CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
89


__ADS_3

Harris mengantar Ayu masuk mobilnya.


"Lain kali minta Cepi yang mengantar ya, jangan pergi sendiri seperti ini lagi" ucap Harris khawatir.


"Ya, terimakasih" jawab Ayu.


Ayu masuk mobil dan menyalakannya, dia melambai ke arah Amelia yang membantu Dama melambai ke arah Ayu.


"Jaga mereka, aku menyayangi mereka seperti putri dan cucu ku sendiri" ucap Ayu.


Harris menoleh ke arah mereka.


"Hmm! " angguk Harris.


Ayu pergi dari rumah Narendra. Amelia masih berdiri di taman seolah menunggu Harris kembali. Tapi Harris malah masuk ke mobil dan pergi.


Maria yang sejak tadi berdiri di dekat pintu, berlari keluar hendak menyusul Harris.


"Mau kemana dia? " tanyanya pada Amelia.


Amelia menggelengkan kepalanya.


"Apa dia akan menyusul wanita itu? " Maria panik.


Dia kembali ke dalam dan meminta Minah mengatakan pada supir untuk menyiapkan mobil untuknya.


Amelia ikut ke dalam dan memperhatikan bagaimana Maria panik, ketakutan kehilangan suaminya.


Amelia melihat Maria pergi dari rumah Narendra. Minah mendekat dan bicara


"Heuuhhh, dia berusaha terlihat acuh di depan suaminya, tapi sangat takut kehilangannya" ucap Minah.


Amelia menoleh dan menatap Minah.


"Dia pasti sangat mencintainya" jawab Amelia.


"Tentu saja, dia pria satu-satunya dalam hidupnya. Cinta dalam hidup nya" timpal Minah.


'Satu-satunya pria? Beruntung, dia hanya fokus perhatian, mencintai, takut kehilangan pada satu orang. Bahkan mungkin orang yang menyentuhnya pun hanya satu orang. Sedangkan aku? ' Amelia membandingkan dirinya.


'Tidak Amelia, kau mencintai Saga, kalian akan menikah. Menjalani kehidupan berdua, hanya Saga' Amelia bicara pada dirinya sendiri.


Mba Minah membawa Dama untuk main dengannya. Amelia kembali ke ruang baca, ingin melihat Oma Mira yang tadi cukup banyak diam saat Ayu datang.


Amelia tak melihat Oma Mira di sofanya. Dia hendak menutup pintu kembali karena berpikir Oma Mira sudah kembali ke kamarnya. Tapi saat matanya menatap ke arah lantai dekat rak buku, dia tercengang melihat kaki Oma Mira.


Amelia berlari dan melihat, Oma Mira tergeletak di lantai. Matanya masih terbuka, namun seolah kesulitan bernafas.


"Nyonya besar! " seru Amelia.


Amelia berusaha membantunya untuk duduk di sofa. Dia memijat kaki dan tangannya, membuat relaksasi agar dia tak terlalu tegang. Namun keadaan Oma tak bisa ditolong dengan hal itu.


Amelia menghubungi supir dan meminta menyiapkan mobil.


"Pak, tolong siapkan mobil dan bantu aku bawa nyonya besar ke rumah sakit" ucap Amelia panik.


"Baik Non! " jawabnya.


Tangan Oma memegang tangan Amelia yang hendak menelpon lagi.


"Jangan hubungi yang lain" ucap Oma.


Tapi Amelia tak begitu jelas mendengar, dia mendekatkan telinganya di mulut Oma. Kemudian matanya membulat.

__ADS_1


"Kenapa? " Amelia terheran.


"Kau, antar saja aku ke rumah sakit. Minta ibumu datang menjaga ku" ucap Oma.


Amelia tercengang dengan permintaan Oma Mira.


'Kenapa ibu? ' tanya hati Amelia.


Supir datang dan membantunya. Oma dibawa ke rumah sakit.


Amelia mengatakan permintaan Oma pada Minah dan Fahrul. Mereka terdiam dan menurut.


Sampai di rumah sakit, Oma ditangani dokter yang juga dia minta. Seolah tak ingin meributkan kesehatannya, Oma tak mau yang lainnya tahu tentang ini.


Saat menunggu, Hani datang dengan tergesa setelah dihubungi Amelia.


"Sayang, apa yang terjadi? " tanya Hani.


"Bu, Oma. Aku melihatnya tergeletak di ruang baca setelah Bu Ayu datang ke rumah" jelas Amelia.


"Bu Ayu datang ke rumah? " Hani terkejut.


"Hmmm" angguk Amelia.


Hani menghela kemudian duduk di sampingnya.


"Apa yang terjadi? " tanya Hani.


"Tentu saja tentang Saga" jawab Amelia.


Hani menatapnya.


"Akhir-akhir ini dia membuat beberapa orang kesal dan khawatir terhadap sikapnya" jelas Amelia.


"Saga kembali? Kau tidak cerita! " tanya Hani.


"Aku belum sempat bu" jawab Amelia.


"Ya sudah, masalah Oma bukan di Saga. Tapi karena Ayu yang melanggar sumpahnya untuk tidak datang ke rumah Narendra dan memohon padanya, apa dia memohon? " Hani kembali bertanya.


"Aku tidak tahu, aku langsung pergi membawa Dama keluar dari ruang baca" jawab Amelia.


Hani langsung mengerti. Tapi dia juga bingung, mengapa Oma yang minta dia untuk menjaganya.


Tak berapa lama dokter keluar dari ruang rawatnya. Amelia dan Hani berdiri.


"Amelia? " seru dokter.


"Ya! " Amelia mendekat.


"Dia tidak apa-apa, sedikit tegang dengan semua yang dia pikirkan. Untungnya kau membawanya tepat waktu. Dia sudah bisa pulang nanti sore setelah pemeriksaan darah. Oh ya, dia minta kalian masuk tapi tolong dengarkan saja apa yang dia ucapkan, jangan terlalu menekannya dengan pertanyaan, ok?"


Dokter pamit dan pergi. Amelia dan Hani saling menatap kemudian masuk ke dalam. Mereka melihat Oma memakai nebu (alat bantu pernafasan).


"Kemarilah! " pinta Oma dengan menepuk sisi ranjangnya.


Amelia dan Hani mendekat. Oma Mira melepas oksigennya dan mengambil nafas.


"Kembalilah ke rumah tanpa membuat yang lainnya panik. Nanti aku pulang bersama ibu mu" pinta Oma.


Amelia menatap ibunya yang masih juga tak mengerti apa yang Oma inginkan.


"Baik nyonya" jawab Amelia.

__ADS_1


Dia pamit pada ibunya dan pergi pulang ke rumah Narendra.


Hani meletakkan tasnya di kursi dan merapikan meja di dekat ranjang. Berusaha mengendalikan diri dari rasa penasarannya yang ingin tahu apa yang sedang Oma Mira rencanakan.


"Tolong bantu aku duduk" pinta Oma.


Hani langsung membantunya.


"Putri mu" ucap Oma dengan sedikit mengatur nafasnya.


"Kenapa dengan putri ku? " tanya Hani.


"Seperti mu" jawab Oma.


"Tentu saja, dia putri ku" jawab Hani.


"Seperti Amirah juga" lanjut Oma.


Kali ini Hani terdiam.


"Pintar, perhatian dan selalu berusaha baik meski orang yang dia hadapi menyebalkan" lanjut Oma dengan bicara perlahan.


Hani menatap Oma Mira.


"Ya, itu buruk bagi dirinya sendiri" ucap Hani.


"Kau benar, dia akan banyak disakiti orang lain jika dia terus begitu" jawab Oma.


"Nyonya, sebaiknya anda istirahat. Jangan terlalu banyak bicara" ucap Hani.


"Melihatnya, aku seperti mendapatkan kembali sahabat lama ku, Amirah" ucap Oma tak peduli peringatan Hani.


Hani menjadi diam.


"Dia selalu mengatakan apa yang ada di pikirannya dan selalu mengingatkan aku apa yang salah dengan diriku" lanjut Oma.


Hani berusaha menjadi pendengar yang baik.


"Haruskah aku menjadikannya bagian dari rumah yang kacau itu? " kali ini Oma bertanya.


Hani menatapnya heran.


"Haruskah aku melibatkannya di dalam kubangan lumpur yang dipagari pagar emas itu?" Oma bertanya tanpa meminta jawaban.


Hani berpikir tentang apa yang dimaksudkan Oma Mira tentang Amelia dan rumah mereka.


***


Amelia masuk ke rumah Narendra dengan wajah penuh kebingungan. Minah menyambutnya dengan membawa Dama di gendongannya.


"Bagaimana keadaan nyonya besar? " tanya Minah.


Amelia menghela.


"Dokter bilang dia baik, sore ini sudah bisa pulang. Tapi, aku masih tidak mengerti kenapa dia tidak mau yang lainnya tahu dia lemah" ucap Amelia.


Minah ikut berpikir.


"Lalu, kenapa harus ibuku? " tanya Amelia lagi.


Minah menatapnya dan mengajaknya duduk.


"Itu karena sebenarnya yang sangat dekat dengan Nyonya dan Tuan besar adalah orang tua Bu Hani. Nenek dan kakek mu" jawab Minah.

__ADS_1


Kali ini Amelia baru mengetahuinya, dia tak pernah mendengar hal itu. Tapi dia sedikit mengingat pertemuannya dulu saat kecil dengan Nyonya dan Tuan Narendra.


\=\=\=\=\=\=>


__ADS_2