CINTA DALAM HIDUP

CINTA DALAM HIDUP
105


__ADS_3

Saga tertegun menatap Amelia yang sedang menyuapi Dama di taman. Amelia sudah melambai saat dia melihat mobilnya datang. Tapi dia kemudian berdiri karena Saga tak juga keluar dari mobil.


"Ayo kita lihat papa Saga" ajak Amelia pada Dama.


Saga buru-buru menepuk-nepuk jasnya yang berbau parfum Bella. Merapikan rambutnya yang acak-acakan.


Sebelum Amelia semakin dekat dengan mobil, Saga langsung keluar dan tersenyum padanya.


"Hai! " sapanya.


Amelia tersenyum, tapi kemudian matanya beralih pada mobil Bella yang baru datang.


Saga ikut menoleh, dia menarik nafas panjang.


'Kenapa dia langsung kemari?'


Saga pikir Bella akan diam sejenak di hotel.


Bella keluar dari mobil kemudian menatap mereka berdua bergantian. Tanpa menyapa, dia masuk ke rumah dan langsung ke kamarnya.


Saga menghela nafas, bersyukur Bella tetap ketus seperti biasanya.


"Kau kacau sekali, mandilah, aku akan siapkan sarapan" ucap Amelia.


"Tidak usah, aku tidak lapar" jawab Saga seraya tersenyum.


Amelia terheran, tak biasanya Saga melewatkan sarapannya.


"Davin sudah berangkat? " tanya Saga sembari berjalan masuk tanpa menggendong Dama.


"Ya, dia pergi terburu-buru karena ada yang harus dikerjakan. Pak Harris juga" jawab Amelia.


"Biasakan memanggilnya papa, kitakan sudah tunangan" pinta Saga.


"Baiklah! " jawab Amelia dengan senyum.


Tapi Saga menjadi diam.


"Kenapa? Kau berubah pikiran dan lapar? " tanya Amelia.


"Tidak, aku akan ke kamar" jawab Saga terbata.


Amelia mengantar kepergian Saga ke kamarnya dengan tatapan yang sangat heran.


"Tidak biasanya dia mengabaikan mu" gumam Amelia.


Sementara itu, Saga menyesali apa yang terjadi. Dia diam berdiri di bawah shower dan memukuli kepalanya sendiri.


'Apa ini? Kenapa harus terjadi seperti ini? Aku mengkhianati Amelia persis di malam pertunangan kami'


Tak henti hati dan pikirannya kesal dan menyesali kejadian tadi malam.


***


Minah menyiapkan sarapan untuk Saga, atas permintaan Amelia yang masih menyuapi Dama.


"Kalau tidak dimakan gimana? " tanya Minah.


"Simpan saja, nanti aku yang makan" jawab Amelia.


Minah menurut saja, tapi tetap matanya memperhatikan raut wajah Amelia yang tak berubah meski calon suaminya pulang pagi.


"Nanti... " ucap Minah.


Amelia menatapnya.

__ADS_1


"Hmmm? " tanya Amelia dengan kening terangkat.


"Nanti setelah menikah, jika dia pulang terlalu malam atau malah pagi seperti ini lagi, kau harus marah" tunjuk Minah ke arah tangga.


Amelia tersenyum.


"Davin menelpon temannya semalam, dan mereka bilang mereka mengadakan pesta setelah pertunangan kami, jadi aku tidak khawatir" jelas Amelia.


"Tapi kau belum dengar penjelasannya bukan?" ucap Minah.


Amelia terdiam, dia baru paham. Dia juga ingat, saat Saga datang, dia tak langsung keluar.


"Biasakan untuk bertanya lagi, supaya hati mu tak bertanya-tanya sendiri" ucap Minah.


Amelia hanya diam menatap Minah yang terus menasehatinya.


***


Selesai mandi dan berganti pakaian, Saga keluar dari kamar dan berpapasan dengan Bella saat hendak turun. Mereka saling menatap sejenak kemudian Bella meneruskan langkahnya.


Saga menarik lengannya.


"Dengar! Pastikan tidak ada yang tahu kita keluar dari kamar yang sama, tadi" bisik Saga.


Bella menatapnya tanpa menjawab. Dia menepis tangan Saga dan meneruskan langkahnya.


Saga menghela karena kesal tak mendapatkan jawaban darinya. Diapun ikut turun namun tak menuju dapur.


"Kau lihat Saga? " tanya Amelia.


Bella membulatkan matanya, air minum yang baru saja dia teguk, hendak keluar lagi.


"Kenapa menanyakannya padaku? " ketus Bella.


"Dia tunangan mu bukan? Cari saja sendiri! " Bella kembali ke kamarnya dengan langkah dihentakkan.


Minah menyentuh bahu Amelia.


"Kau tidak apa-apa kan? " tanya Minah.


"Mba Minah ini, tentu saja aku tidak apa-apa, dia sudah biasa bersikap seperti itu padaku. Aku paham mengapa dia bisa seperti itu" ucap Amelia.


"Tapi tidak harus seperti itu juga kalau hanya bertanya dimana Saga! " keluh Minah.


Amelia hanya tersenyum.


"Aku akan ke kamarnya dulu ya mba! "


Mba Minah mengangguk sambil membersihkan meja makan.


Tapi Amelia melihat Saga di ruang keluarga, dia langsung mendekatinya yang sedang menelpon.


"Ya, tolong periksa rekamannya" ucap Saga pada seseorang.


"Kau benar-benar tidak akan sarapan? " tanya Amelia.


Saga terperanjat, dia sangat terkejut mendengar Amelia sudah ada di sana.


"Kau seperti melihat hantu saja! " keluh Amelia.


Saga mengatur nafasnya, dia menutup telpon setelah memastikan anak buahnya mengerjakan apa yang dibutuhkannya.


"Maaf tadi aku sedang mengurus sesuatu" ucap Saga.


"Kau belum menyapa Dama, ada apa? Apa ada masalah besar? " tanya Amelia.

__ADS_1


Saga menatap wajah Amelia, hatinya terus menyesali semuanya.


"Maafkan aku... "


Saga menurunkan pandangannya. Amelia tak mengerti.


"Aku tidak menjelaskan apapun meskipun aku pulang pagi, bahkan tidak menyapa kalian dengan benar" lanjutnya.


Amelia tersenyum.


"Kau menyadarinya, aku sudah senang. Aku tidak apa-apa, hanya saja, kau sudah terbiasa memanjakan Dama dengan semua sikap mu, jadi aku takut dia merasa kau... "


Saga langsung memeluk mereka berdua. Amelia terkejut namun diam saja, dia memperkuat tangan yang menggendong Dama.


Mata Saga sedikit mengeluarkan air mata. Dia tak bisa melepaskan diri dari rasa bersalahnya.


"Tidak apa-apa, sesekali berpesta dengan teman-teman mu, asal jangan sering, apalagi nanti setelah kita menikah" ucap Amelia.


Saga menutup matanya, semakin dia menyesal telah mabuk.


Sementara itu di kamar, Bella sedang sibuk menelpon Zidan yang sejak pagi tak bisa dihubungi.


"Kemana dia? Ini semua pasti ulahnya" gumam Bella.


Bella ingat, semalam Zidan memintanya memasuki kamar hotel, dia baru sadar nomor kamar yang dia pakai bersama Saga berbeda dengan nomor yang diberitahu Zidan.


"Jika itu bukan kamar yang Zidan pesan, lalu kamar siapa? " Bella berpikir keras.


Bella bergegas mengambil tasnya dan pergi. Tak sengaja dia melihat pemandangan Saga yang memeluk Amelia. Matanya mendelik ke arah Saga yang menatapnya.


Saga melepaskan pelukannya dan menghindari tatapan mata Bella.


"Kau mau pergi? " tanya Amelia.


"Berhenti bertanya tentang semua gerak gerik ku! Kau bukan siapa-siapa! " Bella kesal tanpa alasan.


Amelia menutup telinga Dama yang dia dudukan di sofa.


"Maaf, tapi Bu Maria meminta mu.... "


"Apa? Merawat anak mu? Yang benar saja, kau akan menikah dengan Saga, kau juga akan tinggal di sini, dia tetap anak mu. Jadi rawat oleh mu sendiri! " Bella tak henti menunjukkannya.


Dama mengikuti gerakannya, telunjuknya menunjuk ke arah Bella yang semakin kesal merasa diledek.


"Anak dan ibu sama saja, mengesalkan! " Bella semakin geram.


Saga langsung meraih lengannya dan menariknya keluar.


"Saga! " Amelia memanggilnya.


Dia khawatir tapi tak bisa menyusul karena Dama akan melihat apa yang dia takutkan terjadi.


Sampai di halaman, Saga melempar Bella.


"Beraninya kau! " teriak Bella.


"Berhenti merendahkannya! " Saga menunjuk wajahnya.


Bella menatapnya dengan mata yang membulat seolah akan loncat dari tempatnya.


"Ohhh, setelah kau mengkhianatinya di hari pertunangan kalian... "


Saga langsung menutup mulut Bella.


\=\=\=\=\=\=>

__ADS_1


__ADS_2