CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
113


__ADS_3

Oma Mira senang melihat semua orang makan bersama di meja makan pagi itu. Matanya menatap haru pada harmonisnya hubungan anak dan cucu-cucunya.


Davin menyuapi Bella yang memaksa ingin bergabung dengan yang lainnya untuk sarapan, meski menunya berbeda dengan yang lainnya.


Saga yang membantu Amelia menyuapi Dama. Maria melayani Harris dengan senyum penuh di bibirnya.


Vania yang menyajikan makanan untuk Gala dan Zidan. Tak lupa, Veni yang ikut menatap semua keharmonisan itu dengan mata yang penuh keraguan.


"Kenapa? " tanya Oma Mira berbisik.


Veni melirik.


"Kau tidak suka melihat keluarga ku bahagia seperti ini? Kau cemburu, karena kau sendiri sekarang? Makanya, cepet nikah lagi! " Oma menggodanya.


"Nyonyaa....! " keluh Vina.


Oma tersenyum lebar.


***


Zidan langsung mengadakan rapat kecil bersama orang-orang yang memiliki saham lebih besar dari yang lainnya.


Dia duduk menatap mereka semuanya dan siap untuk memimpin rapat hari itu.


Namun pertemuan kali ini, Gala tak mengetahuinya dan langsung datang untuk menghentikannya.


Gala membuka pintu ruangan Zidan. Semua orang menatap ke arahnya.


"Silahkan anda semua keluar" seru Gala dengan tangan menunjuk ke arah pintu.


Semuanya bergerak keluar, Gala membungkukan tubuhnya sambil bergumam.


"Maafkan tindakan anak saya yang lancang"


Zidan marah besar dia datang dan membusungkan dadanya di hadapan Gala.


"Paaah! " teriak Zidan.


"APA? " Gala pun membusungkan dadanya, tak takut dengan anaknya yang menantang.


"Papah udah bikin aku lebih kecil dan tak ada pengaruhnya di hadapan mereka! " keluh Zidan dengan kesal.


"Bukan begini caranya" jawab Gala santai.


"Lalu seperti apa?" Zidan menendang kursinya.


"Kendalikan dirimu, kau akan mendapatkan masalah jika Harris tahu kau mengumpulkan sebagian besar pemegang saham di ruangan mu. Kantor ini masih miliknya" jelas Gala.


Zidan tak berpaling, meski dia baru menyadari tindakannya.


"Susah payah aku menghasut Saga untuk mau mengambil alih perusahaan, kau mau menghancurkannya begitu saja? " lanjut Gala.


Zidan menghela keras.


"Kau tidak percaya pada ku kalau semua ini akhirnya untuk mu? " Gala menarik bahu Zidan.


Zidan masih menghindari tatapan mata ayahnya.


"Aku sudah senang kau sudah tak terlibat dengan istri Davin. Aku ingin kau melakukan semua yang aku rencanakan. Ikuti alur yang aku bentuk, tidak usah bersusah payah menunjukkan diri mu. Pada akhirnya kau yang akan memegang semuanya"

__ADS_1


Gala meyakinkan Zidan yang masih terus menghindarinya.


"Temui paman mu, tadi dia meminta mu untuk melihat pabrik bersama Alex. Jangan mencoba hal macam-macam lain lagi. Terutama di depan Alex, dia punya mata elang, dia juga punya cara lain selain mengadukannya secara langsung pada Harris tentang kecurangan kita. Kau mengerti? " Gala menepuk bahunya.


Zidan mengangguk kemudian keluar dari ruangannya.


Gala menghela, dia duduk di tempat Zidan dan mencari hal yang dia perlukan.


***


Saga mengajak Amelia dan Dama ke taman dekat dengan rumah Ghani. Dia menuntun Dama berjalan lebih dulu dan Amelia mengikutinya di belakang.


"Ayo cepat maaa, Dama mau main di perosotannya" seru Saga pada Amelia yang tersenyum menatapnya.


"Iyaaaa! "


Amelia menyusul mereka.


"Sini maaa, Dama mau main perosotan nih! " ajak Saga.


Saga meminta tangan Amelia yang jaraknya sudah mulai dekat.


"Kau lambat! " keluh Saga dengan sedikit senyum manisnya.


"Kalian yang jalannya terlalu cepat" jawab Amelia.


"Sampaiiii! " seru Saga.


Amelia menggelar karpet kecil untuk menata makanan kecil yang mereka bawa. Saga dan Dama bermain bersama di dekatnya.


Setelah lelah bermain, Saga mengajak Dama untuk minum dan istirahat. Amelia menyambutnya dan Dama pun duduk di pangkuannya.


Dama minum perlahan seraya menatap Saga yang senang menatapnya.


"Aku juga lelah" Saga bersikap manja.


"Sini minum dulu" pinta Amelia sembari menyerahkan botol minum untuknya.


"Ahhhrggg, senangnya bisa bermain dengan kalian! " seru Saga.


"Aku juga sangat senang" ucap Amelia.


Saga menatapnya.


"Kau pasti merasa khawatir saat aku menjauh" ucap Saga.


"Tidak, aku hanya ... "


Saga menunggunya bicara. Dama pergi ke sisi Saga dan mengajaknya makan buah kesukaannya.


"Oh ya, ini papa makan" ucap Saga.


"Aku kira kau menyesal" lanjut Amelia.


Saga terdiam kemudian menoleh pada Amelia yang mengalihkan pandangannya dan berpura-pura merapikan tasnya.


Saga mendekat seraya menggendong Dama. Tangannya memeluk Amelia kemudian mencium bahunya.


"Maafkan aku, aku berjanji, takkan ku biarkan sedikitpun celah untuk mu berburuk sangka seperti itu lagi" bisik Saga.

__ADS_1


Bening mengembang di kelopak mata Amelia, namun tak dia biarkan terjatuh. Dia memeluk Saga dan Dama kemudian tersenyum bahagia.


***


Bella duduk seraya menyandarkan tubuhnya ke dada Davin. Mereka duduk di balkon, memakai kaca mata hitam di bawah langit sore itu.


"Apa tidak terlalu panas untuk mu? " tanya Davin.


"Tidak, aku tidak apa-apa" jawab Bella.


"Benar? " Davin tak yakin.


Dia takut Bella pingsan atau sakit lagi.


"Benaaar, aku senang sekali. Meskipun tak bisa ikut bersama Dama ke taman, tapi aku senang bersama mu di sini" jelas Bella.


Dia berbalik dan tersenyum pada Davin.


"Terimakasih! " ucapnya.


Davin tersenyum, kemudian tangannya mengusap kepala Bella setelah dia bersandar kembali.


'Aku juga mau ikut, aku mau melihat Amelia dan Dama tersenyum lagi. Dia sangat senang saat ka Saga dekat lagi dengannya' ucap hati Davin.


"Kau belum bisa melupakan Amelia? " tanya Bella.


Mata Davin membelalak, dia merasa Bella mendengar isi hatinya.


"Kau ini bicara apa? " Davin gugup.


"Aku tahu itu, dia cinta dalam hidup mu, mana mungkin semudah itu kau bisa melupakannya" Bella duduk dan menatapnya.


Davin ikut duduk dan merapikan diri.


"Maafkan aku, aku sudah berusaha" jawab Davin.


"Tapi kau adalah cinta dalam hidup ku. Sejak kecil hingga sekarang, aku tidak bisa melupakan perasaan ku padamu. Ya, mungkin aku memaksakan diri masuk ke dalam hidup mu, tapi aku yakin suatu hari nanti kamu akan mengerti itu kan? " Bella menyentuh wajah Davin.


Davin menatap mata Bella yang mengarah ke bibirnya. Dia tahu Bella akan menciumnya.


Benar saja, Bella mendekatkan wajahnya. Davin berusaha untuk diam saja, walaupun hatinya ingin menolak.


Sampai pada saat bibir mereka hendak bersentuhan, Bella mundur dan kembali duduk menatap ke arah lain.


Davin menelan salivanya, lega Bela tak jadi menciumnya.


"Maaf, aku memaksakan keinginan ku lagi" ucap Bella.


Davin menghela cukup keras.


"Aku juga minta maaf karena aku memang belum siap" jawab Davin.


Bella menundukkan kepalanya.


"Terimakasih untuk tidak langsung mencium ku tadi" ucap Davin.


"Ya, terimakasih juga kau tidak mendorong ku seperti biasanya" ucap Bella sembari tersenyum.


Davin tersenyum melihat Bella kembali tersenyum. Bella kembali menyandarkan kepalanya di dada Davin. Mereka melanjutkan akhir sore mereka melihat matahari terbenam.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2