkan matanya sejenak dan mengambil nafas dalam.
"Aku tidak pernah menemuinya kecuali saat Saga datang dan hari ini. Aku tidak pernah bersamanya seharian atau bahkan menginap. Aku tidak ke sana saat aku tidak pulang" jawab Harris menjelaskan dengan menekankan semua ucapannya.
"Ohhh, benarkah? " Maria meragukannya.
"Entah kau percaya atau tidak, aku pergi karena kau sama sekali tak mau aku sentuh. Kau menolakku dan mengacuhkan ku dengan semua ucapan ketus mu. Aku sudah berusaha Maria, aku sudah menahan diri untuk tetap menjadi suami yang paham perasaan mu. Tapi ini sudah melampaui batas kesabaran ku Maria. Aku tidak tahan lagi, sebaiknya kita bercerai saja"
Harris menangis saat mengucapkan kata terakhirnya. Maria melihatnya dan terduduk lemas. Harris meninggalkannya untuk menyusul Ayu.
Tapi melihat Ayu yang masih main dengan Dama membuat langkahnya terhenti. Mereka saling menatap dan canggung.
"Maaf, aku.... "
"Tidak, ibu pasti melakukan sesuatu yang membuat mu kemari" Harris mencoba mengerti.
Amelia memperhatikan raut wajah mereka yang khawatir.
"Lain kali telpon aku dulu, kita bisa menduskusikannya, terutama masalah Saga" ucap Harris.
Amelia terkejut karena ternyata kedatangan Ayu karena persoalan Saga.
"Apa? Saga? Apalagi yang dia perbuat? " tanya Amelia.
Harris dan Ayu menatapnya.
"Lagi? " Ayu dan Harris bertanya hal yang sama.
"Ya, beberapa hari lalu dia membuat Davin marah dan berteriak-teriak saat pulang. Lalu apa yang dia lakukan sekarang? " tanya Amelia dengan wajah polosnya.
"Saga membuat Davin marah? " Ayu terkejut.
Harris pun tak percaya dengan apa yang dia dengar.
Mereka bertiga terdiam memikirkan apa yang sudah terjadi pada Saga. Dia yang biasanya sangat lembut dan selalu mengalah, kini membuat Davin yang selalu berusaha paham akan situasi seseorang menjadi marah.
__ADS_1
\=\=\=\=\=>