
Amelia diajak Maria untuk istirahat di kamarnya. Tapi Oma Mira mengikutinya dan memperhatikan gerak gerik Amelia.
Mata Amelia dan Oma Mira beradu saat dia hendak duduk di ranjang setelah menidurkan Dama. Kemudian matanya beralih pada Davin yang berdiri sambil tersenyum padanya dibalik tubuh neneknya.
Oma Mira paham Amelia tak menatapnya, dia melirik ke arah kiri bahunya. Dia melihat kaki Davin di sana. Oma Mira langsung berbalik, matanya membulat menatap wajah Davin yang terlihat sangat senang dengan kehadiran Amelia.
Senyum Davin lenyap saat dia menatap wajah Oma Mira yang seolah bertanya padanya apa yang sedang dia lakukan di sana.
"Oma..., aku."
Belum sempat Davin mengatakan apa yang ingin dia katakan, Oma Mira langsung tegas memintanya kembali ke kantor.
"Kembali ke kantor, pekerjaan mu banyak bukan? " ucap Oma.
Davin tertunduk merasa sangat lemah di hadapan Oma nya. Untuk terakhir kalinya sebelum pergi, dia menatap Amelia yang sibuk merapikan pakaian Dama yang dia bawa di kopernya.
"Kau sudah kehilangan kesempatan, wanita itu bisa saja sudah melakukan banyak hal dengan Saga. Jangan pernah mengharapkan dia lagi" bisik Oma.
Mata Davin membulat, dia menatap neneknya yang berjalan perlahan di depannya. Tak bisa dia pungkiri, pikirannya pun memikirkan hal yang sama. Tapi dia baru mendengar dan mengakui hal itu.
Davin menoleh ke arah kamar Amelia. Dia berpikir, hal apa saja yang mungkin terjadi antara Amelia dan Saga.
***
Di kamar.
Maria masih menatap Dama yang sangat mirip dengan Davin waktu kecil. Dia tersenyum kemudian sesekali mengusap rambut Dama.
Amelia memperhatikannya, dia sedikit ingat dengan pertemuan pertama mereka saat Maria datang ke rumah mereka. Tapi dia tak ingat untuk apa dia datang ke sana.
Maria berdiri kemudian menatap Amelia. Dia melihat Amelia sedang merapikan pakaian Dama di lemari.
"Kau tidak bawa pakaian mu? " tanya Maria saat dia tak melihat koper lain selain yang dia bawa.
Amelia berpikir, kopernya masih di hotel. Dia jadi teringat Saga.
~Koper ku ada di hotel, apa Saga sudah pergi? ~ tanya hati Amelia.
Maria memperhatikan nya yang menjadi melamun karena pertanyaan sederhana.
"Amelia! " seru Maria.
Amelia mengangkat kedua alisnya.
"Ah, di rumah orang tua ku, nyonya" jawab Amelia.
Maria terdiam mendengar panggilannya. Dia berpikir, Amelia jelas melihat itu dari raut wajahnya.
"Aku akan pergi, nanti kalau Dama bangun, beritahu aku, ok! " pinta Maria.
Amelia mengangguk, tapi dia sedikit merasa aneh dengan situasi itu. Dia hanya bisa menatap kepergian Maria yang mulai hilang setelah melewati pintu kamar itu.
__ADS_1
"Astaga, perasaan apa ini? Kenapa aku merasa bahwa ibu Davin juga menganggap ku hanya sebagai pengasuh Dama? " gumam Amelia.
Amelia menatap anaknya yang tertidur lelap.
***
Rumah Ghani.
Hani melihatnya datang dengan langkah yang lemah dan wajah yang terlihat tak bersemangat. Hani menghampirinya.
"Bagaimana? Kau sudah memastikan dia akan baik-baik saja di sana kan? " tanya Hani.
Ghani menatap wajah istrinya, kemudian beralih pada Hana yang berdiri di belakangnya, dengan tangan memegang tangan Mikayla.
~Apa aku harus mengatakan apa yang terjadi tadi? Hani takkan bisa mengendalikan dirinya jika mendengar Nyonya besar menganggap Amelia hanya sebagai pengasuh Dama. Ya Tuhan, apa yang harus aku katakan? ~ Ghani dalam dilema.
"Kenapa diam saja, apa Nyonya besar tidak memperlakukan Amelia dengan baik? " suara Hani mulai meninggi.
"Tidak, aku hanya merasa waktu kita dengan mereka sangat singkat. Baru semalam kita tahu bahwa kita punya cucu dari Amelia, dan kita harus merelakan mereka tinggal di rumah Nyonya besar. Itu saja" jelas Ghani sambil berjalan melewati mereka.
"Ouh, ya sudah. Aku bawakan minum dulu" ucap Hani.
Hana mendekat pada Ghani dan mendudukkan Mikayla di sofa.
"Ayah bohong" bisik Hana.
Mata Ghani membulat menatap Hana, kemudian beralih ke arah dapur dimana Hani mengambil air minum.
Ghani pura-pura merapikan jaketnya.
"Ayah mengambil cuti kan? Istirahat saja dulu, mungkin besok akan ada banyak pekerjaan karena kau libur" ucap Hani sambil memberikan segelas air.
Hani duduk di hadapan mereka, dia melihat Hana mengalihkan pandangannya ke arah tak menentu. Hani mengerutkan dahinya merasa ada yang aneh.
"Kalian menyembunyikan sesuatu dari ku? " tanya Hani tiba-tiba.
Hana mengedipkan matanya beberapa kali, kemudian beralih menatap Ghani.
"Tidak, apa yang kami sembunyikan. Ibu ini terlalu banyak menonton sinetron, banyak curiganya" jawab Hana dengan tertawa kikuk.
"Jika kalian menyembunyikan sesuatu tentang Amelia, aku tidak akan percaya lagi pada kalian. Ingat itu! " seru Hani seraya menunjuk kepada mereka berdua.
"Ibu! Ayolah, apa yang bisa tersembunyi dari pandangan ibu" Hana meyakinkannya.
Hani menatap mereka penuh curiga.
~Ya, Ghani menyembunyikan sesuatu dari ku tentang Amelia. Lihat saja, aku tidak perlu menanyakannya pada kalian. Aku bisa langsung pergi ke sana, aku juga neneknya Dama~ ucap hati Hani, bertekad.
***
Malam tiba, Davin kembali bersama Alex, mereka masih membicarakan pekerjaan dan kesibukan di kantor.
__ADS_1
"Papa! " seru suara Dama yang memegang tangan Amelia, berjalan perlahan menghampiri mereka.
Davin tersenyum menatap mereka.
"Indah kan? " ucap Davin, berbisik pada Alex.
Alex menatap wajah Davin yang begitu senangnya.
"Impian mu" ucap Alex menegaskan ucapan Davin.
"Hmmm, kau benar" jawab Davin.
Davin membuka lebar tangannya kemudian menghampiri mereka. Arah tangan Davin menuju Amelia. Namun Amelia melepas tangan Dama yang mendekati kaki Davin.
Alex tersenyum, merasa lucu melihat Amelia yang masih saja menghindari Davin yang sangat berharap banyak padanya.
Davin memeluk Dama, mengangkatnya kemudian menciumi nya.
"Anak papa menyambut dengan manis, papa suka" ucap Davin.
Amelia menunduk menatap kedua tangannya yang dia mainkan. Davin memperhatikannya.
"Hai Mel! " sapa Alex.
"Hai! " jawab Amelia.
"Ayo kita ke kamar mama mu, papa akan mengantar mu tidur" ucap Davin.
Amelia menatap kepergian mereka, Alex memperhatikannya.
"Dia terlihat senang di sambut manis oleh Dama" ucap Alex.
Amelia menoleh padanya. Dia tak mengatakan satu patah kata pun untuk mengomentari ucapan Alex.
"Mel! " seru Alex saat Amelia hendak menyusul mereka.
Amelia menoleh dan bertanya dengan mengangkat kedua alisnya.
Mata Alex menunjuk ke arah tangga, Amel mengikuti lirikan matanya. Dia melihat Bella.
"Kamar Dama, bukan kamar mu. Jangan pernah berpikir kau mendapatkan tempat spesial di rumah ini" ucap Bella sambil turun.
Alex berjalan mendekat pada Amelia, mencoba menghindari hal yang di takutkan. Bella pun melihat betapa Alex menjaga agar dirinya tak mencoba mencari masalah dengan Amelia.
"Jika Davin ada di sana, kamu jangan pernah masuk. Tetap saja aku harus memastikan bahwa kau menjauh darinya meskipun semua orang di rumah ini menganggap mu sebagai pengasuh putranya" jelas Bella.
Amelia menganga mendengarkan ucapannya. Dia merasa sangat tersinggung dan merasa sangat direndahkan.
"Apapun yang orang lain katakan, jangan tersinggung, pikirkan saja tentang pemikiran Davin. Dia tetap menempatkan mu pada posisi mu, yaitu ibu kandung Dama" ucap Alex.
Bella membulatkan matanya pada Alex, dia tak terima Alex lebih membelanya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=>