CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
48


__ADS_3

Harris dan Ayu saling menatap, selain terkejut, mereka juga senang karena Saga akhirnya mau datang ke rumah Ayu meskipun keadaannya seperti ini.


Amelia mendekat sambil menggendong Dama. Saga langsung memeluk mereka.


"Kenapa tidak menunggu ku?" ucap Saga dalam pelukan Amelia.


"Aku dengar semua pembicaraan mu dengan Oma, aku takut Saga. Aku sangat takut dipisahkan dari Dama. Kau tahu aku kan?" ucap Amelia perlahan di hadapan Saga.


"Kau menghubunginya?" tanya Harris pada Amelia.


Amelia mengangguk kemudian menunduk, merasa malu karena tak mengatakannya pada mereka.


"Tidak apa-apa, dia hanya sebentar di sini. Maaf merepotkan anda" ucap Saga menahan ego nya.


"Kamu mau bawa mereka kemana? Anak buah Oma pasti sudah mengintai di bandara. Akan sulit bagi kalian pergi di saat seperti ini" ucap Ayu.


Meskipun Saga tak ingin mendengar ucapan Ayu, tapi pikirannya menyetujui perkataannya.


"Iya, ibu pasti menyuruh semua anak buah untuk mencari kalian" timpal Harris.


Saga mendelik dan menatap ke arah lain selain pada Ayu dan Harris.


"Tapi kami tidak bisa tinggal di sini!" ucap Saga tegas.


"Lalu dimana? dimana tempat yang aman, aman dari memisahkan aku dan anakku?" tanya Amelia sambil menangis pada Saga.


Saga menunduk, dia juga tak punya ide. Oma bisa menjangkau tempat manapun. Dia bahkan bisa melacak keberadaan dirinya di Montreuill apalagi kota yang dikuasainya, tempat kekuasannya.


"Aku ingin kembali ke Montreuill secepatnya, Dama diberi hak istimewa di sana. Aku lebih memilih tinggal disana dibandingkan kembali kemari. Tapi sekarang, bahkan setiap aku melangkah, aku seperti dibayangi oleh wajah Nyonya besar. Aku..."


"Baiklah, kau bisa tinggal di sini selama semuanya masih tegang. Saat semuanya tenang, kita bisa kembali ke Montreuill. Aku janji!" ucap Saga menuruti kemauan Amelia.


"Kamu sendiri, mau tinggal di mana?" tanya Ayu pada Saga.


"Aku akan tinggal di hotel, kau bisa menghubungi aku di sana. Hmm!" ucap Saga pada Amelia.


Dia sama sekali tak menatap Ayu atau berusaha menjawab semua pertanyaan kepadanya. Ayu hanya bisa diam kemudian tersenyum.


###


Davin dan Alex sampai di rumah dan menemui Oma Mira di tengah rumah. Dia sedang membaca buku dengan kaki menjuntai ke kursi kecil yang diletakkan di depan sofa yang didudukinya.


"Sudah ketemu?" tanya Oma datar.

__ADS_1


"Belum Oma, aku kira anak buah Oma sudah menemukannya?" jawab Alex sambil duduk.


Minah membawakan dua gelas air putih untuk mereka minum. Alex minta segelas lagi, sementara Davin hanya memperhatikan Oma nya yang begitu datar seolah tak ada perasaan.


"Kenapa kamu menatap Oma seperti itu?" tanya Oma pada Davin.


"Apa harus menakuti Amelia dengan mengancam untuk memisahkan mereka?" tanya Davin.


Itu hanya salah satu pertanyaan dari puluhan pertanyaan yang ada di benaknya.


"Dia terlalu berlebihan. Wanita itu bisa melakukan hubungan dengan mu dan pergi. Sekarang berhubungan dengan Saga. Dia bisa punya anak lagi dengan Saga dan menghilang setelah memberikan anak nya pada kita, karena kamu tidak bisa memaksakan hal itu pada Bella"


Ucapan Oma membuat Davin mengatur nafas dan mengendalikan diri dari rasa ingin membentak dan marah padanya.


"Omaaa, anak adalah manusia. Dan wanita yang Oma hina itu, dia tak seperti apa yang Oma pikirkan. Kenapa Oma jadi seperti ini?"


Davin mengatur kembali nafasnya. Alex mengusap punggungnya untuk membuatnya tenang.


"Tidak seperti yang Oma pikirkan apanya?, belum menjadi bagian dari keluarga Narendra saja dia sudah bertingkah, apalagi jika Oma langsung menyetujui kalian menikah!"


Oma berdiri dan menatap Davin juga Alex. Dia hendak pergi ke kamarnya. Namun Davin berdiri dan menyusulnya.


"Beri dia ruang di rumah ini, kebebasan tinggal bersama Dama. Oma bisa melihat tumbuh kembang penerus rumah ini dan aku bisa hidup bersama wanita yang aku cintai" ucap Davin dengan suara perlahan.


"Hal pertama yang harus dilakukan adalah menemukannya bukan. Jika dia sudah ketemu, semua keinginan mu, Oma turuti" ucap Oma Mira memancingnya.


"Aku pegang ucapan Oma" ucap Davin.


"Ya, ya, kau peganglah!" ucap Oma sambil meninggalkan Davin.


Davin berbalik, dia menatap Bella yang juga sedang menatapnya. Alex yang melihat mereka saling berhadapan, seolah akan perang, langsung ke dapur untuk makan sekaligus menghindari mereka.


Davin berjalan menghindarinya, tapi Bella menyusul dan menarik lengan Davin.


"Kenapa kau mau dia tinggal di sini?" tanya Bella.


Langkah Davin terhenti kemudian menatapnya.


"Bukan urusan mu" ucap Davin dengan mata menatap ke arah lain menghindari tatapan mata Bella.


"Jelas ini urusanku, aku istri mu. Aku berhak tahu siapa yang akan tinggal dan pergi dari rumah ini" seru Bella dengan nada tinggi.


"Kau sendiri sadar aku tidak pernah memperlakukan mu sebagai istri" ucap Davin.

__ADS_1


"Aku bertahan hingga hari ini hanya untuk mu Davin. Tolong jangan buat aku kecewa dengan penantian ku sendiri" ucap Bella.


"Sejak awal aku sudah mengatakan pada mu, aku mencintai orang lain dan tidak bisa menganggap mu...." Davin tak melanjutkan ucapannya.


Dia menghela dan memutuskan untuk diam. Bella menarik tangannya dan membawanya ke kamar. Davin menurut, dia pikir Bella hanya akan memarahinya dan menangis di hadapannya.


"Aku tahu, ini semua tentang penyakit mu. Aku bisa membantu mu menyembuhkannya. Sini!"


Bella memegang tangan Davin dan membantunya menyentuh dadanya. Davin membelalakkan matanya. Dia menepis tangan Bella.


Bella tak menyerah, dia merangkul leher Davin kemudian mencumbunya. Davin mencoba melepasnya, tapi Bella tetap pada posisinya, malah terus mendorong Davin hingga dia terjatuh di ranjang.


Cumbuan Bella beralih ke leher dan dada Davin.


"Cukup Bella, hentikan omong kosong ini" ucap Davin sambil membanting tubuh mungil Bella ke sisi lain ranjang mereka.


Bella terengah, tangannya melebar hendak meraih suaminya yang pergi meninggalkannya dengan hati yang kesal. Tak terasa, air mata kembali mengalir membasahi pipinya. Bella terisak di ranjang yang tak pernah dipakai bersama suaminya itu.


Davin keluar dengan terengah dan merapikan pakaiannya. Alex yang sedang makan kue buatan Minah, menganga menatap kawannya itu.


"Ada apa?" tanya Alex dengan mulut penuh.


"Wanita itu gila" jawab Davin dengan terengah.


"Siapa? Bella?" tanya Alex.


"Siapa lagi, dia memaksa ku tadi. Dia mencumbu hampir ke bawah perut ku" ucap Davin.


Makanan yang ada di mulut Alex hampir keluar lagi karena dia menganga lebih lebar.


"Aku benar-benar bisa gila kalau terus begini" ucap Davin kesal.


Alex tertawa terbahak setelah menelan semuanya.


"Kau yang memang gila, dia itu istri mu, kalau adegan seperti itu, seharusnya sangat wajar bukan? Kenapa kau panik seolah kau yang dirudapaksa. Hahahaha" gelak Alex.


"Diam kau!"


Wajah Alex ditampar pelan hinga berpaling ke arah lain. Davin berjalan keluar, Alex menyusulnya.


"Kau tidak akan makan dulu? Kau belum sarapan, apa kau tidak lapar?"


Seruan Alex terdengar oleh Maria. Dia buru-buru menyusul, namun Davin dan Alex sudah masuk ke mobil dan sedang keluar dari pagar.

__ADS_1


\=\=\=\=\=>


__ADS_2