CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
72


__ADS_3

Bella berkemas, dia tak mau pergi tapi harus. Davin juga ikut mengemasi barangnya. Tak banyak yang dia bawa, hanya pakaian yang biasa dia pakai ke kantor. Beberapa ditinggalkan bersama pakaian Bella di lemarinya.


Beberapa saat kemudian, pelayan mengetuk pintu dengan tergesa.


"Non! Non Bella! " seru pelayan dengan nada suara panik.


Bella membuka pintu dengan memasang wajah kesal.


"Ada apa?" tanyanya ketus.


"Tuan besar, Non! Tuan Besar.... " jawabnya panik dan menunjuk ke arah kamar ayahnya.


Davin datang dan berdiri di belakang Bella.


"Ayah kenapa? " tanya Bella.


Pelayan itu tak bisa menjelaskan, dia menarik tangan Bella dan mengajaknya langsung ke kamar. Davin mengikuti dari belakang.


Bella terduduk lemas saat dia melihat ayahnya terlukai duduk di kursi. Ibunya menangis duduk di hadapan Wahyu yang sudah tak bernyawa.


Davin membeku diambang pintu. Baru saja dia mendengar semua permintaan Wahyu tentang Bella.


~Astaga, jadi semua itu adalah permintaan terakhirnya~ ucap hati Davin.


Mata Davin melihat ke arah Bella yang menangis di lantai, sama halnya dengan ibu mertuanya.


***


Dama sudah siap menyambut kedatangan Davin. Dia sudah rapi dan wangi. Amelia mendandaninya dengan baik.


Alex memperhatikan mereka dari arah dapur. Tak berapa lama, telponnya berdering.


"Kau sudah di jalan? Dama.... "


Belum selesai Alex mengatakan semua yang ingin dia sampaikan. Davin sudah menyelanya.


"Ayah Bella meninggal, katakan kabar ini pada seluruh keluarga" ucap Davin pelan.


Dia menutup kembali telponnya dan mematikan ponselnya. Sementara Alex menatap ke arah Amelia yang sedang terus mengusap rambut Dama.


Alex pergi ke kamar Oma Mira dan mengetuk pintu dengan perlahan.


"Masuk! " seru Oma dari dalam.


Alex masuk dan menunduk.


"Kenapa? " tanya Oma yang sedang memegang buku di tangannya.


"Oma, ayah Bella, besan kita. Beliau meninggal" ucap Alex.


Oma Mira berdiri karena terkejut.


"Siapkan mobil untuk semua orang" ucap Oma.


Dia menaruh bukunya dan berjalan ke lemari.


"Baik Oma" jawab Alex.


"Tunggu! Tidak untuk Amelia" ucap Oma menunjuk pada Alex.


Alex menunduk, kemudian pergi ke dapur untuk memberitahu Maria.


Sampai di dapur, Maria sudah hendak berlari menuju kamarnya.

__ADS_1


"Siapkan mobil, cepat! " seru Maria.


"Baik Bu! " jawab Alex.


Tapi sebelum Alex pergi, Minah menarik tangannya.


"Ada apa? " tanya Minah.


"Besan mereka meninggal, ayahnya Bella" jawab Alex dengan kerut di dahinya.


"Innalillahi! " seru Minah.


"Mba kasih tahu Amelia ya, aku harus nyiapin mobil, sekalian kasih kabar ke Pak Harris" pinta Alex.


"Ok!" jawab Minah seraya mengangguk.


Minah pergi ke arah ruang bermain Dama. Amelia masih mengajak Dama bermain. Minah mendekat dengan perlahan.


"Besan nya Den Davin meninggal" bisik Minah di dekat Amelia.


Amelia terdiam kemudian menoleh.


"Innalillahi" ucap Amelia.


Matanya beralih pada Dama. Amelia mendekat pada Dama dan memeluknya. Dia mengusap kepala Dama kemudian mencium keningnya.


~Aku tidak perlu mengatakan apapun, Dama akan lupa bahwa dia sedang menunggu papanya~ ucap hati Amelia.


Minah menatap mereka.


~Kasian, mereka menunggu kedatangan Davin, tapi malah ada musibah yang bikin Davin tidak bisa pulang~ ucap hati Minah.


***


Meskipun baru saja kabar buruk itu tersebar, rumah Bella sudah dipenuhi kerabat dan para tetangga yang turut berduka cita.


Davin sibuk menyiapkan pemakaman seraya memperhatikan Bella dan ibunya yang masih menangis di dekat jenazah.


Masih terngiang ucapan Wahyu sebelum kepergiannya.


~Berat Pak, kau tahu bahwa Bella bukan cinta dalam hidupku, tapi kau meminta aku untuk tetap bersamanya~ ucap hati Davin.


Davin menunduk, tangannya terus bersalaman dengan para pelayat meski hatinya tak berada di sana.


***


Oma Mira dan Maria bergegas berjalan menuju mobil yang sudah siap. Amelia juga berjalan menggendong Dama. Namun langkahnya dihentikan Maria.


"Mau kemana? " tanya Maria.


"Saya.... " Amelia tergagap.


"Jangan pernah berpikir kami akan mengajak kamu ke rumah Bella, jangan pernah berpikir kalau kamu punya hak untuk itu" ucap Maria.


Amelia diam tak berkutik. Dia menelan salivanya mendengar peringatan dari Maria.


"MINNAAAHHH! " teriak Maria.


Minah berlari menghampiri.


"Iya Nyonya! " jawab Minah.


"Katakan padanya apa yang harus dia lakukan selama kami tidak ada" ucap Maria.

__ADS_1


Minah membulatkan matanya tak mengerti dengan apa yang dikatakan Nyonya nya.


"Apa yang harus dilakukan kalangan seperti kalian saat menunggu majikan pergi" lanjut Maria dengan mata menatap seluruh wajah Amelia.


Minah menatap Amelia yang menunduk. Pandangannya beralih pada Maria yang pergi begitu saja.


"Astaga, dia semakin jahat saja saat bicara" gumam Minah.


Amelia berbalik, dia membawa Dama masuk. Dia menahan sesak di dadanya.


~Astaga, aku yang salah. Seharusnya aku tidak berpikir untuk ikut melayat ke rumah Bella. Mereka benar, aku bukan siapa-siapa~ ucap hati Amelia mengobati rasa sakit di hatinya.


Minah yang menyusul berhenti berjalan saat melihat Amelia mengusap dadanya.


"Mama! " seru Dama.


Amelia melepas gendongannya saat dia mengusap dadanya tadi. Dama menarik bajunya dan minta digendong lagi. Amelia menatapnya dan kembali meraihnya.


"Iya sayang, ini mama nya Dama" jawab Amelia dengan senyum yang mengembang.


Minah menghela, dia merasa kasihan melihat Amelia. Tapi dia juga tak bisa berbuat banyak.


***


Oma Mira dan Maria datang, Harris dan Zidan juga sampai di waktu yang berselang sebentar. Davin melihatnya dan menyambut kedatangan Omanya.


"Oma turut berduka cita, mana Veni dan Bella? " tanya Oma Mira.


"Terimakasih Oma, mereka masih di dalam" jawab Davin.


Maria memeluk Davin setelah Oma Mira berlalu.


"Kau harus menjaga Bella, dia sangat membutuhkan mu" bisik Maria.


"Bu, please! " jawab Davin.


Mata Maria membulat memaksa Davin mendengarkan nya.


Davin mendelik, dia menyambut Alex yang hendak memeluk nya.


"Aku turut berduka bro" bisik Alex


"Makasih. Amelia dan Dama, dimana? " tanya Davin.


Alex diam menatap ke arah Maria. Dia mengingat ucapan kasar Maria saat hendak pergi tadi.


"Nggak ikut, kasihan nanti kerepotan, Dama masih kecil takutnya rewel" ucap Alex.


"Iya, bener juga. Dia juga nggak boleh sedih, nanti ASI nya nggak keluar" ucap Davin setuju.


Alex menunduk, dia senang Davin mengerti.


~Semoga apa yang diucapkan Bu Maria tak sampai ke telinga Davin~ ucap Alex.


Harris dan Zidan menghampiri, mereka mengucapkan bela sungkawa dan berdiri di dekat Davin setelah mendoakan jenazah.


Tak ada obrolan yang berarti, Davin berusaha menahan diri untuk tak menghindar dari Harris dan Zidan yang sangat tidak membuatnya nyaman untuk berdekatan.


Davin yang ingin menanyakan kabar Amelia dan Dama pun, menahan diri karena takut terdengar oleh ibu dan Oma nya.


Sementara Alex terus berkirim pesan dengan Minah menanyakan kabar Amelia.


\=\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2