CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
81


__ADS_3

Oma Mira terdiam sejenak setelah mencoba membaca di kamarnya. Dia tak bisa berkonsentrasi karena kedatangan Saga. Dia senang semua keluarga nya berkumpul di penghujung usianya. Di sisi lain dia takut kedatangan Saga akan membuat anggota yang lainnya melakukan hal yang menghancurkan ketenangan rumah ini.


"Nyonya ini teh yang anda minta" ucap Amelia setelah mengetuk.


"Masuk! " seru Oma.


Oma memperhatikan Amelia yang menaruh tehnya di meja.


"Saga, sedang apa dia? " tanya Oma.


"Dia sedang di kamar, katanya mempersiapkan diri untuk... "


Amelia ragu-ragu mengatakannya.


"Untuk bekerja di kantor? " Oma melanjutkannya.


Amelia tertunduk.


"Kurasa dia benar-benar bertekad menjadikan mu nyonya di rumah ini" Oma terdengar kesal.


"Ya, aku juga sama kesalnya dengan nyonya, seharusnya dia bekerja keras di Montreuil saja, kenapa harus kembali kemari, aku jadi harus seperti ini... "


Amelia mengigit bibirnya, dia keceplosan bicara, mengeluhkan semua perintah Oma yang selalu meminta dibuatkan sesuatu sehingga dia bolak balik ke dapur.


Oma Mira mengangkat alisnya, dia menyadari apa yang dikeluhkan Amelia.


"Saya permisi nyonya" Amelia pamit.


Amelia pergi, Oma menertawakan sikap Amelia dengan menyeringai.


"Dia jujur" gumam Oma sambil mengangkat gelas tehnya.


"Semua yang dibuatnya juga selalu enak" gumamnya lagu setelah meminum teh buatannya.


***


Maria masih di dalam kamar dia bahkan tidak sarapan dan malas turun untuk menyiapkan makan siang.


"Kau tidak turun untuk menyiapkan makan siang? " tanya Harris yang berbalik di ranjangnya.


"Tidak, aku malas" jawab Maria.


"Aku lapar, minta Minah membuatkan sesuatu" pinta Harris.


"Minah sedang main dengan Dama di taman, kau bisa melihatnya dari sini" ucap Maria.


"Lalu siapa yang mengurus dapur" Harris menggeliat.


"Ibu, menyuruh Amelia memasak dari pagi. Mungkin makan siang juga akan sama, dan aku nggak mau memakannya" ucap Maria.


"Kau ini ketus sekali, kau sendiri yang akan sakit karena tak makan" Harris berdiri dan keluar.


Dia berjalan ke dapur dan melihat Amelia sedang menyiapkan makanan.


"Ibu menyuruh mu masak? " tanya Harris.

__ADS_1


Amelia terkejut, dia berbalik setelah mencuci tangannya.


"Iya Pak! " jawab Amelia.


"Oh ya, katanya Saga datang, dimana dia? " tanya Harris.


"Di sini Pah! " jawab Saga yang sedari tadi duduk di kursi yang biasa mba Minah gunakan untuk makan.


Harris berbalik, dia tersenyum dan menghampiri juga ikut duduk di sana.


"Kau kembali? " tanya Harris sambil mengambil cemilan yang dia makan.


Saga menatapnya.


"Papa tidak ke kantor? " tanya Saga.


"Hmm? " Harris menggosok matanya.


"Tidak, mungkin besok" jawab Harris.


Ada suasana canggung disana. Amelia memperhatikannya dan membandingkannya dengan dirinya bersama keluarga.


'Alangkah beruntungnya aku memiliki ayah seperti ayah ku, keluarga seperti keluarga ku' ucap hati Amelia.


"Silahkan pak! "


Amelia menyuguhkan masakan kesukaannya.


"Wah, kau tahu makanan kesukaan ku" puji Harris.


"Mulai sekarang, kau panggil papa aja, jangan Pak" pinta Saga.


"Kau benar-benar akan menikahi Amelia?" tanya Harris.


"Ya tentu saja, memangnya tidak boleh? " Saga balik bertanya.


"Meskipun dia pernah melahirkan anak Davin? " Harris bertanya lagi.


"Pah, kau bertanya di depan orang yang sedang kita bicarakan" ucap Saga yang menatap Amelia.


"Kenapa memangnya? Justru lebih baik jika aku mengatakannya di depannya"


Harris berbalik menghadap ke arah tempat Amelia berdiri.


"Kau, benarkah sudah tidak ada sedikitpun perasaan di hati mu untuk Davin? "


"Paaah....! " Saga protes dengan pertanyaan Harris pada Amelia.


Harris menahan Saga dengan memasang telapak tangannya di depan wajahnya.


Amelia terdiam, kemudian menatap Saga. Dia pernah mengatakan padanya, bahwa malam dimana mereka bersama tak pernah hilang dari pikirannya. Itu juga yang menghalangi mereka untuk melakukan hal yang lebih dari sekedar berpegangan tangan.


Saga khawatir dengan jawaban Amelia, dia juga mengerti dengan apa yang dia rasakan. Tapi dia tak pernah mau kehilangan dirinya.


"Akuu..... " Amelia ragu.

__ADS_1


"Kau lihat? Dia ragu Saga" ucap Harris.


"Aku tidak ragu tentang perasaan ku pada Davin. Kami tidak pernah menjalin hubungan apapun. Aku hanya ragu tentang Saga" jelas Amelia.


"Saga? " Harris menoleh pada Saga dengan heran.


Saga menunduk, tak berani menatap Amelia yang tahu tujuannya datang kembali ke rumah ini.


"Apa yang kurang dari anak sulung ku ini? Dia pria terbaik yang memilih mengalah dengan pergi untuk ketenangan rumah ini... "


"Lalu sekarang dia kembali untuk merusaknya? " Amelia menyela ucapan Harris.


Harris tercengang dengan keberanian Amelia memotong pembicaraannya dan menyebut Saga salah.


'Dia anak yang kritis' ucap hati Harris.


"Aku ingin menikah dengan tujuan membangun sebuah keluarga yang bahagia, hanya itu" jawab Amelia.


Dia kembali menyiapkan makan siang untuk yang lainnya. Sementara Harris menatap Saga yang diam saja mendengar semua ucapan Amelia.


Maria mendengar semua ucapan Amelia, dia senang fokus Amelia hanya pada Saga. Dia tak ingin Davin merasa punya harapan terhadap dirinya.


Maria pergi meninggalkan pintu dapur, Amelia melihatnya namun diam saja.


***


Oma Mira puas dengan sarapan dan makan siang buatan Amelia.


"Apa yang sudah kau ajarkan pada Dama? " tanya Oma Mira pada Amelia yang sedari tadi berdiri menunggu Oma makan.


"Saya tidak terlalu membebani anak balita seperti Dama untuk mempelajari apa yang saya inginkan. Hanya saja, saya sedang mencontohkan bahasa yang baik dan halus padanya. Jadi beberapa kali saya menghindari pertengkaran di rumah ini, sengaja agar Dama tidak mendengarnya" jelas Amelia.


"Kau harus mengajarkan dia tata krama kalangan menengah ke atas, bukan menengah ke bawah, itu maksud ku" ucap Oma dengan arogan.


"Terkadang kita harus memperlihatkan kesederhanaan kalangan menengah kebawah untuk mengajarkan rendah hati pada anak-anak nyonya" Amelia melawan ucapan Oma.


"Aku mau dia memperlajarinya, haruskah aku menggantikan mu dengan pengasuh pilihan ku? " Oma menatapnya seolah memberi pilihan yang tak bisa dipilih Amelia.


"Kenapa harus orang lain? " seru Saga yang datang dari dapur.


Oma Mira menoleh.


"Amelia akan menjadi istri ku Oma, dia akan menjadi salah satu nyonya muda di rumah ini. Dia pun wanita yang paling tahu tata krama yang sebenarnya"


Saga memeluk pinggang Amelia, mencoba menjadi sosok pendamping baginya.


Amelia menelan saliva dan mengalihkan pandangannya karena merasa canggung.


"Aku tidak mau cicit ku menjadi orang yang melawan pembicaraan ku seperti kekasih mu ini. Dia tidak sopan" Oma menunjuk Amelia.


"Seseorang akan selalu menentang sesuatu yang dianggapnya tidak benar atau terlalu berlebihan. Dan, menurut ku, permintaan Oma terlalu berlebihan. Anak mana yang akan kurang ajar jika diasuh dan di rawat ibu kandungnya sendiri?" Saga menunjuk dadanya sendiri.


Oma Mira tahu arah pembicaraan Saga, dia akan mengungkit soal dia yang dipisahkan dari Ayuningtyas sejak kecil.


"Kau bukan kurang ajar, tapi hilang arah. Oma mau kembali ke kamar Oma. Mana Minah? suruh dia mengantar Oma ke atas"

__ADS_1


Oma berdiri dan melangkah perlahan. Amelia langsung berlari memanggil Minah dan menggantikannya menjaga Dama.


\=\=\=\=\=>


__ADS_2