CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
83


__ADS_3

Di kantor.


Davin meeting bersama beberapa klien yang datang dari jauh dan harus mengunjungi tempat lain. Mereka terburu-buru melakukan presentasi dan klien terlihat tak tertarik dengan tawaran yang diberikan Davin.


Saga yang sedang mempelajari semua berkas di kantor ayahnya, mendengar tentang semua itu. Dia keluar dan mencegah para klien untuk pergi dengan memberikan penawaran yang lain.


Zidan membisikkan sesuatu padanya, tentang apa yang Davin tawarkan sebelumnya di meeting.


"Mari, hanya 5 menit saja. Aku akan menjamin apa yang kami berikan akan membuat anda puas" Saga membujuk mereka.


Mereka saling tatap, kemudian bertanya pada Zidan siapa yang sedang bersamanya.


"Dia adalah putra sulung Pak Harris Coltin Narendra. Ya putra sulung" ucap Zidan membanggakannya.


Davin melihat pemandangan itu. Dia menghela kemudian masuk ke ruangannya. Menunggu apa yang terjadi dengan Saga dan bagaimana respon klien itu.


Tak berapa lama, Saga dan klien keluar dari ruangannya dan saling menjabat tangan mereka, pertanda persetujuan antara dua belah pihak atas kerjasama yang ditawarkan.


Davin melihatnya dan mendekat setelah para klien pergi.


"Apa yang Kak Saga tawarkan? Hal diluar aturan perusahaan ini yang mana yang sudah kak Saga langgar untuk menghalalkan kesepakatan ini? " seru Davin dengan mata menatap tajam ke arah Zidan.


"Kau ini panik sekali" jawab Saga santai.


"Tapi Kak! Mereka tidak tertarik dengan tawaran ku, lalu apa yang kak Saga tawarkan? " Davin mendesak.


"Aku mengatakannya dengan gaya, juga dengan wibawa ku sebagai anak pertama"


Ucapan Saga membuat Davin terdiam. Dia tak menyangka kakaknya begitu terobsesi dengan kata anak sulung dan pewaris. Davin kembali ke ruangannya tanpa membalas lagi ucapan kakaknya.


Saga yang merasa puas, kembali ke ruangan dan berdiskusi lagi dengan Zidan soal perkembangan dan kerjasama apa saja yang diambil perusahaan Narendra.


***


Bella mengambil tasnya dan hendak ke salon untuk persiapan malam ini. Dia menelpon Davin sembari berjalan menuju luar.


"Sayang, temui aku di salon Anna ya, jangan lupa bawa kado di toko Shahnaz aku sudah memesannya" ucap Bella.


{Aku tidak bisa hadir, nanti supir saja yang antar kadonya} jawab Davin.


"Makasih sayang! " ucap Bella.


Dia menahan diri untuk tak kesal pada Davin atas jawabannya. Yang membuat Davin merasa senang dengan responnya. Tapi Bella melakukannya hanya untuk membuat Amelia mendengar kemesraan yang terjadi antara mereka.


Amelia yang sedang main dengan Dama jelas mendengar semua itu. Tapi dia bersikap biasa dan seolah tak mendengarnya.


"Dama! " sapa Bella kemudian menciumnya.


Dama melap pipi bekas ciumannya, Bella mendelik.


"Oh ya, aku dan Davin nggak makan malam di rumah. Kami ada undangan" ucap Bella.


Amelia mengira dia sedang mengatakannya pada Maria, karena saat itu ibu mertuanya itu sedang berdiri di tangga.

__ADS_1


"Jangan pulang terlalu malam" seru Maria yang mendukung kedekatan mereka.


Maria turun perlahan dan berdiri di sisi dekat Amelia.


"Baik Bu, padahal tadinya aku mau diajak special date dulu sama Davin" gumam Bella.


Suara Bella bergumam seperti orang yang bicara biasa. Amelia dan Maria mendengar, jelas Maria menahannya.


"Ya sudah, pulang sesuai keinginan kalian" ucap Maria.


Bella melirik pada Amelia yang tak merespon, dia fokus pada Dama yang sedang penasaran dengan mainan barunya.


"Aku pergi ya bu! " pamit Bella sedikit kesal.


Maria melipat tangan di dadanya, dia menatap Bella yang menutup pintu.


"Kau lihat Pak Harris? " tanya Maria.


"Ya nyonya, tadi pak Harris pergi memakai mobilnya" jawab Minah dari arah belakang.


Maria melirik pada Amelia yang acuh.


"Rapikan piring yang kamu bawa tadi ke kamar ku. Lain kali kalau kau yang masak, aku akan turun sendiri" ucap Maria.


"Ya Nyonya" jawab Minah.


Dia langsung mengambil piringnya. Maria duduk di sofa dan memperhatikan Dama.


"Sebaiknya ada pengasuh yang mengajarkan dia tentang semua hal. Kau terlalu membiarkannya main dan main saja" keluh Maria sambil menunjuk.


"Kenapa kau menatap seperti itu? Davin aku ajarkan segalanya di usianya yang seperti Dama. Dia menjadi pria yang gagah dan berani juga pintar" puji Maria pada dirinya dan Davin.


Amelia malah berpikir.


'Pantas saja dia punya penyakit itu, ternyata karena tertekan oleh kesempurnaan dari keluarganya! ' ucap hati Amelia.


"Kau ini sedang aku ajak bicara tapi malah berpikir, apa yang kau pikirkan? " Maria kesal.


"Tidak, hanya saja, Dama akan aku didik sesuai dengan keinginannya saja. Aku tidak mau dia seperti siapapun, dia harus menjadi dirinya sendiri" ucap Amelia.


"Kenapa kamu keras kepala sekali? Apa ini didikan Ghani padamu? Tak mendengar saran dari orang tua? " ucap Maria.


Amelia menunduk, kemudian Dama duduk di pangkuannya.


"Mama lop yu" ucap Dama.


Amelia tersenyum dan mengusap kepala Dama.


"Makasih sayang" ucap Amelia.


Maria menghela dan beranjak dari sana menuju taman di depan rumah.


"Menyebalkan" gumamnya.

__ADS_1


"Ebalkan! " seru Dama.


Maria menoleh dengan mata membulat.


"Sayang, apa yang kamu katakan? " Amelia panik.


"Nene biyang ebalkan" Dama menunjuk Maria.


Maria semakin kesal pada mereka berdua, dia cepat pergi dari sana.


Amelia tersenyum dan mengusap kepala Dama.


"Tidak boleh mengatakan itu ya sayang, itu tidak baik" ucap Amelia.


Dama turun dari pangkuannya dan kembali. bermain.


Tak berapa lama, terdengar suara mobil datang. Amelia memperhatikan pintu untuk melihat siapa yang datang.


Davin datang dengan wajah kesal dan langkah yang dihentakkan.


Amelia menerka bahwa dia sedang kesal. Davin yang memang sedang kesal mendekat dan menunjuk pada Amelia.


Amelia buru-buru menutup telinga Dama.


"Ini yang kau maksud rencana kehidupan baru? Datang kembali kesini dan membuat ku jatuh? Dia terus mengatakan bahwa dia adalah pewaris dari rumah ini. Lalu aku ini apa? Pengganti sementara dia begitu? Aku juga anak Harris Coltin Narendra. Aku yang mempertahankan perusahaan ini saat dia pergi menjauh karena alasan kekanakan"


Davin berteriak-teriak, Maria datang begitupun Oma Mira.


Amelia hanya menatapnya dan bertahan menutup telinga Dama.


"Ada apa Davin? " tanya Oma.


Davin mengatur nafasnya sembari membuka dasinya. Dia tak menjawab apapun kemudian pergi ke kamarnya.


"Davin! " seru Maria menyusulnya.


Oma Mira menatap Amelia yang mulai melepaskan tangannya dan membiarkan Dama main kembali.


"Ini yang aku takutkan, mereka bertengkar dan membuat ketenangan rumah ini hancur" ucap Oma pelan.


Amelia hanya menunduk. Dia tahu apa yang Davin maksud. Tapi dia penasaran dengan apa yang terjadi di kantor.


"Bawa Dama ke kamar mu, jangan biarkan dia mendengar hal buruk seperti tadi lagi" pinta Oma.


"Ya nyonya" jawab Amelia kemudian menggendong Dama.


Oma Mira kembali ke ruang baca, sementara Minah yang kembali dari kamar Maria memasang wajah penasarannya karena melihat Davin pulang dengan kesal.


"Apa yang terjadi? " bisik Minah.


"Dia marah pada Saga" ucap Amelia.


"Lalu? Nyonya? " Minah semakin penasaran.

__ADS_1


Amelia hanya mengangkat bahunya. Dia berjalan menuju kamarnya membawa Dama.


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2