
Malam tiba, Maria tak melihat Bella seharian. Dia mulai khawatir dan menanyakannya pada Minah.
"Apa Bella sama sekali tak turun? " tanya Maria.
"Tidak Nyonya, nona Bella minta untuk tidak diganggu seharian ini" jawab Minah.
"Ada apa dengannya, beberapa hari ini sangat terlihat lesu dan sedih" gumam Maria.
"Malam Bu! " sapa Davin yang langsung ke dapur karena merasa lapar.
"Malam sayang, kau sudah pulang! Kau pasti lelah bekerja sendiri, setelah biasa membaginya dengan kakak mu" ucap Maria.
"Hmmm, iya. Aku lapar, boleh aku makan lebih dulu? " tanya Davin.
"Makanlah! " Maria menyajikannya.
Davin makam dengan lahap, Maria memperhatikannya dengan terus berpikir kalau dia tidak begitu mengkhawatirkan Bella.
Setelah selesai makan, Davin hendak beranjak dari meja makan.
"Aku selesai Bu, aku jadi malas mandi, haha" ucap Davin.
"Kau tetap harus mandi, katakan pada Bella untuk makan malam bersama ya! " pinta Maria.
"Ok!" jawab Davin dengan memicingkan sebelah matanya.
Maria melanjutkan merapikan piring lainnya. Tak berapa lama berselang, suara Davin terdengar berteriak pada Minah.
"MBA MINAAAAH!"
Minah yang sedang membawa masakan terakhir, langsung meletakkannya di meja dan bergegas ke kamar Davin.
Semua orang mendengar teriakannya, mereka berkumpul di ruang utama.
"Ada apa? " tanya Zidan.
Amelia yang sedang menidurkan Dama pun kembali keluar membawa putranya di gendongan dan penasaran dengan apa yang terjadi.
Davin berlari menuruni tangga dengan menggendong Bella. Semua mata tertuju padanya.
"Ada apa? Kenapa Bella? " tanya Maria.
"Dia demam Bu, aku berusaha membangunkan tapi dia tak bereaksi" jawab Davin.
"Ayah antar! " Harris buru-buru ke garasi.
Amelia ikut panik melihat Bella yang pucat dengan keringat deras di dahinya.
Sementara itu, Saga baru turun tapi sedikit berlari untuk melihat keadaan Bella.
***
Davin menunggu di depan ruang gawat darurat. Jelas dia cemas, takut terjadi sesuatu pada Bella.
__ADS_1
Alex dan Maria menyusul, langsung mendekatinya.
"Bagaimana? " tanya Maria.
"Belum bu, masih diperiksa. Mereka belum keluar" jawab Davin.
"Maaf, tadi kami baru kembali dari pabrik dan tidak langsung mencarinya. Ibu kira.... "
"Tidak apa-apa bu, aku mengerti" jawab Davin menangkan ibunya.
Tak berselang lama, Veni, ibu Bella datang dengan wajah marahnya.
"Apa yang kau lakukan pada Bella ku! " serunya.
Suaranya membuat beberapa orang yang ada di ruangan itu menatap mereka.
"Maaf Bu, aku... "
"Kau ini sama sekali tidak peduli padanya, dia sampai masuk rumah sakit begini karena mu" teriaknya lagi.
"Tenang Veni, kami juga tidak mengerti kenapa Bella bisa sampai begini, tadi pagi dia masih baik-baik saja" ucap Harris yang baru datang dari ruang resepsionis.
Veni menghela, dia mendelik pada Maria yang tak mengatakan sepatah katapun untuk menenangkannya dan malah menghindarinya.
"Aku baru pulang, maaf Bu! " ucap Davin lagi.
"Kau mengabaikan perasaannya, kau tidak pernah menganggapnya sebagai seorang wanita, istri mu" ucap Veni pelan di dekatnya.
Davin menundukkan kepalanya, dia sangat paham rasa marah ibu mertuanya.
Beberapa saat kemudian, dokter keluar.
"Keluarga Bella?" serunya.
Davin bergegas berdiri dan mendekat.
"Bagaimana Bella Dok?" tanya Davin.
"Sepertinya Bella tidak makan dengan baik beberapa hari ini, dia demam karena nyeri di lambungnya, saya akan resepkan obat, dia bisa langsung pulang" jelas Dokter.
"Huuft, syukurlah! " ucap Davin.
Semua orang menghela lega, bukan penyakit serius yang terjadi pada Bella.
"Bagaimana bisa dia tak makan dengan baik di rumah besar Narendra? " amarah Veni meradang.
Harris hendak menenangkan, tapi Maria memasang badan di depan Davin.
"Dia memang begitu, selalu bersikap manja. Davin banyak pekerjaan di kantor dan harus pulang larut setiap malamnya, apa dia juga harus selalu membujuk anak mu yang manjanya berlebihan itu? " ucap Maria.
"Yang benar saja Maria, putri ku anak yang mandiri, dia tidak akan meminta perhatian kalian jika kalian tidak mengacuhkannya. Dia tidak perlu itu" ucap Veni dengan menunjuknya.
"Cukup, kita sedang di rumah sakit, jangan udik! " ucap Harris melerai.
__ADS_1
Maria melihat Davin masuk ke ruang rawat. Dia tak bisa berkata-kata lagi. Veni pun duduk diam karena teguran Harris.
***
Amelia berdiri di dekat pintu dapur, matanya menatap ke arah taman belakang. Minah menepuk bahunya, dia pun menoleh.
"Mba Minah, ngagetin! "
"Ngelamun apa? "
"Apa ya, aku juga gak ngerti"
"Loh! "
Amelia duduk dan meminun kopinya.
"Aku cuma belum bisa tidur Mba! " ucap Amelia.
"Nggak bisa tidur itu rebahan, bukan minum kopi. Tambah nggak tidur dong" ucap Mba Minah.
"Mba tadi denger nggak pas Bella pulang, dia kenapa? " tanya Amelia.
"Non Bella nggak makan dengan baik beberapa hari ini. Dia lebih sering di kamar menyendiri. Saya udah sering ngajak keluar, kadang di suruh Bu Maria untuk memintanya mengasuh Dama. Tapi, dia nggak pernah keluar atau merespon" jelas Minah.
"Jadi dia demam karena masalah lambung? " Amelia mengambil kesimpulan.
"Bisa jadi, bisa juga karena psikologi nya" jawab Minah sambil memainkan tangannya sendiri.
"Maksudnya? " Amelia tak paham.
"Ini tentang hubungannya dengan Den Davin, saya rasa, Den Davin masih belum begitu padanya" ucap Minah seraya mengaitkan jarinya.
"Mbaaaa! "
"Mba memang nggak mau tahu tentang semua urusan pribadi kalian, tapi tetap saja, otak ini berputar dan telinga ini selalu mendengar semuanya tanpa menginginkannya" keluh Minah.
"Iya juga sih" ucap Amelia.
"Mba udah tinggal di sini semenjak ibu Mba kerja di sini. Pak Narendra bilang, mba nggak usah kemana-mana, tinggal di sini saja, meskipun ibu kami sudah meninggal. Jadi.... semuanya sudah seperti keluarga sendiri, meskipun mba nggak bisa ngasih saran atau memberikan nasehat buat mereka yang sedang dalam masalah. Mba cuma bisa mendoakan, semoga akhirnya rumah ini bisa benar-benar damai dalam ketenangan, bukan seperti sekarang, terlihat tenang, padahal persaingan terjadi diantara anak-anak yang dulunya bermain bersama dengan kepolosannya "
Amelia kagum mendengar semua ucapan Mba Minah.
"Mba hebat! " puji Amelia.
"Cuma kamu yang mau dengerin, nemenin, dan bilang mba hebat. Yang lainnya mungkin cuma nganggap mba hanya pelayan saja" ucap Minah.
"Oma Mira juga bergantung sama mba, dia bilang, cuma mba satu-satunya orang yang benar-benar peduli dengan tulus padanya, yang lainnya hanya formalitas dan berharap dia memberikan warisan yang layak untuk mereka" ucap Amelia.
"Waah, itu pujian yang berlebihan" ucap Minah.
"Aku harap, Saga tidak seperti itu. Aku harap, tujuannya hanya untuk melindungi ku dan Dama, bukan hal lainnya" ucap Amelia.
Minah menelan salivanya, dia mengingat Saga yang selalu membicarakan warisan di paviliun bersama Gala dan Zidan. Minah merasa Amelia meyakini sesuatu yang akan membuatnya kecewa.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=>