
Di rumah Ayu, Harris datang jam 12 malam, seperti biasanya. Ayu menyambutnya dengan senyum manis dan pelukan hangat. Perlakuan yang tak pernah dia dapatkan dari Maria.
"Sayang, cape ya?" tanya Ayu dengan manja.
"Ya, banyak pekerjaan yang harus dilakukan semua tadi, karena besok meeting pemegang saham" jelas Harris setelah mengecup pipi istri siri kesayangannya.
"Rapat pemegang saham?" Ayu memastikan.
Tangan Ayu melingkar di lengan Harris kemudian mengajaknya untuk makan.
"Makan apa malam ini?" tanya Harris.
"Aku memasak spaghety Fettucini, kau pasti akan suka" ucap Ayu bersemangat.
Namun Harris sedikit ragu dengan hal itu. Ayu bukan wanita yang pandai memasak. Dia seorang aktris, pekerjaannya tak memungkinkan baginya bisa belajar masak saat muda. Sehingga saat umur paruh baya seperti ini, meskipun parasnya tak banyak berubah, tapi dia mulai kesulitan belajar memasak. Rasa masakannya selalu aneh.
Lain halnya dengan Maria yang sejak remaja memang selalu belajar memasak dan menjadi putri yang baik bagi keluarganya.
Harris mencoba makanannya, meskipun dia merasa ragu. Dan akhirnya ekspresi wajahnya berubah setelah lidahnya mengecap rasa makanannya.
Ayu memperhatikan dan menunggu. Tapi Harris hanya tersenyum.
"Sayang, makanannya...."
"Kenapa? Nggak enak ya?" tanya Ayu dengan kecewa.
"Hahha, maaf sayang. Kamu itu nggak cocok di dapur. Kamu cocoknya di depan kamera dan di ranjang" ucap Harris menggodanya agar tak marah.
Ayu memasang wajah muram, dia kesal masih saja tak bisa memuaskan Harris dengan masakannya.
"Kamu belum makan, kita pesan lewat aplikasi aja" ucap Ayu.
"Nggak usah, aku udah makan di rumah tadi" ucap Harris.
Ayu terkejut, Harris mengatakannya seolah itulah kebiasaan yang senang dia lakukan di rumah sebelum datang ke rumahnya.
"Oh, ya sudah" jawab Ayu dengan wajah datar dan melepas tangan Harris.
Harris paham dengan perasaan Ayu yang kembali tersinggung dengan ucapannya.
"Saaayaaang! Jangan marah dong, mama minta aku makan dulu sebelum pergi. Jadi aku makan, bukan karena aku suka masakan Maria"
Bujuk Harris pada Ayu yang pergi meninggalkannya ke ruang tv.
"Aku nggak apa-apa kok, mau kamu suka sama masakan Maria juga nggak apa-apa. Yang penting kamu lebih banyak tinggal di sini daripada di rumah besar menyeramkan itu" ucap Ayu sambil duduk dengan tumpang kaki.
Harris menggaruk kepalanya, bingung harus mengatakan apalagi. Namun dia ingat dengan berita yang dia terima orang yang dia bayar untuk mencari Gendis dan Saga.
"Oh ya, aku punya kabar yang pasti kamu suka" ucap Harris.
"Apa itu?" Ayu berusaha tak peduli.
__ADS_1
"Orang ku menemukan Gendis dan Saga" ucap Harris sambil memandang wajah Ayu, menunggu responnya.
Benar saja, Ayu sangat antusias mendengar kabar tentang Saga.
"Dimana mereka? Apa kita bisa bertemu Saga?" tanya Ayu berharap.
"Dia di Montreuill, Italia. Aku akan buat Oma tahu tentang ini dan memaksanya pulang. Aku dengar dia sudah punya anak di sana" ucap Harris.
"Ah...anak? Cucu untuk kita?" Ayu sangat senang.
Harris mengangguk dan membelai rambut Ayu.
"Apa aku sudah pantas menimang cucu?" tanya Ayu membelai wajahnya sendiri.
"Kamu akan jadi nenek muda yang cantik, orang akan iri pada cucu kita karena neneknya masih muda dan sangat cantik" puji Harris.
Ayu tersipu, dia menyandarkan kepalanya di dada Harris.
"Apa mama akan mampu memaksa Saga untuk kembali?" tanya Ayu ragu.
Harris diam menatap ke arah jendela luar.
"Harus bisa, Saga hanya mendengarkan ucapan Oma nya. Dia pasti kembali jika mama yang minta" ucap Harris yakin.
###
Oma Mira mendapatkan telpon di meja kerjanya. Alex masih mencari alamat Amelia dan dia belum menemukannya.
Matanya membulat saat dia selesai mendengarkan ucapan orang di ujung telpon itu. Kemudian dia melihat pesan yang dikirimkan orang itu. Sebuah kontak dengan nomor luar negri tertera di sana. Oma Mira mengambil telpon rumah dan mencoba menelponnya.
"Hallo, rumah keluarga Martin di sini" ucap Gendis menjawab telponnya.
"Gendis!" seru Oma.
Gendis diam, tubuhnya merinding mendengar suara yang tak asing di telinganya. Peter yang ada di hadapannya terheran dengan ekspresi wajah istrinya. Dia mengangkat kedua alisnya, bertanya.
"Nyonya Mira!" jawab Gendis gemetar.
Peter menganga tak percaya.
"Jangan tutup telponnya Gendis, aku mohon. Aku sedang sakit, bisakah kau menyuruh Saga pulang?" Oma berbohong.
"Anda sakit?" tanya Gendis kurang percaya.
"Aku memaksakan diri menelpon, aku mohon suruh Saga pulang bersama anak dan istrinya" ucap Oma dengan sedikit berpura-pura terengah.
"Tapi Oma.." Gendis hendak mengatakan bahwa Saga belum menikah.
"Aku mohon, aku tidak tahu sampai kapan aku bisa bertahan. Katakan pada Saga untuk pulang" lagi-lagi Oma berpura-pura lemah.
Saga yang menggendong Dama mendengarkan dari tangga. Dia menyerahkan Dama pada Amelia dan meminta telponnya dari Gendis.
__ADS_1
Gendis menatap Saga, dia ragu untuk memberikan telponnya. Dia tak yakin Oma Mira jujur mengatakan hal itu.
"Please aunty!" ucap Saga.
Peter mengangguk, dia meminta Gendis memberikannya. Gendis perlahan memberikannya, Saga langsung mendengarkan.
"Gendis, katakan pada Saga, aku akan menerima anak dan istrinya dan semua keinginannya, asalkan dia mau kembali. Aku mungkin takkan lama lagi hidup di dunia ini..."
"Omaaa, jangan bilang begitu Oma. Saga akan pulang, Saga akan bawa anak dan istri Saga. Oma harus panjang umur, Oma harus lihat, cicit Oma ganteng banget"
Amelia membulatkan matanya mendengar dia diakui sebagai istri oleh Saga pada keluarganya. Matanya beralih pada Gendis dan Peter, mereka juga ikut terkejut.
Dama menangis, Amelia harus menyusuinya. Dia hendak membawanya ke kamar, namun Oma Mira mendengar tangisnya dan meminta untuk lebih jelas mendengarkannya.
"Ini Oma, dia menangis karena ingin menyusu" ucap Saga sambil menatap Amelia dengan tersenyum.
Amelia menundukkan pandangannya pada Dama. Saga memegang tangan Amelia untuk meyakinkannya.
"Oma senang sekali sayang, kembalilah! Bawa mereka pulang" ucap Oma.
Oma menutup telponnya. Dia menghela dengan keras karena cukup kesal dengan berita Saga sudah punya anak dari wanita yang tidak dia ketahui asal usulnya.
"Kita lihat apa dia layak jadi menantu keluarga Narendra Coltin atau tidak. Jika tidak, aku punya banyak cara untuk menyingkirkannya" ucap Oma Mira.
###
Maria berdiri dari sofa hendak protes dengan keputusan ibu mertuanya.
"Duduk! Aku belum selesai bicara!" seru Oma Mira dengan menunjuk pada Maria.
Maria menghela dengan keras.
"Bukannya mencari Amelianya Davin, kamu malah meminta Saga kembali. Dia yang ingin pergi dari rumah ini, tidak ada yang memaksanya. Kenapa harus repot-repot memintanya kembali" ucap Maria kesal.
"Itu semua salah anak mu Davin. Dia berpenyakit dan menyusahkan. Saga sudah menikah dan punya anak. Dia sudah memberikan keturunan untuk keluarga Coltin, itu yang lebih penting. Jika Davin masih ingin mencari wanita itu, silahkan, aku takkan mencegahnya. Kau juga harus memperjuangkan keturunan mu bukan" ucap Oma Mira.
Maria menganga tak percaya sudah salah karena menyerah pada mertuanya tempo hari untuk memintanya mencari Amelia. Dia kesal dan keluar dari kamar Oma Mira.
Langkahnya terhenti saat dia melihat Bella sedang berdiri mendengarkan pembicaraan mereka. Matanya menatap Maria dengan berlinang air mata.
"Kalian merencanakan untuk mencari wanita yang suami ku cintai. Tapi Oma malah meminta pewaris lain pulang membawa keturunannya. Lalu apa artinya menantu wanita di rumah ini? Alat untuk menghasilkan keturunan? Tak berguna jika tak ada keturunan. Kalian bahkan tak peduli bagaimana perasaan ku mendengar semua ini dari kalian"
Bella bicara di hadapan Maria juga Oma yang juga tahu dia di sana.
"Kau sudah mengerti sekarang. Beradaptasilah! Perasaan kita bukan prioritas meski pun kita melahirkan keturunan di keluarga ini"
Maria meninggalkan Bella yang masih menatap Oma Mira yang mengalihkan pandangannya pada berkas di hadapannya. Bella paham Oma mengacuhkan dirinya.
Bella pergi dari kamar Oma Mira dengan langkah lemah dan perlahan. Tangis di matanya tak bisa dia bendung. Dia telah salah memilih menikahi cinta pertama dalam hidupnya.
\=\=\=\=\=>
__ADS_1