CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
97


__ADS_3

Davin duduk termenung menatap wajah Bella yang tertidur lelap. Hela nafasnya terdengar sesekali saat dia berpikir tentang perasaan Bella kemudian berganti pada keinginannya memiliki Amelia.


Kemudian dia teringat bagaimana ibunya menderita selama menjalani pernikahannya. Diabaikan ayahnya meski sudah mendapatkan anak darinya.


'Haruskah aku menerima Bella dan melupakan Amelia? Tapi bagaimana aku bisa sembuh? Aku masih tak bisa tegang dia hadapan Bella, meskipun seringkali kami pemanasan. Dan aku masih seperti saat pertama kali bertemu Amelia, tegang meskipun hanya memikirkannya' ucap hati Davin.


***


Pukul 4 pagi, Amelia dan Dama sudah siap saat Saga mengetuk pintu kamarnya. Saga tersenyum dengan riangnya menatap betapa cantiknya Amelia dengan jeans dan kaos polosnya.


"Waahhh, kalian terlihat ok! " ucap Saga seraya membentuk lingkaran dengan jarinya.


Saga mengambil tas yang diperlukan Dama.


"Oh ya, pakaian mu? " tanya Amelia.


"Sudah di depan" jawab Saga.


"Aku bersemangat sekali" ucap Amelia.


"Aku lebih-lebih" timpal Saga.


Mereka berjalan keluar diantar Minah yang ikut senang melihat kegembiraan mereka. Saga membukakan pintu untuk Amelia kemudian memasukkan tas mereka.


Davin yang tak tidur, melihat mereka dari jendela kamarnya. Hatinya merasa sangat cemburu.


'Kau akan bersenang-senang bersama pria yang kau cintai. Sementara aku, masih bergelut dengan masalah ku tentang mu' ucap hati Davin.


Davin mengantar kepergian mereka hingga hilang di belokan luar pagar rumah Narendra. Dia kembali duduk dan merenungkan keputusan apa yang harus dia ambil.


***


Sampai di tempat kemah, Saga, Amelia dan Dama melihat Ghani, Hani, Hana dan Mikayla sudah bersiap memasang tenda.


Mikayla berlari mendekati Amelia yang memapah Dama.


"Daamaaa! " seru Mikayla riang.


"Waah, Mikayla bersemangat sekali! " Amelia menyambutnya.


"Tanteee! " sapa Mikayla dengan suara lucunya.


"Mama! " Dama berseru menunjuk ke arah danau di sana.


"Ya, kita akan kesana sayang! " seru Saga yang mulai membawa satu persatu bekal mereka.


Saga menghampiri Ghani yang sibuk dengan tenda. Saga langsung membantunya dan mereka pun menyelesaikannya dengan cepat.


Hani dan Hana membuat sebuah dapur kecil untuk mereka memasak dengan sesekali melihat Amelia yang sibuk mengejar Dama dan Mikayla.


"Dia terlihat kerepotan" ucap Hani.


"Bu, Saga dan Amelia benar-benar serasi ya!" Hana memperhatikan mereka.


"Tidak" jawab Hani tanpa berpikir.


"Maksud ibu, tidak salah" Hana mencoba menebak, ibu nya sedang bercanda dan memperbaiki ucapannya.


"Tidak, ibu tidak merasa mereka serasi" jawab Hani lagi.


"Kenapa? " Hana terkejut dengan pendapat ibunya.


"Ibu tidak terlalu suka Saga, rasanya ada yang mengganjal di hati ibu jika memikirkan Saga" jelas Hani.


Hana melihat ke arah Saga kemudian Amelia.


"Amelia terlihat sangat nyaman bersamanya, apa yang membuat ibu berpikir seperti itu? " tanya Hana.


"Naluri seorang ibu, naluri ku lebih kuat dari siapapun" ucap Hani seraya menepuk dadanya.

__ADS_1


Hana menelan salivanya kemudian mendelik.


"Ya, kuat sehingga bisa mengusir putrinya yang sedang mengandung" gumam Hana.


Mata Hani membelalak menatap ke arah putri sulungnya itu. Kemudian tangannya melayang menampar lengan Hana.


"Aduhh! " keluh Hana.


Semua orang menatap ke arah mereka.


"Saakit Buuuu! " keluh Hana lebih keras.


"Ada nyamuk! " Hani berkilah.


Semua orang terheran dengan sikap mereka.


"Pakaikan lotion anti nyamuk pada anak-anak Mel! " seru Hani.


"Ibuuu! " gumam Hana yang masih meringis kesakitan.


"Iya Buu! " seru Amelia dari jauh.


Hana melanjutkan merapikan persediaan makanan mereka dalam sebuah kotak besar.


"Waaah, sosis! Ini baru berkemah" Hana tak bisa mengendalikan suaranya.


Saga tersenyum, merasa telah tepat berbelanja makanan.


"Dia senang seolah ini adalah kemah sekolah" komentar Ghani.


"Aku juga sangat bersemangat, sampai tak tidur" ucap Saga.


Ghani menatap Saga yang sedari tadi selalu tersenyum dan sesekali menatap ke arah Amelia.


"Bagaimana keadaan nyonya besar? " tanya Ghani.


"Tentu saja baik, Oma selalu mengomel tentang semuanya" jawab Saga.


"Tempo hari dia masuk rumah sakit, meski sebentar, tapi kesehatannya harus selalu dijaga, jangan bebani dia dengan masalah kantor atau hal yang membuatnya berpikir keras" ucap Ghani.


"Masuk rumah sakit? " Saga tak mengerti.


Ghani terdiam menatapnya.


"Ya, ibunya Amelia dipanggil untuk menemaninya, jadi aku tahu karena aku menjemputnya tempo hari" jelas Ghani.


Saga menatap ke arah Amelia.


"Amel tak menceritakannya? " tanya Ghani melihat reaksinya.


Saga menggelengkan kepalanya.


"Ouh... pasti ada sesuatu. Maaf aku sudah mengatakannya sebelum Amelia" ucap Ghani merasa tak nyaman.


"Tidak Pak, aku justru berterimakasih. Amelia pasti diminta untuk tak mengatakannya. Dia selalu menurut pada Oma akhir-akhir ini" ucap Saga.


"Benarkah? Berbeda dengan saat awal dia masuk ke rumah itu. Nyonya begitu bersikeras menolaknya" Ghani terheran.


"Amelia sangat baik, hatinya keras pada apa yang baik untuk orang lain. Meskipun terkadang buruk untuk dirinya. Orang-orang di sekitarnya akan mengandalkannya dan merasa aman bersamanya" ucap Saga seraya mata menatapnya.


Ghani tersenyum.


'Aku bahkan tidak tahu anak ku bisa seperti itu jika bersama orang lain' ucap hati Ghani menyadari sifat putrinya.


"Didikan anda terlampau baik Pak, aku salut" ucap Saga memuji.


Ghani tersenyum dan melanjutkan merapikan tenda.


"Tendanya sudah jadi! " seru Saga pada yang lainnya.

__ADS_1


Semua orang mendekat untuk melihat. Saga langsung menggendong Dama dan mengajaknya melihat tenda yang dibuat untuknya dan Mikayla.


Amelia ikut masuk bersama Mikayla, Hani langsung melarangnya.


"Heeyyy! Kalian tidak tidur dalam satu tenda! " seru Hani.


Kepala Saga dan Amelia muncul keluar mendengar ucapan Hani.


"Tentu saja, itu tenda aku, Amelia dan anak-anak juga ibu. Yang satunya tenda ayah dan Saga. Iya kan Yah? " seru Hana menimpal.


Hani mendelik pada Hana yang memasang wajah lucu pada ibunya.


"Iishhh, ibu ini. Mesum sekali" bisik Hana di di dekatnya.


Ghani merangkul lengan Hani.


"Atau kau mau satu tenda dengan ku" bisik Ghani.


Hani memukul dada Ghani, kemudian mereka semua tertawa.


Saga dan Amelia saling menatap mendengar tawa mereka kemudian keluar.


"Tunggu! " seru Saga.


"Hmmm? " Amelia menoleh.


Saga hendak menanyakan perihal kesehatan Oma yang Amelia sembunyikan dari semua orang. Tapi dia mengurungkan niatnya.


"Tidak, hanya saja, kau terlihat lebih cantik dari biasanya" ucap Saga mengalihkan.


Amelia tersenyum.


"Terimakasih! " jawab Amelia.


"Mama! " seru Dama.


"Ya sayang! Ini tenda Dama! " ucap Amelia.


Mereka bermain-main di dalam dengan riangnya.


***


Di rumah, Davin menatap sarapannya dengan wajah yang kurang bersemangat.


"Mereka pergi pagi sekali nyonya, mungkin takut macet" jawab Minah setelah sebelumnya ditanya oleh Oma.


"Iya, weekend seperti ini banyak orang yang bertamasya" timpal Harris.


"Kenapa kita tidak pergi ke perkemahan itu juga? " tanya Oma.


Maria, Harris dan Zidan menatap ke arah Oma.


"Ide bagus Oma! " seru Zidan.


'Akan menjadi tontonan terbaik melihat kecemburuan Davin pada Saga dan Amelia' ucap hati Zidan.


"Bagaimana Davin? " tanya Oma.


"Tidak, aku dan Bella akan pergi ke rumah ibu mertua. Sudah lama kami tak kesana" jawab Davin.


Kemudian dia pergi tanpa menyentuh sarapannya.


"Sarapan mu! " seru Maria.


"Aku tidak lapar bu! " jawab Davin seraya melangkah ke tangga.


Semua orang terdiam melihat reaksi Davin. Zidan menyeringai senang dengan sikapnya. Tapi dia bertanya-tanya, apa yang terjadi pada mereka dan mengapa mereka justru hendak pergi ke rumah Bella.


\=\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2