CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
36


__ADS_3

Makan siang yang sudah direncanakan, akhirnya tiba. Oma Mira menyiapkan semuanya dengan sempurna. Semua menu yang disajikan adalah masakan kesukaan Saga.


Alex datang dengan tergesa, dia hendak memberikan kabar.


"Ada apa? Kau seperti anak kecil saja, berlarian seperti itu?" ucap Oma Mira kesal.


"Saga tidak jadi ke sini..." ucap Alex terengah dan belum selesai untuk menarik nafas.


"APA!" teriak Oma Mira.


Gala dan Vania yang baru datang menatap Oma Mira dengan heran karena teriakannya.


"Nggak jadi hari ini Ommaaa!" lanjut Alex memaksakan nafasnya.


"Ihhh, anak ini, kalau ngasih info setengah-setengah" ucap Oma sambil memukul lengan Alex.


Gala dan Vania saling bertukar pandang, mereka heran dengan sikap Oma Mira yang memperlakukan Alex seperti cucunya sendiri. Tapi tidak sama terhadap Zidan anak mereka.


"Aku kan masih ngambil nafas Omaaa!" ucap Alex meringis karena pukulan Oma cukup keras.


"Waah, buang-buang waktu kita datang lebih cepat begini" ucap Vania.


Oma Mira menoleh, dia menatap menantunya itu dengan kesal. Kemudian dia meminta Alex untuk membawanya ke kamar. Mereka meninggalkan Gala dan Vania di dekat ruang makan dengan wajah yang kesal karena diabaikan.


###


Saga membawa Amelia ke sebuah hotel dekat kantor. Dia tak langsung membawanya ke rumah, karena memang tak berencana untuk tinggal lama. Mereka akan kembali ke Montreuill setelah memastikan Oma Mira baik-baik saja.


Saga melihat Amelia yang sedang menatap jendela yang memperlihatkan indahnya kota di malam hari. Dia sedang menatap ke arah tempat tinggalnya, yang memang tak jauh dari sana.


Saga mendekat dan mengambil Dama dari tangannya. Amelia menatap wajah Saga yang sangat dekat dengannya.


"Apa yang sedang kamu pikirkan? Dama dari tadi sudah tidur" ucap Saga.


Mata Amelia beralih pada Dama yang manis tertidur di pangkuan Saga yang berjalan ke ranjang untuk menidurkannya.


"Dia lucu sekali, aku sangat menyayanginya" ucap Saga.


Amelia tersenyum, tapi pikirannya masih mengingat keluarganya. Apa yang dilakukan ayahnya sekarang? Apa ibunya masih mengingatnya? Apa kakaknya Hana masih tinggal di sana?


Banyak pertanyaan yang ingin dia ketahui dari keluarganya. Hampir dua tahun dia pergi dari rumah. Bertahan hidup sendiri, mengandung dan melahirkan hanya ditemani orang lain.

__ADS_1


Amelia menatap Dama, dia juga bertanya dalam pikirannya. Apa keluarganya akan merasa senang saat melihat Dama?


Saga memperhatikan wajah Amelia yang makin murung.


"Kau ini kenapa?" tanya Saga.


Dia mendekat dan menyentuh tangan Amelia.


"Tidak, hanya saja aku bisa melihat daerah rumah ku dari sini" jawab Amelia.


Saga menatap jendela, kemudian beralih pada Amelia yang memegang tangan Dama.


"Kau mau melihat keluarga mu?" tanya Saga.


Amelia menatap Saga karena terkejut.


"Kita bisa ke sana sebelum menemui Oma" lanjut Saga.


"Tidak, tidak usah. Mereka juga pasti tidak akan senang saat melihat ku" ucap Amelia tersenyum namun terlihat sedih memikirkannya.


"Sayang, dengar"


Saga meraih tangan Amelia dan memintanya duduk di sofa bersamanya.


Amelia tersenyum menatap wajah pria yang sangat menyayanginya itu. Pria yang tetap bertahan meski dan menerima keadaan Amelia apapun adanya.


"Tidak, aku rasa tidak sekarang. Kita kembali kemari untuk menjenguk nenek kamu, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di rumah mu nanti. Aku tidak mau mengganggu momen kembalinya kamu ke rumah. Kita kan cuma dua hari di sini" Amelia menjelaskan alasannya.


Saga tersenyum, kemudian menyandarkan tubuh Amelia ke pelukannya.


~Kamu masih merasa bersalah, aku tahu itu. Kamu juga masih takut melihat reaksi mereka bertemu Dama~ ucap hati Saga menebak.


"Baiklah, apapun kapanpun, kamu mau atau tidak mau, aku akan tetap mendukung mu" ucap Saga sambil mengusap punggung Amelia.


###


"Tidak Oma, aku benar-benar baru sampai" ucap Saga di balkon hotel.


Amelia mendengarnya dari dalam.


"Kalau begitu Oma suruh supir jemput kamu ya!" ucap Oma Mira.

__ADS_1


"Nggak Oma, nggak usah. Kami sudah di hotel, kami akan ke rumah besok pagi saja, kasihan Dama kelelahan di perjalanan" ucap Saga menolak.


"Hotel? Kamu nggak akan pulang?" Oma Mira memulai aktingnya.


Saga menelan salivanya karena sudah merasa mengecewakan Omanya.


"Aku sudah memutuskan untuk menjenguk Oma saja. Lusa kami pulang ke Montreuill lagi Oma" jelas Saga.


Oma Mira berpura-pura batuk. Dia juga terisak seolah menangis.


"Ya sudah, terserah Saga saja. Yang penting Oma bisa melihat kamu dan cicit Oma" ucapnya.


Dia memberikan psikologi terbalik, berharap Saga merasa bersalah dan merubah keputusan, setidaknya tinggal lebih lama.


"Baik Oma, aku tutup ya, Dama nanti bangun" pamit Saga.


Amelia mendekat dan berdiri di sampingnya.


"Kau bohong" ucap Amelia.


Saga menatap wajahnya.


"Tidak, Oma sedang berusaha agar aku mempertimbangkan untuk kembali ke rumah atau setidaknya tinggal lebih lama"


Saga sudah sangat paham dengan sifat Omanya. Tapi Amelia tidak paham dengan ucapan Saga.


"Dulu juga seperti ini pada ibu Maria, dia juga masih dan harus tinggal di rumah itu tanpa ayah, meskipun terikat dengan ikatan pernikahan. Menjalani hidup hampa di tengah kemewahan dan tekanan yang kadang terlihat tak berbeda"


Amelia masih tak mengerti.


"Kamu nggak akan paham sampai kamu melihat sendiri keadaan rumah Oma Mira yang kacau. Keluarga Narendra Coltin yang haus akan harta dan kekuasaan. Tak ada cinta di sana, semua orang hanya bertanggung jawab untuk meneruskan keturunan dan kelangsungan keluarga Narendra Coltin. Makanya aku nggak pernah mau tinggal di sana. Aku nggak akan bawa kamu untuk tinggal di sana. Jadi, kita hanya akan menjenguk, lalu pulang"


Saga meraih tangan Amelia. Sementara itu Amelia masih tak mengerti keadaan rumah Saga. Yang dia tahu dan mengerti adalah semua orang tua hanya ingin anaknya bahagia. Apapun aturan yang di buat di rumah adalah demi kebaikan keluarganya.


"Oh ya, kalau Dama bangun kita ajak dia jalan-jalan sebentar" ajak Saga.


"Ok, aku tahu tempat yang bagus untuk makan. Makanannya enak banget. Aku sama ayah dan ibu suka ke sana dulu.."


Amelia berhenti bicara, dia mengingat kedua orang tuanya. Saga mengerti dengan diamnya, dia merencanakan sesuatu untuk membuat Amelia bisa mengobati rasa rindunya.


"Aku juga pernah pergi sama Ibu Maria dan adik tiri ku ke sebuah tempat makan yang ramah anak. Kita bisa ke sana dan bikin Dama main sepuasnya"

__ADS_1


Saga mengalihkan perasaan Amelia, kemudian mereka mengobrol sambil menunggu Dama bangun.


\=\=\=\=\=>


__ADS_2