CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
27


__ADS_3

Pagi yang cerah, rumah kediaman Narendra terlihat megah dan terang dengan warna cat putihnya. Meja makan keluarga sudah rapi dengan berbagai hidangan untuk sarapan.


Orang pertama yang datang adalah Zidan, yang sudah beberapa bulan ini tinggal di sana dan menjadi manager pemasaran di perusahaan. Menyusul Oma Mira dan Davin. Kemudian Harris dan Maria. Barulah Bella dengan rambutnya yang masih basah.


Zidan tersenyum sambil menunduk, Bella duduk di sebelahnya dan menendang kakinya. Dia meringis kesakitan tapi berusaha menyembunyikannya. Davin duduk di dekat Oma dan mengambilkan makanan untuk Oma.


Maria menyajikan makanan untuk Harris, tapi dia meminta porsi yang sedikit. Maria menghela ingat saat dia pulang dini hari tadi. Pulang secara sembunyi-sembunyi seperti biasanya. Maria berpikir dia sudah makan di rumah Ayu dan dia tak makan lagi. Atau sebaliknya, dia makan sedikit di sini dan nanti mampir ke rumah Ayu untuk makan lagi.


Maria sudah bosan dengan semua kebiasaan itu, dia mulai lelah harus mengerti posisi Harris yang tak bisa melepaskan cintanya untuk Ayu. Dia menyantap makanannya sendiri tanpa banyak bicara.


"Bagaimana dengan pekerjaan Zidan, Davin! Apa dia bekerja dengan baik?" tanya Oma setelah dia selesai makan.


Davin menatap Zidan yang tak peduli dengan pertanyaan Oma.


"Cukup bagus Oma, meskipun dia perlu banyak belajar lagi" jawab Davin.


"Katakan saja kalau aku belum becus memegang jabatan itu. Jangan berbelit-belit" ucap Zidan.


Oma memandang Davin menatap kesal pada Zidan.


"Belajar lagi, terus belajar seperti ayah mu. Jangan pernah bosan, ini perusahaan keluarga, siapa lagi yang akan memegang jika bukan anggota keluarga" ucap Oma tegas.


Zidan menghela seolah malas mendengar neneknya banyak bicara. Sementara Harris sibuk dengan ponselnya. Hanya Bella dan Maria yang menatap Oma saat bicara.


"Aku tidak ingin keluarga ini acuh terhadap apa yang aku sampaikan. Kalian harus memegang teguh prinsip suami ku Narendra. Karena, hanya karena prinsipnya keluarga ini bisa jadi besar seperti sekarang" ucap Oma.


Semua orang jadi diam dan mendengarkan meski tak menatap Oma.


"Ya, Oma. Ayo aku antar ke kamar Oma" ucap Davin.


Dia memapah Omanya menuju kamar. Harris pergi ke kantor. Maria mengajak Bella ke dapur untuk mencatat semua bahan makanan yang harus dibeli. Zidan masih duduk menatap Bella hingga hilang dari pandangannya.


Zidan masih duduk di meja makan, dia mengirim pesan pada Bella, tentang apa yang dia lihat semalam. Senyuman mengejek tersungging di bibirnya. Seolah dia sangat senang dengan apa yang telah terjadi.


Di kamar, Oma duduk di ranjang dan meminta Davin untuk duduk di sebelahnya.


"Ambilkan dulu kotak yang ada di laci itu" pinta Oma.


Davin berdiri dan mengambilkannya.


"Ini adalah sarung tangan dan sepatu pertama yang kakek mu beli untuk Harris" ucap Oma memegangnya.

__ADS_1


Davin mengerutkan dahinya tak paham dengan maksud Oma menunjukkannya.


"Ini juga sempat dipakai oleh Saga.." Oma berhenti sejenak saat mengucapkan namanya.


Davin mengusap punggung Oma, menguatkannya.


"Kau juga pernah memakainya. Ini khusus untuk putra laki-laki di keluarga Narendra" lanjut Oma.


"Omaa...katakan apa yang Oma inginkan. Jangan membuka kisah sedih hanya untuk mengatakan sesuatu padaku" ucap Davin menggodanya.


Oma memukul kemudian mencubit lengannya.


"Lakukan hubungan lebih sering dengan Bella supaya dia cepat hamil dan melahirkan anak laki-laki di rumah ini" ucap Oma.


Davin terdiam terpaku mendengar permintaan Oma.


~Jadi, menuruti keinginan Oma untuk menikahi Bell belum cukup? Sekarang anak laki-laki!~ ucap hati Davin.


Oma tersenyum sambil memainkan sarung tangan dan kaos kaki bayi itu. Dia menatap Davin sambil tersenyum. Davin membalas dengan senyuman.


"Ya sudah Oma, aku harus ke kantor. Ada meeting pagi ini" ucap Davin sambil mencium pipi Omanya.


Davin berjalan sampai pintu kemudian dia berbalik.


"Ih...dasar anak ini. Hari ini Oma mau rasa strawberry" seru Oma.


Davin tertawa, dia membuat bulatan dengan jari tangannya. Oma menghela menatap kepergiannya. Dia berubah menjadi sedih saat menatap foto Davin dan Saga yang ada di meja ranjangnya.


###


Davin masuk ke kamar untuk mengambil tasnya. Dia melihat Bella sedang mengeringkan rambutnya dengan hair dryer. Davin berusaha menghindari tatapannya.


"Ibu dan ayah mengajak makan malam, malam ini!" ucap Bella yang berdiri menatapnya.


Davin yang sudah berbalik, hanya mengangguk dan melangkah lagi.


"Aku bilang aku tak bisa, jadi, jika ayah atau ibu menelpon katakan kita ada acara lain" lanjut Bella.


"Hmm..!" jawab Davin singkat.


"Katakan bahwa kita ada kencan hari ini" ucap Bella lagi.

__ADS_1


Davin berbalik dan membelalakkan matanya. Bella tahu Davin akan berbalik, dia juga berbalik dan mengeringkan lagi rambutnya.


"Aku mengatakannya karena Oma yang minta, kita harus sering bersama jika ingin cepat punya anak" ucap Bella datar.


Davin menghela, tenyata Oma sudah mengatakan hal itu pada Bella sebelumnya. Dia pergi dan membanting pintu kamarnya.


Tubuh Bella terhentak karena terkejut. Kemudian dia menangis mengingat kejadian malam sebelumnya. Tiba-tiba Zidan masuk ke kamar, tapi Bella mengira itu Davin. Dia memalingkan wajahnya agar tak sampai terlihat telah menangis.


Zidan memeluknya dari belakang kemudian berbisik.


"Aku bisa menemani mu jika sepupu ku tidak bisa memuaskan mu"


Mata Bella membulat karena terkejut dipeluk, semakin membulat saat tahu itu adalah Zidan. Dia berbalik dan berusaha melepaskan pelukan Zidan. Namun dia semakin erat memeluk tubuhnya.


"Lepaskan aku Zidan, aku akan teriak dan mengadu pada Oma!" Bella mengancam.


"Teriaklah, aku juga akan mengadukan pada Oma bahwa selama ini kau tak pernah melakukan hal itu dengan Davin. Kita lihat bagaimana reaksinya" ucap Zidan sambil memaksa untuk menciumnya.


Bella tak bisa teriak, dia takkan membiarkan masalah yang terjadi pada Davin sampai ke telinga Oma. Ia akan berusaha untuk menaklukan Davin bagaimana pun caranya.


Sementara itu, tiba-tiba Maria mengetuk pintu kamar Bella.


"Bella, kalau sudah selesai mengeringkan rambut cepat turun ya, ibu tunggu di mobil!" seru Maria.


"Iya bu, aku akan turun sebentar lagi" jawab Bella berusaha terdengar biasa saja.


Maria pergi tapi Zidan tetap berusaha untuk mencium Bella yang menahan wajahnya dengan kedua tangannya.


"Hentikan kalau tidak aku akan menendang kemaluanmu!" seru Bella mengancam.


Zidan melepaskan pelukannya dan mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Tapi dia menatap tubuh Bella dengan senyum kurang ajarnya.


Bella terengah karena lelah menghidar darinya. Dia mengacungkan alat pelurus rambut yang sudah panas ke hadapan Zidan. Dia bersiap jika Zidan kembali memeluknya.


"Aku akan datang nanti malam, saat sepupu ku menolak mu lagi" ucap Zidan sambil menyentuh dagu Bella.


Zidan pergi, Bella terduduk di lantai dengan tangisnya. Dia menangisi nasibnya.


~Jika saja kau mau sedikit mencoba mencintai ku Davin, dia takkan berani melakukan hal ini padaku~ ucap hati Bella.


Tak lama kemudian, dia menghapus air matanya dan berdiri. Dia ingat ibu mertuanya sedang menunggunya di bawah. Bella merapikan riasannya dan pergi menyusul Maria.

__ADS_1


\=\=\=\=\=>


__ADS_2