CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
30


__ADS_3

"Bahan produksi sudah sampai di rumah, kamunya yang belum. Dimana?" tanya Peter khawatir.


"Baru keluar dari kantor kedutaan Pak, masih dua jam lagi baru sampai rumah" jawab Amelia.


Dia berjalan di komplek gedung pertokoan yang beberapa kosong ditinggalkan pemiliknya. Seorang pria mengikutinya dengan langkah perlahan. Amelia menaruh ponselnya setelah Peter menutupnya.


Amelia merasakan hal aneh dia menoleh ke belakang untuk memastikan ketakutannya. Tiba-tiba Steve datang menyambarnya seperti kilat. Amelia di seret ke lorong gedung pertokoan kosong dan buntu.


Amelia berteriak dengan mulut yang ditutupi oleh tangan Steve yang masih menyeretnya. Dengan tangan yang lain, Steve membuka resleting celananya dan menyobek celana katun Amelia di bagian dekat pahanya.


Amelia menendangnya, Steve terpental. Amelia berusaha bangun dan lari. Namun Steve menjambak rambutnya hingga dia terlempar kembali ke tempat tumpukan kardus kosong.


Steve mengeluarkan pisau dan mengancam Amelia. Tapi Amelia tak diam, dia terus meronta melawannya. Pisau mengenai leher Amelia dan membuatnya terluka. Steve melempar pisaunya dan menyentuh luka Amelia.


Amelia kesakitan dan berhenti meronta. Steve membuka celananya dan hendak memaksakan hasratnya saat itu juga. Namun sebuah kotak kayu terlempar ke punggungnya dan membuatnya jatuh ke sisi Amelia.


Saga meraih tangan Amelia dan membawanya lari. Namun Steve yang berhasil mendapatkan pisaunya kembali berdiri dan menusuk Saga di pinggangnya. Pisau merobek pinggangnya, tapi Saga melepaskan pisaunya dan melemparnya jauh.


"SAGAA!"


Teriakan Amelia menuntun polisi menemukan mereka. Steve di tangkap oleh polisi saat berkelahi dengan Saga yang mendorongnya menjauh dari Amelia.


Peter menelpon Saga, memberitahunya bahwa Amelia pergi ke kantor kedutaan sendirian. Saga tahu dan merasa Amelia tak mau merepotkannya. Tapi Peter mengingatkan Saga dengan kejadian sebelumnya. Dia takut Steve datang mengganggunya lagi.


Saga yang baru datang menggunakan taksi melihatnya dari kejauhan, sudah berjalan ke arah pertokoan. Dari kejauhan dia melihat seorang pria mengikuti Amelia. Saga menelpon petugas dan kehilangan Amelia dalam beberapa detik.


Dia mulai berlari dan melihat Steve sedang menindihnya. Dia melempar kotak kayu ke arahnya untuk menghentikan perbuatannya.


Amelia memegang tangan Saga yang sedang diobati perutnya, dengan penuh rasa khawatir. Saga memperhatikan leher Amelia yang terluka cukup panjang, dia juga melihat celananya robek.


"Hanya merobek sisi pinggang. Dia sudah bisa pulang" ucap Dokter.


Saga hendak meminta perawat untuk memeriksanya juga. Tapi Amelia menahannya.


"Aku baik-baik saja, jika aku diperiksa, kita akan lebih lama di sini. Kasihan Dama" bisik Amelia.


Saga menatapnya, dia menyembunyikan luka di lehernya dengan jaketnya. Kemudian seorang perawat menawarkan celananya untuk dipakai Amelia. Dia mengambilnya dan menggantinya di kamar kecil. Dia juga mengusap darah yang keluar dari lehernya dengan meringis dan menutupinya kembali dengan kerah jaketnya.


Saga berdiri menatapnya saat keluar dari kamar mandi. Amelia tersenyum dan mendekat padanya.

__ADS_1


"Aku sudah mengambil obatnya, kita bisa langsung pulang" ucap Saga.


Amelia mengangguk, dia meraih tangan Saga untuk dikaitkannya di lehernya. Saga menurut, mereka keluar dari rumah sakit dan pamit pada suster yang memberikan celananya.


Saga menahan rasa sakitnya dan duduk di kursi taksi. Amelia masuk ke sisi lain mobil. Mereka pergi memakai taksi. Amelia menatap wajahnya, mengingat saat dia melihat jelas pisau ditusukkan ke perutnya.


Amelia mengalihkan pandangannya saat air matanya menetes. Saga melihatnya, dia memegang tangan Amelia.


"Lukanya pasti perih kan?" tanya Saga.


Amelia menyentuh luka di lehernya. Dia menggelengkan kepalanya.


"Rasa sakitnya tidak sebesar apa yang kamu rasakan" jawab Amelia.


Saga tertegun menatap tangannya yang memegang tangan Amelia.


"Apa ini karena kamu dengar ucapan Bude kemarin padaku?" tanya Saga yang masih menundukkan pandangannya.


"Ya, salah satunya" jawab Amelia menatap wajahnya.


"Aku tahu kamu paham maksud Bude. Aku hanya mau tahu alasan lainnya" tatap Saga.


Amelia mengalihkan pandangannya. Dia tahu dan sadar bahwa Saga berharap lebih dari kedekatan mereka. Dia sudah mengetahui itu sejak awal. Saga pun sudah tahu Amelia tak mudah menerima. Namun ada satu hal yang belum dia beritahu pada Saga karena itu privasinya. Namun hari ini, Saga sudah memberikan segalanya padanya. Bahkan nyawanya, Amelia berpikir untuk mengatakannya agar dia bisa berpikir kembali untuk memilih tetap bersamanya atau tidak.


Saga mempererat pegangan tangannya. Amelia menatapnya.


"Aku akan bersamamu, selamanya" ucap Saga.


Amelia tak menyangka Saga akan mengatakan itu. Dia menangis, Saga menempatkan kepalanya di bahu Amelia.


Sampai di rumah, Gendis menangis melihat keadaan Saga. Pakaiannya berlumuran darah. Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Saga melebarkan tangan meminta pelukan Gendis.


Gendis memukulnya dengan pelan. Dia mendelik pada Amelia kesal karena keadaan keponakannya. Peter yang menggendong Dama menatap Amelia yang meraih Dama darinya.


Peter melihat luka di leher Amelia, dia hendak bicara. Namun Amelia menahan tangannya untuk tidak mengatakan apapun dan berisyarat bahwa lukanya tak dalam dengan mulutnya.


Peter menatap Gendis yang hanya memperhatikan Saga. Sama saat dia memperlakukan anaknya dulu dan mengabaikan Saga.


Amelia ke kamarnya untuk berganti pakaian dan kembali ke dapur. Dia membawakan Saga makanan dan minum. Gendis membiarkannya masuk karena membawa makanan. Tapi dia hendak meminta Amelia kembali pergi.

__ADS_1


Peter yang menggendong Dama, langsung menarik lengan Gendis dan membawanya keluar. Dia menolak, namun Peter membulatkan matanya padanya. Gendis menurut dan pergi.


Saga makan dan minum, Amelia menunggunya untuk memberinya obat.


"Ini akan mengurangi rasa sakitnya. Kau bisa tidur dengan nyenyak" ucap Amelia sambil membuka satu persatu obatnya.


Saga menyentuh luka Amelia di lehernya. Amelia merasakan seolah tubuhnya tersengat listrik. Dia terdiam saat hendak meraih gelas di meja. Saga mengambil salep luka dan membubuhinya. Dia menyentuh dengan pelan dan lembut. Amelia sedikit meringis merasakan sakit.


"Salep ini sangat ampuh untuk luka. Jika kamu memakainya rutin, bekas lukanya juga akan tersamarkan" ucapnya.


Saga memberikannya langsung ke tangan Amelia. Dia mengambil gelas dan obat kemudian meminumnya.


"Sudah, aku sudah minum obatnya. Kau bisa tenang sekarang kan?" ucap Saga yang melihat kerut di dahi Amelia memudar saat Saga yang biasanya sulit minum obat kini mau melakukannya.


Amelia tersenyum, dia membantu Saga berbaring dan merapikan selimutnya.


"Senangnya mendapatkan perhatian darimu" bisik Saga.


Amelia pergi keluar, Gendis langsung meraih tangannya dan menyuruhnya duduk. Amelia terkejut, dia mengira Gendis akan memarahinya. Tapi Gendis bukan tipe wanita yang senang memarahi.


Gendis mengangkat dagu Amelia untuk melihat lukanya.


"Sudah diberi salep? Saga yang melakukannya?" Gendis bertanya.


Dia menghela keras.


"Huhhfff, kalian benar-benar keras kepala" keluh Gendis.


Dia mengambil makanan untuk Amelia makan sambil mengomel.


"Kau keras kepala karena hanya mau pergi sendiri ke kedutaan. Dan Saga yang keras kepala dengan perasaan bertepuk sebelah tangannya" ucap Gendis di depan Amelia.


Amelia menyantap suap demi suap makanannya.


"Dia tidak bertepuk sebelah tangan sekarang" gumam Amelia sambil mengunyah.


Mata Gendis membulat mendengar perkataannya. Dia menatap Amelia memastikan yang dia katakan. Amelia menundukkan pandangannya karena malu mengatakannya.


"Awas saja kalau kamu nyakitin Saga, aku yang akan memukul mu dengan penggorengan" ucap Gendis.

__ADS_1


Peter yang mendengarnya tersenyum, dia tahu istrinya terlalu khawatir pada Saga. Amelia melanjutkan makanannya tanpa bicara lagi.


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2