
Suasana menjadi lebih tegang saat Harris membahas Ayu dalam ruang keluarga itu. Maria hanya melipat tangannya di dada sambil bersandar di dinding dekat lorong menuju kamar tamu agar Harris tak mengganggu Amelia dan Dama.
Oma Mira menunjuk Harris dan memperingatkannya untuk tidak membahas Ayu lagi. Namun Harris tetap teguh pada pendiriannya membela wanita yang sangat dia cintai itu.
Saga meremas kepalan tangannya, tak tahan dengan semua pembicaraan mengenai ibu kandungnya. Tapi dia baru menyadari tentang sesuatu. Matanya menatap ke arah Oma Mira yang begitu gagah meminta anaknya pergi ke kamarnya.
~Oma berbohong? Dia tidak sakit, jika benar dia sakit, kondisinya akan memburuk saat melihat drama ini~ ucap hati Saga dengan wajah penuh kecurigaan pada Oma nya.
Harris pergi ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras. Oma duduk di kursi kebesarannya, menghela begitu keras dengan apa yang sudah terjadi.
"Aku mulai kesal dengan sikapnya, aku akan lebih keras padanya sekarang" ucap Oma.
"Oma berbohong" ucap Saga.
Maria menatap wajah Oma dan beralih pada Saga yang akhirnya tahu bahwa ibu mertuanya mengarang cerita tentang sakitnya agar dia bisa kembali.
"Berani-beraninya Oma mempertaruhkan rasa khawatir ku untuk menerima semua ini. Inilah alasan ku tak ingin tinggal di rumah ini. Dia selalu memaksakan wanita itu untuk aku akui"
"Saga!" Maria memanggilnya.
Saga menatapnya kemudian menghela keras menahan diri menatap wajah ibu tirinya yang menurutnya menderita.
"Kau yang sudah membuat semua drama ini rumit. Perasaan mu, kau terlalu memikirkan perasaan mu sendiri. Kau tidak memikirkan perasaan kami. Bahkan perasaan ku" ucap Maria.
"Aku tidak suka hubungan mereka. Apa nama hubungan mereka. Tidak menikah tapi tidur bersama setiap malam. Dan ibu membiarkannya, itu yang sangat aku sesali" ucap Saga.
"Cukup, istri dan anakmu mendengar semua ucapan mu. Mereka akan merasa canggung untuk tinggal di sini nantinya" ucap Maria berusaha menghentikan perselisihan mereka.
"Aku dan mereka tidak akan pernah tinggal di sini. Kami akan pulang hari ini juga" ucap Saga sambil memakai jaketnya.
"Apa maksud mu? Kalian baru saja kembali dan akan pergi lagi!" Maria panik.
Oma Mira berdiri melihat Saga pergi menuju kamar tamu. Maria menatap Oma Mira dengan wajah yang sangat kecewa.
Saga mengetuk dan membuka pintu dengan perlahan. Amelia menatapnya, dia mendengar jelas teriakan ayah dan anak itu. Dia jadi ingat dengan pertikaian dirinya dengan ayah dan ibunya.
"Kita pulang sekarang" ucap Saga.
"Dama baru saja tidur" ucap Amelia.
Saga menatap wajah Dama yang terlelap. Dia duduk di ranjang di sisi Amelia. Dengan mengusap seluruh wajahnya, dia berusaha menghilangkan kekesalannya.
__ADS_1
Amelia menyentuh tangannya kemudian menarik dan menggenggamnya.
"Semua sudah berlalu, apa kau tidak bisa memaklumi semua keputusan mereka?" ucap Amelia.
Saga menatap tangannya, kemudian beralih pada mata Amelia yang sangat dia sukai.
"Aku selalu merasa kalah di depan mu. Apa kau bisa membuat suasana ini menjadi lebih nyaman? Jika pun bisa, kita akan lama tinggal di sini karena itu sangat sulit. Sangat sulit" ucap Saga.
Dia menghela beberapa kali. Amelia mengusap punggungnya, merasa tak berhasil merubah pemikirannya, tapi setidaknya mampu membuatnya lebih tenang.
###
Sore harinya, setelah Dama terbangun, Saga menggendongnya dan memegang tangan Amelia untuk keluar dari rumah itu.
Maria berusaha menahan, bukan untuk menahan Saga untuk tetap tinggal, namun untuk menyelamatkan Davin dari penyakitnya juga ancaman Oma Mira.
"Tunggu Saga, kamu nggak bisa kayak gini. Ini rumah mereka juga. Kamu nggak bisa bawa mereka pergi dari rumah ini" Maria panik.
Orang-orang yang diundang untuk makan malam sudah datang. Mereka semua menatap heran dengan drama di rumah itu. Apalagi Gala yang sangat senang akhirnya Saga akan kembali pergi tanpa intrik darinya.
Bella terheran dengan sikap ibu mertuanya yang sangat mempertahankan keberadaan mereka. Padahal dia sudah sering mendengar bahwa dirinya sudah tak peduli lagi pada Saga.
Davin dan Alex yang baru datang, tak sengaja menabrak Saga. Mata Davin membelalak menatap wajah kakaknya. Kemudian beralih pada anak yang digendongnya.
Alex membulatkan matanya melihat kejadian ini. Davin langsung memeluk Saga dengan erat dengan mata terpejam melukiskan betapa besar rasa rindunya.
Amelia yang mendengar suara yang tak asing di telinganya itu, menatap terkejut pada Davin yang memeluk Saga. Tangannya terlepas dari Saga yang mengusap punggung adiknya itu.
Amelia mundur tak menyangka melihat wajah yang dulu memohon padanya untuk melanjutkan hubungan satu malam mereka, ada di hadapannya. Tatapannya beralih pada Saga dan Dama yang membelakanginya.
Davin tersenyum setelah melepas pelukannya.
"Kapan datang? Tidak ada yang memberitahuku" ucap Davin.
Dia belum bisa melihat Amelia yang tubuhnya tertutupi tubuh Saga.
"Papa!" seru Dama dan menunjuk pada Davin.
Suaranya terdengar jelas dalam ruangan besar yang hening itu. Meski banyak orang yang berdiri di sana. Hanya suara kecil dan manis Dama yang membuat perhatian mereka teralihkan.
Amelia menganga tak percaya, Dama mengucapkan kata pertamanya. Dan dia menunjuk pria yang tepat dengan ucapannya.
__ADS_1
Davin tersenyum mengelus pipi Dama.
"Dia lucu sekali" ucap Davin.
Matanya baru beralih pada Amelia yang terlihat saat Saga berbalik dan meraih tangan Amelia untuk tetap pergi.
"Amelia!" seru Davin.
Saga berhenti, tubuhnya menjadi kaku mendengar Davin menyebut nama Amelia.
~Darimana Davin mengetahui nama Amelia? Mereka baru bertemu saat ini, Amelia pun tak pernah kenal laki-laki lain selain ayah dan kakak iparnya~ ucap hati Saga.
Saga menatap wajah Amelia yang menunduk dengan pipi yang merah dan meneteskan air mata.
"Dia?" tanya Saga pada Amelia.
Amelia hanya bisa terdiam.
"Ya, dia. Dia papa kandung Dama yang sebenarnya!" ucap Oma Mira lantang dan menggema di ruang keluarga mereka.
Semua orang membelalakkan matanya, terkejut dan lebih terkejut dengan semua fakta yang ada.
Maria yang hanya mengira bahwa Amelia satu-satunya cinta dalam hidupnya Davin yang tertakdir menikah dengan Saga.
Bella yang akhirnya bertemu dengan Amelia nya Davin, bahkan sudah memiliki putra bersama.
Harris yang juga tak menyangka dengan semua yang dia dengar.
Orang tua Bella yang terkejut Davin memiliki anak dari wanita lain.
Juga Ghani yang baru datang dan melihat juga mendengar bahwa anak yang dikandung Amelia adalah putra Davin, cucu dari majikannya.
Lain halnya dengan Gala dan keluarga kecilnya, mereka seolah senang melihat drama malam itu.
Sementara Davin masih bingung menatap Oma, Amelia dan Saga bergantian.
Tiba-tiba, Ghani datang dan melancarkan bogem mentahnya di wajah Davin. Semua orang histeris melihatnya.
Alex berusaha menahan Ghani dan mengajaknya keluar dari rumah. Maria meraih tubuh Davin yang tumbang karena pukulan pria paruh baya yang gagah itu.
Sementara Amelia meraih Dama dan menutup telinganya. Saga sendiri terdiam tanpa kata. Wajahnya memerah dengan bening mengembang di kelopak matanya. Pria yang selalu kuat dengan semua yang dia hadapi sepanjang perjalanan hidupnya, menangis menghadapi kenyataan bahwa wanita yang dicintainya adalah wanita yang jadi cinta dalam hidup adik kesayangannya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=>