CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
28


__ADS_3

Bella berjalan di belakang ibu mertuanya yang sedang mendorong troli dan mengambil bahan-bahan masakan yang dibutuhkan. Bella terlihat kurang menyukai kegiatan ini. Tapi saat Maria berbalik dan bertanya pendapat Bella tentang suatu barang, dia memaksakan diri tersenyum dan memberikan pendapatnya.


Maria menyadari ketidaksukaan Bella. Puluhan tahun dia hidup seperti ini. Melakukan sesuatu yang tidak dia sukai dan selalu memaksakan diri. Dia juga terbiasa dengan orang-orang yang memaksakan diri tersenyum dan terlihat baik-baik saja di depannya, padahal dalam hatinya menjerit.


Maria tak peduli bagaimana perasaan Bella. Bukannya mau dia bernasib sama, namun dia malas ditegur ibu mertuanya jika selalu menggurui Bella. Karena Bella selalu mengadu pada Oma tentang semua hal.


Maria menyembunyikan rasa tidak sukanya pada menantunya itu. Bertahan demi keluarganya yang kini bergantung pada perusahaan Narendra Coltin. Nasib mereka ada di tangan Oma, dan dia takkan bermain-main dengan hidup kedua orang tuanya.


"Apa kau tahu cara memilih semangka?"


Maria bicara, memecah hening antara mereka berdua. Bella membulatkan matanya dan menggelengkan kepalanya.


"Tidak!" jawabnya.


"Pilih yang warnanya lebih tua, biasanya rasanya manis dan segar. Kalau warnanya terang mengkilat, itu berarti masih sangat muda dan biasanya warnanya masih putih" jelas Maria.


Bella mengambil semangka yang Maria sebutkan.


"Ini?" tanya Bella dengan senyumnya.


"Ya, kamu cepat mengerti juga" ucap Maria sambil mengambil semangka yang dia tunjukkan.


"Tentu saja, aku ini kan lulusan Harvard" ucap Bella sambil melenggang meninggalkan Maria.


Maria menatapnya. Dia menundukkan pandangannya.


~Berharap hidup normal, punya menantu yang baik dan menghargai mertuanya. Aku rasa itu harapan yang tak mungkin terjadi. Sama halnya dengan harapan ku dulu, berharap punya mertua yang baik dan suami yang mencintaiku. Kini aku hanya bisa berdoa semoga Davin bisa merasakan sedikit kebahagiaan dari pernikahannya ini~


Mereka selesai berbelanja, Bella meminta supir membawakan belanjaan mereka.


"Oh ya ibu, aku dan Davin akan makan di kamar nanti malam. Boleh kan?" tanya Bella.


"Tentu saja boleh, suruh saja Minah menyiapkan semuanya" jawab Maria.


"Tidak usah, aku yang akan menyiapkannya" Bella berjalan lebih dulu ke mobil.


Maria menatap langkahnya. Dia benar-benar berharap Davin merasakan bahagia dengan Bella. Dia menyusul dan masuk ke mobil.


###


Di kantor.


Davin menatap foto dirinya dengan sekumpulan orang-orang di pantai dulu. Dia baru menemukan foto itu dari seluruh foto yang dikirimkan Alex, yang mereka ambil dulu.


Dia menatap wanita yang duduk di sisi kanan tepat di belakangnya. Amelia, wajahnya hanya terlihat dari sisi. Davin memperbesarnya, meski resolusinya kurang bagus, tapi dia sangat menikmati foto itu. Jemarinya mengusap pipi Amelia yang pernah dia cumbu. Davin menghela nafas kemudian memejamkan mata dan menyandarkan tubuhnya ke kursi.


"Aku merindukan mu, kau kemana setelah ayah mu memutuskan hubungan mu dengannya? Bisakah kita bertemu lagi?" gumam Davin.


Susi, sekertarisnya yang sudah masuk dan berdiri di hadapannya, terlihat kebingungan karena bosnya bicara sendiri.


"Bisa Pak!" jawab Susi.

__ADS_1


Davin terkejut dengan jawaban dari Susi. Dia tertawa saat melihat wajah wanita hampir paruh baya itu.


"Kenapa tidak mengetuk pintu?" ucap Davin merapikan duduknya.


"Sudah Pak, tapi karena ini urgent, jadi saya langsung masuk" jawab Susi.


Dia menaruh dua lembar tiket nonton di mejanya. Davin bertanya dengan mengangkat dahinya.


"Oma meminta anda mengajak nona Bella nonton film dewasa malam ini Pak, ini tiketnya. Beliau mengatakan untuk langsung berangkat dari kantor karena nona Bella akan datang sore ini ke kantor" ucap Susi jelas.


Davin berdecak dengan semua rencana Oma.


"Apa Oma tidak tahu aku harus menghadiri pembukaan 'perpustakaan malam' malam ini?" tanya Davin.


"Tahu Pak, kehadiran anda akan digantikan oleh Pak Harris dan Bu Maria Pak!" jawab Susi.


Davin sedikit senang mendengar ibunya akan hadir dalam acara pembukaan bersama ayahnya. Dia setuju tanpa berpikir lagi. Semua ini demi ibunya. Tak masalah menonton puluhan film dewasa jika ibunya bisa pergi dan dihargai sebagai nyonya Harris Coltin.


"Saya permisi Pak!"


"Ok, terimakasih Susi" jawab Davin dengan senyum.


Sore yang dinantikan tiba, Bella merias diri hingga terlihat sangat cantik. Dia turun dan melihat Oma duduk di ruang tengah sedang membaca.


"Omaaa!" sapa Bella.


Dia berputar, menunjukkan tubuhnya yang ramping dengan gaun sederhana bermotif bunga. Rambutnya digerai menunjukkan wajah riangnya.


"Waah....nyonya Davin Coltin sangat cantik sekali" puji Oma setelah melihatnya.


"Ya, hati-hati!" jawab Oma kemudian merubah ekspresi senyumnya menjadi datar dan kembali membaca.


Bella masuk ke mobil dengan senangnya. Dia menatap jalanan menuju kantor seolah adalah jalan paling romantis yang membawanya pada Davin. Cinta dalam hidupnya.


Sampai di kantor, semua mata memandangnya, karena itu jam pulang semua orang, kecuali yang lembur. Bella masuk ke ruangan Davin yang masih memeriksa beberapa berkas.


"Pulang saja lebih dulu, aku akan pulang sebentar lagi" ucap Davin yang mengira itu Susi.


Kemudian interkomnya berbunyi.


《Pak Saya pulang lebih dulu! 》


"Ya!"


Davin mengangkat pandangannya menyadari orang yang masuk bukanlah Susi. Davin menatap seluruh penampilan Bella yang seharusnya dia bisa jatuh cinta. Tapi Davin tak bisa, dia memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia menutup interkomnya dan menutup berkasnya.


Dengan percaya diri Bella mendekat dan mengaitkan tangannya di lengan Davin yang berdiri, bersiap untuk pergi bersamanya. Davin mengambil dua tiket nonton yang tadi diberikan Susi. Bella tersenyum meliriknya.


Mereka pergi menuju bioskop di salah satu Mall milik mereka. Davin mempersilahkan Bella duduk terlebih dahulu. Kemudian dirinya duduk di samping Bella dengan popcorn dan minuman soda di tangannya.


Film dimulai, Davin mulai mengantuk saat musik terdengar disela adegan ranjang pemain filmnya. Sementara Bella mulai merasakan panas di tubuhnya.

__ADS_1


Mata Davin tak bisa dikendalikan, dia terkantuk dan tak sadar kepalanya jatuh di bahu Bella. Dia tertidur, sementara Bella mengira Davin juga mulai merasakan hal yang sama dengannya.


Bella memegang tangannya dan meremasnya. Dia mendekatkan bibirnya ke arah wajah Davin. Dia memejamkan mata saat bibirnya mulai dekat dengan bibir suaminya.


~akhirnya bersentuhan!~ ucap hati Bella.


Namun dia tak merasakan balasan dari Davin, Bella membuka matanya dan melihat mata Davin tertutup. Bella kesal dan melempar kepala Davin ke arah lain.


Davin terbangun dan merapikan posisi duduknya. Dia melihat Bella cemberut dan menatap layar. Adegan masih sama, entah akan berapa adegan lagi. Davin menguap dan menggeliat. Dia sangat merasa bosan.


Film selesai, semua orang keluar dengan pasangan mereka sambil merapikan pakaian mereka. Sementara Bella keluar dengan wajah kesal dan membuang popcorn miliknya ke tempat sampah.


Bella berjalan keluar mall tanpa peduli bahwa sedang hujan deras di luar. Davin menghela, dia malas untuk membujuk Bella yang sedang kesal.


"Dia pasti marah karena aku ketiduran" keluh Davin sambil mengusap kepala belakangnya.


Awalnya Davin tak mau mengejar, tapi dia harus mengejarnya.


"Kejar Davin, jika tidak dia akan mengadu pada Oma" gumamnya.


Davin mengejar dan terpaksa kehujanan.


"Kau marah? Ayolah maafkan aku!" teriak Davin di tengah derasnya hujan.


"Buka pintunya, aku mau masuk!" ucap Bella kesal.


Davin membuka pintu mobil dengan kuncinya. Dia juga masuk dan menyalakan mobilnya.


"Jangan marah, maafkan aku" ucap lagi Davin.


Bella tak peduli, dia hanya diam mengusap wajahnya dengan tisu yang ada di mobil. Davin tak tahu harus bagaimana. Dia menancapkan gas dan pulang.


Sampai di rumah, Bella keluar tanpa menunggunya membawa payung. Davin mengejarnya dan menarik tangannya di tengah taman rumah.


"Jangan adukan pada Oma, tolong!" ucap Davin.


Bella semakin kesal, dia menangis, namun tangisnya tak terlihat karena hujan.


"Aku hanya ingin kamu sentuh, sebagai istri, sekali saja Davin. Sekali saja!" ucap Bella.


Davin melepas tangannya yang memang tak bisa melakukan apa yang dia minta. Bella menghela karena Davin masih saja tak mau melakukannya. Dia berjalan cepat untuk segera masuk ke kamarnya. Davin menyusul, dia berusaha membujuk Bella agar tak mengadu pada Oma.


Sampai di kamar, Bella mengeringkan tubuhnya dengan handuk. Davin masuk dan melihatnya sedang hampir membuka pakaiannya. Dia berbalik dan diam.


Bella melihatnya, dia mendekat dan meraih tangan Davin kemudian menggerakkannya untuk menyentuh dadanya. Davin hendak menolak, tapi Bella membujuknya.


"Sekali saja, sentuh dan rasakan" ucap Bella pelan.


Davin berbalik dan mencobanya, dia mengikuti arah tangan Bella yang membuatnya membuka pakaiannya. Bella mengarahkan tangannya untuk menyentuh seluruhnya. Dia memejamkan matanya merasakan sentuhan tangan Davin.


Tapi Davin tetap merasakan dingin di hatinya. Dia menepis tangan Bella dan meninggalkannya sendiri setelah dia menutupi tubuh Bella dengan handuk.

__ADS_1


Bella menangis, dia sangat merasa kesepian malam itu. Dia berjalan ke kamar mandi dan menenggelamkan tubuhnya di bathtub dan menangis lagi.


\=\=\=\=\=>


__ADS_2