CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
39


__ADS_3

Maria memperhatikan Amelia yang langsung bisa terbiasa dan masak seolah berada di rumahnya sendiri.


"Siapa nama lengkap mu?" tanya Maria.


"Amelia Quinnara Wardhana" jawab Amelia polos.


Maria menganga tak percaya.


~Astaga, benar dugaan ku. Ibu tahu, pasti dia tahu, dan dia merencanakan sesuatu~ ucap hati Maria.


Selama memasak, Maria menahan diri untuk tak menyinggung tentang Davin atau pun hubungan mereka. Dia hanya memperhatikan Amelia yang memang terlihat belum tahu situasi yang akan dihadapinya.


Amelia keluar dari dapur bersama pelayan dan Maria untuk menyajikan makanan untuk sarapan. Maria melihat meja yang masih kosong. Kemudian Oma berbisik pada pelayan yang dia suruh untuk memanggil Davin dan Alex.


Davin dan Alex tak bisa sarapan, mereka harus ke kantor karena ada masalah yang membuat Susi, sekretaris Davin, panik dan menelponnya berkali-kali.


Oma Mira menatap Maria yang berwajah panik, dia mulai bicara pada Amelia dan Saga yang sudah duduk di meja makan.


"Sayang sekali, semua orang sudah berangkat kerja. Jadi hanya kita yang makan bersama pagi ini" ucap Oma.


Amelia menatap Saga seolah bertanya siapa saja yang Oma maksud, namun Saga hanya tersenyum. Saga membantu Amelia menyiapkan makanannya karena Dama tak mau berpisah dari Amelia.


Sementara itu, Maria menatap Amelia dan Dama bergantian. Hatinya masih gundah tak bisa mengungkapkannya pada siapapun.


Harris datang setelah dia rapi, Saga berdiri menyambutnya. Masih ada perasaan tak suka pada ayahnya, tapi Saga berusaha untuk tetap menghormati Harris sebagai ayahnya.


Mereka berpelukan di depan Amelia. Dia pun tersenyum menyapa Harris.


"Aku senang kalian pulang" ucap Harris.


Matanya sedikit berkaca-kaca, dia sangat merindukan Saga yang pergi bertahun-tahun tanpa kabar. Tapi sekarang dia sangat lega karena anaknya sudah mampu membina rumah tangga dan menjadi seorang ayah.


Mereka melanjutkan sarapan dengan membahas kabar Gendis dan keluarganya. Harris dan Maria sangat berterimakasih pada mereka karena bersedia membantu Saga di Italia.


###


Di kantor.


Alex melipat tangannya di dada menatap Susi yang menangis histeris. Davin yang duduk di mejanya malah tersenyum menertawakan sekretarisnya itu.


"Kau tahu, ada hal penting yang harus Davin lihat di rumahnya. Kau malah memanggil kami kemari dengan panik hanya karena ada kecoa di ruangan Davin" keluh Alex.


"Sudah, sudah, jangan marahi Susi. Dia memang takut pada kecoa. Kau juga kembalilah ke meja mu" ucap Davin.


Alex mencubit lengan Susi dengan gemas nya. Meski usia Susi sudah 40 tahunan, tapi tingkahnya seperti anak baru gede.


"Kau bilang dari tadi ada hal yang harus aku lihat di rumah. Katakan sekarang apa itu?" tanya Davin.


Alex berpikir, apakah dia akan mengatakannya sekarang atau membiarkan Davin melihat sendiri.

__ADS_1


"Soal Zidan dan Bella?" Davin menebak.


Mata Alex membulat, dia bahkan tak ingat kejadian di kamar Davin tadi.


"Kau tahu?" tanya Alex memastikan.


"Ya, aku tahu. Bella kesepian, Zidan jadi teman ngobrolnya sekarang" jelas Davin sambil memeriksa file di dalam komputernya.


"Santai sekali bicara mu, kau tidak curiga? Mereka bisa saja punya hubungan lain selain hanya menjadi teman curhat. Kau tahu Zidan itu playboy dan pandai merayu wanita, bagaimana jika Bella terjerembab ke lubang rayuan mautnya?" Alex khawatir.


Davin menatap Alex dengan mengerutkan dahinya kemudian tersenyum.


"Bukankah bagus jika mereka ada hubungan. Aku bisa menggugat cerai Bella dengan mudah kemudian menikahkan mereka" ucap Davin santai.


"Kau sama sekali tak memandangnya sebagai wanita?" tanya Alex yang sangat heran dengan sikap temannya itu.


Davin berhenti memainkan kursornya, kemudian menyandarkan diri ke belakang dan memejamkan matanya.


"Tidak, sekarang aku bahkan merasa bahwa Amelia sedang sangat dekat, bersamaku. Seolah wangi tubuhnya tercium saat aku hendak pergi dari rumah tadi. Ah....Lex, sampai kapan aku mengingat malam bersama Amelia. Ini sangat menyiksaku"


Alex menghela dengan keras.


"Sampai kau bertemu dengannya dan merelakan dirinya untuk yang kedua kalinya" gumam Alex.


"Hah?" Davin sedikit mendengar ucapan Alex.


Mata Alex membulat karena terkejut dengan wajah Davin yang menatapnya, menunggu jawaban darinya.


Davin berdecak kesal dengan respon Alex. Tapi mau bagaimana, dialah Alex, temannya.


###


"Oma mau kau menginap di rumah malam ini, atau setidaknya sampai makan malam. Semua orang akan datang, Oma mau kamu menemui mereka semua dan memperkenalkan Amelia dan Dama" ucap Oma pada Saga yang bicara di dalam kamarnya.


Saga menundukkan pandangannya, berpikir.


"Aku akan membicarakannya dengan Amelia. Oma istirahat saja, ya!" ucap Saga.


Saga keluar setelah Oma menutup matanya. Dia menemui Amelia di ruang tamu yang sedang bermain bersama Dama juga Maria.


Saga tersenyum melihat Dama berada di pelukan Maria. Dia jadi ingat masa hidup bersama Maria yang sangat penuh kasih sayang.


~Seandainya saja Ibu tidak tahu tentang hubungan Ayah dan Mami Ayu, aku mungkin akan tetap tinggal dengan semua kasih sayang Ibu~ ucap hati Saga.


Mata Maria menatap Saga yang mendekat, dia mengalihkan pandangan pada Amelia.


~Astaga, aku menjadi selalu berpikir keras saat melihat mereka berdua~ ucap hati Maria.


Saga duduk di sisi Amelia dan mengambil Dama dari Maria.

__ADS_1


"Dia nggak rewel ya, apa dia baik-baik saja melakukan perjalanan yang cukup lama?" tanya Harris yang baru kembali dari kamarnya.


Maria, Amelia dan Saga menatapnya.


"Tidak, dia anak yang cukup kuat. Perbedaan iklim pun tak begitu berpengaruh" jawab Amelia.


Saga menatap Amelia yang menjawab dengan riang. Sikap yang menurutnya kurang nyaman karena dia pernah menceritakan kisah tentang ayah dan ibunya.


"Ayah tidak kerja?" tanya Saga dengan ketus.


Maria menatap jalan arah Harris keluar, menunggu Davin yang keluar dari kamarnya. Dia tak tahu Davin dan Alex sudah ke kantor lebih dulu karena Oma Mira tak mengatakannya pada semua orang.


"Semuanya sudah bisa di tangani adik mu. Dia cukup andal di bidang ini. Jika kamu ikut bergabung di kantor kita bisa jadi perusahaan yang kuat" jawab Harris.


"Adik?" tanya Amelia.


"Ya, adik Saga, Da..."


"Amelia! Dama kelihatan ngantuk, ayo bawa dia ke kamar tamu. Dia harus banyak tidur" ucap Maria memotong pembicaraan mereka.


Ucapan Maria membuat semua orang menatapnya dengan heran. Amelia hendak menolak, namun Maria membawa Dama dari pangkuan Saga dan pergi ke kamar tamu sehingga Amelia terpaksa menurut.


Dengan menatap Saga, Amelia mengikuti langkah Maria. Saga mengangguk sebagai tanda untuk Amelia menurut saja dulu.


Harris agak bingung dengan sikap Maria yang terdengar tak ingin membahas tentang Davin di depan Saga dan Amelia.


Dia sangat ingin menyusul Maria dan menarik lengannya untuk menanyakan maksud akan sikapnya. Tapi dia sangat menahan diri untuk memberikan pandangan baik pada Saga.


"Masih ada yang ibu sembunyikan, dia masih tidak berubah. Menyembunyikan hal yang seharusnya mudah untuk di ceritakan" ucap Saga.


Mata Harris membulat mendengar ucapan Saga.


"Saga, jangan salah paham. Mungkin ibu mu benar-benar khawatir tetang Dama. Dia kan masih bayi" ucap Harris berusaha mengalihkan pemikiran Saga yang ternyata masih belum bisa memaafkan mereka.


"Ya, aku sangat ingin apa yang kau katakan benar-benar terjadi. Tapi, matanya masih mata Maria yang merelakan suaminya tidur di rumah wanita asing yang bahkan tak pernah dinikahi" ucap Saga.


"Cukup Saga, wanita yang kamu sebut asing itu adalah ibu kandung mu. Mau tidak mau, terima atau tidak, dia tetap ibu kandung mu. Dia sangat berhak bertemu dengan mu dan cucu nya" Harris mulai menaikkan nada bicaranya.


"Aku yang memutuskan dia berhak atau tidak, dan dia tidak berhak" ucap Saga pelan namun tegas.


"Saga!" teriak Harris.


Teriakannya menggema di ruangan besar itu. Maria dan Amelia yang baru masuk ke kamar tamu, kembali dengan wajah panik.


"Ada apa?" tanya Maria.


Mata Harris menatap Maria dengan kesal, merasa semua ini terjadi karena sikap Maria. Sebelum mereka semua terlibat dalam percekcokan, Oma Mira datang.


"Ada apa ini?" tanya Oma Mira.

__ADS_1


Tatapan mereka beralih pada Oma.


\=\=\=\=\=>


__ADS_2