
Maria masuk ke mobil namun dia berdiam diri sejenak memutuskan untuk ke cafe dimana Ayu katakan.
Sampai di cafe, Maria meraba seluruh meja, namun tak ada Harris di sana.
"Sialan, Ayu sudah membuatku terlihat bodoh. Dia pasti menyembunyikan Harris tadi" kesal Maria.
Saat Maria hendak pergi, seorang penyanyi yang memandu di sana berseru memanggil nama Maria.
"Selamat datang di cafe Maria! " serunya.
Maria menoleh dengan mata membulat karena terkejut. Dia baru sadar dan membaca nama dari cafe itu.
Kemudian penyanyi itu menyanyikan sebuah lagu, yang pernah Harris dan Maria dengarkan saat dia mulai dekat dengannya.
Maria tertegun cukup lama, kemudian Harris keluar dari dapur dan menyuruh mereka menyiapkan kopi untuknya.
Saat sampai di sebuah meja, mata mereka berdua beradu. Harris tak jadi menggeser kursi dan diam menatap Maria.
Maria masih diam mencerna semua yang dia saksikan. Tapi dia tak bisa berpikir, merasa heran dengan apa maksud Harris melakukan ini. Maria berbalik dan hendak pergi.
Harris menyusul dan bisa meraih lengannya.
"Tunggu! " seru Harris.
Maria tak berbalik, dia tak mampu menatap Harris.
"Kamu ke rumah Ayu? " tanya Harris.
Baru di sini Maria berbalik dan menatapnya.
"Aku sedang penasaran dengan apa yang kau lakukan di sini, masihkah kau harus membicarakan wanita itu? " Maria kesal.
"Karena hanya dia yang tahu tentang ini, dan dia juga yang berjanji akan mengatakan ini jika kamu ke sana" jelas Harris.
Maria menghela, dia menepis tangan Harris.
"Apa ini semua? Kenapa mengelola sebuah cafe di mall milik teman mu? " tanya Maria.
"Karena jika di mall Narendra, kau akan tahu" jawab Harris.
"Ini.... "
"Ya, aku hanya ingin begini. Mengelola sebuah cafe dan bernyanyi di sana. Hal sederhana yang akan Oma tentang meskipun aku hanya ingin melakukannya" ucap Harris.
"Kau melepaskan jabatan mu untuk Saga dan ingin melakukan ini? Yang benar saja Harris" ucap Maria.
"Ini yang tidak aku suka, aku tidak melepaskan kantor demi siapapun. Kalau bisa, mereka bisa lakukan bersama. Jangan seperti aku dan Gala yang seolah bukan adik dan kakak"
"Kalian memang bukan kakak beradik"
"Maria.... Aku lelah jika harus menyederhanakan makna sebuah hubungan keluarga, tolong" bening mengembang di kelopak mata Harris.
Maria tak pernah mendengar suara parau yang seolah hendak menangis itu. Dia pun diam dan kembali merasa sedikit senang karena nama cafe yang dia lihat adalah namanya.
"Lalu... kenapa namanya.... " tanya Maria.
"Entahlah, aku suka nama mu, terutama semenjak kau melahirkan Davin" ucap Harris.
Maria mengalihkan pandangannya, berusaha untuk tak terlihat tersipu karena alasan Harris.
"Aku tidak berharap kau paham perasaan ku, kau juga mungkin sudah muak padaku. Tapi... percayalah, aku tidak pernah sekalipun menginap di rumahnya. Aku benar-benar melupakannya setelah bercerai" jelas Harris.
__ADS_1
Maria tak merespon, tapi hatinya begitu merasa terobati. Dia juga merasa malu karena selama ini selalu berburuk sangka terhadapnya.
***
Maria meminum minumannya di bar, tak ada siapapun di sana. Merasakan rasa lega dan senang karena ternyata suaminya tak pernah berpaling ke hati yang lain. Tapi merasa tak pantas karena begitu buruk memperlakukannya.
'Aku harus bagaimana? Sekarang aku akan merasa senang dia tidur di samping ku, rasa kesal itu hilang, berubah menjadi rasa ingin memilikinya. Tapi aku tak mau terlihat sangat membutuhkan cintanya'
Maria dilema dengan rasa gengsinya menerima kembali Harris ke pelukannya. Dia mulai mabuk dan menepuk jidatnya sendiri.
"Aku memang bodoh! " gumamnya.
Harris memperhatikannya sejak tadi, tapi diam diam dan sesekali menertawakannya.
"Ahhh, bagaimana aku bisa tidur di sampingnya lagi! " gumamnya lagi.
Harris mengangkat alisnya.
"Aku malu sekali! " Maria semakin meracau.
Harris tersenyum lagi. Kemudian dia mendekat dan meraih lengannya.
"Kau harus ke kamar, nanti anak-anak lihat. Mereka tak boleh mencontoh perlaku mu ini" ucap Harris.
Maria menatap wajah Harris, kemudian tersenyum.
"Kau... " ucap Maria.
"Hmmm! " jawab Harris singkat.
"Kenapa? " tanya Maria.
"Aku.... "
Harris membuka pintu dan memapah Maria perlahan.
"Kenapa aku yang kau pilih? " tanya Maria.
Harris diam saja sampai dia membaringkan Maria di ranjang. Dengan lembut dia juga menyelimutinya.
"Kenapa kau tidak memilih dia? " Maria terus bicara.
Tapi Harris diam. Dia meninggalkan Maria di kamarnya menuju ruang kerjanya.
Harris duduk dan menatap berkas yang dibungkus map berwarna kuning di hadapannya.
Teringat ucapannya yang akhirnya mengatakan akan bercerai dengan Maria. Dia langsung mengajukan gugatan cerai ke pengacara. Berkasnya pun langsung dikirimkan ke rumah sebelum mereka kembali.
Suara pintu membuyarkan lamunannya. Amelia datang setelah dia meninabobokan Dama.
"Masuk! " seru Harris.
"Mba Minah bilang, anda.... " Amelia menunjuk ke arah luar.
"Ya,duduklah! " pinta Harris dengan sopan dan membuat Amelia merasa dihormati.
Amelia duduk perlahan dan sedikit canggung.
"Kau tadi menerima ini bukan? " tanya Harris.
"Iya Pak! " jawab Amelia.
__ADS_1
"Kau tahu isinya? " tanya Harris.
Amelia menggelengkan kepalanya.
"Ini surat cerai ku dengan Maria" jawab Harris.
Amelia menelan salivanya, matanya membulat karena terkejut.
"Aku dan Maria akan bercerai, tapi aku mohon.... "
"Nyonya terkena serangan jantung ringan tadi siang" Amelia menyela ucapan Harris.
Harris terdiam.
"Setelah kalian pergi aku menemukannya tergeletak di lantai di ruang baca" jelas Amelia.
"Kenapa... "
"Hanya karena Bu Ayu datang memohon padanya untuk tidak mengganggu Saga dan aku, dia terjatuh dan lemas" lanjut Amelia.
Harris mendengarkan.
"Aku tidak tahu apa yang terjadi di rumah ini, aku juga tidak tahu betapa anda merasakan sulitnya membina rumah tangga anda. Tapi aku hanya berpikir bahwa nyonya besar adalah orang tua satu-satunya yang masih hidup dan perlu bahagia melihat kehidupan yang anak cucunya jalani. Bisakah anda menahannya selama dia bisa bertahan melawan umurnya?" suara Amelia parau.
Harris benar-benar bungkam dengan pertanyaan Amelia.
"Maaf jika saya terlalu lancang Pak, tapi... "
Amelia merubah cara bicaranya, kembali formal.
"Ibu pasti meminta mu untuk tak memberi tahu kami" ucap Harris.
"Ya, beliau minta seperti itu agar kalian tak terganggu" jawab Amelia.
"Dia akan lebih terluka jika tahu kami sangat menderita menjalani kehidupan di rumah ini..."
"Dia bisa menahan dan melawan takdir untuk membuat kalian tak merasa khawatir tentang dirinya. Hufft, ternyata benar, kasih ibu takkan pernah bisa kita balas" ucap Amelia.
Harris terdiam.
"Rumah adalah tempat kembali bagi semua anggota keluarga yang pergi. Tempat benaung yang paling dan harus bisa diandalkan. Betapapun berat tinggal di sana, kita harus kembali ke rumah. Kau harus bisa merubah suasana rumah ini, bukan malah meninggalkannya" ucap Amelia.
"Bicara mudah Nak, kau tidak tahu situasinya" ucap Harris.
Amelia menghela.
"Nyonya juga bersikap seperti itu, tapi dia sangat hebat masih bisa mempertahankan kalian yang sudah sangat menyerah" ucap Amelia sambil sedikit tertawa.
Harris menghela.
"Setidaknya.... "
Amelia berhenti bicara dan menelan salivanya.
"Maaf kalau saya teralu lancang Pak" Amelia menunduk.
"Tidak, kau satu-satunya orang bisa aku ajak bicara sekarang. Terimakasih" ucap Harris.
Amelia pergi dari ruang kerja Harris setelah selesai bicara. Dia kembali ke kamarnya tanpa membuat suara yang bisa membangunkan seseorang lainnya.
\=\=\=\=\=\=>
__ADS_1